Berikut adalah Kutipan Fiksi dari Novel Convenience Store Women; Gadis Minimarket. Ditulis oleh Sayaka Murata. Sayaka Murata adalah seorang novelis Jepang yang lahir pada 14 Agustus 1979. Novel-novelnya sering memaparkan berbagai konsekuensi ketidaksetaraan dalam masyarakat kapitalistis Jepang. Sayaka Murata, mengeksplorasi ketimpangan gender yang terjadi di masyarakat modern Jepang, lewat sudut pandang pekerja toko paruh waktu. Convenience Store Women adalah salah satu novelnya yang menggunakan sudut pandang pekerja toko paruh waktu, dan merupakan novel pertamanya yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Baca Juga: Daya Bujuk Permainan Ruang

———

… Aku terus mendengar suara minimarket, bentuk seperti apa yang diinginkannya, apa yang dibutuhkannya, dan suara-suara itu terus mengalir ke dalam diriku. Bukan aku yang berbicara, tapi minimarket. Aku hanya meneruskan nubuat dari minimarket.

“Baik,” jawab gadis itu dengan penuh kepercayaan.

“Dan, ada banyak sidik jari di pintu otomatis. Tolong dibersihkan karena terlihat mencolok. Lalu, pelanggan di sini kebanyakan perempuan, jadi sebaiknya variasi sup bihun ditambah. Tolong sampaikan pada manajer. Lalu…”

Aku masih menyampaikan suara minimarket kepada gadis pegawai itu ketika mendengar teriakan marah, “Sedang apa kau?”

Tanpa kusadari Shiraha sudah keluar dari toilet, berteriak sambil mencengkeram pergelangan tanganku.

“Ada apa, Pak?” jawabku refleks. Shiraha membentak, “Jangan main-main!” lalu membawaku keluar.

“Tindakan bodoh apa yang kau lakukan?!”

“Aku mendengar suara minimarket,” jawabku pada Shiraha yang menyeretku sampai ke jalan. Mendengar ucapanku, mata Shiraha terbelalak seolah melihat sesuatu yang mengerikan. Namun, ia tetap mencengkeram tanganku.

“Suara minimarket terus mengalir ke dalam diriku dan tak juga berhenti. Aku terlahir untuk mendengarkan suara ini.”

“Bicara apa kau…?” Ekspresi Shiraha terlihat ketakutan dan aku terus memberondongnya dengan kata-kataku.

“Sekarang aku menyadari, aku lebih dari sekadar manusia: aku adalah pegawai minimarket. Sekalipun sebagai manusia, aku abnormal, aku tidak bisa lari dari kenyataan itu sekalipun tidak bisa menghasilkan banyak uang dan harus mati kelaparan. Semua sel di tubuhku ada untuk minimarket.”

Shiraha diam dan dengan wajah berkerut dia menarik tanganku menuju tempat wawancara.

“Kau gila. Masyarakat tak akan membiarkan makhluk hidup sepertimu. Itu melanggar aturan desa! Kau akan dipersekusi dan dikucilkan. Akan jauh lebih baik kalau kau bekerja untukku. Dengan begitu mereka akan merasa lega dan puas. Itulah cara hidup yang membuat semua orang senang.”

“Aku tak bisa ikut denganmu karena aku adalah seekor binatang. Binatang Minimarket. Aku tak bisa mengkhianati naluriku.”

“Tak akan kubiarkan kau melakukan itu!”

Aku menegakkan punggung dan menghadap Shiraha seperti saat mengucapkan “ikrar minimarket.” … (hal. 156-158)

———

Baca Juga: Jepang, Menguliti Tubuh Paman Arhat

Convinience Store Women; Gadis Minimarket diterjemahkan dari bahasa Jepang (Konbini Ningen) oleh Ninuk Sulistyawati. Diterbitkan pertama kali oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama. 2020.

Baca Juga: Aku Benci Berlari, tapi Aku Suka Buku Ini

———

Awalnya, saya berpikir, harus meninggalkan novel ini, saat tidak mendapatkan apa-apa selama membaca hingga halaman 70. ‘Tidak mendapatkan apa-apa’ maksudnya, saya pikir lebih baik memabaca novel lainnya daripada membaca seputar kehidupan minimarket yang hambar.

Kata ‘hambar’ menjelaskan bahwa, saya sudah sering mendengar curahan hati beberapa teman tentang pekerjaannya sebagai seorang pegawai minimarket, dan dari mereka, saya tahu bagaimana seharusnya sebuah minimarket bekerja. Ketika selama 70 halaman, Keiko, sebagai narator; orang pertama, terlalu larut bercerita tentang berbagai hal mengenai minimarket, yang sudah saya tahu, saya pikir, kisah tentang teman-temanku, jauh lebih menyenangkan. Tapi, ada sedikit pembukaan menarik mengenai penjelasan mengenai masa kecil Keiko, dan mengapa ia memilih menjadi seorang pekerja minimarket. Dari pembukaan peristiwa itu, saya kemudian memutuskan: meneruskan pembacaan novel ini, untuk mengetahui konsekuensi dari pertumbuhan hidup Keiko.

Keiko kecil adalah seorang gadis utilitarian–alih-alih, menganggapnya sebagai seorang psikopatis–yang berpikir: akan lebih menyenangkan, jika mengambil jalan paling menguntungkan untuk menyelesaikan masalah sekaligus memperoleh hasil yang penuh.

Keiko kecil, pernah mendapatkan seekor burung kecil yang sekarat, dan pada akhirnya mati. Teman-teman Keiko menangisi kematian burung kecil yang malang itu, dan berniat menguburkannya. Tapi, Keiko kecil malah menemui ibunya, Keiko, lalu berkata, “Ayo kita makan dia Ibu… Ayah suka yakitori, jadi nanti malam kita makan ini saja.” Tapi Ibu Keiko berkata, “Keiko! Ayo kita kuburkan burung kecil ini! Lihat, semua menangis. Teman-temannya pun pasti sedih dia mati. Kasihan, kan?” Tapi Keiko kecil tidak memahami maksud Ibunya. Keiko malah melihat Ibu dan teman-temannya yang menangisi burung kecil itu sebagai orang aneh dan lucu.

Dari pertimbangan moral Keiko yang seluruhnya diputuskan demi keuntungan sepihak. Keiko tumbuh sebagai individu yang tidak normal. Ketika menemui beberapa pilihan-pilihan moral, Keiko cenderung memilih secara utilitarian, alih-alih mempertimbangkannya dengan mendengarkan suara hati, seperti moralitas Kantian. Keputusan yang dipilih Keiko, membuat segala masalah terselesaikan tanpa jalan tengah, seperti: memisahkan kedua temannya yang sedang berkelahi dengan melukai kepala salah satunya hingga berdarah. Atau menawarkan pilihan, lebih baik menusuk seorang bayi yang rewel dengan pisau, agar bisa berhenti menangis daripada memanjakannya dengan gendongan.

Sejak saat itu, Keiko kecil tumbuh di bawah pengawasan aparatus-aparatus penyusun aturan norma masyarakat yang mengontrol kernormalan dan tidak normalnya seseorang. Orang tua Keiko, menganggap Keiko sebagai anak yang tidak normal. Adik Keiko juga menilai kakaknya sedang sakit jiwa, dan akan bersedih, jika mengetahui Keiko bertingkah aneh. Keiko menyadari anggapan kedua orang terdekatnya. Keiko ingin membuat Adik dan orang tuanya senang.  Keiko, lalu belajar memperhatikan, bagaimana seharusnya menjadi orang normal. Sampai Keiko bekerja sebagai pegawai toko paruh waktu di sebuah stasiun kota, dan kemudian bertemu orang-orang yang membuatnya belajar memahami kenormalan.

Lalu, Keiko memperoleh jawaban: kenormalan hidup bagi Keiko hanya sebatas pintu minimarket tempatnya bekerja. Ketika ia berada di dalam minimarket dan bekerja sebagai pekerja toko, maka ia bisa merasakan hidupnya, normal. Lalu, ketika ia berada di luar minimarket, Keiko akan menganggap dirinya abnormal dan tidak bisa melakukan hal-hal yang berguna bagi masyarakat. Oleh karena itu, Keiko hanya ingin hidup sebagai pekerja toko minimarket.

Upaya Keiko untuk menjadi orang normal, demi menyenangkan Adik dan orang tuanya justru membuat hidupnya terperangkap di dalam minimarket. Keiko menyadarinya, ketika Keiko menganggap bahwa ia tidak bisa hidup tanpa hidup sebagai pekerja minimarket. Keiko lalu tertimbun oleh pekerjaannya sendiri, dan tidak bisa lagi melepaskan diri dari nubuat minimarket.

Keiko lantas hidup dalam teks proletariat: Pekerja paruh waktu! penghasilan rendah! diperintah atasan! Diabstraksikan oleh nilai tukar! Didefenisikan oleh pasar! Dikendalikan oleh arena pekerjaan! Dipisahkan dari produknya! Murung! Suram! Gelap! Lelah! Sunyi! Terasing!

Kata yang terakhir membuat saya ingat dengan konsep keterasingan Hegelian Kiri. Kata ‘terasing’ dapat ditemui dalam konsep Hegelian Kiri, sebelum diadopsi oleh Marxisme dan menjadi terkenal sebagai ‘alienasi’. Ludwig Feuerbach, merupakan salah satu Hegelian Kiri, mengemukakan bahwa ‘terasing’ adalah sebuah keadaan yang membuat manusia memperkirakan esensi dirinya sendiri ke dalam imajinasi material. Teori Ludwig Feuerbach tentang kata ‘terasing’, menurut saya, menjelaskan secara teoritis keadaan Keiko. Keiko dalam adegan penutup, seperti yang terkutip pada halaman 156-158 di atas, telah mencapai puncak perkiraan keterasingan. Keiko telah mengubah esensi dirinya sendiri ke dalam minimarket tempatnya bekerja. Dengan kata lain, Keiko telah menjadikan seluruh tubuhnya sebagai bagian material dari minimarket. Tubuhnya telah bersatu dengan minimarket.

Karl Marx dalam The Economic Philosophical Manuscripts of 1844, menuliskan satu bagian manuskrip berjudul ‘Alienated Labor –Pekerja yang Teralienasi’ dan mengemukakan bahwa: karena sistem kelas Kapitalisme yang termekanisasi, membuat para pekerja bertentangan dengan produk-produk yang mereka ciptakan. Para pekerja dibuat terasing dari hasil kerjanya, terasing dari aktivitas kerjanya, terasing dari hubungannya dengan manusia lainnya, dan terasing dari dirinya sendiri. Upah para pekerja dan perubahan hidup ke arah yang lebih produktif berdiri, secara ironis, untuk menentang para pekerja sebagai produsen komoditi itu sendiri. Keiko melagakkan epos sistem produksi Kapitalisme. Keiko adalah pekerja yang terasing dari hasil kerjanya.

Keiko, lantas melakukan ‘reifikasi’ kepada seluruh perkiraan esensi dirinya sendiri. Keiko telah mengubah gejala kultural hidupnya menjadi benda yang mengutamakan segi ekonomis daripada kebutuhan perkembangan estetis. Seperti kutipan ini: “Secara kebetulan aku melihat bayanganku di kaca jendela minimarket yang tadi kudatangi. Tangan dan kakiku ada untuk minimarket, pikirku, dan untuk pertama kalinya aku menganggap sosok diriku yang terpantul di kaca adalah binatang yang memiliki arti.” (hal.159)

Baca Juga: Bau Busuk Kemajuan

Begitulah hidup Keiko, diakhir kisahnya, menemukan kenormalan dirinya sebagai Binatang Minimarket yang seluruh hidupnya telah diserahkan kepada ikrar pekerja toko. Namun, Keiko tidak sendirian. Keiko adalah pertunjukan dari tragedi masyarakat Kapitalisme Modern, si pemuja uang, sebagai penguasa kenormalan yang justru mengandung penyakit kejiwaan. Hidup dipaksa berjalan pada jalur yang normal dengan rambu-rambu pasar sebagai panduan. Jika melakukan pelanggaran, masyarakat akan begitu saja, secara automaton—sebuah mesin yang dapat bergerak sendiri—memaksa individu keluar dari kenormalan, atau diusir dari keuntungan, berbagi nilai lebih.

“Selama kita memakai topeng manusia normal dan bertingkah laku sesuai panduan, kita tak akan diusir dari desa. Dan kita tak akan dianggap gangguan.” … “Dengan kata lain, kita memainkan peran sebagai sosok khayalan yang disebut ‘manusia normal’ seperti semua orang. Sama seperti orang-orang di minimarket yang memainkan peran sebagai sosok khayalan yang disebut sebagai ‘pegawai.’” (hal 94) []

BACA JUGA artikel Kutipan Fiksi lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles