Berikut kutipan fiksi novel Sorgum Merah karya Mo Yan yang diterjemahkan oleh Fahmi Yamani. Mo Yan adalah seorang sastrawan Cina paling menonjol meskipun karya-karyanya sering dilarang beredar di Cina. Setelah berkali-kali dicalonkan, dia mendapatkan hadiah Nobel Sastra 2012 sebagai pengakuan dunia atas karya-karyanya. Ia lahir pada 1955 di Shandong dalam sebuah keluarga petani.

—————

AYAH, Nenek, dan penduduk desa lain—berkumpul di tepi barat jalan raya, di sebelah selatan sungai, di atas sisa tanaman sorgum yang dihancurkan—menghadap kurungan raksasa yang terlihat seperti kandang binatang. Sekelompok pekerja lusuh berkerumun di dalamnya. Dua tentara boneka menggiring para pekerja ke dekat Ayah dan warga desa lainnya untuk membentuk kelompok kedua. Kedua kelompok itu menghadapi lapangan tempat binatang ditambatkan, sebuah tempat yang setelahnya akan membuat orang-orang terkencing-kencing akibat rasa takut. Mereka berdiri diam beberapa saat lamanya sebelum perwira Jepang berwajah kurus dan bersarung tangan putih dengan emblem merah di bahu dan pedang panjang di pinggul melangkah ke luar tenda, menuntun seekor anjing penjaga, dengan lidah merah menjuntai dari mulutnya. Di belakang anjing itu, dua tentara boneka membopong mayat tentara Jepang yang sudah kaku. Dua tentara Jepang muncul di belakang mereka, mengawal dua tentara boneka menyeret Paman Arhat yang sudah dihajar dan berlumuran darah. Ayah merapat ke tubuh Nenek; dia memeluk tubuh Ayah.

Sekitar lima puluh burung putih, sayap dikepakkan berisik, menyisir langit biru di atas Sungai Air Hitam, kemudian berbelok dan mengarah ke timur, menuju matahari keemasan. Ayah dapat melihat gerombolan binatang yang kehausan, dengan rambut rancung dan wajah kotor, dan kedua bagal hitam kami yang tergeletak di tanah. Salah satu sudah mati, cangkul masih tertancap di kepalanya. Ekor binatang lainnya yang berlumur darah menyapu tanah; kulit menyapu tanah; kulit di atas perutnya berkedut berisik; lubang hidungnya bersiul saat membuka dan menutup. Betapa Ayah mencintai kedua bagal itu.

Dia teringat Nenek duduk dengan bangga di punggung bagal itu, Ayah di pangkuannya, ketiganya terbang menyusuri jalan tanah kotor melintas ladang sorgum, keledai mengayun ke depan belakang saat berderap, sungguh perjalanan yang menggairahkan. Kaki panjang dan kurus menaklukkan debu jalanan saat Ayah berteriak ceria. Sesekali seorang petani di tangan ladang Sorgum, cangkul di tangan, menatap wajah cantik pemilik penyulingan yang dibubuhi bedak, hatinya dipenuhi rasa iri dan kebencian.

Kini, salah seekor bagal tergeletak mati di atas tanah, mulutnya terbuka, deretan gigi putih panjang mengunyah rumput. Lainnya duduk, lebih menderita dari temannya yang sudah mati. “Ibu,” ujar Ayah kepada Nenek, “bagal kita.” Dia menutup mulut anaknya.

Tubuh tentara Jepang diletakkan di hadapan sang perwira, yang terus memegang tali anjingnya. Kedua tentara boneka menyeret tubuh Paman Arhat yang penuh luka ke sebuah tiang kayu. Ayah tidak langsung mengenalinya; dia hanya terlihat seperti sosok aneh bermandikan darah menyerupai manusia. Saat diseret ke tiang itu, kepalanya menoleh ke kiri, kemudian ke kanan, bekas luka di kulit kepalanya terlihat seperti lumpur berkilauan di tepi sungai, dipanggang matahari hingga mengerut dan mulai pecah. Kakinya yang tidak berguna meninggalkan jejak di tanah. Kerumunan orang menggigil ketakutan. Ayah merasakan tangan Nenek mencengkram bahunya lebih keras. Tubuh semua orang sepertinya mengecil, wajah mereka pucat atau hitam. Burung gagak dan pipit tiba-tiba terdiam, orang-orang bisa mendengar suara anjing yang terengah-engah. Sang perwira yang memegang tali anjing itu kentut keras. Sebelum tentara boneka menyeret mahkluk aneh itu ke tiang, mereka menjatuhkannya di atas, gundukan daging tak berdaya.

“Paman Arhat!” seru Ayah panik.

Nenek menutup mulutnya lagi.

Paman Arhat mengerang, menegakkan pantatnya saat berlutut, menopang tubuh dengan tangannya, dan mengangkat lengannya. Wajahnya sedemikian bengkak sehingga kulitnya mengilap; pancaran hijau tipis menyorot dari matanya yang sipit. Ayah yakin Paman Arhat dapat melihatnya. Jantungnya berdegup kencang di dadanya—duk duk duk—dan dia tidak tahu apakah karena rasa takut atau amarah. Dia ingin berteriak, tapi tangan Nenek terlalu erat menutup mulutnya.

Sang perwira yang memegang tali meneriakkan sesuatu kepada kerumunan orang dan tentara Cina berambut cepak menerjemahkannya. Ayah tidak mendengar apa pun yang dikatakan sang juru bahasa. Tangan Nenek menutup mulutnya sedemikian erat sehingga dia sesak napas dan telinganya berdenging keras.

Dua orang Cina berseragam hitam menelanjangi Paman Arhat dan mengikatnya ke tiang itu. Perwira Jepang melambaikan tangannya dan dua tentara berseragam hitam lainnya menyeret dan mendorong Sun Lima, penjagal babi paling terkenal di desa kami—atau di seluruh Kabupaten Gaomi Timur Laut—dari dalam kurungan. Dia adalah lelaki pendek botak berperut gendut, wajah merah, dan sepasang mata kecil terbenam di dekat hidungnya, memegang pisau jagal di tangan kiri dan seember air di tangannya saat tersaruk menghampiri Paman Arhat.

Juru bahasa berbicara, “Komandan memerintahkanmu untuk mengulitinya. Jika pekerjaanmu tidak bagus, dia akan menyuruh anjingnya untuk mencabik jantungmu.”

Sun Lima bergumam mengerti. Matanya dikerjapkan cepat. Sambil mengigit pisau di mulutnya, dia meraih ember dan menuangkannya ke kulit kepala Paman Arhat. Kepala Paman Arhat terentak ke atas saat air dingin menyentuhnya. Air berlumuran darah mengalir di wajah dan lehernya, membentuk genangan kotor di kakinya. Salah seorang mandor membawakan seember air dari sungai. Sun Lima mencelupkan kain ke dalamnya dan membersihkan wajah Paman Arhat hingga bersih. Ketika sudah selesai, pantatnya mengejang sejenak. “Kakak…”

“Saudaraku,” ujar Paman Arhat, “cepat selesaikan. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu di Mata Air Kuning.”

Perwira Jepang itu membentak.

“Cepat lanjutkan!” seru sang juru bahasa.

Wajah Sun Lima menjadi keruh saat mengulurkan tangan dan memegang telinga Paman Arhat di antara jemarinya. “Kakak,” ujarnya, “tidak ada yang bisa kulakukan….”

Ayah melihat pisau Sun Lima mengiris kulit di atas telinga dengan gerakan memotong. Paman Arhat menjerit kesakitan saat air seni kuning menyemprot di antara kakinya. Lutut Ayah gemetar. Tentara Jepang mendekati Sun Lima dengan piring keramik putih yang digunakan Sun untuk meletakkan telinga Paman Arhat yang besar. Dia memotong telinganya yang lain dan meletakkannya di atas piring di samping telinga yang pertama. Ayah mengamati daun telinga itu mengejang, menimbulkan suara berderap.

Tentara berbaris perlahan di depan pekerja dan penduduk desa, mengasongkan piring agar dilihat oleh semuanya. Ayah menatap telinga itu, pucat dan cantik.

Kemudian, tentara itu membawa telinga kepada sang perwira yang mengangguk kepadanya. Dia meletakkan piring itu ke samping mayat rekannya. Setelah terdiam sejenak, dia meraihnya dan meletakkannya di tanah di bawah hidung anjing.

Lidah anjing itu ditarik ke dalam mulutnya saat mengendus telinga itu dengan hidung hitamnya yang basah dan mancung; tapi, binatang itu menggelengkan kepalanya, lidahnya dikeluarkan lagi, lalu duduk.

“Hei!” teriak juru bahasa kepada Sun Lima. “Lanjutkan.”

Sun Lima berjalan berputar, bergumam kepada dirinya sendiri. Ayah menatap wajahnya yang berkeringat dan berminyak, lalu mengamati kelopak matanya dikejapkan seperti kepala ayam yang terangguk-angguk.

Tetasan darah mengalir dari lubang tempat telinga Paman Arhat berada. Tanpa kedua telinganya, kepalanya tampak bundar mulus.

Perwira Jepang itu berteriak kembali.

“Cepat, selesaikan!” perintah sang juru bahasa.

Sun Lima membungkuk dan mengiris kemaluan Paman Arhat dengan satu kibasan, kemudian meletakkan di piring yang diacungkan tentara Jepang, yang berjalan seperti boneka dan mengasongkannya ke hadapan mata semua orang yang hadir. Ayah merasakan jemari Nenek yang dingin semakin dalam menghujam bahunya.

Tentara Jepang meletakkan piring itu di bawah hidung anjing. Binatang itu mencicipinya, kemudian meludahkannya.

Paman Arhat berteriak kesakitan, tubuhnya yang kurus menggeliat ganas di tiang.

Sun Lima melemparkan pisau jagalnya, jatuh berlutut, dan melolong pilu.

Perwira Jepang melepaskan tali dan anjing penjaga berlari ke depan, menghujamkan cakarnya di bahu Sun Lima dan menerkam taring di wajahnya. Dia bergulirng ke tanah dan menutupi wajahnya.

Perwira Jepang bersiul dan anjing penjaga kembali menghampirinya, menyeret tali di belakangnya.

“Kuliti dia dan lakukan dengan cepat!” perintah juru bahasa.

Sun Lima berusaha berdiri meraih pisau jagal, dan tersaruk mendekati Paman Arhat.

Sun Lima berbicara kepadanya, “Kakak … kakak … coba tahan lebih lama lagi.”

Paman Arhat meludahkan lendir berdarah ke wajah Sun.

“Mulai kuliti,” teriak juru bahasa. “Abaikan leluhurmu! Kuliti dia!”

Sun Lima mulai pada luka yang terbentuk di kulit kepala Paman Arhat, mengiris pisau itu ke bawah, sekali, dua kali … beberapa irisan rapi. Kulit kepada Paman Arhat terkelupas, mengungkapkan dua mata ungu kehijauan dan beberapa potong daging tak berbentuk.

Ayah dahulu pernah bercerita kepadaku bahwa, walaupun wajah Paman Arhat telah dikuliti, teriakan dan geraman terus mengalir dari mulutnya yang tak berbentuk, sementara darah merah terus mengalir dari kepalanya. Sun Lima bagaikan robot saat pisaunya menghasilkan irisan kulit yang sempurna. Setelah Paman Arhat berubah menjadi gundukan daging, organ dalamnya bergejolak dan bergolak, menarik kerumunan lalat hijau yang menari-nari liar. Para wanita kini jatuh berlutut, menangis pilu.

Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasuh setiap tetes darah, mayat Paman Arhat, serta kulitnya yang terhampar di atas lapangan itu. Berita bahwa mayatnya telah menghilang menyebar ke seluruh desa, dimulai dari satu orang, kemudian sepuluh orang, lalu seratus orang, setelahnya disampaikan generasi itu pada generasi berikutnya, hingga kini jadi legenda yang indah. []

Baca Juga: Parfume, Cerita tentang Seorang Pembunuh: Bau Busuk Kemajuan

—————

Dikutip dari Sorgum Merah karya Mo Yan yang diterbitkan oleh Penerbit Serambi Imu Semesta (Jakarta) pada September 2014. Diterjemahkan oleh Fahmy Yamani dari buku Red Sorghum Published Arrow Books (London) pada 2003, terjemahan Howard Goldblatt dari bahasa Mandarin.

Baca Juga: What I Talk About When I Talk About Running: Aku Benci Berlari, tapi Aku Suka Buku Ini

—————

Adegan seorang manusia menguliti manusia lain dalam literatur sastra dapat ditemukan di berbagai karya sastra di dunia, tetapi mustahil banyak. Dari yang sedikit itu, penggambaran Mo Yan di atas yang paling nampak sangat nyata (kamu boleh tidak sepakat). Sejak awal, Mo Yan dalam adegan itu seakan menempatkan pembaca sebagai penduduk desa yang ikut menyaksikan nasib buruk yang menimpa Paman Arhat. Kutipan di atas berada pada halaman 51-57.

Hal yang sama tidak pembaca dapatkan misalnya dalam cerpen Telinga yang ditulis Seno pada 1992 yang kemudian terbit di Koran Kompas. Di cerpen itu, dikisahkan seorang perempuan bernama Dewi menerima begitu banyak kiriman telinga dari pacarnya di medan perang, telinga sebagai satu-satunya bentuk hiburannya di medan perang. Namun adegan pemotongan telinganya terlalu simpel, barangkali karena Seno mengemas cerpennya dalam bentuk surat cinta. Berapa banyak karya sastra di Indonesia yang menurutmu selalu berupaya menghindar untuk mendeskripsikan adegan-adegan seperti itu? Deskripsi yang baik adalah deskripsi yang bisa melibatkan kelima indra kita, ia yang membuat kita bisa bersimpati terhadap seorang tokoh dan jengkel kepada tokoh lain dalam waktu bersamaan. Bagi saya, cerpen Telinga melewatkan perkara ini.

Sementara novel tebal Kronik Burung Pegas Haruki Murakami dalam tiga halaman juga menggambarkan adegan pengulitan tubuh oleh Perwira Rusia terhadap seorang Jepang bernama Yamamoto, ia diikat dipasak dalam keadaan telanjang bulat. Cara perwira menguliti tubuh Yamamoto tulis Murakami seolah ia mengelupas buah persik. Ia menguliti tangan, kedua kaki, dan memotong pelir Yamamoto. Berkali-kali Yamamoto pingsan dan setiap kali siuman suara jeritannya terdengar tak terhenti. Itu adalah gambaran menyakitkan bagaimana manusia dikuliti seperti binatang.

Laura Miller—jurnalis dan kritikus dari New York, pada 1997 dalam wawancaranya dengan Murakami menanyakan, tidakkah Murakami takut dan tertekan saat menulis adegan pengulitan manusia hidup-hidup?

“Ya, aku memang takut, ketika menulis adegan itu, aku ada di sana. Aku dapat merasakan kegelapannya. Aku dapat mencium aroma aneh,” kata Haruki Murakami, sebab jika tidak, “maka Anda bukan seorang penulis. Jika Anda seorang penulis, Anda dapat merasakannya di kulit Anda. Ketika aku menuliskan adegan pengulitan hidup-hidup itu, aku sangat… itu adegan yang sangat mengerikan, aku merasa ngeri. Sejujurnya, aku tidak ingin menulisnya, tetapi tetap saja aku lakukan. Aku tidak merasa senang ketika menulisnya, tetapi itu sangat penting untuk cerita, Anda tidak dapat menghindarinya. Itu tanggung jawab Anda sebagai penulis.”

Tetapi tetap saja rasanya deskripsi Murakami ditulis untuk dirinya sendiri, saya sebagai pembaca seperti tidak diberi kesempatan untuk menyaksikannya lebih dekat.

Mo Yan di Sorgum Merah dengan rasa yang tidak bersalah sedikit pun, menunjukkannya dengan nyata. Ia mengerakkan cerita dengan menunjukkan langsung kepada pekerja dan penduduk desa kedua telinga Paman Arhat yang telah dipotong Sun Lima si tukang jagal, sebelum kemudian ditawarkan ke seekor anjing yang tidak tertarik sama sekali dengan daging telinga manusia. Lalu kibasan pisau tukang jagal berikutnya memotong kemaluan Paman Arhat, melepas kulit kepalanya, kemudian kulit lain, hingga terkumpul tumpukan daging-daging dari tubuh Paman Arhat, kau tahu, adegan naas itu membuatku tak ingin membayangkan teriakan orang-orang yang dikuliti hidup-hidup, tetapi apa boleh buat ia mengendap di kepalaku sampai hari ini. Kita bersimpati kepada Sun Lima yang terpaksa menggunakan keahlian tangannya menghadapi nasibnya yang terburuk, apalagi Paman Arhat, dan begitu membenci pasukan Jepang dan tentara boneka. Seakan-akan kita berdiri langsung di situasi itu sebagai penduduk desa yang tidak bisa melakukan apa-apa selain terus mual, sesekali memejam mata dan menyaksikan adegan-adegan itu hingga selesai.

Pada Oktober 2012, para Harukis—penggemar Haruki Murakami—di Tokyo berkumpul di sebuah bar untuk menunggu pengumuman pemenang Nobel Sastra yang kabarnya tahun itu akan diberikan kepada seorang Asia. Para Harukis membuat pesta dan menyambut dengan gembira kabar itu, namun seperti yang ditulis Tirto, pesta itu layu sebelum berkembang. Roland Kelts menulis di The New Yorker: “Juaranya adalah Mo Yan, seorang penulis Cina, dan para Harukis yang getun hanya bisa mendesah dan memberi tepuk tangan ala kadarnya buat keberhasilan tetangga mereka.”

Kira-kira kenapa Mo Yan yang memenangkan Nobel Sastra saat itu dan mengapa bukan Haruki Murakami? Tulisan tidak hanya berpusat pada cerita, yang paling sering dilupakan dan luput dibicarakan para penggemar adalah bentuk atau kemasan yang digunakan penulis. Mengapa Seno menggunakan model bersurat untuk menyampaikan persoalan pemotongan telinga? Mengapa Murakami menggunakan sosok Perwira Rusia untuk menjagal seorang rakyat jajahan? Dan mengapa Mo Yan, musti memakai tangan saudaranya sendiri—sesama orang Cina terjajah—si tukang jagal Sun Lima, alih-alih sepenuhnya memberi keleluasaan pada pasukan Jepang untuk menjagal dengan tangannya sendiri, Paman Arhat yang malang itu.

Pertanyaan penutup, di karya sastra Indonesia pada penulis siapakah kita bisa menemukan adegan menyakitkan seperti kutipan fiksi di atas? Mengulang apa yang dikatakan Murakami tadi, “itu sangat penting untuk cerita, Anda tidak dapat menghindarinya. Itu tanggung jawab Anda sebagai penulis.” Dan pembaca tak masalah untuk mencari dan menemukannya. Tetapi, apakah benar ada?[]

BACA JUGA artikel Kutipan Fiksi lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles