Solastalgia adalah respons emosional yang muncul ketika lanskap lingkungan berubah menjadi tidak bersahabat. Solastalgia membuat orang menjadi tidak berdaya ketika kenangan indah tentang lingkungan hidup tertentu bermunculan. (Glenn Albrecht, filsuf.)

***

Dengan tulisan ini, aku ingin berbagi soal kenanganku. Akan terancam membosankan dan tidak penting, memang. Tapi, aku sadar bahwa tidak ada masa lalu yang sempurna. Sama seperti, tidak ada masa depan yang sempurna. Aku hanya sedang merasakan solastalgia akut. Karena itu, aku butuh seseorang untuk berbagi, dan menyiasati perasaan lemah ini.

Aku ingin bercerita kepadamu, tentang tempat tinggalku. Aku ingin menyebutnya sebagai kota maju. Tapi, peralihan menuju utopia peradaban itu, kelihatannya masih panjang. Menyebutnya sebagai desa asri, juga sudah tidak mungkin lagi. Peninggalan itu, sudah klenik di dalam pikiran-pikiran para orang tua. Tokoh-tokoh yang menempati dua garis generasi di atasku. Mereka, sesekali menyembulkan masa-masa kejayaannya ketika mengkritik para pemuda manja yang takut terkena sinar matahari: “Andai dulu kalian tahu rasanya merawat padi,” begitulah mereka sering mengawali kalimat-kalimat sinisnya, dan kalau mereka sudah memulainya akan sulit sekali dihentikan. Mungkin, aku akan benar jika menyebut tempat tinggalku sebagai daerah pinggiran kota, dan akan lebih tepat lagi jika aku menyebutnya sebagai Kawasan Industri Makassar. Tempat aku lahir, dibesarkan, dan mencium bibir seorang perempuan, pertama kalinya.

Jika kamu berkunjung ke tempat tinggalku, kamu akan melihat di hadapanmu, di seberang jalan, sebuah pabrik Minyak Gosok Tawon yang ditata mirip seperti balkon gedung-gedung peninggalan Belanda. Kalau kamu menoleh ke belakang, akan terlihat bekas gudang penyimpanan Coca-Cola. Jika kamu mau berkeliling lebih jauh, kamu akan tahu letak gudang sembako, gudang peralatan rumah tangga, gudang alat-alat berat, dan gudang makanan ringan. Gudang-gudang lainnya berjejer sepanjang jalanan tol.

Baca Juga: Vegetarian: Daya Bujuk Permainan Ruang

Kawasan Industri Makassar akan mulai sibuk pada jam tujuh tiga puluh pagi hingga enam sore. Pada malam yang selalu sepi, jika kamu ingin biaya untuk mabuk, kamu bisa membegal seseorang di jalan. Tingkat keberhasilannya cukup tinggi. Tapi, jika kamu gagal, kamu akan jadi kecoa.

Mengenai lanskap aromanya, di sini, kamu bisa belajar banyak mengenai bebauan. Aroma biji buah coklat yang sedang dikeringkan, pada tiga puluh menit pertama, adalah bau yang bersahabat. Selebihnya, kamu butuh lebih dari kedua tanganmu untuk menutup hidungmu. Bau Minyak Gosok Tawon yang mendidih tidak kalah busuknya. Pabrik Pengemasan Udang, oh tidak, kalau aku memikirkan aroma limbahnya, aku tidak tahan untuk mengeluarkan sumpah serapah. Tapi, bau biskuit yang baru diangkat dari panggangan adalah bau yang menyenangkan. Aroma susu bubuk selalu membangkitkan rasa lapar. Tapi, aroma itu segera buyar ketika mesin pakan ternak mulai diaktifkan. Baunya bisa membuatmu apatis terhadap kehidupan. Kata ‘apatis’ artinya acuh tak acuh; tidak peduli; masa bodoh. Sedangkan ‘masa bodoh’ adalah kata afektif untuk menyatakan tidak senang hati; terserahlah; sesukamulah. Kawasan Industri Makassar bisa membuatmu seperti itu.

Kawasan tempatku tinggal cukup luas untuk mendaratkan pesawat Boeing 737, jika saja ada pilot mabuk yang tak sengaja mendaratkan pesawatnya di tempat tinggalku. Tempat tinggalku juga bagus untuk menggelar konser Soneta Group. Kalau saja, Bung Haji Rhoma Irama sudah kehabisan panggung di televisi. Aku tidak tahu pasti berapa jumlah penduduknya. Aku hanya menyadari, masjid di sini sudah lebih dari lima kali mengadakan perluasan, dan masih belum cukup. Perluasan masjid bisa menandakan beberapa hal: satu garis generasi telah bertambah, atau para pencari kerja dari luar kota datang memujurkan nasib di Kawasan Industri Makassar sebagai buruh lepas. Lalu, mereka memutuskan tinggal di indekos murah. Di tempat tinggalku ada banyak sekali indekos murah. Kalau kamu mau, aku bisa mencarikan satu kamar untukmu. Tapi kalau kamu ingin mengukur sumbangan demografi tempat tinggalku, kamu bisa mengunjungi kantor kelurahan. Tapi, maaf, kamu pergi saja sendirian. Aku malas mengunjungi kantor kelurahan. Sebenarnya, aku suka kantor lurah. Pak Lurah selalu sopan diajak berbincang. Aku hanya malas melewati jalan tol yang sibuk sekali.

Di antara lanskap tempat tinggalku yang memualkan dan menjemukan itu, setidaknya seorang gadis kecil yang menggemaskan pernah tinggal di belakang rumahku. Saat itu aku seusia dengannya, sepuluh tahun. Dia bernama Intan Permata. Intan tinggal di rumah panggung, di dalam gudang Coca Cola. Di atap rumahnya terdapat sarang burung merpati. Tapi, sepasang burung merpati yang sedang jatuh cinta selalu memilih kawin di jendela kamar Intan. Aku tidak tahu, mengapa? Rumah panggung itu dahulu milik seorang supir truk bertubuh besar dan gempal dan menakutkan. Tapi, menjadi sangat lucu jika sedang mabuk Topi Miring. Ia senang dipanggil Om Big Show. Nama Om Big Show diambil dari salah satu figur pegulat Smack Down. Om Big Show senang sekali memainkan avatar Big Show jika sedang bermain PlayStation 2. Om Big Show pergi dari rumah panggung itu setelah perusahaan coklat, tempatnya mengabdi, bergeser ke Surabaya.

Baca Juga: Lima Corak yang Harus Dimiliki Sebuah Film agar Dapat Masuk ke dalam Genre Bong

Keluarga Intan datang bersama perusahaan Coca-Cola setahun setelah Om Big Show pergi. Mereka, ia dan Ayahnya, lalu menempati rumah itu. Seminggu setelah Intan tinggal di sana, pagar jaring besi yang biasanya terlihat mengelilingi lapangan tenis ditancapkan mengelilingi rumah panggung itu.  Hasilnya, tampak seperti rumah di dalam sangkar burung. Pagar itu menjadi batas, agar Intan tidak bermain terlalu jauh. ‘Jauh’ maksudnya adalah tidak sampai menjelajah ke dalam gudang. Di dalam gudang ada banyak sekali kaleng-kaleng dan botol-botol Coca-Cola yang ditumpuk setinggi empat meter. Tentu saja kaleng-kaleng itu akan membahayakannya. Tapi, tidak ada tempat yang paling menyenangkan di gudang itu, selain berlarian di antara tumpukan kaleng-kaleng dan botol-botol yang tampak seperti labirin. Aku setuju dengan Intan. Apalagi, sewaktu Intan mengajakku melompat dan mendarat di tumpukan kaleng-kaleng yang cacat produksi. Itu sungguh menyenangkan. Tapi karena kaleng-kaleng itu juga, Intan pernah hampir mati setelah terkubur kaleng kemasan Sprite. Intan ditemukan dalam keadaan lemas, tapi ia selamat. Sprite adalah minuman kesukaan Intan. Intan bisa menghabiskan tujuh kaleng setiap hari. Tapi, setelah kemasan itu membuatnya hampir mati, menyebutkan mereknya saja sudah bisa membuatnya muntah. Aku selalu menggoda Intan. Aku menyebut surprise menjadi suprait, ketikamengagetkannya. Intan pasti marah. Dan tidak akan berhenti memukuli kepalaku sampai aku minta maaf yang setulus-tulusnya.

Tentang Ibu Intan, aku hampir tidak bisa mengingat wajahnya. Aku pernah bertemu Ibu Intan sehari setelah Intan terkubur kaleng-kaleng Sprite. Tapi, hanya sekilas. Aku hanya ingat, Ibu Intan memiliki suara yang menyenangkan. Berbanding terbalik dari suara Mamakku. Kalau aku bertanya tentang Ibunya, Intan hanya bilang, “Ibuku cantik sama seperti aku.” Ketika aku menjumpai Intan terisak-isak sendirian di sudut-sudut pagar, ia akan menyatakan, “Aku rindu sama Ibuku.” Aku lalu berusaha menghiburnya dengan berkata, “Kau bisa ambil Mamakku. Aku bisa menyuruh Mamakku membelah dirinya. Jika, kau mau.” Intan akan segera menghapus air matanya, kemudian ingusnya dan mulai merapikan rambutnya dan merapikan bajunya. Lalu memukuli kepalaku dengan semangat sambil berkata, “Memangnya kau pikir Mamakmu amoeba. DASAR ANAK SIALAN.” Belakangan aku baru tahu Ibu Intan bekerja, entah sebagai apa, di Ambon.

Tentang Ayah Intan, konon katanya, seorang mahasiswa kedokteran yang cerdas. Namun, sebelum menyelesaikan studinya, Ayah Intan bertemu dengan Ibu Intan dan mereka saling jatuh cinta. Ketika cinta mereka semakin kuat, mereka memutuskan untuk menikah. Intan lahir setahun kemudian. Setelah Intan lahir, biaya hidup mereka bertambah. Pendapatan mereka juga semakin sedikit. Kehidupan mereka jadi sangat matematis. Berpikir tentang matematika, selalu membuatku takut. Aku tidak habis pikir bagaimana mereka bisa menyelesaikannya. Tapi, begitulah akhirnya. Ayah Intan meninggalkan ruang kuliahnya. Dan menjadi seorang pekerja kontrak yang bekerja penuh waktu di perusahaan Coca-Cola.

Baca Juga: Kalau Memang Harus Mati, Mengapa Tidak dengan Memainkan Gim Online?

Sejarah itu bisa saja silap. Kata ‘silap’ artinya, salah penglihatan (penglihatan atau perasaannya berlainan dengan keadaan sebenarnya). Aku hanya mendengarnya dari Tantenya Intan yang kelihatannya sulit dipercaya. Tantenya Intan suka menonton sinetron siang hari. Tantenya Intan selalu menangisi adegan yang tidak perlu ditangisi. Tapi, aku yakin, kecerdasan Intan turun dari Ayahnya. Meskipun Intan adalah siswa pindahan yang masuk pada tahun ketiga. Intan langsung merebut tahta peringkat pertama di kelasku dari anak laki-laki menyebalkan, pengoleksi kartu Sihir Naga Yu gi oh. Setelah menduduki peringkat pertama, Intan menjadi pusat contekan di kelas kami yang baru dan menjanjikan. Teman-temanku yang payah selalu memanggil Intan sebagai Tambang Intan.

Setelah pertama kali melihatnya di kelas, aku dan Intan berteman setelah pulang bersama dari sekolah, jalan kaki.  Bapakku dan Ayah Intan sama-sama sibuknya. (Waktu itu, aku tidak tahu apa arti sibuk. Tapi, sekarang aku tahu. ‘Sibuk’ berarti kamu sedang mengerjakan sesuatu pada waktu tertentu yang sebenarnya ingin kamu tinggalkan.) Setelah itu, aku tahu sedikit demi sedikit tentang Intan. Ia adalah tipe gadis spontan. ‘Spontan’ maksudnya serta merta; tanpa dipikir; atau tanpa direncanakan lebih dulu; melakukan sesuatu karena dorongan hati, tidak karena anjuran dan sebagainya. Intan spontan menendang pantatku ketika mendapatiku kencing berdiri di kolong rumahnya. Intan spontan mengajakku berbaring di atas beton untuk melihat awan. Intan spontan menyuruhku menunduk dan naik kepunggungku memetik mangga Harum Manis. Intan spontan berteriak “Lari!” ketika pemilik pohon mangga itu melempari kami dengan batu. Tapi, seluruh gambaran karakter Intan adalah kompilasi film kartun pagi di hari Minggu. Intan adalah seorang penonton setia film kartun Dora the Explorer. Mengenai kegemarannya itu: sebenarnya ketika Intan memanjangkan rambutnya, ia akan terlihat manis. Tapi, karena ia penggemar garis keras film kartun itu, ia lebih memilih memotong rambutnya seperti Dora. Karena garis wajahnya yang agak kecil, potongan rambut itu membuatnya terlihat seperti tokoh manga. Ketika aku pertama kali ke rumahnya, Intan memaksaku menonton semua koleksi kaset DVD Dora the Explorer, miliknya. Lalu setelah menontonnya, Intan menjelaskan 136 cara menangkap Swiper Si Pencuri.

Namun, saat kami beranjak remaja—maksud aku mengenai remaja adalah saat kami mulai meninggalkan Sekolah Dasar—orientasi siarannya juga mulai bergeser. Intan tahu bahwa Ibuku memiliki koleksi kaset film Rahul berjudul Kuch Kuch Hota Hai. Intan memaksaku mengambilnya lalu menonton di rumahnya. Tentang Rahul, dia adalah laki-laki yang senang sekali menyisir rambutnya. Aku tidak tahu pada saat itu mengapa Ibu-Ibu bisa begitu histerisnya dengan laki-laki bernama Rahul itu. Sampai-sampai, mereka menyanyikan lagu-lagu Rahul yang tidak berhubungan dengan liriknya setiap saat, setiap hari, setiap waktu. Ketika memasak sayur dan mencuci baju. Kesenangan mereka yang aneh itu, membuat anak-anak mereka ikut merasakan euforia. ‘Euforia’ adalah perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan. Teman-temanku, para bocah puber, menjadi rajin sekali meminyaki rambutnya agar terlihat mirip Rahul. Bukan menggunakan minyak rambut Tancho atau minyak rambut Gatsby. Tapi, menggunakan minyak goreng bekas lima kali pakai. Bahkan seorang Ibu, tetanggaku yang baik hati, menamai anak laki-lakinya yang kedua sebagai Rahul. Sampai saat ini, aku selalu merasa tidak enakan, untuk tidak mengatakan jijik, ketika memanggil namanya. Adegan menyanyi yang erotis—aku tidak perlu menjelaskan arti kata ‘erotis’—dan tokoh-tokohnya yang cengeng selalu membuatku ingin membanting DVD Ibuku. Perasaan muak itu sebenarnya lebih kepada alasan Mamakku yang lebih memilih membeli DVD untuk menonton film-film Rahul, daripada membelikanku Playstation 2. Tapi setidaknya, puji Tuhan. Kekecewaanku, menyelamatkanku dari tarian-tarian gelap itu. Namun yang membuatku resah adalah Intan. Intan akhirnya terkena sihir kuat Bollywood, setelah berkali-kali menonton Kuch Kuch Hota Hai. Suatu siang ketika matahari sedang mendung, di dalam rumahnya, Intan spontan memintaku mencium bibirnya.

“Untuk apa?” Tanyaku keheranan.

“Cuma mau tahu,” jawabnya lekas.

Aku berpikir…

“Ya sudah kalau tidak mau.” Tambahnya dengan wajah setengah menyesal dan setengah memelas.

Setelah itu kami terdiam. “Koi mil gaya … kya bataoon yaaron…” sialan itu terus bersenandung dari televisi Intan. “Main to hil gaya … mil hil gaya …” Sungguh, aku ingin sekali menghentikan lagunya.

Baca Juga: Ia Membenci Dangdut tapi Rhoma Irama Abadi

Setelah kejadian itu, ada keringkihan yang larut dan mengantarai hubungan kami. Intan selalu tidak ingin bertemu denganku ketika aku mendatangi rumahnya. Alasannya selalu tidak masuk akal. Intan bilang: “Aku tidak ingin bertemu denganmu, ekorku sedang tumbuh” atau, “Aku tidak bisa keluar rumah, aku sedang jadi vampir, aku bisa meleleh kalau terkena sinar matahari.” Atau ketika kami berpapasan di jalan, ia tidak ingin menoleh ke arahku. Intan juga tidak akan menjawab ketika aku melambai, memanggilnya di kelas. Seketika itu juga nilai matematikaku anjlok. Ibuku menjelma monster laut setiap kali tahu nilai matematikaku diberi tinta merah, oleh Guruku. Tapi, itu tidak akan bertahan lama. Sebulan setelahnya, perusahaan Coca-Cola harus meninggalkan gudang di belakang rumahku dan pindah ke Manado. Aku tidak tahu pasti alasannya, tapi itu membuat Intan harus ikut pindah. Minggu, sehari sebelum mereka pergi, Intan mendatangi rumahku. Intan pamit kepada Mamakku dan Bapakku, lalu mengajakku main.

“Aku minta maaf.” Katanya, saat ia mulai merasa nyaman bersandar di jok mobil truk daerah, di antara mobil-mobil truk daerah lainnya yang sedang parkir di halaman gudang.

“Untuk apa?” Tanyaku.

“Bisakah kau tidak balik bertanya?” Jawabnya, memasang wajah jengkel.

“Katanya mau minta maaf.”

“Ia, tapi itu sulit kalau kau masih menyebalkan.”

“Kalau begitu aku yang minta maaf.”

“Hmm…”

“Kau bisa menutup mata. Aku mau beri kau sesuatu sebagai tanda maaf.”

“Apa?”

“Tutup saja.”

Aku lalu mencium bibir Intan. Hanya mengecupnya. Ia lalu membuka matanya. Menamparku. Membuka pintu mobil, membantingnya, dan pergi.

***

Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perpisahan kami. Kami berpelukan ketika ia hendak meninggalkan rumahnya untuk terakhir kali. Mengenai perasaanku, kata-kataku sudah terlalu dewasa untuk menggambarkan perasaan anak kecil di dalam dadaku, saat itu. Ketika Intan perlahan menjauh dari pandanganku, dan hilang ketika berbelok ke jalan, aku tahu aku menangis.

Baca Juga: Cara Mengobati Tumit Keseleo Akibat Kebodohanmu Sendiri

Intan mendasari keterasingan awal dan kehilangan pertamaku dari tempatku tumbuh. Selama itu juga, laju produksi dan mitos kemajuan terus menggerogoti lanskap tempat tinggalku. Kamu mungkin pernah merasakan hal yang sama, ketika kampung halamanmu tidak memiliki halaman lagi. Bagaimana rasanya? Rasanya, mungkin seperti melihat gambar sepia, bukan?

Ketika kamu tahu Alam terus dilucuti oleh kekuatan yang besar, kamu tidak bisa apa-apa. Kekuatan itu adalah kekuatan tak terlawan. Ketika kamu melawannya kamu menjadi lelah sendiri. (Kepada orang-orang yang memutuskan untuk melawan, aku sungguh salut.) Akibatnya, pengalaman kehilangan terus tersusun dan mengakibatkan kegelisahan akut di dadamu. Kelihatannya, perasaan itu tak beralasan. Tapi itu adalah solastalgia. Seperti kata Glenn Albercht: solastalgia adalah sebuah rasa sakit yang menyerang kenangan seseorang terhadap tempat tinggalnya yang terus berubah di luar kendalinya. Selain sebagai pusat Industrialisasi di Makassar, Kawasan Industri Makassar juga adalah pusat solastalgia.

Kenangan tentang Intan, awalnya, hanyalah nostalgia. Tapi, begitu terus mengalaminya, aku perlahan-lahan sadar, tangkai kerinduan yang menyembul dari pohon masa laluku tentang Intan adalah solastalgia. Intan tidak hanya kenangan tentang seorang gadis kecil yang menggemaskan. Tapi, Intan juga adalah lanskap yang mengindahkan kegersangan beton-beton dan polosnya tembok-tembok pergudangan. Setelah Intan meninggalkan rumah panggung itu, tempat tinggalku rasanya semakin sesak, gerah dan menjemukan. Sekarang aku tahu, setelah mencium Intan, ciuman pertama selalu menjadi luka yang pertama.

(Intan, kalau kamu mau pukul kepalaku karena membaca tulisan ini, datang saja, kemari. Aku masih di tempat yang sama. Dan aku rindu.) []

BACA JUGA artikel Ma’ruf Nurhalis lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles