Pada umumnya, kopi panas itu menghangatkan badan misalnya di tengah sejuknya udara dalam maupun luar rumah. Namun kopi panas yang dimaksud pada judul di atas bukanlah segelas kopi yang sifatnya cair dan tentunya mampu melepas dahaga, melainkan kopi panas yang tampil sebagai bentuk reaksi dari sekelompok pria yang gagal dalam kisah percintaan dengan perempuan terkasih.

Secara definitif, Kopi Panas merupakan akronim—dari KOmunitas Pria ditInggal PAs semeNtAra Sayang-sayangnya, wkwkwkwk. Komunitas ini terbentuk secara alami tanpa direncanakan, tanpa waktu namun berkedudukan di salah satu warung kopi yang resmi dirintis 2019 lalu tepatnya di perbatasan Gowa-Makassar, Sulawesi Selatan yang sampai hari ini ramai dipadati oleh sekelompok pria yang sama dan berlaku untuk setiap hari (plus nota utang di kasir menumpuk).

Sebelum Kopi Panas hadir mewarnai dunia perkabungan percintaan, terdapat Kopi Dingin (Komunitas Pria ditinggal kawin) yang lebih dulu dirintis senior angkatan di kampus yang juga tidak kalah mengenaskan tentunya, yang mewadahi segenap pria yang ditinggal oleh perempuan yang kurang beruntung.

Baca Juga: What We are Talking About “New Normal” is “New Panic”

Mayoritas yang tergabung dalam komunitas baik Kopi Dingin maupun Kopi Panas adalah mereka para mantan aktivis dan aktivis kampus yang peka serta peduli terhadap dinamika kehidupan sosial, namun gagal fokus dan peka hingga patah di hadapan perempuan. Alasan ditinggal oleh yang terkasih pun beranekaragam, mulai dari faktor kebosanan, cinta tak direstui orang tua, perselingkuhan, dan aneka macam pembenaran-pembenaran lainnya sebagai alasan elegan untuk setidaknya menjauh.

Yang paling sesak di dada adalah ditinggal pada saat level kecintaan meningkat tanpa kompromi. Barangkali kawan-kawan yang budiman juga pernah merasakan hal demikian. Teori apapun akan layu di hadapan patah hati dan serangkaian cara ditempuh oleh yang patah hati demi mengembalikan diri yang terdampar dalam lautan luka yang tak bertepi.

Salah seorang kawan yang tergabung secara otomatis dalam Kopi Panas, ia seorang Marxis dan selalu memimpikan kehidupan cintanya terbangun seperti yang dialami Marx dan Jenny, prinsip kesetaraan dan jauh dari hubungan yang toxic, harus merelakan kekasih tercinta bersama orang lain yang lebih menggandrungi silsilah keindiean. Di sini, geliat kesetaraan dan kepemilikan bersama mampu diluluhlantakkan zona nyaman indie.

Pada akhirnya, memang benar bahwa “tak selalu yang berkilau itu indah”, yang di hati akan tergantikan dengan yang selalu ada dan yang Marxis tak selamanya berakhir manis. Logika cinta yang terbangun di atas konstruksi dunia moderen membawa manusia larut dalam rotasi yang tidak menghendaki ketidakpastian. Yang lebih duluan menghadirkan kepastian, maka penerimaan baginya sementara sebaliknya, you’ll wkwkwk alone dimana rintihan dan tawa bersatu padu.

Baca Juga: Pandemi, Kehidupan Anak, Krisis Empati

Ada juga seorang kawan yang menikmati perjalanan cintanya dengan gaya mirip kisah Sartre dan Beauvoir. Hubungan dengan status pacar baginya adalah arena dialektika semata. Berselang beberapa waktu menjelang hubungan mereka kian tua, kabar tak sedap pun menghampiri. Perempuannya yang acapkali ia namakan New Beauvoir harus membiasakan untuk saling melupakan sekuat-kuatnya. Perempuannya dijodohkan dan hubungan mereka tak direstui orang tua si perempuan.

Meskipun keduanya masih saling mencintai, namun perpisahan adalah keharusan bagi mereka. Si perempuan tak mampu mempertahankan si laki-laki karena orang tuanya dan si laki-laki tak mampu bertahan karena tak direstui oleh orang tua si perempuan. Dan yang lebih memilukan khususnya bagi si laki-laki adalah saat si perempuan harus berkenalan dengan laki-laki yang dijodohkan dan jalan bersama.

Pada kasus ini, tanpa bermaksud mendiskreditkan golongan apapun, kita dapat merasakan siapa yang paling menanggung rasa sakit. Si perempuan harus kembali menjalin dan membangun cinta yang baru, sementara si laki-laki harus terjebak dalam ruang nostalgia cinta lama yang payah. Sebuah kewajaran bagi Zainuddin dalam salah satu adegan roman picisan Tenggelamnya Kapal Van der Wijk mempertanyakan “siapakah yang lebih kejam di antara kita, Hayati?”.

Baca Juga: Cara Jitu Menumpas Penjahat Korek di Antara Kita

Selanjutnya, laki-laki terakhir dalam komunitas yang memiliki kisah cinta yang berbeda dari sebelumnya. Laki-laki yang terjebak dengan perkataan dua pemikir dalam teori sosial. Mereka adalah Zizek dan Badiou. Zizek menerangkan bahwa dua orang yang jatuh cinta akan menghadapi pengalaman yang menyiksa. Keduanya harus merasakan perubahan pola kehidupan.

Akan tetapi, keduanya akan menghadapi sebuah proses belajar berkelanjutan untuk kemudian tumbuh bersama. Senada dengan itu, Alain Badiou mengafirmasi dengan sebuah pendefinisian bahwa cinta adalah sebuah bentuk komunisme mungil, sementara jatuh cinta adalah perkara yang luar biasa dan sebagai upaya meruntuhkan kapitalisme, minimal ego kapitalis dua insan yang saling mencintai.

Gagasan itulah yang membawa laki-laki ketiga dalam komunitas turut merasakan sakit hati seperti kisah sebelum-sebelumnya. Ia jatuh dalam penamaan populer “budak cinta (bucin)”. Si laki-laki berusaha menenggelamkan egonya di hadapan perempuannya, ia mencoba menerapkan konsep Zizek dan Badiou demi harmonisasi perjalanan cinta, akan tetapi justru langkah demikianlah yang membuat perempuannya bebas melakukan apapun tanpa batas.

Si perempuan meninggalkan si laki-laki dalam kondisi cinta yang tengah berjuang dan berharap untuk hidup bersama. Namun apalah daya, ibarat jam dinding tua yang jarum panjangnya tak mampu lagi menyeimbangkan titik kordinat dalam setiap angka hingga mengganggu perhitungan menit yang tercipta.

Baca Juga: Paseng ri Ade’ dan Unsur Pamali dalam Omnibus Low

Tiga kisah laki-laki di atas diangkat dari cerita nyata dan berdasarkan persetujuan masing-masing pihak untuk didokumentasikan. Pada saat tulisan ini dibuat, ketiga subjek sekaligus objek berada dalam ruang dan waktu yang sama dengan diskursus pembebasan uang kuliah mahasiswa selama pandemi Covid-19.

Baik Kopi Dingin maupun Kopi Panas kini telah beranak-pinak dan selalu terbuka bagi siapapun yang berdomisili di Makassar. Bagi yang penasaran dan ingin mengetahui lebih dalam tentang kehadiran dua komunitas ini, cukup menyelipkan waktu luang untuk berkunjung ke Dilike, sebuah warung kopi sederhana di bilangan perbatasan Gowa-Makassar. Segelas kopi yang tidak menawarkan perih, akan hadir secara cuma-cuma asal ia membawa diskursus sebagai prasayarat.[]

Penulis: Askar Nur, alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

BACA JUGA artikel Kontributor lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles