Setelah menundanya untuk beberapa waktu, yang salah satu alasannya karena pandemi, Komite The International Booker Prize akhirnya mengumumkan pemenang untuk tahun 2020 pada Rabu kemarin. Keputusan juri akhirnya mendapuk novel The Discomfort of Evening keluar sebagai juara, mengalahkan lima pesaing ketatnya. Buku itu, terbit pertama kali pada 2018 dan menjadi salah satu buku  best seller di negara asalnya, Belanda. Kemudian diterjemahkan ke versi Inggris oleh Michele Hutchison. Kendati menunggu kapan buku itu tersedia dalam bahasa Indonesia sepertinya masih akan oase, meski novel itu sekarang sudah tersedia dalam Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, Arab, dan Korea—saya memilih menulis catatan singkat ini.

Seperti kebanyakan orang, saya adalah pembaca yang entah mengapa, senang mengikuti jejak perjalanan sebuah buku yang memenangi penghargaan, terutama perjalanan hidup penulisnya. Ditambah, jika penulisnya masih bernapas dengan udara yang sama dengan hidung yang saya gunakan menghirup. Cerita perjalanan buku/penulis menggambarkan sebuah jalan sempit yang cukup menyenangkan untuk dilalui sebagai bacaan. Saya lupa kapan pertama kali mulai menyukai kebiasaan ini. Tapi itu tidak penting dibahas di sini.

Baca Juga: Membayangkan Buku Dicintai oleh Semua Kalangan

Sosok itu bernama Rijneveld, (saya menggunakan kata sosok ketimbang kata ganti gender, ia menolak untuk mendakwa diri sebagai salah satu dari he/she). Hal itu, ia sampaikan pada sebuah video wawancaranya di Utrecht, Belanda. Juga, di The Guardian, ia mengatakan; “Saya bukan lagi perempuan yang dulu dibesarkan oleh kedua orang tua saya. Saya bisa menjadi perempuan juga lelaki. Atau kedua-duanya atau bukan kedua-duanya. Saya di tengah-tengah (I am in between).”

Sejak kecil, ia mengaku tumbuh dengan gender yang ambigu,  Ia merasa lebih nyaman berpakaian selayaknya anak lelaki. Bahkan, pada hari pertama bersekolah, kala masih akrab dipanggil dengan nama ‘Marieke,’ seorang teman kelasnya pernah bertanya apakah ia seorang lelaki atau perempuan, ia hanya menjawabnya dengan singkat; entahlah, saya belum memikirkan soal itu.

Berangkat dari penelusuran kecil-kecilan saya, Rijnieveld kecil tumbuh di sebuah desa kecil nan sunyi bernama Nieuwendijk, berjarak kurang lebih 80 kilometer dari Amsterdam. Orang tuanya adalah peternak sapi perah, pemasok susu dan keju. Masa kecilnya ia habiskan dengan menggembalakan sapi di padang rumput hijau yang luas dengan langit yang sangat biru di negara yang memiliki banyak kincir angin itu.

Rijnieveld remaja meninggalkan kampung halamannya dan berhijrah ke Utrecht untuk berkuliah di jurusan pengajaran (teaching). Pertemuannya dengan karya-karya John Wolters mengantarnya untuk menulis-refleksikan tentang trauma masa kecil dan bagaimana ia dikonstruksi oleh masyarakat konservatif di desanya. Ia merasa memiliki satu hubungan emosinal yang kuat dengan Wolters; dibesarkan dengan ajaran dogmatis gereja, akrab dengan ternak, dan kehilangan saudara lelaki karena sebuah kecelakaan.

Perjalanan karir kepenulisannya ia mulai dengan memutuskan untuk meninggalkan keluarga, kampung halaman, dan masyarakat yang sulit menerima dirinya. Menurut Lize Spit, seorang penulis Belgia sekaligus kawan akrab, sampai hari ini, Rijneveld tidak lagi saling berhubungan dengan keluarganya. Tetapi, menurut kabar, bukunya telah dibaca oleh ayah dan ibunya, juga orang-orang yang ada di desanya. Orang-orang yang (sebenarnya) tidak teralu akrab dengan cerita dan sastra. Orang-orang yang sulit menerima Marieke kecil yang kelaki-lakian tetapi sekaligus bisa menjadi sangat perempuan, orang-orang yang membatasi segalanya harus berdiri di antara benar atau salah.

The Discomfort of Evening meminjam latar sebuah peternakan sapi di sebuah desa terpencil pada awal tahun 2000an, bercerita tentang seorang gadis kecil berusia 10 tahun bernama Jas yang bergumul dengan kesedihan atas kematian saudara lelakinya yang tewas karena kecelakaan ice skating. Kematian itu pula yang mengantar gadis kecil dalam novel ini meragukan segala kepercayaan atas agama yang dianutnya. Tidak sampai di situ, kecelakaan itu juga menjadi pintu masuk untuk masalah-masalah yang lain. Ayahnya sulit mengontrol diri dan membuat jarak emosional, ibunya harus berhadapan dengan gangguan mental, dan saudara perempuannya, mengalami gairah pubertas yang aneh, menjadikan binatang ternak sebagai objek kepuasannya. Itu semua hampir bersumber dari satu masalah dasar, yaitu rasa sakit atas kehilangan yang tidak wajar.

Kondisi psikis dan tingkah laku masing-masing anggota keluarga dalam novel ini, termasuk cara tokoh utama menghadapi itu semua yang akhirnya menjadi jalinan benang yang menjahit secara eksplisit cerita dalam novel debutan Rijneveld ini.

Baca Juga: Politik Wacana dan Belajar Sinis kepada Aktivis

Menurut pengakuan penerjemahnya, ia harus mencari waktu yang tepat untuk melakukan kerja-kerja alih bahasa itu. Jika ia mencoba, menerjemahkan novel itu dikala berserah terimanya sore kepada malam. Maka, ia akan berhadapan dengan mimpi buruk malam itu juga. Di sisi yang lain, Ted Hodgkinson, ketua tim juri penghargaan The International Booker Prize, dalam wawancara yang sama di laman The Guardian mengaku sulit menentukan pemenang yang masuk daftar pendek  (six-strong shortlist). Namun, tentu saja selalu ada yang harus keluar sebagai yang terbaik.

Dalam wawancara itu ia mengatakan; “Novel ini akan menculik perhatianmu sejak halaman awal.

Ada sebuah intensitas kreatif yang dalam, disampaikan melalui sudut pandang anak kecil. Penuh rasa ingin tahu, dengan perspektif yang sangat puitis tentang hal-hal itu. Buku ini mengantarmu melihat kehidupan sehari-hari dengan cara yang luar biasa. Meskipun, pada saat yang bersamaan, kamu akan disuguhi dengan banyak masalah yang sulit dan meresahkan, tetapi entah bagaimana buku ini memiliki kemampuan untuk membuat kita dapat melihat dunia menjadi baru. Dan saya pikir itu sesuatu yang sangat penting. Termasuk dalam era yang serba tidak pasti dan membingungkan ini. Untuk menemukan fiksi yang memiliki kemampuan untuk memberi akar pikiran kepada kebenaran, di mana hal itu tidak dapat direduksi dari kehidupan yang lain. Buku ini tidak bisa dianggap sebagai buku biasa.”

Di salah satu artikel yang tayang pada 24 April 2020 di The New York Times, Van Saarloos, seorang penulis asal Belanda yang sering berkomentar soal isu-isu LGBT, mengakui bahwa buku ini telah berhasil menawarkan perspektif baru dalam tema kesusasteraan Belanda, utamanya karena karya ini lahir dari seorang penulis yang bukan maskulin dan bukan pula feminis. “Buku ini layaknya cerita rakyat tradisional yang bercerita di sebuah desa kecil; tentang pengalaman atas tindakan represif gereja, termasuk tindakan represif terhadap orang yang  memiliki kecenderungan seksual yang tidak umum.”

Baca Juga: Darah Itu Merah Sayang: Tawaran Lain Memahami Kasus Audrey

Dari pencapaian ini, Marieke Lucas Rijneveld (menambahkan nama Lucas untuk representasi lelaki dalam dirinya), rupanya hendak mengajarkan kita sesuatu tentang menulis. Tidak seperti kebanyakan penulis, Ia menulis selayaknya berdoa. Rijneveld kecil tumbuh dalam kepercayaan agama Protestan yang sangat dingin dan kaku. “Saya tumbuh bersama Tuhan, katanya, dan sebagai anak kecil, saya diajari untuk menyampaikan apa pun yang mendiami pikiran saya, termasuk seluruh keluh kesah dan kesedihan, semua itu harus disampaikan kepada Tuhan. Itulah yang kemudian saya lakukan ketika menulis, saya melakukan hal yang persis saya lakukan ketika kecil dulu, berharap, memohon, dan meminta sedikit perasaan lega, bedanya saya tidak melakukannya lagi pada Tuhan, tapi kepada pembaca. Saya menulis dengan cara seperti berdoa.” 

Komentarnya yang slengean bahwa memenangkan penghargaan itu sama rasa bangganya dengan sapi perah yang memiliki tujuh ambing, menunjukkan bahwa ia masih membawa sebagian besar masa lalunya. Seseorang yang pernah hidup di desa yang sunyi bersama sapi-sapi ternak perahan, rumput hijau, kandang, dan ilalang.

Juga, bahwa akumulasi dari seluruh kehilangan, rasa sakit, dan penolakan ketika ia sudah mencapai puncaknya dapat berubah menjadi sesuatu yang layak diganjar dengan sebuah penghargaan sastra bergengsi, di usia yang masih sangat muda.

Selamat! []

BACA JUGA artikel Kontributor lainnya di sini. Atau artikel Fadhil Adiyat yang lalu, di sini.

Penulis: Fadhil Adiyat, saat ini tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Hasanuddin (Unhas). Bergiat aktif, belajar, dan berdiskusi sastra di Kelompok Belajar Memancing, Malam Puisi Makassar, dan Kawan Baca.

Facebook Comments
No more articles