Saya penggemar Drama Korea, dan saya merasa itu adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan mereka yang menghabiskan waktu demi sinetron Ikatan Cinta atau Catatan Hati Seorang Istri. Bagi saya, Drama Korea selalu menyajikan jalan cerita yang masuk akal, konflik yang pas, dan yang paling penting selalu berhenti di waktu yang tepat.

Selepas menyelesaikan drama Vincenzo beberapa pekan lalu, saya kemudian mengalihkan pilihan kepada drama Law School, sebagai prioritas selanjutnya. Di tengah rutinitas yang menjenuhkan karena pandemi, saya rasa penting untuk menghibur diri seperti ini—menyaksikan Drama Korea, dan juga sesekali memantau YouTube Blackpink.

Law School, dari judul bisa kita tebak bahwa konflik yang dihadirkan lebih banyak berbicara pada persoalan hukum. Tetapi, hal menarik dari drama ini adalah dasar konflik, sebagaimana yang disebutkan dalam banyak sinopsis: misteri pembunuhan di Universitas Hukum Hankuk. Titik pangkal dari semua masalah yang ada ialah terbunuhnya seorang professor hukum.

Terbunuhnya Profesor Seo—nama pangilan professor yang terbunuh—ternyata menyimpan banyak misteri. Mulai dari pelaku, motif, proses eksekusi, dalang pembunuhan, dan yang paling berkesan adalah: kematian Profesor Seo ternyata memiliki hubungan dengan kekuasaan.

Sementara itu, seorang profesor lain yang juga dari Hankuk, yang juga mantan jaksa, Profesor Yang Jong-hoon menjadi mentor dari pengungkapan kasus tersebut. Dikelilingi oleh mahasiswa-mahasiswa yang cerdas dan juga penuh misteri, membuat drama ini terus menyisahkan tanda tanya.  Setiap tokoh memiliki keterkaitan problematika dengan tokoh yang lain. Meski demikian, satu hal yang pasti bahwa pada akhirnya mereka punya tujuan yang sama: “menggulingkan” kekuasaan yang korup, nepotisme, dan penuh tirani—sederhananya adalah pemerintahan yang anjing.

Baca Juga: Orang-orang Oetimu dan Keganjilannya

Sebagai mahasiswa hukum, ya, tentu saja mereka berjuang dengan jalur hukum, tetapi tidak lupa juga mereka mengunakan perangkat-perangkat sosial yang ada seperti, LSM, massa,  media massa, media sosial, dan tentu saja melalui pembacaaan sosial politik yang cermat. Saya perjelas ya, mereka berjuang, ya berjuang! Bukan ongkang-ongkang kaki, kemudian mengharapkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Sembari menyaksikan episode terakhir Law School—entah kebetulan atau tidak—tiba-tiba  #mahasiswamatisuri (baca: tagar mahasiswa mati suri) menggema di media sosial. Kebanyakan dari tweet tersebut menyoroti mahasiswa yang saat ini seperti kehilangan kepekaan perjuangan. Bagaimana tidak, 51 dari 75 pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) diberhentikan, Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) kembali digodok dengan muatan poin-poin yang menurut banyak orang masih perlu dikoreksi, belum lagi persoalan rencana pembelian senjata, pajak untuk pendidikan dan sembako, yang paling menggemaskan adalah gelar profesor kepada seorang petinggi partai, dan tentu masih ada banyak lagi persoalan lain.

Entah apa yang sedang terjadi, tetapi riak-riak gerakan mahasiswa yang dulu begitu agresif dan sensitif menerjemahkan keresahan masyarakat sepertinya sudah kehilangan gairah. Greget program BTS Meal dari Mc Donald’s lebih terasa dibandingkan teriakan-teriakan mahasiswa. Selain ajakan debat Frannscollyn Mandalika Gultom kepada seorang profesor hukum yang beropini “mendukung” pemecatan 51 pegawai KPK, selain itu tidak ada lagi suara yang lantang untuk mendukung pemberantasan korupsi. Kemana jutaan mahasiswa dari Sabang sampai Marauke? Mereka seperti ditelan dan tenggelam dalam badai K-Pop. Gerakan-gerakan masif justru diperlihatkan oleh aktivis sosial seperti Dandhy Dwi Laksono dkk. yang berhasil menelurkan sebuah film tentang upaya melawan korupsi yang mereka beri judul The EndGame.

Sebenarnya ada angin segar dari peluncuran film tersebut. Gerakan nobar The Endgame kemudian berkumandang di mana-mana, termasuk di lingkup mahasiswa. Sebuah kabar yang mencerahkan, pikirku. Tetapi sebagaimana lazimnya harapan, sering berakhir kecewa, nyatanya, setelah mahasiswa menonton The Endgame, mereka kembali dingin membatu, tidak ada gerakan yang berarti, tidak ada upaya masif, tak ada riak-riak gerakan.

Pada akhirnya, gelaran nobar The EndGame yang diadakan serentak di kampus jejaring BEM Seluruh Indonesia berakhir tanpa gerakan yang pasti. Ini tak ubahnya seperti menonton Ada Apa Dengan Cinta, lalu terpesona dengan kekaleman Rangga atau jatuh cinta pada tokoh Cinta, setelah itu selesai. Semua berbondong-bondong pulang ke rumah dan tidur dengan pulas. Tidak ada kegelisahan yang harus tersisa, sesuatu yang membuat mereka merasa harus berjuang.

Satu, dua, tiga mahasiswa atau mungkin lebih banyak lagi akan berkata: ini masa pandemi, tidak seharusnya ada gerakan mahasiswa untuk turun ke jalan yang dapat menimbulkan kerumunan. Baiklah, saya bisa memaklumi, maka dari itu di bagian awal saya menyampaikan cerita menggunakan drama Law School, kisah tentang sekelompok mahasiswa dan dosen yang bisa “menumbangkan” sebuah kekuasaan tiran dengan menggunakan instrumen pemikiran.

Jumlah mereka tidak banyak, mereka juga tidak turun ke jalan untuk berteriak “hidup mahasiswa” sambil mengepalkan tangan kiri, mereka juga tidak berorasi di atas truk sembari meyerukan “betul tidak kawan-kawan?” Tetapi mereka  menggunakan modal dan perangkat sosial yang ada.

Mahasiswa tersebut menggungat peraturan dan undang-undang yang mereka anggap bermasalah, mereka mendampingi LSM untuk berjuang mendapatkan keadilan, mereka menggunakan media massa untuk menyampaikan pikiran ke khalayak luas dan yang paling menarik bahwa mereka menggunakan media sosial, termasuk YouTube untuk mempengaruhi opini publik.

Kita semua tentu tahu, bahwa di negara mana pun, yang “katanya” menggunakan sistem demokrasi, akan sangat peduli terhadap opini publik. Hal ini dikarenakan publik menentukan apakah mereka bisa melanggengkan kekuasaan. Maka dari itu, penguasa selalu berusaha merebut hati publik, dan mahasiswalah yang harus menjernihkan semua itu.

Tetapi pada kenyantaannya, mahasiswa kita “kebanyakan” sudah tidak lagi punya semangat untuk melakukan pergerakan. Mereka lebih nyaman duduk pojokan kafe, menikmati sejuknya ruangan ber AC, sembari mendegar pemilik kafe memutar lagu-lagu sendu. Mereka bahkan mungkin sudah lupa betapa lirisnya lirik lagu Buruh Tani, Darah Juang dan nyanyian-nyanyian rakyat kecil untuk menghibur anak-anaknya yang sedang kelaparan.

Tetapi ya sudahlah, gerakan mahasiswa mungkin memang sudah tidak seksi lagi. Gelar aktivis sudah kalah kinclong dibandingkan gelar influencer atau youtubers. Pekerjaan seperti itu lebih menjanjikan, lebih bisa membuat mereka menikmati malam Minggu di Starbucks, sembari menikmati kopi dan sandwich. Urusan rakyat bukan lagi urusan mereka, bahkan urusan mereka juga sepertinya tidak lagi mereka urusi. Petinggi partai mendapatkan gelar akademik “profesor” dengan acuan yang membingungkan, dana pendidikan rencananya akan dipajaki, sembako orang tua mereka juga akan dipajaki, tetapi mereka tetap diam.

Baca juga: Tiba Sebelum Berangkat: Menerka Alasan Batari Meninggalkan Mapata

Ah, memikirkan semua itu membuatku berpikir persis seperti kata Nadin Amizah, “… hidup berjalan seperti bajingan”. Maka dari itu, saya hanya ingin berpikir positif saja, mungkin inilah maksud dari jargon “kampus merdeka”, merdeka dalam diam, atau mungkin ini adalah efek samping dari pandemi Covid-19, gerakan mahasiswa menjadi sesak napas. []

BACA JUGA Artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles