Berikut ini adalah apresiasi kutipan What I Talk About When I Talk About Running. Ditulis oleh Haruki Murakami. Penulis kelahiran 12 januari 1949 ini adalah seorang penulis kontemporer Jepang. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain A Wild Sheep Chase, Norwegiaan Wood, IQ84, Kafka on the Shore dan Killing Commendatore. Oleh The New York Times “buku ini akan membuat fans Murakami tergila-gila, bahkan sebelum sampai ke kasir.”

——

“Suatu hari nanti, jika aku punya batu nisan dan bisa memilih kata-kata untuk diukir di atasnya, aku ingin di situ tertulis:

Haruki Murakami

1949-20**

Penulis (dan Pelari)

Setidaknya Dia tak Pernah Berjalan Hingga Akhir.”

——

Pandemi membuat kegelisahanku membukit dan semakin sulit untuk mendakinya. Aku berusaha bersikap bodoh amat seperti banyak orang melakukannya. Tapi ada yang tak bisa dihindari dari masa pandemi, yakni hari esok. Aku cemas sebab sepertinya hari esok tidak menumbuhkan harapan, sama sekali tidak perlu disambut dan hari kemarin berubah menjadi lumpur hisap, sementara hari ini selalu semakin panjang dan tidak mudah. Meski hidupku semakin absurd tapi aku memilih bertahan.

Baca Juga: Parfume, Cerita tentang Seorang Pembunuh: Bau Busuk Kemajuan

Untuk menghibur diri atau sebenarnya membuang-buang waktu saja, aku meraih Norwegiaan Wood-nya Haruki Murakami di rak dan membacanya lagi. Lalu lewat pesimisme Toru Watanabe, aku seperti diinisiasi untuk membaca novel lainnya, The Great Gatsby karya F. Scott Fitzgerald. Untuk novel ini aku selalu bersusah payah. Hasilnya lagi-lagi The Great Gatsby tidak memberiku apapun. Mungkin buku itu memang hanya cocok untuk Watanabe, si lelaki naif yang hiperseks. Aku menyimpan The Great Gatsby di sudut rak yang sebisa mungkin tak terlihat. Aku lalu memutuskan untuk mencari sebuah buku yang lebih ringan, tipe buku yang bisa memijat otot-otot pikiranku yang lelah.

What I Talk About When I Talk About Running. Aku teringat dengan buku ini setelah melihat ig-story salah seorang temanku dengan selipan kalimat “salah satu buku yang sangat direkomendasikan”. Aku juga pernah membacanya dalam ebook berbahasa Inggris tetapi tidak dapat menghabiskannya, aku memang belum cukup kata untuk memahami bahasa Inggris. Atau sebenarnya, aku memang tidak berusaha keras menghabiskannya karena aku benci berlari.

Aku selalu berpikir begini: setiap orang, oleh Tuhan, telah ditentukan jumlah detak jantungnya, ketika seseorang sudah menghabiskan jatahnya, maka ia akan mati. Berlari akan membuat jantung berdetak lebih banyak bukan? Semakin lama atau semakin cepat kau berlari semakin banyak yang kau habiskan. Jadi berlari akan membuatku mati. Tapi pada sisi lain, aku sangat butuh membaca. Sungguh, jadi aku memesan buku Murakami versi terjemahan lewat toko daring. Seminggu kemudian, bukunya baru tiba. Sial.

Baca Juga: Cara Jitu Menghadiri Pernikahan Mantan di Masa Pandemi

Haruki Murakami menulis “Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa laki-laki sejati tidak akan pernah membahas perempuan yang pernah putus dengannya atau jumlah tagihan pajak yang harus dibayarnya. Sebenarnya kata-kata itu hanya sebuah kebohongan. Aku cuma mengarangnya. Maaf, ya!”

Itulah kalimat pembuka di dalam buku ini. Murakami punya kebiasaan seperti itu, menghidangkan humor renyahnya yang sebenarnya rentan tak lucu. Sebab kadang-kadang, Murakami memunculkan humornya pada saat tokohnya dalam keadaan genting dan runyam. Kau bisa menyadarinya saat mengikuti Toru Okada di Kronik Burung Pegas. Tapi di sini ia berhasil, ngomong-ngomong, aku sudah tidak tahu sudah berapa banyak orang yang kuceritakan soal kecantikan mantan pacarku. Semoga dia baik-baik saja.

“Suatu kali Somerset Maugham menulis bahwa ada filosofi di setiap hasil cukuran. Aku setuju sekali. Tidak masalah sekecil apapun tindakannya, jika terus dilakukan, hal itu akan bermakna kontemplatif, atau bahkan meditatif.”

Saat membaca kutipan ini, aku menyela untuk membuka YouTube dari ponselku dan mencari Elthon Jhon, Goodbye Yellow Brick Road. Lagu ini tak hanya enak didengar tetapi juga mengajarkan cara meninggalkan motivator-motivator yang selalu congkak membicarakan kesuksesan dan memilih hidup yang anti kekaguman terhadap kekayaan. Aku memasang headset, setelah mendapat irama yang sesuai, aku mulai membaca.

“Katakanlah, kamu sedang berlari, lalu tiba-tiba berpikir, Ampun ini sakit sekali. Aku sudah tidak kuat lagi. Di situ sakit yang kamu rasakan adalah bagian dari kenyataan yang tidak bisa dihindari, tetapi apakah kamu masih kuat atau tidak, bergantung pada dirimu sendiri.”

Baca Juga: Selingkuh Itu Wajar, tapi Jarang Sekali Berakhir Bahagia

Soo goodbye yellow brick road// Where the dogs of society howl// You can’t plant me in your penthouse// I’m going back to my plough. Mendengarkan musik yang mampu berkolaborasi dengan bacaanmu akan membuat hatimu senang dan lebih bersemangat. Meski bagi sebagian orang, ketenangan adalah hal penting saat membaca, musik bisa menjadi salah satu keberisikan yang mengganggu. Tidak masalah, setidaknya kita sepakat untuk tidak meninggalkan bacaan.

““Dalam hal apapun, mau menang atau kalah dari orang lain bagiku tidak masalah. Aku justru lebih memedulikan apakah mampu menyelesaikan standar target yang sudah kutetapkan sendiri atau tidak… “Aku tidak akan kalah darinya!” mungkin saja ada pelari yang memiliki motivasi lari seperti itu, dan itu bisa menjadi penyemangat dia berlatih. Namun, jika karena suatu alasan lawannya tidak bisa mengikuti perlombaan, lalu membuat motivasi si pelari menjadi hilang (atau berkurang setengah), pelari seperti itu tidak akan bertahan di dunia ini.””

Aku jadi melankolik membaca kutipan ini. Aku bukan bermaksud menyalutkan topi untuk pelari, kelompok yang menyia-nyiakan anugrah dari Tuhan itu. Aku masih benci berlari. Tapi kata-kata Murakami membuatku terprovokasi untuk mengumpat diriku sendiri yang selalu mengikuti kemauan sistem pendidikan. Tiba-tiba saja aku berpikir ke arah situ. Kelihatannya aku memang agak hiperbolik, tapi kau mungkin tahu ini dan kau tidak bisa menolaknya. Di sekolah, bukankah hal mendasar yang paling penting diajarkan adalah memenangkan perlombaan? Yang menang akan mendapatkan penilaian yang baik, yang kalah akan disistematiskan sebagai orang gagal.

Padahal sebenarnya “Hal terpenting adalah bagaimana melampaui diri sendiri yang kemarin. Jika ada orang yang harus dijadikan lawan berlari jarak jauh, itu adalah diri sendiri pada masa sebelumnya.”

Perlu ditegaskan, “Bersaing dengan diri sendiri sama sekali tidak mudah pak Murakami.” Itu perlu kesadaran bahwa bersaing dengan diri sendiri membutuhkan pengenalan diri. Dan aku tidak pernah tahu. Pendidikan dan cara orang-orang mendidikku sama sekali tidak memberitahukan caranya. Jadi setiap kali aku kalah, aku kecewa, ketika tidak mampu memenangkan apapun aku jadi merasa tidak berguna. Sedangkan kompetisi masih tersisa banyak dan terus berlanjut.

Ini mungkin juga berlebihan, tapi dari Murakami aku bisa menyebut efek samping sistem pendidikan itu sebagai education blues. Pendidikan yang menyebabkan kelesuan. Suatu momen di mana kau merasakan ada seseorang yang membanting pintu ke wajahmu, menguncinya dan kau terperangkap di dalam sebuah ruangan yang polos.

Tapi bagaimanapun juga setiap orang memiliki nilai pribadi untuk diri mereka sendiri dan cara hidup masing-masing. Mungkin ada juga yang tidak mau repot-repot berpikir tentang hal-hal yang ideal. Jadi mari terus berlomba, tak peduli jika kau memenangkannya dengan cara yang curang.

Baca Juga: Hari Libur Melimpah, tapi Sanggupkah Kita Berteriak Hore?

Oh iya, Elthon Jhon sudah pergi dua menit yang lalu, sekarang aku mendengarkan Everybody Hurts-nya R.E.M. Ini lagu yang juga enak didengar dan sangat bermanfaat bagiku ketika aku merasa sedang terpuruk. Ada makna yang bisa aku ambil seperti ini: terkadang beberapa hal memang menyakitkan. Tapi semua orang berhak terluka. Jangan pernah merasa sendiri. kau berhak menyimpan lukamu.

Aku semakin memahaminya ketika membaca kutipan buku ini:

“…Sedikit demi sedikit aku memahami bahwa kepedihan ataupun sakit hati merupakan hal yang diperlukan dalam hidup.”

Aku selalu berpikir, mengapa beberapa orang senang sekali mengendalikan orang lain, menyukai orang-orang yang bisa mengikutinya dan akan membencinya ketika tidak dapat dipahami. Sebaliknya, beberapa orang senang sekali hidup di bawah ketiak orang lain dan terus bertahan dengan menjilat pantatnya. Meskipun begitu manusia tetaplah individu. Dari dasar itu, hak untuk bebas bisa timbul kembali dengan membangkang dan mulai belajar menerima perbedaan. Dari yang mudah dipahami hingga yang menimbulkan kesalahpahaman yang luas.

“Perkara sakit hati adalah harga yang harus dibayar untuk dapat menjadi individu yang bebas di dunia ini.”

Meskipun terdengar motivatorisme, Murakami bersungguh-sungguh. Ketika ia memutuskan untuk mengikuti triathlon. Haruki Murakami berlatih dengan keras, mulai mengayuh sepeda dan belajar berenang. Tetapi itu justru membuat waktu tempuhnya untuk berlari maraton semakin lambat. Ia kecewa dan mengalami kelelahan yang luar biasa. Ia menyebut kondisinya sebagai runner’s blues. Itu seperti sebuah tembok yang menghalanginya untuk berlari. Tetapi, kondisi inilah yang menjadi dasar Murakami untuk berjuang, jatuh-bangun dan menuliskannya selama 10 tahun. Bisa dibilang dari cara ia mengalahkan dirinya sendiri ketika berlari adalah cara dia menulis novel- novelnya yang terkenal tebal tetapi mengalir.

“Penderitaan adalah pilihan.”

Dan inilah kutipan pamungkasnya. Aku bisa semakin cerewet atau menjadi lebih hiperbolik jika tidak berhenti sekarang juga. Intinya sepanjang buku ini Murakami benar-benar menunjukkan bagaimana ia memilih penderitaan sebagai pelari dan juga penulis.

Baca Juga: Kalau Memang Harus Mati, Mengapa Tidak dengan Memainkan Gim Online

Selama membaca buku ini dan menghabiskannya saat itu juga, aku seperti mengalami momen meditatif. Bagiku buku ini memberiku kesempatan mendengarkan kisah hidup seseorang yang benar-benar teguh mencintai sesuatu tetapi tidak meninggalkan dirinya, jarang sekali kita bisa menemukan orang seperti itu. Dan aku jadi belajar banyak dari cara Haruki Murakami menjalani hidup. Lebih daripada itu, buku ini adalah salah satu buku yang tepat ketika kau ingin memutuskan untuk menjadi penulis tetapi membenci berlari. Dan buku ini masih bersahabat ketika kau membenci keduanya. []

—–

Kumpulan kutipan ini berasal dari hasil terjemahan Ellonovianty Nine Sjarif & A.Fitriyanti terhadap Hashiru Koto ni suite Kataru Toki ni Boku no Kataru Koto, Bungeishunju Ltd., Japan 2007. Diterbitkan oleh penerbit Bentang Pustaka sebagai What I Talk About When I Talk About Running, Yogyakarta, 2016.

BACA JUGA artikel Kutipan Fiksi lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles