Jika sebuah tim bermental juara bertemu dengan tim kuda hitam yang berlari sepenuh tenaga pada sebuah ajang pertandingan olahraga, dapat dipastikan, pertemuan itu, akan menorehkan kisah yang dramatis. Kita sering menyaksikan, rumus itu, berlaku pada beberapa arena olahraga. Para pendukung yang larut, melewati waktu pertandingan itu dalam keadaan krisis, denyut jantung yang memacu cepat, dilengkapi ekspresi tercengang-bengang, tak jarang berujung dengan haru-biru dan meninggalkan sidik jari.

Namun, malam itu membuktikan, perasaan kebahagiaan yang memuncak itu, tidak hanya berlaku bagi pertandingan ‘olahraga langsung’. Kisah pantang menyerah yang ditumbuhkan semangat memenangkan pertandingan, juga hadir di dalam ruang dan waktu yang sangat lain, sebuah pertandingan e-sport MOBA, Mobile Legend Bang Bang.

Jati diri olahraga terbangun, ketika RRQ Hoshi dan Alter Ego bertemu dalam sajian Grand Final MPL season six, keduanya bertarung dengan metode permainan best of five, tim yang dapat juara adalah tim yang memenangkan game sebanyak tiga kali.

Baca Juga: Kalau Memang Harus Mati, mengapa Tidak dengan Memainkan Gim Online

Alter Ego, sebagai pencicip awam, Grand Final MPL, akan bertarung melawan Rex Regum Qeon (RRQ Hoshi) sebagai juara bertahan. Keduanya berhasil berada di pucuk MPL setelah melewati enam minggu fase play-off. Alter Ego melaju sebagai pemuncak klasemen, sedangkan RRQ Hoshi, meski dengan berapa masalah internal, berhasil melaju ke babak selanjutnya dalam keadaan terseok-seok.

Namun, sebelum mereka bertemu, drama sudah terjadi di babak semifinal,  Lower and Upper Bracket. Alter Ego berada di ujung tanduk, setelah kalah, dari BTR. Alter Ego jadi tidak punya pilihan lainnya, mereka harus meruntuhkan ONIC, sebuah tim yang juga tidak memiliki pilihan lainnya, selain menang, setelah kalah dari RRQ Hoshi.

Alter Ego berhasil menurunkan ONIC dari langit, setelah menang dramatis, 2-1. Sementara itu, RRQ Hoshi telah memastikan diri, melaju ke Grand Final setelah mempecundangi BTR. RRQ Hoshi sudah duduk di singgasana, menunggu pemenang antara yang kalah dan yang kalah dalam fase Final Lower Bracket, Alter Ego melawan BTR. Kesudahannya, Alter Ego berhasil membalaskan dendamnya, mereka menuliskan ‘juara ketiga MPL season enam’ di punggung BTR yang pulang, menunduk lesuh. Sedangkan, Alter Ego memastikan melaju ke babak final, menantang Raja dari segala Raja.

*

Tidak ada yang menebak bahwa malam itu, Grand Final MPL Season Six akan menghadirkan permainan yang terlalu indah untuk dilupakan. Kedua tim, sepertinya sudah mempersiapkan segalanya untuk menang, sehingga pertandingan harus dipastikan pada game ke lima.

Alter Ego ngegas dan memenangkan game pertama. RRQ Hoshi dengan ringkas, balik membalas di game kedua. Di game ketiga, RRQ Hoshi mengamankan satu poin lagi. Posisi nilainya, menjadi 2-1. Namun, Alter Ego bermain ngotot, di game ke empat. Mereka lalu berhasil menghancurkan base RRQ Hoshi. Keadaan menjadi 2-2. Dan, “Game kelima is real,” situasi yang jarang sekali terjadi. Situasi yang rasanya sama, seperti ketika dua tim sepak bola telah melewati dua kali babak tambahan dan memasuki fase babak penalti. Dan, rasanya itu juga sama dengan fase set ke tiga dalam pertandingan bulutangkis. Permainan yang terbaik di antara yang terbaik akhirnya tersaji.

Baca Juga: Hari Libur Melimpah, tapi Sanggupkah Kita Berteriak Hore?

Para streamer, yang kebanyakan mantan pemain profesional Mobile Legend Bang Bang, lewat masing-masing kanalnya, pada game kelima terlalu sering menduga, “Ini sih, sudah pasti end,” ketika RRQ mengamankan lord untuk kedua kalinya, saat tim Alter Ego, menyisakan dua hero dari jumlah komposisi lima hero yang dimainkan. Setiap penikmat Mobile Legend, juga menebak hal yang sama, dan pasti memahami struktur permainan ini; bahwa setelah melewati 12 menit waktu bermain, kedua tim yang bertanding di arena Land of Dawn akan memasuki masa kritis. Siapa saja yang melakukan kesalahan, akan membuat turret-nya hancur, yang kemudian memudahkan lawan untuk meledakkan basenya.

RRQ Hoshi mengamankan lord setelah melewati 12 menit. Lord yang cukup membantu untuk menghancurkan base Alter Ego. Tetapi, para penonton pertandingan itu, akhirnya tahu, grand final, tidak akan berjalan seperti yang mereka mau. Alter Ego menolak menyerah, mereka bernafas sekali lagi. Mereka berhasil mempertahankan basenya dan menekan balik RRQ Hoshi. Pertandingan kembali turun tempo, tapi keadaan masih sangat menegangkan. Sementara itu, para penonton menyadari, permainan sudah sangat larut. Segala hal bisa saja terjadi, di luar harapan siapa saja. Waktu pertandingan telah melewati menit ke tiga puluh.

Mereka yang menonton, lagaknya seperti seorang peramal, akan memberi kepastian yang terburu-buru, “Okey, selamat buat RRQ,” tebakan semacam itu memang dapat dimaklumi, kebiasaanlah yang mewajarinya. Memang, tim yang telah tertekan, tidak akan bisa bertahan dalam keadaan ini: ketika lord yang diamankan, berada di atas tiga puluh menit permainan. Lord yang dapat meledakkan turret dalam sekali pukul. Dan itu tentu menguntungkan tim yang mengamankannya, dan sangat merugikan tim yang diserangnya. Lord dengan segala perlengkapannya yang sudah sempurna, diamankan kembali oleh RRQ Hoshi, setelah dua pemain kunci Alter Ego masih dalam keadaan kembali hidup, dan turret mereka menyisakan satu saja. RRQ Hoshi menjadi Raja dari Raja, sekali lagi.

Namun, Alter Ego tidak bermain seperti bocah-bocah yang keseringan menekan pilihan menyerah di tombol pengaturan. Alter Ego bermain untuk juara, mereka lalu membuktikan kualitasnya. Mereka mengubah antusiasme para streamer menjadi, “Anjim, wah taik, parah, pertandingan yang sangat gila, gilaaa.” Dan, para penonton berhak merinding, ketika pada menit 38, Alter Ego justru membalikkan keadaan, satu persatu hero dari RRQ Hoshi dibalikkan ke basenya dalam keadaan mati dan harus hidup kembali dalam 45 detik lagi, itu membuat RRQ Hoshi berada di ujung tanduk. Empat hero dari Alter Ego, dengan kekuatan terpenuhnya, melawan satu hero RRQ yang tersisa, tipe Tank yang terlalu sulit untuk bertahan.

Namun, dengan beberapa kemungkinan pendukung, seperti gelombang creep atau minion yang sedikit, dari tiga lane, Alter Ego belum berhasil menghancurkan base RRQ Hoshi. Mereka harus mundur sedikit dan menunggu gelombang creep selanjutnya. Ketika rombongan creep itu tiba, Alter Ego yang tidak ingin kehilangan momentum akhirnya mengeluarkan segala yang mereka bisa. Keadaan lalu menjadi sangat menegangkan.

Hasilnya, tersajilah kronik khas mitologi Yunani, kedua tim bermain seperti pertarungan para dewa, sengit dan ajaib. Mereka yang menonton, tertegun, menahan napas, lalu terhentak, menepuk kepala dengan kedua tangan.

Baca Juga: Ia Membenci Dangdut, tapi Rhoma Irama Abadi

Perihal yang tidak dapat tertebak, terjadi. Bahwa dalam keadaan sekarat, dengan kemungkinan lim persen saja, RRQ berhasil membalikkan lembaran cerita, sekali lagi. Alter Ego tidak dapat menghancurkan base RRQ Hoshi, meski hanya dengan menyisakan secuil darah. Dalam hitungan matematis, tiga serangan dasar saja sudah bisa menghancurkan base RRQ Hoshi. Namun, RRQ Hoshi menolak akhir cerita sebagai yang kalah. RRQ bertahan dengan satu hero, melawan tiga hero Alter Ego. RRQ lalu menunjukkan jati diri, sebagai Raja dari segala Raja. Para streamer, lalu berteriak, “What the Fuck this Game.” Dan, barisan supporter RRQ Hoshi secara serentak mengirim tagar, “VIVARRQ.”

*

Sebagai olahraga yang tidak tumbuh dari tanah, di bawah kaki-kaki rakyat, seperti olahraga yang telah ikut dalam perkembangan sejarah olimpiade, melainkan tumbuh dari perkembangan teknologi perangkat ponsel, olahraga elektronik akan kesulitan untuk menumbuhkan jiwa kompetitif yang menjadi dasar dari ukuran, akan seberapa panjangkah usia sebuah jenis olahraga?

Meskipun Tempo.co pernah mencatat bahwa ada 49 juta orang di Indonesia yang bermain game online Mobile Legend, tiap bulannya. Namun, angka itu tidak bisa menjadi ukuran, untuk keberlangsungan usia bagi sebuah esports. Ada beberapa orang yang mungkin mengakarkan jiwanya untuk bertahan, ketika sebuah laju bisnis game online ponsel semakin menumbuhkan persaingan dan melahirkan pilihan-pilihan yang lebih seru dan menampilkan grafik yang lebih memanjakan mata. Mereka yang berada di bawah pengaruh dasar kenikmatan, akan mulai berpindah dan meninggalkan game yang sudah mereka mainkan selama bertahun-tahun.

Namun, keindahan yang telah diciptakan oleh Alter Ego dan RRQ Hoshi pada ajang grand final MPL Season Six, bisa menjadi siasat bagi perusahaan Moonton, sebagai perusahaan pengembang, membawa Mobile Legend Bang -Bang untuk memasuki fase selanjutnya, dari game yang berdasar nilai bisnis, menjadi olahraga yang memberi moralitas.

Akan banyak sekali pemuda milenial yang bercermin dari moralitas game online Mobile Legend Bang-Bang setelah menyaksikan sajian RRQ Hoshi dan Alter Ego. Nilai pantang menyerah dan terus berjuang bisa membesarkan jiwa setiap penikmatnya, dan solidaritas para penggunanya, bisa semakin menguat.

Baca Juga: Cara Jitu Menumpas Penjahat Korek di Antara Kita

Kemudian, jika jenis olahraga elektronik ini berumur panjang. Jiwa nasionalisme bisa ikut  tumbuh merasuki para penikmatnya, bahwa dengan bermain game online, mereka juga bisa membela negara. (Tidak perlu harus menjadi pasukan cadangan, hasil dari egoisme Militerisasi usang.) Secara birokratik, Indonesia juga akan menjadi penghasil atlet terbaik game online MOBA, dan itu akan membantu membesarkan nama Indonesia di dalam brangkas Bank Dunia dan dompet para investor.

Jalan itu, telah terbuka lebar, setelah Alter Ego dan RRQ Hoshi menciptakan keindahan. []

BACA JUGA artikel Ma’ruf Nurhalis lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles