Berikut ini adalah kutipan fiksi novel Vegetarian. Ditulis oleh Han Kang, penulis asal Korea Selatan yang lahir pada tahun 1970 di Gwangju. Penulis yang menyukai novel-novel Franz Kafka ini pertama kali menerbitkan novelnya pada tahun 1994. Ia telah meraih sejumlah penghargaan sastra bergengsi di Korea Selatan. Pada tahun 2016, novel Vegetarian ini dalam edisi terjemahan bahasa Inggris karya Deborah Smith, memenangkan Man Booker Internasional Prize, penghargaan untuk novel terjemahan terbaik dari seluruh dunia.

Baca Juga: Sorgum Merah: Jepang, Menguliti Tubuh Paman Arhat

———

… Keributan kecil telah lewat. Ibu mertuaku kini mengambil daging babi asam manis menggunakan sumpit. Ia berkata sambil menyodorkannya ke depan mulut istriku.

“Nah, cepat buka mulut. Makanlah.”

Istriku menatap ibunya sendiri dengan tatapan tidak paham sambil terus mengatupkan mulut.

“Cepat buka mulut. Kamu tidak suka ini? Kalau begitu yang ini saja.”

Kali ini ibu mertuaku mengambil tumis daging sapi itu dan menggantinya dengan tiram.

“Ini kesukaanmu sejak kecil. Dulu kamu pernah bilang mau makan ini sepuasnya.”

“Ya, aku juga ingat. Aku selalu ingat Young Hye kalau lihat tiram.”

Kakak iparku memanasi ibu mertua, seakan menganggap tidak dimakannya tiram itu sebagai hal paling gawat. Ketika sumpit berisi tiram mengarah perlahan ke bibirnya, istriku menjauhkan tubuhnya sebisanya.

“Cepatlah makan. Lenganku sakit …” Lengan ibu mertuaku benar-benar gemetar. Istriku akhirnya bangkit.

“Aku tidak mau.” Suara tegas mengalir dari bibir istriku.

“Apa?”

Yang berteriak adalah ayah mertua dan adik iparku yang sama-sama temperamental. Istri adik iparku bergegas memegangi lengan adik iparku.

“Dadaku mau meledak melihat ini semua. Kamu tidak mau mendengarkan ayahmu? Cepat makan!”

Aku mengira istriku akan meminta maaf kepada ayah mertuaku sebelum berkata tidak bisa memakannya. Namun, ia berbicara dengan datar seakan tidak merasa bersalah sedikitpun, “Aku tidak makan daging.”

Ibu mertuaku meletakkan sumpit dengan putus asa. Tangis terlihat ingin pecah di wajah tuanya. Keheningan yang seperti hendak meledak mengalir. Ayah mertuaku meraih sumpit. Ia mengambil daging babi asam manis kemudian memutari meja dan berdiri tegak di samping istriku.

Aku melihat dari belakang sosok kuat dan gagah, tapi sudah bungkuk akibat bekerja seumur hidup yang sedang menyodorkan daging babi asam manis ke wajah istriku. “Makanlah! Dengarkan ayah dan makan ini. Semuanya untukmu. Bagaimana kalau kamu sakit?”

Tanpa sadar aku ingin menangis karena merasakan betul kasih sayang seorang ayah yang menggetarkan dada. Mungkin semua yang ada di sini merasa begitu. Istriku mendorong sumpit yang bergetar tanpa suara di udara. “Ayah, aku tidak makan daging.”

Telapak tangan kuat ayah mertuaku membelah udara. Istriku memegangi pipinya.

“Ayah!” Kakak iparku berteriak sambil memegangi lengan ayah mertua. Bibir ayah mertuaku berkedut, seakan emosinya belum reda. Aku tahu dulu ayah mertuaku sangat temperamental, tapi aku tidak pernah melihat langsung ia menampar orang.

“Menantu Jung, Young Ho, tolong ke sini.”

Aku menghampiri istriku dengan ragu. Istriku dipukul dengan sangat keras, sampai darah berkumpul di pipinya. Ia baru terlihat sedang bernapas, seakan kedamaian telah pecah.

“Kalian berdua, pegangi lengan Young Hye.”

“Ya?”

“Sekali makan, dia pasti akan makan lagi. Mana ada orang yang tidak makan daging di dunia ini!”

Adik iparku bangkit dengan wajah penuh protes.

“Kak, makan saja. Bilang ya dan pura-pura makan saja. Gampang, kan? Mengapa harus begini di depan Ayah?”

Ayah mertuaku berseru. “Bicara apa kamu. Cepat pegangi lengannya. Menantu Jung juga.”

“Ayah mengapa begini?” Kakak iparku memegangi tangan kanan ayah mertua. Ayah mertuaku sudah melempar sumpitnya dan menghampiri istriku dengan daging babi asam manis di tangannya. Istriku mundur dengan ragu-ragu, tapi adik iparku memeganginya.

“Kak, makan saja. Kakak makan sendiri saja.”

Kakak iparku memohon, “Ayah, hentikan.”

Cengkeraman adik iparku di lengan istriku lebih kuat dari pegangan kakak iparku di lengan ayah mertua sehingga ayah mertuaku bisa menepis kakak ipar dan menempelkan daging babi asam manis di bibir istriku. Istriku merintih dengan mulut terkatup kaku. Sepertinya ia bahkan tidak berkata-kata karena takut daging itu masuk jika ia membuka mulut.

“Ayah!” Adik iparku berteriak untuk menghentikan ayah mertua, tapi ia tidak melepaskan tangan istriku.

“Hmph!Hmph!”

Ayah mertuaku memaksa menjejalkan daging babi asam manis ke mulut istriku yang memberontak dengan penuh penderitaan. Ia mencoba membuka mulut istriku dengan jarinya yang kuat, tapi ia tetap tak bisa memasukkan degingnya karena gigi istriku yang terkatup.

Akhirnya, ayah mertuaku kembali menampar pipi istirku dengan murka.

“Ayah!” Kakak iparku berlari menghampiri untuk memegangi pinggang ayah mertua, tapi ia berhasil memasukkan daging saat istriku membuka mulutnya. Saat adik iparku melepaskan pegangannya ketika melihat kemarahan ayah mertua, istriku memuntahkan daging babi asam manis itu. Jeritan bak makhluk buas keluar dari bibirnya, “Minggir!”

Istriku berlari ke pintu utama, tapi kemudian ia berbalik untuk mengambil pisau di meja makan besar.

“Young Hye!” Suara ibu mertuaku terdengar di keheningan yang haus darah. Tangis anak-anak yang ditahan pun pecah.

Istriku memperhatikan tatapan-tatapan orang yang memandanginya dengan rahang terkatup. Istriku mengacungkan pisau.

“Hentikan dia!”

“Menghindar!”

Darah menyembur dari pergelangan tangan istriku seperti air mancur. Darah merah tumpah ke piring putih bagai hujan. Suami kakak iparku yang sejak tadi hanya memperhatikan keadaan lekas mengambil pisau dari tangan istriku yang duduk berlutut.

“Sedang apa? Ambilkan sapu tangan!”

Suami kakak iparku menghentikan pendarahan dari tangan istriku dengan mahir layaknya mantan prajurit khusus sebelum akhirnya menggendongnya.

“Cepat turun dan nyalakan mobil.”

Aku mencari sepatuku. Yang sebelah bukan pasangannnya. Aku baru bisa membuka pintu dan keluar setelah dua kali berganti sepatu.

———

Dikutip dari edisi terjemahan bahasa Indonesia karya Dwita Rizkia terhadap Ch’aesikjuuija/Vegetarian karya Han Kang dalam edisi asli bahasa Korea. Diterbitkan oleh PT Bentara Aksara Cahaya sebagai cetakan pertama, Februari 2017.

———

Baca Juga: What I Talk About When I Talk About Running: Aku Benci Berlari, tapi Aku Suka Buku Ini

Saya selalu bilang kepadamu, saya hanya ingin membaca sebagai “pembaca bersih”. Tapi ketika berada di hadapan novel ini, sulit sekali untuk membaca Vegetarian sebagai “pembaca yang bersih”. Kamu tahu bahwa ini adalah upaya epoche untuk menutup kurungan sementara berbagai referensi dan teori yang sudah terlanjur melingkupi pikiran kita selama proses pembacaan. Kamu selalu bilang kalau saya terlalu fenomenologis. Tapi dengan bantuan metodologi ini, teks bisa bicara sendiri kepada kita tanpa bantuan referensi dari berbagai kritik dan analisa pembacaan orang lain. Vegetarian telah memenangkan Man Booker International Prize mengalahkan novel, yang bukan main hebatnya, My Name Is Red karya peraih Nobel Prize asal Turki, Orhan Pamuk. Sejak dulu, saya sudah sering mendengar dari kamu dan teman-teman tentang kekuatan narator, narasi yang mengalir dan tempo yang menegangkan dan membaca berbagai artikel tentang bagaimana hebatnya novel ini. Sialnya sejak kamu merekomendasikannya dua tahun lalu (2018) saya baru membacanya beberapa minggu yang lalu. Jadilah saya sebagai “pembaca yang kotor.” Tapi saya akan tetap berusaha menjaga jarak agar kamu tidak menganggap saya sebagai pembaca yang subjektif.

Baca Juga: Parfume, Cerita tentang Seorang Pembunuh: Bau Busuk Kemajuan

———

Kutipan peristiwa pada halaman 45-50 merupakan salah satu potongan adegan yang menegangkan di dalam novel Vegetarian. Kim Young Hye, seorang perempuan biasa yang tak pernah diberi suara pribadi memutuskan untuk menjadi seorang vegan “radikal” yang tidak hanya menolak memakan daging tetapi dengan puitis juga ingin menjadi tanaman. Secara dramatik kutipan di atas merupakan kompilasi adegan berbagai cengkeraman sudut pandang orang-orang terdekat Kim Yeoung Hye yang menjadi kejam selama ia memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian.

Gagasan sederhana pengarang tentang “human brutality” memiliki celah ruang untuk permainan paradigmatik-sintagmatik. Pembaca bisa mengganti kata vegetarian dengan pilihan-pilihan ekstrim di luar arus utama. Kamu bisa merasakan “human brutality” ketika kamu memilih menjadi perokok di tengah keluarga yang tidak merokok, memutuskan murtad saat keluargamu adalah keluarga yang taat beragama, menyukai musik rock saat keluargamu menyukai dangdut. Memakai seragam Real Madrid saat seluruh keluargamu adalah para cules Barcellona atau menggunakan burqah setelah memutuskan “hijrah” ketika keluargamu adalah Islam arus utama. Dengan kata lain, gagasan Han Kang yang mengeksplorasi kemungkinan terburuk dari eksistensi individu yang menyingkir dari tradisi institusi keluarga amat dekat dengan kehidupan sehari-hari pembaca. Tetapi kehebatan novel ini bukan hanya terletak pada gagasan pengarangnya. Saya pikir yang membuat novel ini layak memenangkan penghargaan bergengsi dan berada di atas penulis Nobel Prize adalah daya bujuk permainan ruangnya.

Kemampuan sebuah cerita untuk mengejutkan, menggerakkan, dan membuat pembaca bosan bukan hanya pada pilihan gagasan yang original dan unik, tetapi juga pada kemanjuran gaya bercerita. Untuk menentukan apakah sebuah cerita akan membuat pembacanya terbujuk selama realitas cerita ditampakkan maka perilaku narator saat bercerita menjadi sangat krusial. Ketika narator gagal membangun hubungan internal antar tokoh, maka sihirnya akan hilang dan realitas cerita akan runtuh dan pembaca akan lebih baik meninggalkan cerita itu di tumpukan sampah. Seperti yang pembaca tahu, persona gramatikal atau sudut pandang narator terdiri dari tiga kata ganti pengisahan cerita: ia, aku atau kami dan kau. Ketiga kata ganti ini akan memberitahu setiap pembaca tentang ruang, tempat narator mengaitkan diri dengan kenyataan cerita. Dari metode pemilihan ruang bagi narator inilah, pembaca akan tahu bagaimana cerdasnya pengarang menulis novelnya.

Ada tiga narator yang menceritakan Kim Young Hye sebagai pusat penceritaan dan tokoh utama yang pasif. “Aku tak pernah menganggap istriku luar biasa sebelum dia menjadi vegetarian.” Ini adalah kalimat pembuka yang segera membuat pembaca tahu bahwa Kim Young Hye sedang diceritakan oleh suaminya sebagai kata ganti “aku”. Pengarang juga menyisipkan kata ganti orang pertama untuk mimpi-mimpi Kim Young Hye. Jadi pada ruang yang sama ada dua narator yang sekaligus bercerita kepada pembaca. Tetapi, anehnya, pembaca akan tetap berterima dan tidak merasakan adanya tumpang tindih penceritaan. Hebat bukan?

Kemudian pada bagian yang berjudul “Tanda Lahir Kebiruan” narator menggunakan kata ganti “ia” yang mengalihkan ruang penceritaan dari orang pertama menjadi orang ketiga ke dalam perspektif kakak ipar Kim Young Hye. Pembaca bisa mengetahuinya ketika membaca kalimat ini, “ia berjalan ke lobi di depan teater sambil melirik poster pertunjukkan.” Pada bagian ini, pengarang menunjukkan eksplorasi hasrat seksual manusia terhadap tubuh. Kakak ipar Kim Young Hye adalah sketsais yang terobsesi dengan tanda lahir kebiruan di pantat Kim Young Hye. Dan dari petualangan seksual ini, pembaca tetap bisa merasakan suara Kim Young Hye lewat balon-balon percakapan, sehingga pembaca tidak dibuat lepas dari pusat cerita.

Pada bagian ketiga, narator masih bercerita lewat kata ganti “ia” tetapi ruang penceritaan berganti ke dalam sudut pandang kakak perempuan Kim Young Hye. Untuk bagian ini alur cerita melambat. Eksplorasi tentang batas kewarasan dan kegilaan ditampilkan. Pengarang dengan cerdas membuat kabur oposisi biner itu. Kim Young Hye juga terus ditampikan secara pasif lewat balon percakapan tetapi selalu puitik. Pada bagian inilah Kim Young Hye menolak makan dan hanya meminum air untuk menjadi tanaman.

Gagasan Han Kang tentang vegetarian dan gaya berceritanya yang sederhana harus dipuji tetapi permainan ruangnya tidak akan apa-apa jika dipuja. Memang pada abad ke-dua puluh sudah ada beberapa novel pendahulu Vegetarian yang memainkan ruang penceritaan dengan apik. Tetapi tidak semua novel bisa menggunakan permaian ruang untuk sebuah cerita yang sederhana. Mengingat bahwa permainan ruang memang bisa memperkaya sebuah cerita, memberinya kedalaman, memberinya kehalusan, menjadikannya misterius dan menyebabkan peristiwa tumbuh, tetapi jika pengarang tidak pandai memainkan teknik ini maka narator hanya akan menimbulkan kebingungan yang menghancurkan realitas cerita dan menampakkan keasliannya sebagai sekedar cerita yang tidak perlu dituliskan, omong kosong yang hanya menghabiskan kertas.

———

Han Kang, nama ini semula saya pikir milik seorang lelaki. Saya baru tahu bahwa dia perempuan setelah kamu bilang bahwa senyumannya manis sama sepertimu. Baiklah saya setuju. Tapi ketika kamu mengupas novel ini dengan metodologi feminisme, saya tidak akan setuju “apakah karena Han Kang kebetulan perempuan kamu jadi melihat penokohan Kim Young Hye sebagai gender yang terinferior.” Tidak. Saya pikir gagasan novel ini jauh lebih dialeketis daripada sekadar menggunakan satu pisau analisis saja. Kamu bisa melihat alegorisasi budaya Korea Selatan sebagai karnivora yang mengorbankan tumbuhan demi makanan yang terbuat dari daging. Kamu jadi bisa melangkah lebih spesifik ke polemik eksploitasi lahan untuk peternakan sapi. Wajahmu jadi masam setelah pendapatmu didebat, tapi kamu memiiki teori yang kuat, “Kim Young Hye jadi tokoh yang pasif karena Han Kang berusaha menggambarkan posisi perempuan di tengah kepungan keluarga yang patriarkis kamu tidak bisa melihat Kim Young Hye selain daripada itu.” Sial, “apakah karena itu juga saya tidak bisa mengecup keningmu. Walau untuk sekali saja” saya bilang “ Tentu saja, saya tidak ingin mempunyai suami yang tidak berguna seperti suami Kim Young Hye” jawabmu. []

BACA JUGA artikel Kutipan Fiksi lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles