Suatu waktu kenalan saya yang baik hati pernah berkata, “Menikah itu bukan lomba lari, tapi lomba memanah. Bukan siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling tepat”. Tentu saja yang mendengarnya akan terbius, apalagi saya, jangan ditanya lagi, mabok saya. Terlebih situasinya sedang pas, pacar yang sudah terlanjur dikenalkan ke orang tua, menjelma jadi mantan untuk selanjutnya menjadi suami dan ayah melalui jalur akselerasi. Jelas dia bukan orang yang tepat—urusan selesai.

Tapi bukan di situ letak intinya, pasalnya setelah itu akan ada hari di mana saya menyisihkan waktu pada malam menuju dini hari untuk merenung, bertanya pada dinding kamar tentang kapan dan dengan siapa “waktu yang tepat” itu. Sampai pada akhirnya saya memilih kalem dan memutuskan untuk kembali ke pelarian terbaik yaitu buku.

Singkat cerita bulan Juni kemarin, saya mendapat hadiah buku dari seorang teman, One Hundred Years of Solitude—Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garcia Marquez, peraih hadiah Nobel Sastra 1982. Karya Gabo ini benar-benar membuat saya sembuh, setidaknya saya belajar kalem lewat karakter Amaranta yang melepas Aureliano Jose karena moral dan melupakan Kolonel Gerineldo Marquez dengan rasa takut yang tak bisa ditaklukkan. Kupikir ini adalah fase terbaik dalam hidup, menyerah pada keadaan bukanlah opsi yang buruk. Istirahat dari hubungan yang selalu jadi racun itu keren, juga berhenti menghamba pada malam minggu adalah prestasi.

Baca Juga: Kado Pernikahan untuk Calon Istriku

Tidak lama setelah memutuskan pasrah, Tuhan tiba-tiba menempatkan saya pada unforgetable experience. Bayangkan, seorang laki-laki asing melamarmu karena kehendak orang tuanya dan kamu tak punya pilihan lain selain menerimanya dan berkata “iya” karena orang tuamu hanya menyiapkan opsi itu. Lalu apa yang harus saya lakukan? Pasrah? Menurut kalian?

Kamu tahu, laki-laki pilihan takdir ini, sebenarnya cukup familiar. Hanya saja, berlebihan untuk dikatakan akrab. Dalam artian, informasi tentang dia hanya melekat sekenanya di kepala dan selebihnya hanya berupa tempelan-tempelan asal nan acak. Ia baik, saya tahu itu makanya beberapa kali saya sempat insecure. Kok dia mau sama saya? Yang lebih suka nonton Blackpink daripada tayangan Najwa Shihab, yang kalau lapar lebih memilih tidur daripada makan, yang punya cita-cita tinggal di bukit sambil berkebun ganja dan pelihara dinosaurus. Kok bisa? Sejujurnya ingin kutanyakan itu tapi takut kalau dijawab, “Iya saya terpaksa” huhuhu.

Setelah memberi kesempatan kepada kepala untuk berpikir dan kepada empati untuk mengambil keputusan, memilih menjadi calon istri yang inisiatif adalah jalan keluar yang tidak ada salahnya untuk dicoba. Membuka hati memang tak semudah membuka tutup botol tapi juga tak sesulit membuka lapangan kerja berbasis komunal, kan ya? Demikianlah komunikasi mulai terbangun, kami bertukar informasi mengenai profil masing-masing, sesekali melempar candaan, hingga sedikit-sedikit menyenggol pembahasan perjanjian pra-nikah. Jika ingin disebut taaruf kupikir tidak juga, lagian itu terlalu #dindarey.

Tanpa melempar pertanyaan, “tipe istri idaman kamu seperti apa?”, saya menemukan poin itu, alasan sederhana yang bisa membuatku simpatik. Maaf jika ini terdengar bullshit, tapi laki-laki ini sederhana dalam bertutur, namun nyata dalam tindakan. Sepertinya ia bergerak dengan pertimbangan, hati-hati cenderung menghargai, dan yang pasti saya membuka diri tanpa harus mendengar janji akan dinikahi tahun depan terlebih dahulu. Hahaha.

Baca Juga: Cara Jitu Menghadiri Pernikahan Mantan Kekasih di Masa Pandemi

Nah, dengan keluarnya argumen ini, kupikir sudah waktunya untuk berhenti menonton siaran suara hati istri. Pada bagian pernikahan karena perjodohan, hanya perempuannya saja yang benar cinta sementara Si suami masih menjalin hubungan dengan mantan, lalu semuanya berjalan serba dramatis. Amaranta tidak begitu, ia logis dan serba tepat. Tapi saya juga tidak ingin seperti Amaranta yang angkuh tanpa kekasih bahkan menyiapkan sendiri pakaian di hari kematiannya. Jika Amaranta serba tepat kecuali dalam hal menentukan ingin menikah atau tidak, saya ingin menjadi sebaliknya: payah dalam memilih pasangan, namun tepat telah percaya pada pilihan orang tua.

Takut tulisan ini menjadi panjang dan membosankan untuk dibaca, sepertinya penting untuk mengakhiri. Biasanya di bagian ini akan ada harapan. Sayangnya, belum ada harapan untuk kusampaikan. Bukan, bukan karena harapan hanya memperpanjang derita manusia seperti kata Nietzsche, hanya saja saya takut ini terdengar cengeng. Kalau cengeng begini, bagaimana bisa jadi istri yang keren nantinya? Lagian, tidak menyebutkan bukan berarti tidak punya.

Menutup tulisan ini, kepada laki-laki yang sebentar lagi menjadi pendampingku, terima kasih sudah memilih perempuan yang sempat patah dan mungkin belum sembuh ini. Tapi kamu harus tahu bahwa kamu hanya butuh sedikit usaha lagi untuk membuatku benar-benar jatuh cinta. []

Penulis: Kartini Ridwan, alumnus Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar.

BACA JUGA artikel Kartini Ridwan lainnya di sini. Atau artikel kontributor lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles