Kamu membaca Hemingway. Kamu membaca Fitzgerald. Dan Empat tahun sebelas bulan kemudian, kamu duduk dengan seorang perempuan yang kelak akan membuatmu gemetar setiap kali membaca pesan-pesannya yang masuk. Hari pertama sejak kamu tahu bahwa kamu mencintainya, kamu mengenalkannya dengan seorang editor genius dari sebuah film yang diperankan Colin Firth. Selama satu jam setengah, kamu dan dia memandang layar yang sama, kamu mengagumi parasnya dan dia mengagumi Colin yang piawai memerankan Maxwell Evarts Perkins di film itu. Dia mengagumi Max Perkins dan tidak mengagumi kamu.

Max Perkins dijuluki sebagai editor genius di penerbit Charles Scribner’s Sons—sebuah penerbitan di Amerika Serikat yang bermukim di New York City sejak 1846—sebab selama 36 tahun bekerja di penerbitan Scribner, tak seorang pun editor lain yang mampu menyamai Max dalam menemukan pengarang-pengarang berbakat.

Baca Juga: Sorgum Merah: Jepang, Menguliti Tubuh Paman Arhat

Kamu tahu kemudian bahwa Max lah yang berjasa dalam mengedit The Sun Also Rises karya Hemingway dan The Great Gatsby gubahan Fitzgerald, dua buku yang kamu baca empat tahun sebelas bulan yang lalu. Dari sebuah bab pembuka buku biografi Max Perkins yang disusun oleh Scott Berg yang saat itu baru berusia 29 tahun, kamu tahu bagaimana Max menempatkan dirinya bukan hanya sebagai rekan kerja pada posisinya sebagai editor, melampaui itu, ia menjadi teman dekat bagi para penulisnya. Kamu tahu bahwa Max lah yang menghentikan kegilaan Hemingway saat merevisi bagian buku terbaiknya A Farewell to Arms sebanyak 50 kali. Kata Max, “Sebelum seorang penulis menghancurkan kualitas alami dari tulisannya sendiri—itulah saat yang tepat bagi seorang editor untuk maju. Tapi tidak semenit pun sebelum itu.”

Kamu tahu bahwa Max lah yang membantu Fitzgerald untuk membujuk penerbit Scribner agar meminjamkan ribuan dollar kepada Fitzgerald yang kemudian menyelamatkan penulis itu dari ganguan depresi menghadapi istrinya, Zelda yang memiliki ganguan mental. Saat kamu menonton dengan perempuan itu—kamu berupaya menyembunyikan kegugupanmu, kamu melihat adegan Thomas Wolfe, masuk ke kantor Max Perkins membawakannya dus besar berisi naskah awal Of Time and the River, ratusan ribu halaman yang kemudian disunting Max yang memakan waktu menahun dan menjadikannya sebuah buku yang dirayakan saat terbit. Ratusan ribu halaman buku itu, diperiksa ketat Max hingga menemui bentuk terbaiknya yang tak lebih dari dua ribu halaman saat diterbitkan penerbit Scribner.

Dari seorang Max Perkins, kamu tahu bahwa dibalik kesuksesan besar sebuah buku, ada editor ulung yang berperan besar memperbaiki naskah awal. Itu juga berlaku dalam tulisan-tulisan lain. Kamu pernah mengalaminya, saat kamu terjebak dalam situasi yang rumit. Saat itu, kamu mengemban tugas sebagai orang yang musti bertanggung jawab untuk memastikan sebuah penerbitan berita kecil musti terbit secara berkala. Kamu didera kesepian akut dan berkali-kali kelelahan sebab harus menyusun segalanya sendiri, dari membuat perencanaan liputan, membagi jobdesk reporter—atau mengantikan reporter yang tiba-tiba hilang kabar, memastikan naskah masuk sebelum deadline, memverifikasi data, merangkap editor naskah sebab kamu tak punya satu pun editor waktu itu, dan menerbitkannya karena tak satu pun orang yang berkenan mengurusi rutinitas itu. Semuanya kamu lakukan dengan sendiri. Atau melakukannya berdua dengan bayanganmu.

Para penulismu suka bergantian hilang, tetapi kemudian akan datang kembali. Sebagai penyunting naskah mereka, kamu berkesempatan masuk ke kehidupan penulismu, kamu menjadi teman dekat untuk mereka. Setiap saat, kamu musti menjadi pendengar untuk reportermu—bahkan ketika kamu tak ingin melakukan itu, bahkan ketika kamu membutuhkan waktu untuk menyendiri. Suatu ketika, seorang penulismu menceritakan kondisinya yang sulit, sebab kedua orang tuanya sedang mengurus perceraian dan membuat ia harus pulang ke kampung halamannya dan mau tak mau musti meninggalkan liputannya. Di hari lain, kamu mendengar penulis lain menangis saat bercerita kepadamu tentang kematian kedua orang tua mereka dan bagaimana di setiap momen mereka harus menyembunyikan kesedihannya ke setiap orang. Juga saat seorang penulismu yang lain bercerita tentang bagaimana ia kemudian merasakan kegembiraan saat bekerja sama dengamu, tetapi harus selalu bersedih setiap pulang ke rumahnya sebab ia musti melihat kedua orang tuanya melakukan pertengkaran yang berulang. Dengan nada teriakan yang sama yang membuat ia tak pernah mempercayai sebuah keluarga yang ideal. Ia ingin sekali meninggalkan rumahnya untuk waktu yang lama, tetapi ia tahu itu hal yang mustahil.

Baca Juga: Sulli, Sudahkah Kita Bahagia?

Dengan berterus terang, kamu mengatakan bahwa jauh lebih menghormati kerja-kerja editor naskah ketimbang penulisnya. Kamu misalnya membeli Kura-Kura Berjanggut Azhari Aiyub—pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2018—bukan karena ia mengerjakan tulisan itu puluhan tahun, melainkan karena kamu tahu bahwa yang menyuntingnya adalah Yusi Avianto Pareanom, seorang yang ingin kamu sebut sebagai editor ulung ketimbang penulis. Yusi, adalah pendiri penerbit Banana, merangkap penulis, penerjemah, dan juga editor naskah di penerbitannya sendiri. Naskah yang Yusi edit, Dekat dan Nyaring mendapuk novela Sabda Armandio itu sebagai karya prosa pilihan Tempo tahun 2019.

Selain Yusi, tentu kamu tak akan melewatkan nama Dea Anugrah, seorang penulis yang pernah ia sunting tulisannya mengaku bahwa Dea Anugrah saat menjadi editor bisa suntuk mengutak-atik sebuah paragraf naskah sampai tujuh kali atau malah lebih hanya agar paragraf itu dapat dengan mudah menyentuh hati pembacanya. Selain dua laki-laki tadi, dua perempuan lain yang juga kamu tahu berperan besar sebagai editor, pertama adalah Mirna Yulistianti, editor buku Gentayangan milik Intan Paramaditha, yang melakukan sembilan kali pembacaan dan penyuntingan, baru buku “pilih sendiri petualangamu” itu dapat tersaji dengan model terbaiknya seperti sekarang. Mirna juga yang sebagian besar mengedit novel-novel Eka Kurniawan. Kemudian, teman baikmu sendiri, seorang yang sering kamu kunjungi rumahnya untuk mendengarnya banyak bercerita tentang halaman belakangnya, tentang buku-bukunya, dan kenangannya saat menjadi penanggung jawab rubrik Literasi Koran Tempo Makassar sekaligus bertugas mengedit naskah, kamu dan temanmu yang lain akrab memanggilnya Imhe Mawar. Ia kamu tahu, satu-satunya orang yang kamu dengar pernah menamatkan KBBI dari halaman pertama hingga halaman terakhir, seorang karibnya pernah menyebutnya sebagai “editor galak” yang kemudian kamu pahami sebagai sebutan untuk seorang editor yang ketat saat memeriksa naskah dan paham memperbaiki struktur bahasa dalam naskah-naskah yang ia sunting.

Baca Juga: Mengapa Kita Enggan Membaca?

Editor naskah liputan-liputan panjang bergaya jurnalisme naratif favoritmu sejak dulu adalah Fahri Salam—selain Zen RS. Orang itu pernah satu mobil dengan kamu selama satu jam perjalanan ke Kabupaten Maros, kamu memilih banyak diam di mobil waktu itu. Kamu ingin lebih banyak mendengar dia berbicara, saat itu kamu sedang suntuk mempelajari cara membalas hak jawab narasumber yang komplain terhadap terbitan liputan media dengan menggunakan contoh tulisan hak jawab dari Fahri Salam. Di perjalanan singkat itu, kamu mendengar Fahri Salam mengatakan bahwa ia dalam satu pekan hanya ditugaskan mengedit empat sampai lima naskah liputan oleh kantornya, tetapi naskah yang ia harus sunting sebagian besar adalah naskah Indepth Reporting yang membutuhkan waktu mengedit yang kadang lebih panjang dari tenggat waktu.

Kamu meyakini bahwa editor naskah, berperan sebagai mata baru agar bisa memberi perspektif yang lebih segar untuk pengembangan penulisan naskah. Ia tidak hanya berkutat pada persoalan memperbaiki salah ketik saja, ia bisa menawarkan bentuk penuturan lain, atau setidaknya menunjukkan karakter-karakter tokoh yang suaranya mestinya berbeda tetapi cara penuturan penulis membuatnya terdengar serupa. Itulah mengapa saat kamu mewawancarai seseorang tentang proses kreatifnya, kamu selalu menanyakan satu pertanyaan yang sama: siapa orang pertama yang membaca naskah penulis yang sedang kamu wawancarai. Semata-mata untuk memastkan apakah penulis yang kamu wawancarai, terbuka untuk mendengar masukan-masukan dari orang lain.

Di sebuah wawancara podcast, kamu pernah samar-samar mendengar penulis Sungu Lembu berkata, “penulis bisa saja salah, editor tak bisa salah.” Ia secara tersirat ingin mengatakan kepada kamu, bahwa urusan menyunting naskah bukanlah urusan main-main. Kamu harus selalu berusaha keras, bukan mencari kesalahan melainkan menemukan kekeliruan dari tulisan setiap naskah yang kamu periksa. Sebuah naskah besar, beberapa musti memakan waktu penyuntingan yang lama, di laman The New Yorker misalnya, kamu pernah membaca cerpen perdana JD Salinger berjudul A Perfect Day for Bananafish. Cerpen itu setidaknyamembutuhkan waktu penyuntingan selama satu tahun ditangan Willliam Maxwell sebelum terbit pada Januari 1948. Pada Januari 1947, JD Salinger mengirim naskah itu pertamakali ke The New Yorker, saat usianya 28 tahun. Tentang kaitan susah payahnya mengedit naskah, kamu tiba-tiba mengingat postingan Nurhady Sirimorok di laman Facebooknya yang sejak beberapa bulan lalu telah kamu baca, bahwa tulis Nurhady, “Menulis novel lumayan enteng, sebetulnya, menyuntingnya yang biadab,” kamu membaca kata “biadab” empat belas kali, sebelum melanjutkan penggalan kalimat berikutnya, “kata seorang pemula yang menulis dua bulan dan baru rampung menyunting dua tahun kemudian.” Di kolom komentar Facebook, kamu melihat Nurhady menandai satu nama seorang penulis novel yang sejak lima bulan terakhir susah payah menyunting novelnya satu paragraf pun.

Baca Juga: Mereka yang Mengendap dan Membaca Berumpuk-tumpuk Buku

Kamu kemudian mengarahkan kursormu, membuka folder “novela” mu, mencoba menekan tombol “Del” di penggir kanan keyboard menggunakan jari telunjukmu dan di layar, terbaca pertanyaan: “Are you sure you want to move this folder to the recycle bin?”, kamu memilih “Yes” dengan menekan tombol “Enter” menggunakan jempol kaki.

Dan hari ini, saat kamu kembali dari kamar mandi setelah mencuci jempol kakimu dengan produk sabun Unilever, kamu menulis tulisan ini untuk sebuah kanal kecil, tempat kamu telah menolak dan menyunting ratusan naskah. Dan menduga tak seorang pun pembaca yang ingin tahu. []

BACA JUGA artikel Muhammad Arifin lainnya di sini

Facebook Comments
No more articles