Berikut ini Kutipan Fiksi dari novel Keluarga Pascual Duarte. Ditulis oleh Camilo Jose Cela, penulis asal Spanyol. Cela meraih Hadiah Nobel Sastra 1989. Ia dianggap sebagai salah seorang pengarang terbesar Spanyol yang pernah ada, tetapi tak banyak karyanya yang diterjemahkan ke bahasa lain. Gaya penulisan realisme brutalnya, dikenal sebagai tremendismo, tampak jelas pada novel pertamanya ini La Familia de Pascual Duarte. Ia wafat pada 2002 setelah sebelumnya sempat berperkara di pengadilan menyangkut salah satu novelnya yang dituduh mencontek karya orang lain, meskipun kemudian tak terbukti.

Baca Juga: Membangun Jembatan Ingatan

—–

Kenangan masa kecilku tak terlalu menyenangkan. Ayahku bernama Esteban Duarte Diniz. Dia orang Portugis, umur empat puluhan waktu aku masih kecil, tubuhnya tinggi dan besar seperti bukit. Kulitnya cokelat terbakar matahari, kumisnya lebat dan hitam dan ujung-ujungnya terkulai ke bawah. Kata orang, waktu ia masih muda, kumisnya yang lebat itu ujungnya melengkung ke atas. Tetapi setelah keluar dari penjara, sifat pesoleknya hilang, kumisnya sudah tidak berkekuatan lagi dan dibiarkannya terkulai sampai akhir hayatnya. Aku sangat menghormatinya, tetapi lebih banyak merasa takut, dan setiap kali ada kesempatan, aku menghindar dan berusaha supaya tak bertemu dengannya. Cara bicaranya singkat, kasar, dan tidak mau menerima perlawanan; suatu kekurangan yang juga kuhormati, karena hal itu menguntungkan diriku sendiri. Bila ia mengamuk, suatu hal yang lebih sering dilakukan dari yang diperlukan, ibuku dan akulah yang menjadi sasarannya, dan kami didampratnya habis-habisan hanya untuk alasan-alasan yang paling sepele. Ibuku berusaha membalasnya dengan setimpal, supaya kebiasaan buruknya itu hilang, tapi karena aku masih kecil, tak ada yang bisa kulakukan kecuali berserah kepada nasib. Tubuh anak-anak memang merupakan sasaran empuk!

Aku tak pernah berani bertanya padanya maupun pada ibuku tentang waktu ia dipenjarakan, karena kupikir lebih baik berhati-hati dan tidak membangunkan anjing tidur, karena anjing itu lebih sering bangun sendiri dari yang diinginkan. Apalagi, sebenarnya aku tak perlu bertanya, karena ada saja mulut-mulut yang berbaik hati, bahkan lebih dari yang diperlukan di kota sekecil itu, yaitu orang-orang yang suka sekali mengumbar cerita. Ia dipenjarakan karena melakukan penyelundupan. Agaknya itu telah bertahun-tahun menjadi pekerjaannya. Tetapi, karena seperti kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat sesekali jatuh juga, dan karena tak ada pekerjaan tanpa cacat cela, atau tak ada jalan pintas tanpa ketegangan, maka pada suatu hari, ketika ia pasti sama sekali tak menduganya—karena rasa percaya diri pulalah yang mengkhianati orang yang pemberani—para penjaga perbatasan membuntutinya, menangkap basah barang selundupannya, lalu memenjarakannya. Semuanya itu pasti sudah lama sekali terjadi, karena aku sama sekali tak ingat apa-apa. Mungkin aku bahkan belum lahir.

Ibuku lain sekali dari ayahku. Dia sama sekali tidak gemuk, meskipun cukup tinggi. Sesungguhnya, ia bertubuh tinggi dan kurus, dan tak pernah kelihatan segar. Wajahnya selalu pucat, pipinya cekung, dan kelihatan seperti seorang penderita TBC atau hampir seperti itu. Ia juga mudah naik darah dan selalu bermuka masam, dan mudah sekali gusar karena masalah-masalah sepele. Mulutnya penuh dengan kata-kata yang hanya bisa dimaafkan oleh Tuhan, karena ia seringkali mengumpat Tuhan. Ia selalu berpakaian hitam seperti orang yang sedang berkabung, dan ia takut air. Bahkan, demikian tak sukanya ia pada air, hingga sepanjang hidupnya hanya sekali aku melihatnya mandi, yaitu waktu ayahku menyebut ibuku pemabuk dan Ibu mencoba membuktikan pada Ayah bahwa ia tak takut air seperti halnya ia tak takut pada anggur. Ibu suka sekali anggur, setiap kali ia berhasil mengumpulkan beberapa uang logam, atau menemukannya dalam saku baju suaminya, disuruhnya aku ke kedai minum untuk membelikannya sebotol, yang kemudian disembunyikannya di bawah tempat tidur supaya tak ketahuan oleh ayahku. Di sudut-sudut mulutnya ada sedikit kumis berwarna abu-abu, sedang rambutnya yang tipis dan kaku digelungnya membentuk konde di atas kepalanya. Di sekeliling mulutnya tampak pula bekas-bekas luka atau tanda, lubang-lubang kecil yang berwarna merah muda seperti bekas luka peluru kecil, yang agaknya merupakan bekas semacam sakit cacar waktu ia masih kecil. Kadang-kadang, di musim panas, bekas-bekas itu seperti hidup. Warnanya menjadi lebih tua dan membentuk bintik-bintik bernanah. Di musim gugur, bintik-bintik itu memudar, dan di musim dingin tak tampak lagi.

Ayah dan ibuku sama sekali tak rukun. Mereka dibesarkan dalam kesulitan, tak diberkati sifat-sifat khusus yang baik, dan tidak mau pasrah pada nasib. Dan malangnya, aku mewarisi semua kekurangan mereka itu. Mereka tak mau berpikir sehat atau mengekang naluri mereka. Maka, keadaan yang bagaimanapun, masalah dalam bentuk apapun dan betapapun kecilnya, dapat menimbulkan badai yang akan mengamuk berhari-hari tanpa ada tanda-tanda akan berakhir. Pada umumnya aku tak memihak siapa pun. Bahkan, bagiku sama saja, siapa pun yang dipukul. Kadang-kadang aku senang melihat ibuku yang dihajar, kadang-kadang ayahku, tapi aku tak pernah diminta untuk memberikan pendapatku oleh pihak mana pun.

Ibuku tak bisa membaca atau menulis. Ayahku bisa; hal itu selalu dipersoalkannya dan tak pernah ia lupa menyatakannya setiap kali ada kesempatan, dan sering kali, meskipun tak ada hubungannya dengan persoalannya, Ayah mengatai Ibu bodoh. Perkataan itu membuat ibuku marah sekali, menjadikannya mengamuk dan mendesis seperti kadal beracun. Kadang-kadang ayahku pulang dengan membawa surat kabar, dan suka atau tidak, kami berdua disuruhnya duduk di dapur dan dibacakannya berita dari situ. Kemudian, menyusul komentar-komentar, dan begitu itu dimulai, aku pun mulai gemetar, karena komentar-komentar itu selalu merupakan awal dari pertengkaran yang hebat. Biasanya ibukulah yang memulainya, dengan mengatakan bahwa isi surat kabar itu sama sekali tak sama dengan apa yang dibacakan ayahku, dan bahwa semua yang dikatakannya itu hanya rekaan di kepalanya saja. Itu akan membuat ayahku melompat dari kursi goyangnya. Ia pun berteriak-teriak seperti orang gila, menyebut ibuku tukang sihir yang bodoh, dan akhirnya berteriak bahwa kalaupun ia memang bisa menciptakan apa yang ada dalam surat kabar itu, ia tidak akan mau kawin dengan perempuan macam ibuku. Maka, ajakan perang pun berbalas. Ibuku menyebut Ayah monyet berbulu tebal, dan mengutuknya supaya menjadi orang Portugis yang kelaparan. Agaknya kata-kata itulah yang ditunggu ayahku untuk mulai memukul ibuku, maka ditanggalkannya ikat pinggangnya dan dikejarnya ibuku berkeliling dapur, sampai ia capek sendiri. Mula-mula aku ingin melerai mereka, tapi malah mendapat beberapa pukulan. Setelah berpengalaman, aku tahu bahwa begitu melihat gelagat akan memburuknya keadaan, sebaiknya aku melarikan diri saja. kutinggalkan mereka dan aku pergi. Biarlah mereka saling menghancurkan.

Sebenarnya hanya sedikit yang terpuji dalam kehidupan keluargaku. Tetapi, karena kita tak punya pilihan lain, kecuali yang sudah ditakdirkan—bahkan sebelum kita dilahirkan—untuk menjalani hidup kita masing-masing, aku berusaha untuk menerima nasibku. Itulah satu-satunya jalan supaya aku tak putus asa. Waktu aku masih kecil sekali, ketika pikiran seseorang teramat mudah diatur, mereka sempat mengirimku ke sekolah. Kata ayahku perjuangan hidup berat sekali dan sangatlah perlu menyiapkanku menghadapinya dengan satu-satunya senjata yang diperlukan dalam perjuangan itu, yaitu kecerdasan. Nasihat itu selalu diulanginya, seolah-olah dia sudah menghafalnya. Pada saat-saat seperti itu, suaranya jadi tak begitu kasar, bahkan boleh dikatakan ganjil, dan nada suara itu benar-benar baru bagiku…. Setelah itu, seolah-olah menyesali apa yang baru saja diucapkannya, ia pun tertawa terbahak-bahak. Ia selalu mengakhiri kata-katanya dengan berkata kepadaku, hampir-hampir dengan nada penuh kasih:

“Jangan pedulikan aku, Nak… aku sudah mulai tua!”

Dan ia pun merenung sebentar, sambil bergumam lirih, “Aku sudah mulai tua!… Aku sudah mulai tua!”

Aku hanya sebentar bersekolah. Ayahku, yang dalam beberapa hal cepat naik darah dan mudah menggertak, seperti yang sudah kuceritakan, dalam beberapa hal lain, berpikiran lemah. Jelas kelihatan bahwa ia hanya memaksakan kehendaknya pada soal-soal yang remeh, dan bahwa, entah karena takut atau karena alasan lain, ia jarang punya pendirian yang tegas dalam berbagai soal penting. Ibuku tak ingin aku bersekolah, dan setiap ada kesempatan, atau bahkan seringkali, dikatakannya padaku bahwa tak ada gunanya mempelajari apa pun kalau itu tak akan bisa mengangkat kita dari kemiskinan. Kata-katanya itu bagaikan benih yang ditaburkan di tanah yang subur, karena aku pun sama sekali tak suka belajar. Dengan perjuangan kami berdua, dan dengan berlalunya waktu akhirnya kami berhasil meyakinkan ayahku, yang kemudian memutuskan untuk menyuruhku berhenti bersekolah. Aku sudah sempat belajar membaca dan menulis, dan aku sudah pandai menambah dan mengurangi hingga sebenarnya aku sudah punya pengetahuan cukup untuk mengurus diriku sendiri. Umurku dua belas tahun waktu aku berhenti sekolah. Tetapi, sebaiknya aku tidak mengisahkannya terlalu cepat, karena semuanya harus berurutan, dan betapapun dininya seseorang bangun, fajar tidak akan datang lebih awal.

——

Baca Juga: Merasakan Keterasingan Pekerja Paruh Waktu

Dikutip dari edisi terjemahan bahasa Indonesia hal. 21-25. Suwarni A. S. Bertindak sebagai alihbahasa terhadap La Familia de Pascual Duarte atau Keluarga Pascual Duarte karya Camilo Jose Cela. Diterbitkan oleh PT Gramedia Jakarta pada Januari 1996 sebagai cetakan pertama.

Baca Juga: Daya Bujuk Permainan Ruang

——

Ibuku melahirkan anak pertamanya saat usianya baru menginjak sembilan belas tahun. Ayahku, tujuh tahun lebih tua daripada dia. Tetapi aku merasa, Ayahku selalu menyimpan sikap kekanak-kanakan yang lebih melimpah. Ia terus membawanya sampai sekarang dan setiap kali ia kecewa terhadap orang lain, ia mengeluarkan sikap itu dan memakainya sebagai jimat pelindung. Aku lebih banyak belajar mendengar orang lain, meniru sifat Ibuku yang tidak dimiliki saudaraku yang lain. Dari banyak kesalahan orang tuaku, aku belajar satu hal, bahwa usia yang semakin menua, tidak menjamin diri untuk bisa melepas sikap kekanak-kanakan seseorang, apalagi menanggalkannya. Sikap seperti itu, bisa berdiam seumur hidup dalam tubuh siapa pun. Termasuk kamu yang sedang membaca tulisan ini.

Keluargaku tidak serumit Keluarga Pascual Duarte, tetapi banyak hal di buku itu, yang rasanya juga pernah aku alami. Saat Cela menulis, “aku tak pernah diminta untuk memberikan pendapatku oleh pihak mana pun (baca: kedua orang tua),” aku merasa Cela di tahun ia menulis buku itu, telah mempersiapkan kalimat itu untuk menghidupkan kembali ingatanku.

Aku tumbuh dalam lingkungan yang kepala keluarganya, tidak pernah berupaya meminta pendapat anak-anaknya saat ingin memutuskan hal yang nantinya membuat keluarga mereka menderita dalam waktu yang lama. Seperti kata Cela, “Mereka dibesarkan dalam kesulitan, tak diberkati sifat-sifat khusus yang baik, dan tidak mau pasrah pada nasib.” Dan sudah dapat dipastikan, kepala keluarga kami berhadapan setiap hari dengan jurang kegagalan. Ia membuat keputusan, tanpa ingin memahami bahwa akan ada orang-orang yang akan ia lukai dan membuat anak-anaknya menjadi orang yang tidak lagi merasakan “rumahnya” sebagai tempat tinggal. Melainkan hanya bangunan tempat singgah, dengan kata lain, anak-anak merasa menjadi tamu di rumahnya sendiri.

***

Aku hanya sedikit beruntung dari kebanyakan orang, selama ini belum pernah aku melihat kedua orang tuaku menggunakan kedua tangannya untuk saling memukul saat mereka bertengkar. Setiap selesai bertengkar, salah satu dari mereka berdua menggunakan kedua tangannya hanya sebatas untuk menghapus air mata mereka. Satu yang lainnya akan pergi dari rumah mereka berdua, dan kembali beberapa waktu kemudian tanpa punya keberanian untuk berpisah selamanya. Aku tidak tahu, mengapa banyak keluarga merasa perlu bertahan dengan sikap yang sangat pengecut yakni menghindari berpisah, tetapi sekaligus tidak ingin saling terbuka terhadap banyak hal.

Namun, aku memiliki begitu banyak teman yang punya orang tua seperti orang tua Pascual Duarte. Aku tidak menganggap mereka tidak beruntung, aku melihat kebanyakan orang tua yang ringan sekali menggunakan tangannya saat mereka bertengkar adalah mereka yang tidak selamanya bermasalah pada persoalan keuangan. Aku menduga, mereka terlalu mengharapkan kehidupan yang ideal. Kehidupan tanpa cacat, kehidupan yang ada dipikirannya yang harus betul-betul berjalan sesuai rencananya. Ia melupakan bahwa setiap manusia yang memilih terus melanjutkan hidup, akan menemui bentuk-bentuk penderitaan dalam setiap percobaan mereka mencari hal-hal yang bisa membahagiakannya. “Tetapi tak pernah ada penderitaan terakhir” kata Dea Anugrah dalam cerpennya Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang ia ulang-ulang sampai tiga kali.

Terhadap orang tua yang mudah sekali memakai tangan saat bertengkar, pepatah lama, masih perlu mereka tempelkan erat-erat dijidatnya, “bahwa tangan, tidak dipakai untuk memukul, melainkan untuk bekerja.” Dan orang yang tidak bisa belajar dari pepatah lama, sebaiknya namanya kita tulis di ponsel kita sebagai “Anjay 4.0”.

***

Jika sebatas dipandang saja, buku Pascual Duarte hanya terlihat tipis, tetapi jangan harap kamu bisa menyelesaikannya sekali duduk seperti saat kamu membaca The Old Man and the Sea nya Hemingway yang diterjemahkan dengan sangat baik oleh Al Mukarram Safar alias Sapardi Djoko Damono. Ia bukan buku sejenis itu. Novela Keluarga Pascual Duarte terdiri dari 18 bab, dan jika kamu merasa kesusahan melanjutan membaca selepas melewati bagian bab 3, aku sarankan kamu menyimpan saja buku itu di tempat yang tidak bisa lagi kamu temukan. Kamu bisa segera menganti bacaanmu. Dan terlepas dari beban yang menyiksa. Sekaligus terhindar dari peluang untuk menyelesaikan bacaan terbaik. Kamu bisa menunjukkan kekeliruan pembacaanku dengan menyelesaikan buku itu dan menulis gugatan untuk tulisan ini, tapi apakah kau yakin akan sanggup?

***

“Sebenarnya hanya sedikit yang terpuji dalam kehidupan keluargaku. Tetapi, karena kita tak punya pilihan lain, kecuali yang sudah ditakdirkan—bahkan sebelum kita dilahirkan—untuk menjalani hidup kita masing-masing, aku berusaha untuk menerima nasibku. Itulah satu-satunya jalan supaya aku tak putus asa.”

Penyampaian tokoh Duarte dalam penggalan di atas memberi pembacanya peluang berpikir, bahwa ia sepertinya akan menemukan kebahagiaan di bagian penutup buku. Ia ditampilkan sebagai sosok yang menghindar dari kemelut masalah, ia menurut pada apa yang bisa tidak membahayakan hidupnya. Hal yang sama yang akan terus berulang ia lakukan di bab-bab selanjutnya, tetapi mencapai puncak dan tak dapat lagi ia tahan dan menjadi alasan utama mengapa ia harus meminta maaf saat memulai pembuka suratnya. Cela, seperti berbisik ke telinga kita bahwa apa yang kita duga sebagai sikap bersabar, kadang hanyalah benang tipis dari sikap pengecut, ragu-ragu, atau salah perhitungan. Cela mengembangkan karakter tokohnya sepanjang cerita dengan deskripsi yang cermat dan terukur. Ia piawai menemukan alasan.

***

Sifat bertolak belakang Ayah dan Ibu Pascual Duarte dalam bagian penutup kutipan fiksi di atas, termasuk bagian favoritku. Ayah yang hanya mengikuti kehendak, tapi lemah memutuskan hal penting. Ibu yang terlalu realistis dan kuat memunculkan dugaan. Seorang anak yang hanya mengikut arus dan berserah diri pada nasib. Sebuah gambaran keluarga dengan paket komplit. Menunjukkan letak permasalahan ada pada diri tokoh masing-masing, hal yang sangat mendekati keseharian masyarakat, seperti umumnya keluarga di kampung halamanku. Perhatikan bagaimana Cela melibatkan tiga tokoh di atas dalam sebuah paragraf yang baik:

“Waktu aku masih kecil sekali, ketika pikiran seseorang teramat mudah diatur, mereka sempat mengirimku ke sekolah. Kata ayahku perjuangan hidup berat sekali dan sangatlah perlu menyiapkanku menghadapinya dengan satu-satunya senjata yang diperlukan dalam perjuangan itu, yaitu kecerdasan…

Ibuku tak ingin aku bersekolah, dan setiap ada kesempatan, atau bahkan seringkali, dikatakannya padaku bahwa tak ada gunanya mempelajari apa pun, kalau itu tak akan bisa mengangkat kita dari kemiskinan.”

***

Baca Juga: Jepang, Menguliti Tubuh Paman Arhat

Melihat Pascual Duarte, dengan membaca konteks di atas, jika ia adalah orang yang mewakili kondisi banyak anak-anak di masa lalu, pendapat yang akan terus relevan ialah seperti apa yang sudah jauh-jauh hari diingatkan penulis esai Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya, bahwa:

“Dari banyaknya cara untuk mati yang terburuk adalah melanjutkan hidup.” Tetapi kata “yang terburuk”, sama sekali bukan berarti kekalahan bukan?

Kamu sudah cukup dewasa, sudah bukan kanak-kanak lagi kalau kata Chairil. Tapi kenapa kamu takut meninggalkan rumah dan orang tuamu? Dunia di luar sana, sudah siap menempamu dengan penderitaan penuh kejutan. Dan di situlah kau akan menemukan makna. Bukan berlindung pada cangkang yang sudah lama retak. Bukan! []

BACA JUGA artikel Kutipan Fiksi lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles