Berikut adalah Kutipan Fiksi dari novel Mata Malam, karangan Han Kang. Penulis yang berasal dari Korea Selatan ini, berhasil memenangkan Man Booker International Prize, pada tahun 2016. Untuk novelnya, berjudul Vegetarian. Han Kang adalah sosok penulis yang tumbuh dengan mempertanyakan tindak-laku kemanusiaan. Lewat Mata Malam, Han Kang menulis kompilasi kesaksian menggetarkan atas derita mereka yang tertindas di masa lalu; Mata Malam adalah sebuah novel yang memberi suara bagi mereka yang bisu—hidup atau mati pada peristiwa Gwangju. Mei 1980.

Baca Juga: Merasakan Keterasingan Pekerja Paruh Waktu dari Gadis Minimarket

———

… Tidak, aku tidak bertemu siapa pun di kuburan. Sebelum keluar dari apartemen pada dini hari, aku hanya menulis dan meninggalkan pesan di meja untuk adikku yang masih terlelap. Aku membawa tas ransel yang semakin berat karena bahan-bahan yang kukumpulkan di kota ini, kemudian naik bus mendatangi tempat ini. Aku tidak sempat membeli bunga. Aku juga tidak sempat menyiapkan arak maupun buah untuk sesaji. Aku menemukan sekotak lilin kecil di lemari westafel, kuambil tiga batang lilin serta pemantik api, hanya itu yang kubawa.

Kakak anak lelaki itu mengatakan ibu mereka jadi aneh sejak jenazah-jenazah itu digali dari pemakaman di Mangwol-dong dan dipindahkan ke Pemakaman Nasional 18 Mei.

Semua kerabat yang berduka memindahkan jenazah pada hari baik yang telah ditentukan. Sosok-sosok tragis itu masih sama seperti dulu ketika peti mati dibuka. Tengkorak yang dibungkus plastik, bendera Korea yang berlumuran darah … waktu itu keluarga langsung menangani mayat Dong Ho; jadi, kondisi tubuhnya masih terbilang cukup baik. Kami memotong sendiri kain putih untuk Dong Ho, kami tidak ingin menyerahkan penanganannya kepada siapa pun, kami bersihkan sendiri tulang-tulangnya. Aku khawatir Ibu akan sangat terpukul jika harus menangani bagian kepala, jadi saya buru-buru membersihkan giginya satu per satu. Walau begitu, sepertinya pekerjaan itu masih terlalu berat untuk Ibu. Seharusnya, saya memaksanya tetap tinggal di rumah.

Akhirnya, aku menemukan makamnya di antara makam-makam yang tertutup salju. Makamnya yang dulu kudatangi di Mangwol-dong hanya bertuliskan nama dan tanggal lahir tanpa ada fotonya. Namun, sekarang foto hitam-putih yang diperbesar dari fotonya dalam arsip sekolah sudah ditempelkan pada nisannya. Makam di kanan-kirinya adalah makam anak SMA. Aku menunduk menatap wajah-wajah anak muda berseragam hitam dalam foto yang sepertinya diambil saat kelulusan SMP. Kemarin malam, kakak anak lelaki itu meneruskan ceritanya. Katanya adiknya beruntung. Ia sangat bersyukur adiknya langsung berhenti bernapas setelah ditembak. Ia bertanya apakah aku setuju dengan pendapatnya itu. Ia meminta persetujuanku dengan mata yang, anehnya, terlihat berapi-api. Katanya, sepertinya siswa SMA yang ditembak di samping adiknya harus ditembak lagi agar benar-benar tewas karena tidak langsung mati. Katanya, terdapat lubang di tengah dahi siswa SMA itu, dan bagian dalam tengkoraknya pun kosong ketika jenazahnya dipindahkan. Katanya, ayah siswa itu, yang rambutnya yang sudah putih semua, menangis tanpa suara sambil menutup mulutnya dengan tangan.

Aku membuka tas. Aku meletakkan lilin-lilin yang kubawa di depan makam anak lelaki itu. aku berjongkok dengan satu lutut bertumpu di tanah untuk menyalakan lilin. Aku tidak berdoa. Aku juga tidak memejamkan mata untuk mengheningkan cipta. Lilin-lilin terbakar perlahan. Aku perlahan terisap ke dalam bunga api jingga yang berpendar tanpa suara. Aku tiba-tiba tersadar, salah satu pergelangan kakiku terasa dingin. Ternyata, selama ini sebelah kakiku masuk ke dalam gundukan salju di depan makam anak lelaki itu. Salju perlahan meresap ke balik kaus kaki basah, menuju kulitku. Aku terdiam memandangi ujung lidah api yang bergoyang-goyang seperti sayap setengah tembus pandang. (hal 254-256)

———

Baca Juga: Daya Bujuk Permainan Ruang

Dikutip dari edisi terjemahan bahasa Indonesia oleh Dwita Rizki. Terhadap Human Acts karya Han Kang. Dalam edisi asli bahasa Korea. Diterbitkan oleh PT Bentara Aksara Cahaya sebagai cetakan pertama, Oktober 2017.

Baca Juga: Aku Benci Berlari, tapi Aku Suka Buku Ini

———

Proses psikologis saat membaca novel Mata Malam, bagi saya, seperti sedang bertumpu di atas tanah, dengan satu lutut untuk menyalakan lilin. Hati saya pilu. Saya berdoa. Saya memejamkan mata. Saya mengheningkan cipta. Dan saya mendekap bunga ke dalam dada. Peristiwa Gwangju, 1980, di dalam novel ini, tampak seperti genangan air hujan yang perlahan meresap ke balik kaus kaki. Lalu, ke seluruh tubuh saya. Tragedi-tragedi yang dicatat pengarang, dan narasi yang diceritakan para narator dengan keterampilan bahasa yang indah, menimbulkan rasa dingin yang berpendar tanpa suara, menembus lekuk-lekuk hati. Kisah ini, tersusun dari pecahan-pecahan kenangan, lalu ditata rapi sebagai arsip ingatan. Dan ‘ingatan’ selalu menjadi kutukan, bagi segala kejahatan di masa lalu.

Bayangan tentang bayonet yang menusuk wajah dan dada para pemuda hingga tewas. Bayangan tentang seorang lansia yang menyingkap kain-kain yang menutupi mayat-mayat para pemuda, sambil menggigit bagian dalam bibirnya hingga berdarah, menahan pilu, dan menahan rasa bersalah. Bayangan tentang seorang Ibu yang berusaha tegar mengenali mayat anaknya sendiri, yang, tengkorak kepalanya sudah berlubang, tertembus peluru. Bayangan tentang seorang siswa SMA yang melihat teman-temannya, yang baru saja diajaknya berbincang, tewas di hadapannya, berlumuran darah, tertembak peluru tajam. Bayangan tentang mayat-mayat yang ditumpuk di tengah-tengah pepohonan gelap, dan gerombolan lalat yang hinggap di bagian tubuh mayat yang bergelimang darah kering, lantas disirami bensin, dan dibakar. Bayangan tentang usaha keras seorang penyunting yang berusaha merekam kembali ingatan-ingatan para korban. Mereka yang menjadi saksi atas bayangan-bayangan itu, berucap, berteriak, dan bergema di dalam relung hatinya yang paling dalam, “Tidak ada pengampunan. Tidak ada pengampunan sama sekali. Bahkan untuk diriku sendiri.”

“Pada kemudian hari, aku tahu bahwa hari itu tentara dijatah 800 ribu peluru. Penduduk kota saat itu berjumlah 400 ribu. Tentara dijatah sejumlah peluru yang memungkinkan mereka untuk menanamkan dua kematian di tubuh setiap orang di kota.” Untuk melindungi korban luka-luka di Kantor Pemerintah Daerah, “Para Pemuda memegang senapan. Tapi, tidak pernah menembakkannya.” Mereka semua mati dalam genangan darah yang memenuhi Kantor Pemerintah Daerah. Orang-orang Gwangju mengingat kematian mereka sebagai “kematian yang menggantikan kematian orang lain.” Setelah peristiwa itu, “Di Kantor Pemerintah Daerah, orang-orang datang berpakaian berwarna gelap berlalu-lalang dengan wajah mengernyit, seakan-akan wajah mereka bergurat luka tembus pandang.” Dengan kata lain, peristiwa tragis yang terjadi di Gwangju tahun 1980, lewat kesaksian novel ini, mencatat: bahwa tubuh semua warga Gwangju sejak 1980 telah mati. Nyawa mereka pergi bersama nyawa para pemuda. Mereka melanjutkan hidup, setelahnya, hanya dengan berlandaskan ingatan.

Ruang emosional yang dibangun secara statis sepanjang kisah, dengan bahasa yang puitis membangkitkan kembali ingatan saya. Bagi para mahasiswa di Indonesia, luka-luka ‘Reformasi Orde Baru’ adalah salah satu ingatan komunitas yang tidak dapat terhindarkan. Namun, ingatan terdekat bagi saya, adalah tertembaknya seorang kawan di Kendari, September tahun 2019. Saat unjuk rasa #reformasidikorupsi. (Sampai saat ini, kita tidak tahu, siapa yang bertanggung jawab atas kematiannya yang pilu itu. Untuk menemukan keadilan untuknya, kita harus terus menjaga ingatan, tentangnya.)

Orang-orang yang hidup dengan ingatannya memang tidak dapat memberi kekuatan untuk mengubah kenyataan di masa lalu. Tapi, ingatan bisa menimbulkan curiga di dalam hati, ketika kebohongan dan luka di masa lalu ingin menyeberang ke masa depan.

Orang-orang yang menjaga ingatannya adalah orang-orang yang berdiri di atas jembatan waktu. Mereka menjaga, agar hal-hal tragis di masa lalu tidak menyeberang ke masa depan. Orang-orang yang melupakan kejadian tragis pada masa lalu dan hidup sebagai orang pelupa akan kembali mengorbankan nyawa puluhan ribu orang-orang biasa di masa depan.

Baca Juga: Bau Busuk Kemajuan

Yan Lianke, seorang Profesor Budaya Cina, dari Universitas Sains dan Teknologi Hongkong, menggambarkan: bahwa orang-orang yang tidak menjaga ingatannya, tampak seperti balok-balok kayu yang telah melupakan hubungan esensialnya dengan pohon yang telah memberi mereka kehidupan. Lalu, menyerahkan diri sepenuhnya kepada pekerjaan Gergaji dan Kapak.

Para narator yang ditampilkan dalam novel Mata Malam adalah Para Papan yang membangun jembatan ingatan. Yang menolak rubuh. Yang menolak terpotong oleh pekerjaan-pekerjaan Para Kapak dan Gergaji. Para Kapak dan Gergaji selalu berusaha memotong ingatan orang-orang yang menjaganya. Jika terjadi Revolusi Kebudayaan di masa depan, dari jembatan-jembatan inilah kita bisa tegas mengingat, untuk tidak berdiri di tempat orang-orang yang akan memuntahkan ratusan ribu peluru ke kerumunan orang-orang tak bersalah.

Peristiwa Gwangju 1980 di Korea Selatan. Kenangan tentang Reformasi Orde Baru dan peristiwa pasca Gerakan 30 September di Indonesia. Ingatan kolektif dunia tentang Auschwitz. Dan kenangan-kenangan lainnya yang memiliki daftar panjang, luka menganga, adalah peristiwa-peristiwa pada masa lalu yang telah dilakukan oleh tangan, darah, daging, manusia-manusia biadab. Tapi, mereka yang melupakannya, menolaknya, dan tidak mempelajarinya sebagai kata, percakapan, kehilangan dan kenangan, tampil sebagai diri yang lebih biadab.

Yan Lianke berkata, “Jika kita tidak dapat berbicara dengan lantang untuk menyuarakan kebenaran. Biarlah kita menjadi pembisik. Jika kita tidak dapat menjadi pembisik, maka biarlah kita menjadi pendiam yang menjaga ingatan.” []

BACA JUGA artikel Kutipan Fiksi lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles