Terkadang sesuatu yang kamu senangi, biasanya cenderung akan lebih mudah menyusahkanmu. Itu merupakan ungkapan masa lampau yang sering dikutip kembali di masa sekarang. Dari sekian banyak jenis benda mati yang berhasil diciptakan manusia, buku menempati jajaran yang mendapat tempat terhormat, tetapi juga termasuk paling menyengsarakan untuk dirawat dan, terutama diselamatkan.

Ia kadang hanya terlihat indah ketika diromantisir untuk menjadi pajangan, tempat orang-orang berdiri atau duduk atau berbaring dan memotret diri bersama buku-buku yang tidak pernah dibacanya. Itu perilaku manusiawi dan bukanlah sebuah kejahatan. Setiap orang, membutuhkan pengakuan agar tidak disaring dalam lingkaran “manusia yang tidak membaca” atau “manusia yang tidak pernah menyentuh buku”.

Potret diri bersama buku-buku adalah sebuah upaya paling kecil untuk menunjukkan, bahwa manusia telah berusaha mendekati benda mati itu. Dan mendekati, bukan berarti sepenuhnya akan memahami.

*

Mark Alan Stamaty, kartunis asal Amerika pada 2010 menulis buku Alia’s Mission: Saving the Books of Iraq tentang kisah seorang penjaga perpustakaan di wilayah Basra, Irak, dalam upayanya menyelamatkan koleksi perpustakaan yang hampir diluluhlantahkan serbuan dari pesawat tempur Inggris yang saat itu sedang menginvasi Irak bersama pasukan Amerika Serikat.

Alia Muhammad Baker, perempuan penjaga perpustakaan yang saat itu berusia 52 tahun, telah bekerja di Perpustakaan Basra sejak 1989. Ia melayani para dokter, profesor, seniman, hingga pengacara setiap sorenya yang meluangkan waktu untuk membaca selepas pulang dari tempat kerja. Ia bersahabat hampir kepada semua pelanggan yang mengunjunginya. Tetapi April 2003, ia harus mengubur semua kebiasaanya. Kabar tentang invasi sekutu telah terdengar dan ia mulai mengambil langkah untuk menyelamatkan koleksi perpustakaan. Mula-mula, ia memenuhi mobilnya dengan buku-buku setiap pulang dari perpustakaan.

Hingga 6 April 2003, saat pesawat tempur Inggris menyerbu kawasan Basra, orang-orang yang bekerja di sekitar perpustakaan mulai meninggalkan gedung itu, hanya Alia seorang diri yang bekerja mengumpulkan sebanyak-banyaknya buku untuk ia selamatkan. Ia harus melepas tirai jendela dan segala kain yang didapatnya di gedung itu untuk mengepak buku-buku.

Baca Juga: Surat untuk Kepergian Nairobi

Seorang pemilik rumah makan, Anis Muhammad, yang berada di sebelah gedung perpustakaan memberinya kardus dan kantong terigu untuk menampung buku yang diangkut keluar oleh Alia. Orang-orang yang melihatnya bekerja sendiri, berdatangan dan bahu membahu menyelamatkan buku. Ia berhasil mengamankan 30.000 buku atau sekitar 70% koleksi perpustakaan. Sisanya 30% koleksi perpustakaan tak bisa ia selamatkan dan membuatnya berduka akan kenyataan itu.

*

Masih di negara Irak dan masih tentang kisah penderitaan dengan buku. Di tahun 1954, Abdel Rahman, mendirikan toko buku dengan nama Toko Buku Renaisans yang terletak di Jl. Al-Mutanabbi. Toko Buku itu yang kemudian ia wariskan kepada lima anaknya, tak terkecuali Mohammed Hayawi, seorang pria botak yang kelak akan merenggang nyawa akibat bom yang meledak saat huru-hara invasi Amerika sedang berlangsung di negara itu.
Anthony Shahid dalam tulisannya The Bookseller’s Story, Ending Much Too Soon yang terbit di The Washington Post pada 2007 menulis bagaimana peristiwa itu terjadi:

Sebuah bom mobil meledak pekan lalu di Jalan al-Mutanabbi, meninggalkan sepotong jejak yang kian lazim saja di Baghdad, suatu gambaran akan kekacauan, kekejaman yang memilukan, dan situasi tak terbayangkan yang terus berulang. Sedikitnya 26 orang tewas. Hayawi si penjual buku salah satunya.

Shahid menulis itu di paragraf keempat, ia pertama kali bertemu dengan Hayawi pada 2002 saat Saddam Hussein berkuasa di negara itu. Ia masih mengingat bagaimana pertemuan pertama itu membawa mereka berdua berbicara tentang Invasi Saddam ke Kuwait yang dianggap Hayawi sebagai kekeliruan. Selepas itu, Hayawi berpindah ke pembahasan tentang sulitnya ia memahami obsesi Amerika atas Irak dan Saddam pada masa itu.

Baca Juga: Sejumlah Buku yang Terpaksa Kubaca Lebih dari Dua Kali

Pada masa-masa sulit saat Invasi Amerika sampai ke Irak, suara tembakan setiap saat menjadi hal yang biasa ia dengar di Jl. Al-Mutanabbi. Pada masa jayanya, jalan ini mewujudkan pepatah lawas: Kairo yang menulis, Beirut yang menerbitkan, dan Baghdad yang membaca. Menurut Shahid, jalan itu merupakan labirin tokobuku dan toko alat tulis, mendiami sebuah arsitektur Ottoman yang elegan, merujuk nama seorang penyair terbesar dunia Arab, sang manikam bijak abad ke-10 yang keangkuhannya sebanding kecerdasannya.

Hayawi yang kecintaannya terhadap buku melebihi apapun, yang tetap melakukan rutinitas penjualan buku setiap harinya di tengah suara tembakan yang terdengar setiap saat pada akhirnya membawanya menyelesaikan penderitaannya, merenggang nyawa di tengah kepungan buku-bukunya dan ledakan bom yang menghentikan napasnya.

*

Sekitar lima tahun lalu, saat usia saya telah menginjak 20 tahun, saya barulah mulai menyentuh buku, sekaligus menamatkan buku untuk pertama kalinya seumur hidup saya. Saya menggunakan kata “telah” saat menyebut usia saya, untuk menekankan bahwa itu adalah situasi yang sangat terlambat.

Saat berkumpul dengan karib yang bergiat di dunia kepenulisan, tidak ada satu pun teman yang mengaku baru menamatkan sebuah buku saat usianya sudah di angka 20 tahun. Mereka cenderung mulai membaca dan menamatkan puluhan buku malah saat mereka baru berusia belasan. Hal yang selalu membuat saya merasa tertinggal 20.000 langkah dibanding mereka. Perjumpaan pertama dengan buku, lima tahun yang lalu itu tak pernah terpikir akan membawa saya ke situasi-sistuasi sulit, mendebarkan, sekaligus menggembirakan untuk diceritakan.

Orang yang pertama kali yang mengenalkan saya pada dunia bacaan dan dunia perbukuan adalah mahasiswa tingkat akhir yang saat itu memilih jalan pedang sebagai kolektor buku. Ia memiliki koleksi buku-buku Pramoedya Ananta Toer cetakan pertama Hasta Mitra dan bukan Lentera Dipantara seperti yang banyak beredar saat ini di toko-toko buku. Ia menghabiskan uangnya puluhan juta hanya untuk mengoleksi seluruh karya-karya Pram. Ia memenuhi perpustakaan pribadinya yang saat ini memiliki koleksi ribuan buku. Sejak mulai menjadi kolektor buku, ia setiap hari harus terbiasa makan dengan dua-tiga jenis makanan: nasi putih, telur dadar, dan sambal. Dan ajaib, dia masih hidup sampai sekarang.

Dari lelaki tirus inilah saya baru tahu, bahwa banyak persoalan-persoalan kecil yang tidak disiapkan orang-orang yang sejak awal memulai untuk menjadi pengumpul buku. Yang paling utama adalah persoalan rak. Banyak pembaca tekun yang rela mengelontorkan uang yang tidak sedikit untuk membeli ratusan buku, tetapi terlalu berhitung saat harus membeli satu saja rak buku, apalagi dengan kualitas rak yang layak. Saya masuk di jajaran orang seperti itu. Ratusan buku yang sudah terbeli yang mestinya ditata rapi di rak, harus berakhir membentuk tumpukan tinggi. Dan itu membuat buku memiliki usia yang pendek, terutama sangat memungkinkan terjadi kerusakan pada bagian bagian perekat sampul.

Baca Juga:Mengapa Kita Enggan Membaca?

Persoalan lain yang benar-benar menguras tenaga ialah saat harus berpindah tempat tinggal. Sejak awal kuliah sampai bisa memakai toga, saya berpindah tempat tinggal sampai sepuluh kali. Jumlah kardus yang harus digunakan untuk mengemas barang, sebagian besar didominasi untuk mengemas buku-buku. Memandangi buku-buku itu kadang membuat saya sadar bahwa jumlah pakaian saya terlalu sedikit dan tidak berharga sama sekali dibanding buku-buku yang sudah saya kumpulkan. Saat harus menghadiri acara pernikahan teman, permasalahan saya selalu bertumpu pada satu hal: saya nyaris tidak pernah punya pakaian yang layak untuk dikenakan ke pesta.

Saudara saya yang saat ini sudah menetap di Kalimantan, suatu hari saat ia berkunjung ke kampung halaman kami, ia pernah menegur karena tidak suka melihat celana yang saya kenakan saat itu, yang warnanya sudah sangat kusam dan lusuh. Ia memberi uang dan menyuruh untuk menggantinya. Tapi godaan saat berada di Makassar dan menemukan buku-buku Gabo di toko buku, membuat saya lupa tujuan utama uang itu mustinya dipakai untuk membelanjakan barang yang lebih layak. Situasi seperti itu yang akhirnya membuat saya selalu menunda untuk pulang selama saudara saya belum kembali ke Kalimantan.

*

Nasib berubah-ubah setiap saat, tetapi penderitaan selalu lebih betah untuk bercokol lebih lama di hidup ini dan itu bukanlah masalah besar. Ada sebuah peristiwa yang membuat saya benar-benar merasa dibuat menderita karena persoalan mengurus buku.

Teman saya yang kolektor buku itu, membeli rumah dua tingkat di Makassar yang lokasinya berlangganan dengan banjir. Beberapa tahun lalu, saat air hujan hampir mengenangi satu tingkat rumahnya setinggi hampir dua meter. Karena takut, air banjir kemungkinan akan semakin naik sampai ke tingkat dua rumahnya–tempat buku-buku dan raknya berada. Kami berdua memutuskan untuk mengamankan buku-bukunya sebelum banjir berulah. Saat masuk di rumahnya di lantai satu, air sudah sampai tepat di bibir saya, sementara ratusan kecoak berkumpul di pinggir tembok rumahnya yang bercat putih dan setiap saat siap menjadikan punggung kami sebagai landasan saat kelelahan terbang. Ketika mencapai lantai dua, semua pakaian sudah basah kuyup dan ditambah, listrik padam.

Kami berdua mengemasi ribuan buku-bukunya dan menaikkannya di tempat-tempat yang lebih tinggi. Menggunakan papan, bantal, atau kasur sebagai penyangga. Kami diburu waktu karena tidak mungkin harus tinggal di rumah itu sampai malam dalam keadaan listrik padam dan makanan yang terbatas. Kami berdua melawan tubuh kami yang semakin menggigil dan betul-betul mengumpat ke rumah itu setelah semua buku mendapatkan tempat yang aman. Buku-buku Pram sudah bisa tidur dengan nyaman, sementara kami masih harus turun melewati gerombolan kecoak dengan sisa-sisa tenaga yang kami punya.

*

Tetapi yang paling menyakitkan adalah tentu saja saat berada di situasi yang mengharuskanmu untuk menjual semua buku-bukumu yang sudah bertahun-tahun kamu kumpulkan. Dan itu terjadi beberapa bulan lalu di hidup saya yang runyam tetapi rasanya masih layak untuk dijalani.

Saya sampai sekarang merasa bersalah ke semua teman-teman yang pernah menghadiahkan saya buku. Karena dijual miring dan ditawarkan ke teman-teman dekat, buku itu terjual habis dengan sangat cepat. Itu situasi yang membuat saya benar-benar tak habis pikir, kehidupan yang rumit ini ternyata mampu mengambil satu-satunya hal terbaik yang sudah sejak lama saya jaga. Sampai sekarang, buku-buku yang pernah saya obral, foto-fotonya masih tersimpan lengkap di laptop saya. Berharap suatu saat buku-buku itu bisa kembali lagi kepada saya.

Seorang teman menelpon dan mengatakan seperti ingin menangis melihat saya menjual hampir semua koleksi buku saya. Saat dia berbicara seperti itu, saya tidak bisa menjawabnya satu kata pun. Dia tahu bagaimana kami berdua sejak dulu memilih untuk menahan segala hal termasuk persoalan makanan dan pakaian agar buku-buku yang kami incar dapat terbeli. Dan ratusan buku itu yang sudah terkumpul selama empat tahun, lenyap di hadapan saya hanya dalam waktu dua hari.

Baca Juga:Mereka yang Mengendap dan Membaca Bertumpuk-tumpuk Buku

Ketika semua penderitaan itu sudah dirasakan, penderitaan lain akan segera menyusul dan saat itulah waktu yang tepat untuk menertawakan nasib sendiri. Setelah semua buku terjual, saya sudah bisa membayar kontrakan saya yang hampir menunggak. Dua pekan setelah itu pandemi datang. Sebagian besar perantau pulang kampung, termasuk saya hingga berbulan-bulan kemudian. Itu artinya, buku-buku saya terjual habis dan kontrakan yang dibayar memakai uang penjualan buku itu, tidak pernah saya tempati sampai masa sewanya habis. Dan pada akhirnya saya tetap harus mengangkut semua barang saya, tetapi sekarang pindah tanpa bisa membawa satu pun kardus berisi buku.

Ternyata seperti itulah nasib bergerak dan memisahkan saya dengan penderitaan, sekaligus kesenangan saya: buku. Dan saat itu, saya benar-benar bisa menertawakannya. Hidup masih layak dijalani. []

BACA JUGA artikel Muhammad Arifin lainnya di sini

Facebook Comments
No more articles