Sebagai mahasiswa yang “banting setir” dari Jurusan Kehutanan ke Jurusan Sastra, saya awalnya terpontang-panting untuk belajar mencintai dunia sastra. Waktu itu, sekitar tiga tahun yang lalu, dengan kemampuan bahasa Inggris seadanya saya berusaha keras untuk mengerti isi cerita novela Animal Farm, sebuah karya dari penulis legendaris George Orwell yang terbit pada 1945. Novel inilah yang paling pertama membuat saya benar-benar jatuh cinta sepenuhnya dengan dunia sastra.

Animal Farm berkisah tentang pemberontakan yang dilakukan oleh sekelompok hewan terhadap tuan mereka, Mr. Jones. Pemberontakan ini dipelopori oleh seekor babi putih yang memiliki panggilan kehormatan “Old Major”. Pemberontakan ini merupakan bentuk perlawanan mereka atas perlakuan manusia yang sewenang-wenang terhadap para binatang. Old Major membawa semangat persatuan para hewan dengan mengatakan all animalis are equal—semua hewan itu setara.

Sayangnya, Old Major meninggal beberapa hari setelah berpidato. Perannya kemudian digantikan oleh dua babi lainnya. Mereka adalah Napoleon dan Snowball. Meskipun Napoleon dan Snowball sama-sama memimpin, mereka dalam kesehariannya banyak berbeda pendapat. Suatu hari, perselisihan antara Snowball dan Napoleon tidak bisa terelakkan lagi. Snowball dikejar oleh anjing-anjing pengikut Napoleon hingga tidak pernah kembali lagi ke peternakan.

Baca Juga:Catatan untuk Rijneverld: Cerita yang Berangkat dari Desa dan Trauma Masa kecil

Napoleon menjadi pemimpin yang absolut. Ditangannya, kehidupan para hewan menjadi semakin keras. Mereka harus membanting tulang setiap hari. Napoleon dan pengikut-pengikutnya juga banyak melanggar perjanjian. Meski demikian, hingga akhir cerita novela ini, Napoleonlah yang menjadi satu-satunya pemimpin di Animal Farm, meski dengan berbagai kontroversi yang ada.

Pendapat dari berbagai peneliti dan juga menurut pengakuan dari George Orwell sendiri, Animal Farm merupakan sebuah karya yang bertujuan untuk merefleksikan bentuk kediktaktoran di dunia. Namun, beberapa orang keliru mengaitkan tokoh yang dihadirkan Orwell sebagai karakter diktator yang kebetulan bernama Napoleon. Beberapa pembaca mengira, Animal Farm berkisah tentang kehidupan Napoleon Bonaparte, seorang pemimpin Perancis yang juga dicap sebagai seorang diktator.

Orwell pernah menjelaskan, bahwa intensinya dalam menulis Animal Farm ialah untuk mengkritik petinggi pemerintahan Rusia pada masa itu. Hal itu dicatat Quinn dalam bukunya Critical Companion to George Orwell. A Literary Reference to his Life and Work yang terbit pada 2009, ia menulis:

Orwell described the main focus of the book in a letter to his agent Leonard Moore in 1946: ‘If they question you again, please say that Animal Farm is intended as a satire on dictatorship in general but of course the Russian Revolution is the chief target. It is humbug to pretend anything else’.

Baca Juga: Tradisi Mudik Bukan Sekadar Pulang Kampung

Terlepas dari persoalan tersebut, sebenarnya Napoleon dalam Animal Farm termasuk sosok pemimpin yang ideal. Napoleon-lah yang memimpin para hewan hingga bisa mencapai cita-cita mereka. Selepas membaca Animal Farm, saya mencatat setidaknya empat hal yang dimiliki oleh Napoleon yang, menjadikannya pantas dianggap sebagai pemimpin untuk dunia Animal Farm:

Karismatik

Napoleon bukanlah seorang yang banyak bicara namun sekali ia bicara, tidak ada yang mampu menentangnya. Sikapnya mampu menarik perhatian dan mudah mempengaruhi orang lain saat menyampaikan gagasannya. Dengan kata lain, ia memiliki karisma yang kuat dalam dirinya. Karakter itu konsisten ia tunjukkan sejak awal cerita. Setelah Manor Farm (sebelum berubah nama menjadi Animal Farm) dikuasai oleh para hewan dan Mr. Jones telah terusir, Snowball dengan semena-mena membakar pita milik para kuda. Ia berkata “Ribbons.. should be considered as clothes, which are the mark of human being. All animals should go naked.”

Berbeda dengan Snowball, Napoleon tidak ikut memaksa para hewan untuk langsung merusak apa yang mereka miliki. Napoleon lebih mengerti perasaan para hewan. Ia kemudian mengarahkan mereka kembali ke kandang masing-masing kemudian membagikan jagung dengan porsi dua kali lipat untuk setiap warga serta dua biskuit untuk setiap anjing. Meski selanjutnya pendapat Napoleon sering kalah voting dari Snowball, sejatinya telah ada beberapa hewan yang sudah memiliki simpati dan memilih untuk mengikut sepenuhnya ke Napoleon.

Realistis

Sifat Napoleon yang sangat realistis tidak dapat diragukan. Daripada membangun hal-hal abstrak, ia lebih memilih untuk menyelamatkan hidup para hewan dari hal yang paling detil. Ia mampu melihat hal-hal yang praktis yang memang harus diselamatkan terlebih dahulu. Contohnya, ketika Snowball bersikukuh untuk mengajari semua hewan membaca. Napoleon dengan cermat mampu berpikir bahwa yang semestinya diajari adalah para generasi muda, sebab mengajari mereka yang sudah tua adalah hal yang sia-sia. Apa yang dikatakan Napoleon benar adanya. Pada akhir cerita dikatakan bahwa beberapa hewan seperti kerbau tua belum juga fasih membaca.

Kejadian lainnya yang juga membuktikan Napoleon adalah seorang yang realistis ialah ketika Snowball ingin membangun sebuah kincir angin yang akan  menyerap begitu banyak waktu dan tenaga. Napoleon mampu membaca situasi bahwa yang paling dibutuhkan saat ini ialah persediaan makanan. Ia mampu melihat pemberontakan yang baru selesai menyisakan yang belum stabil bagi para hewan. Untuk itu, belum saat nya untuk melihat hal-hal besar melainkan harus fokus kepada kebutuhan dasar terlebih dahulu. kekhawatiran Napoleon sangat logis didukung oleh argumennya: “..that the great need of the moment was to increase food production, and that if they wasted time on the windmill they would all starve to death.” (hal. 31).

Baca Juga: Pertemuan Kembali

Pendapat-pendapat Napoleon yang lainnya juga jauh lebih realistis dibanding apa yang dikatakan Snowball. Snowball berpendapat bahwa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi ancaman serangan dari manusia ialah terus menyebarkan paham pemberontakan ke seluruh hewan sehingga dengan begitu, tidak akan ada yang menyerang hewan jika semua memberontak. Namun, Napoleon yang mampu belajar dari kesulitan mereka dalam menghadapi Mr. Jones berpikir sebaliknya. Ia tahu bahwa tidak mustahil sewaktu-waktu manusia akan datang dan menyerang. Menurut Napoleon, hal yang harus mereka lakukan adalah memperbanyak senjata dan belajar menggunakannya. Dengan begitu, mereka dapat bertahan dengan kekuatan yang setara bahkan lebih kuat dari manusia.

Keputusan yang Terukur

Meskipun awalnya menolak untuk membangun sebuah kincir angin, Napoleon akhirnya memutuskan untuk membangunnya dengan berbagai pertimbangan. Berbeda dengan Snowball yang hanya berteori dan beretorika, Napoleon memimpin pembangunan kincir angin dengan perencanaan yang matang. Ia bahkan mampu memperkirakan bahwa kincir angin tersebut akan dapat selesai dalam jangka waktu dua tahun. Selama pembangunan kincir angin, Napoleon juga telah membuat kebijakan secara detil. Contohnya, bagi siapa yang ikut bekerja membangun kincir angin akan mendapat tambahan setengah porsi. Dengan kebijakan ini, tidak ada alasan bagi para hewan untuk tidak berpartisipasi.

Kebijakan Napoleon untuk bekerjasama memang cukup kontroversial. Namun, berdasarkan kondisi Animal Farm saat itu yang tidak mungkin mendapatkan material untuk membangun kincir angin. Sikap seperti ini merupakan ciri khas seorang pemimpin dengan upaya mengubah kebijakan yang tidak relevan dengan kebijakan baru. Karakter Napoleon yang penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan ini, membantu para hewan untuk tetap bertahan dan mampu menggapai cita-cita mereka untuk bisa merdeka.

Perintah Napoleon untuk mengisi bin dengan pasir sebelum Wymper datang memang cukup mencengangkan. Akan tetapi, kesungguhan Napoleon dalam menjaga martabat Animal Farm patut diapresiasi. Kebijakan yang diambilnya begitu terukur dan tampak terencana dengan matang.

Meskipun memulai kerjasama dengan manusia, Napoleon tidak pernah mempercayai mereka seutuhnya. Ia juga sangat berhati-hati agar tidak bisa ditipu oleh manusia. Dia mampu berdiplomasi dengan baik dengan Frederick maupun dengan Pilkington. Bahkan Frederick yang ingin membayar Timber dengan cek ditolak oleh Napoleon. Ia meminta dibayar dengan cash dan harus dibayarkan sebelum kayu dipindahkan. Dari semua kebijakan yang dilakukannya, Napoleon dapat dianggap sebagai pemimpin yang benar-benar dibutuhkan oleh para hewan dengan ketelitiannya yang luar biasa.

Loyalitas

Loyalitas adalah hal yang paling mencerminkan sosok Napoleon. Dari awal sejak kematian The Old Major, Napoleon lah yang selalu mendampingi seluruh hewan untuk tetap melanjutkan kehidupan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Squealer ini: “Bravery is not enough..loyalty and obedience are more important…” (hal. 33).

Napoleon terus mengarahkan para hewan dalam keadaan senang maupun susah. Mengembalikan semangat para hewan saat windmill hancur bahkan Napoleon tidak gentar saat Frederick and His Men datang menyerang. Napoleon tetap gigih memimpin perlawanan hingga mereka berhasil memenangkan perlawanan yang kemudian disebut sebagai The Battle of Windmill. Jika dilihat situasi saat itu, sangat memungkinkan bagi Napoleon untuk meninggalkan para hewan di masa mereka kekurangan ketersediaan makanan. Ia bisa saja  pergi ke Pilkington atau Frederick berkat diplomasi yang ia miliki. Akan tetapi, Napoleon memilih untuk mengabdikan dirinya untuk terus memimpin Animal Farm.

Empat karakteristik tersebut, menempatkan Napoleon sebagai seorang pemimpin yang adaptif, yang menjaga rezimnya hingga berumur panjang. Selama memegang tampuk kekuasaan, tentunya Napoleon bukanlah pemimpin yang sempurna. Layaknya pemimpin-pemimpin zaman sekarang, ia cenderung mengecewakan banyak pihak.

Baca Juga: Sebuah Kisah Membaca Fragmen

Sebagai penutup, sebelum tulisan ini semakin menjalar kemana-kemana, saya ingin mengajak kamu untuk membayangkan perjuangan para hewan dalam melakukan pemberontakan terhadap manusia sambil memutar lagu Bella Ciao. Perjuangan, tentu belum berakhir, Kamerad! []

Penulis: Suciati Agustin, mahasiswa jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas, Padang. Aktif berkegiatan di Komunitas Rumah Bercerita, sebuah wadah untuk pengembangan literasi anak. Siapapun bisa bersurat dengannya melalui surel: suciatiagustin30@gmail.com.

BACA JUGA artikel Kontributor lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles