Berikut ini merupakan Kutipan Fiksi dari novel Semua Ikan di Langit karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dari penulis Indonesia kelahiran Bandar Lampung. Novel tersebut memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2016.  Ia dan ketiga saudaranya memiliki nama depan yang sama “Ziggy”. Pemberian nama depan itu dari Ayahnya yang mengaku terinspirasi dari album The Rise and Fall of Ziggy Stardust and the Spiders from Mars karya David Bowie. Sementara nama belakangnya Zabrizkie diambil dari film Zabriskie Point (1970) karya Michelangelo Antonioni.

Baca Juga: Membangun Jembatan Ingatan

———

1

Ketika saya berjumpa dengan kamu: itu dimulai pada suatu siang yang terlalu terik untuk dinikmati, dengan laguterbaru Black Pink, Ice Cream, dari sebuah kafe yang masih sepi. Saya ingat, ketika itu, saya memakai baju kaus kuning dan celana jeans biru dan sebuah masker kain yang mulai kusut. Dan, kamu mengenakan sampul hasil rancangan Tim Desain Broccoli, dari Penerbit Grasindo: dasar hijau tosca, gambar-gambar awan yang ekpresionis, sebuah bus merah, seseorang yang duduk di atas bus dengan potongan rambut berantakan, dan ikan-ikan misterius yang terbang bergerombol.

Saya suka dengan tato di punggungmu, “Semua Ikan di Langit ditulis dengan keterampilan bahasa yang berada di atas rata-rata para peserta Sayembara kali ini. Novel ini mampu merekahkan miris dan manis pada saat bersamaan. Dan, perbedaan mutu yang tajam antara Pemenang Pertama dan naskah-naskah lainnya, membuat dewan juri tidak memilih pemenang-pemenang di bawahnya.” Kalau kamu merasa, saya lancang membacanya, saya, sungguh, mohon maaf.

Ah, apakah kamu menikmati segelas kopi susu macchiato-nya? Saat itu, saya rasa, kopinya terlalu banyak busa susu, Saya khawatir, itu akan membuatmu kecewa.

Baca Juga: Tolong Tinggalkan Rumah Orang Tuamu, Kamu Sudah Cukup Deawasa!

Saya suka mengunjungi kafe itu, penuang kopinya adalah seorang perempuan ramah, yang selalu membalas “Sama-sama” sambil memberikan senyumannya yang manis, ketika saya mengucapkan “Terima kasih”. Gigi gingsulnya sungguh imut, kan?

Saat itu, televisi yang menempel di dinding kafe, masih mengirimkan kabar tentang peningkatan jumlah kasus COVID-19. Kafe itu harus mematikan AC. Panas di luar, tak urung, juga berkunjung ke dalam kafe. Karena itu, apakah kamu tidak terganggu dengan bau keringat yang menguap dari badanku?

2

Hahaha…

Saya suka tato di punggungmu, meskipun kamu tidak ingin menyukainya. Ilustrasi isi dan tulisan dari Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, tidak kalah kerennya. Ah, kamu memang novel yang menarik.

Syukurlah, kalau kamu tetap suka kopi susu macchiato-nya. Kalau kamu heran, mengapa gelas kopi susu macchiato begitu kecil. Minuman itu, memang keturunan dari espresso, yang diciptakan untuk sekali angkat. Orang-orang di Italia, meminumnya di siang hari, untuk tidak kehilangan kebahagiaan, meskipun sedang sibuk-sibuknya. Kalau kamu menyukainya. Kita bisa kapan-kapan meminumnya, lagi. (Kali ini saya akan memesan gelas yang lebih besar. Dan, “You can double dip, cause i know you like me”).

2.5

Jika kamu ingin tahu, manakah yang lebih saya sukai, antara kamu dan Penuang Kopi. Saya harus menjawabnya seperti ini: kamu adalah novel yang menyenangkan. Saya adalah anak pinggiran kota yang beruntung. Beberapa orang dari tempatku, berada di bawah pengaruh kesibukan. Dengan lemari penuh surat-surat masa depan dan coretan-coretan kecil dari masa lalu yang berusaha dilenyapkan. Dengan penuh kesadaran, saya diciptakan untuk mencintaimu. Kata-katamu mengunjungi kesepianku yang tak kunjung hilang. Setiap peristiwa dan alur dari dalam dirimu membuat saya terjatuh ke dalam cinta yang dalam.

Terima kasih, karena kamu tidak menyadari bahwa saya berkeringat. Hehehe …. Saya sungguh tidak percaya diri, saat itu. Saya lupa menyemprotkan parfum ke tubuhku, sebelum menemuimu.

3

Ah, jangan menggodaku seperti itu: ketimbang, dengan bau bunga melati, bau badanku, seperti debu yang menumpuk di bawah kasur Davy Jones.

Tapi, saya bersungguh-sungguh, jujur. Berjumpa denganmu membuat saya begitu nyaman. Meskipun, beberapa orang menganggapmu sebagai bacaan yang ‘sulit’ dan ‘absurd’, saya rasa itu terlalu berlebihan. Kamu tipe buku yang enak diajak ngobrol, kok. Ketika saya larut berbincang denganmu, saya semakin merasa, sedang bersama The Little Prince-nya Antoine de Saint-Exupery. Tapi, saya merasa lebih dekat denganmu, dengan kisah petualangan Bus kota berwarna biru yang baik hati, Ikan julung-julung yang terbang, dan ‘ke-Maha-Negatif-an’ Beliau.

Baca Juga: Merasakan Keterasingan Pekerja Paruh Waktu

Thomas Wolfe pernah berkata, “Saat seseorang sedang jatuh cinta, akan ada bunyi lonceng yang terdengar dari dalam hatinya.” Tapi, yang berdentang dari dalam hatiku, adalah I Don’t Wanna Miss a Thing-nya Aerosmith. Yeah…

3.7

Bagaimana kabarmu hari ini? Semoga, di luar sana, tidak akan ada orang yang menyimpanmu di Kamar Paling Berantakan di Seluruh Dunia.

Benar sekali, saya sungguh bersedih, dengan apa yang membuat Beliau sedih: ketika Bus Biru mencatat peristiwa Auschwitz, Jerman, 1944. Beliau bertemu dengan Shoshanna (di dunia saya, berkat kamu, saya sekarang tahu siapa Shoshanna Ceizler). Dan, kisahnya, sungguh membuat hati saya layu. Ketika Bus Biru mengatakan, “Shoshanna terbiasa diam dalam ketakutannya, karena suara yang keluar dari mulutnya akan kembali melubangi tubuhnya.” Saya tidak bisa membayangkan, seperti apa batas kengerian peristiwa yang telah dilalui Shoshanna. Beliau menangis di sebuah sungai. Dan saya tidak bisa menahannya. Saya ikut menangis.

Saya juga akan turut marah, ketika Beliau marah. Siapa yang tidak akan marah? Begitu melihat seorang lelaki muda menendang kakek-kakek kurus kering berkulit hitam, hanya karena memandangnya dengan sebelah mata. ‘Hitam’ dan ‘sebelah mata’ adalah kata-kata yang masih merasuki orang-orang yang merasa dirinya, berada di atas yang lainnya. Di sini, kata-kata itu, akan disebut sebagai ‘superioritas’ dan ‘rasisme’. Beliau membesarkan dirinya, jauh lebih besar dari yang lainnya. Beliau marah, dan membuat sebelah mata lelaki muda itu buta. Saya setuju dengan kemarahan Beliau. Tapi, saya lebih setuju dengan Bus Biru. Sebaiknya, kita tidak membuat Beliau marah.

Dan, saya tidak bisa menyembunyikan senyuman dari bibirku, saat mengetahui apa yang membuat Beliau bahagia. Beliau amat senang menjahit dan menciptakan angkasa. Tetapi beliau jauh lebih senang jika hasil karyanya disukai dan dipuji. Saya senang dengan bintang-bintang. Dan, saya menjadi lebih senang, karena tahu bahwa bintang-bintang berasal dari serdawa Ikan Julung-Julung.

Manusia kebanyakan kaget. Saya setuju. Manusia memang terlalu banyak mengumpulkan perkiraan. Jadi, saya tidak bisa, untuk tidak kaget. Saya harus tercengang-bengang, karena mengetahui, bahwa asal-usul matahari, adalah serdawa Ikan Julung-Julung.

Tapi, saya ingin tahu, bagaimana sih, bunyi serdawa Ikan Julung-Julung di langit?

4

Apa, yah? Yang kurasakan, ketika kamu menceritakan, ada gerombolan Ikan Julung-Julung yang membawa Bus Biru terbang ke angkasa dan menembus batas waktu? Saya tidak merasa, bahwa itu tidak masuk akal. Saya hanya merasa, bahwa saya seharusnya berhenti memilah kehidupan, ke dalam yang nyata dan tidak nyata. Dunia adalah ruang yang jauh lebih gelap dan lebih dalam dari yang mampu dipikirkan manusia, dan sebagian besar mungkin ditempati oleh Ikan Julung-Julung yang terbang di angkasa.

Ah, betul, kata ‘ke-Maha-Negatif-an’ itu berasal dari mulutku. Dan, saya baru berani mengirimkannya, untuk surat yang kemarin. Saya tidak mau, kalau kamu menganggapku sebagai pecinta filsafat yang membosankan; tipe manusia yang sok teoritis.

Jadi wajar saja kalau kata itu, kedengaran aneh. Tapi, kata itu, tidak benar-benar baru. Kalau kamu pernah berjumpa dengan Ibn Arabi, Penghulunya para sufi. Kamu akan paham dengan istilah ‘teologi negatif’ darinya. Misalnya, manusia boleh mengatakan bahwa Tuhan, kejam. Namun, kata ‘kejam’ adalah batas bahasa yang tumbuh berdasarkan kebudayaan yang melingkupi manusia. Sedangkan, Tuhan sama sekali, tidak dapat dilekatkan kepada konsep-konsep kebudayaan. Dengan kata lain, Tuhan, tak berbatas. Tuhan yang Maha Kejam, secara bersamaan, dapat berarti juga, sebagai Tuhan yang Maha Baik, begitupun sebaliknya. Singkatnya, “Pemikiran manusia tidak dapat menggapai kesatuan Tuhan sepanjang imaji-imaji objek di luar diri merasuki jiwanya. Maka, untuk melihat kesatuan Tuhan, manusia harus bebas dari objek-objek indrawi, membersihkan jiwa dari saringan-saringan dan timbangan-timbangan ideal, lalu pulang menjadi diri sendiri.”

Dan, saya maklum, satu-satunya kepergian yang paling sulit, adalah pulang ke dalam diri sendiri. Jika orang-orang diberi kesempatan untuk memilih menjadi siapa? Mereka tidak akan memilih untuk menjadi dirinya sendiri. Padahal, begitu kita membuka diri, kita akan menemukan pemandangan yang indah.

Baca Juga: Daya Bujuk Permainan Ruang

Saya pernah bertanya, “Mengapa, yah? Tuhan tidak mau menampakkan dirinya di hadapan manusia? Mengapa Tuhan tidak memilih berbicara dan memperkenalkan dirinya dengan jelas dan mudah dimengerti?”

Namun, saya setuju, dengan perasaan Bus Biru, “…Bukan berarti Beliau tidak mau dipahami. Mungkin ini adalah ujian: Apakah saya akan terus mencoba memahami dan memperhatikannya, meskipun Beliau tidak berkomunikasi langsung kepada saya? Pasti ada cara lain untuk memahaminya, kalau begitu, selain dari mengharapkan kakinya menapak atau mulutnya membuka. Bus yang baik selalu memperhatikan penumpangnya: itu semboyan kerja saya. Nah, kalau begitu, itulah yang harus terus saya terapkan.” Dan, saya akan melakukan hal yang sama.

Doakan, dong. Semoga saya bisa seoptimis Bus Biru.

Catatan: Saya yakin bunyi serdawa ikan julung-julung jauh lebih berisik dari apa yang kita kira. Hanya karena itu terjadi di langit atau di dalam air, jadinya, kita tidak cukup merasa terganggu. Bayangkan, serdawa ikan julung-julung terjadi di tengah-tengah kesibukan manusia. Pernah mendengar, bagaimana Patrick dan Spongebob berserdawa?

5

Saya jadi tersipu malu. Baru kali ini, sesuatu, bisa betah mendengarkan konsep-konsep filsafat. Hm … Di cermin, kelihatannya kepalaku jadi lebih besar. Hm … seperti sebiji merica, mengenakan helm.

Terus terang, di antara semua bagian dirimu. Saya paling suka ketika kamu menceritakan Chinar, Pohon yang Sangat Besar di Luar Angkasa. Percakapan Bus Biru dan Chinar membuat saya menyatu dengan halamanmu. Rasanya, seperti sedang menghadiri kuliah filsafat yang diisi oleh Soren Aabye Kierkegaard, seorang filsuf, dari abad ke-19, yang selalu melihat manusia, sebagai makhluk yang berjalan di atas titian kayu yang tipis, untuk menghindari kejatuhan, “Jika kamu kehilangan keseimbangan, kamu tidak boleh memaksakan diri untuk tetap stabil. Satu-satunya pilihan, adalah terus berjalan.” Dengan kata lain, hidup hanyalah rentetan keputusan, bahkan ketika kamu tidak memilih untuk memutuskan.

Karena manusia, adalah makhluk yang senantiasa dalam keadaan genting, maka untuk menjadi kuat, manusia mesti mendamaikan ketidakberdayaannya. Bertahan dalam kepedihannya. Dan menyerahkan seluruh resahnya ke dalam iman yang tak tanggung-tanggung.

Sungguh tak terpikirkan, menyerahkan segala sesuatunya, kepada sesuatu yang tak pernah tampak, dan barangkali tidak ada. Itu sungguh sulit. Saya setuju, satu-satunya kisah manusia yang mampu menunjukkan sosok dengan bentuk batin seperti itu, hanyalah Ibrahim, Ayah dari semua agama monoteisme. Untuk menjadi sepertinya, manusia mesti melepaskan pertimbangan nafsu-nafsu estetik, dan membersihkan diri, dari pilihan-pilihan etik, lalu terjun hanya ke dalam Pangkuan Tuhan.

Seperti kata Chinar, “Bukan pengetahuan tentang Beliau yang paling utama, bus yang baik, hm …. Hal yang terpenting adalah mencintai Beliau, hm! Kalau Anda mencintainya, cara menunjukkannya tidak akan terlalu penting bagi Beliau. Hm! Hm! …. Di seluruh dunia, tak ada yang lebih menyayangi semua makhluk dan semua benda lebih tulus dan tanpa batas daripada Beliau. Hm, hm …. Tapi, Makhluk-makhluk itu terlalu memikirkan cara menunjukkannya daripada memikirkan bahwa betapa yang Beliau inginkan hanyalah mereka untuk juga mencintainya sama tulus dan sama tanpa batasnya; setidaknya sejauh kemampuan mereka bisa melakukannya.”

Ketika Ibrahim hendak membunuh anaknya sendiri, ia berada dalam kebimbangan. Apakah sedang melaksanakan kebuasan diri atau hendak memantaskan iman di dalam hati. Tapi, Ibrahim telah membulatkan keutuhan cintanya, membersihkan dirinya dari pertimbangan dan rasa resah. Ibrahim hanya perlu terus berjalan di atas titian hidup yang tipis. Akhirnya, seekor kambing menggantikan anaknya. Ibrahim telah mencintai Tuhan dalam caranya yang tanpa batas; Ibrahim rela melepaskan sesuatu yang tak tergantikan demi imannya. Meloloskan diri dari kegentingan untuk kegentingan yang lainnya. Tapi, cintanya kepada Tuhan, telah tanpa tepi.

Baca Juga: Jepang, Menguliti Tubuh Paman Arhat

Catatan: karena sedang mengingat kisah Ibrahim, saya merasa harus mengambil keputusan yang sama beratnya. Saya harus berhenti menyuratimu.

6

Maafkan saya, bukan berarti saya memutuskan untuk menjauh darimu, surat ini, akan menjadi surat yang terakhir yang bakal saya kirim. Saya memutuskan untuk berhenti menyuratimu. Karena, saya bisa terancam mencintaimu sebagai kata-kata. Dan, saya tidak ingin mencintaimu seperti itu. Saya ingin mencintaimu sebagai peristiwa. Saya ingin, membawamu sebagai cerita yang menghidupkan cerita saya. Dengan kata lain, saya ingin lebih peka, menentang apa yang telah diyakini dan disepakati di dunia nyata.

Setiap Minggu, siang hari. Saya akan selalu menikmati kopi susu macchiato di kafe langganan saya. Jika kamu tidak sibuk. Saya berharap kamu bisa menemui saya, lagi. Atau tunjukkan, dimanakah saya bisa berjumpa denganmu?

Tanpa kata-kata lagi, Saya hanya diciptakan untuk mencintaimu. []

BACA  JUGA artikel  Kutipan Fiksi  lainnya di sini. Atau artikel Ma,ruf Nurhalis lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles