Tulisan ini adalah terbitan perdana rubrik Kutipan Fiksi di Epigram. Berikut adalah apresiasi kutipan dari novel Perfume: Cerita Tentang Seorang Pembunuh. Ditulis oleh Patrick Suskind, seorang penulis dan sejarawan yang mempelajari sejarah abad pertengahan dan modern di Munich dan Aix-en-Provence dari tahun 1968-1974. Penulis yang lahir di Ambach, Bavaria, Jerman, 26 Maret 1949. Dia berkembang dari penulisan skenario untuk produk radio dan televisi. Rossini, salah satu karyanya, memenangkan Hadiah Skenario dari Departemen Kebudayaan Jerman tahun 1996. Karyanya yang paling terkenal adalah Perfume: The Story of Murderer. Novel ini sejak pertama kali terbit pada tahun 1985 telah menjadi bestseller dan diakui secara internasional.

——

…Dengan mencampur bubuk aromatiknya dengan alkohol dan karenanya memindahkan keharuman bubuk tersebut ke cairan yang mudah menguap, Mauritius Frangipani sudah membebaskan aroma dari bentuk padatnya, menggaskan aroma tersebut, menemukan aroma sebagai aroma murni; pendek kata, dia sudah menciptakan parfum. Sungguh penemuan menakjubkan! Penemuan yang tak lekang oleh zaman!

Sesungguhnya layak dibandingkan dengan penemuan-penemuan menakjubkan lainnya dalam sejarah manusia, seperti penciptaan tulisan oleh bangsa Asiria, geometri Euclid, pemikiran-pemikiran Plato, atau metamorfosis buah anggur menjadi minuman oleh bangsa Yunani.

Benar-benar penemuan berskala Promotheus!

Baca Juga: Cara Jitu Menghadiri Pernikahan Mantan di Masa Pandemi

Meskipun demikian, sama seperti semua penemuan besar lain yang memberikan dampak positif dan negatif, menimbulkan kebingungan dan penderitaan selain juga memberikan manfaat-manfaat kepada umat manusia, begitu pula penemuan Frangipani dan akibat-akibat buruknya yang disayangkan itu. Karena sekarang setelah orang-orang tahu bagaimana cara mengikat ekstrak bebungaan, rempah-rempah, kayu, resin, dan seksresi binatang di dalam tingtur-tingtur dan menuangkannya ke dalam botol, seni pembuatan parfum sedikit demi sedikit mulai terlepas dari tangan para ahli dan menjadi sesuatu yang dimungkinkan bagi amatir, paling tidak amatir dengan hidung tajam yang memadai, seperti Pelessier si rakun.

Tanpa pernah repot-repot mempelajari sedikit pun dari mana asal-muasal tingtur-tingtur menakjubkan di dalam botol-botol itu, mereka semata-mata menuruti saja hasrat olfaktori mereka dan meramu apa pun yang muncul di benak mereka atau yang digandrungi sesaat oleh masyarakat.

Meskipun tentang ini tak bisa disangkal: pada umurnya yang ke-35, Pelessier si brengsek sudah memiliki kekayaan lebih besar daripada dirinya, Baldini, yang mengumpulkan kekayaannya setelah bekerja keras tanpa henti selama tiga generasi. Dan setiap hari kekayaan Pelessier semakin bertambah, sementara kekayaan Baldini semakin menyusut. Hal seperti ini takkan pernah dimungkinkan sedikit pun di masa silam! Bahwa pembuat parfum sejati yang bagus dan commercant mandiri sampai harus berusaha mati-matian untuk tetap bertahan—itu hanya mulai terjadi selama beberapa dekade terakhir! Dan hanya semenjak kegilaan akan sesuatu yang baru ini meledak pada setiap kuartal, hasrat menggebu-gebu ini untuk beraksi, kegilaan ini untuk bereksperimen, rodomontado di bidang perdagangan, di bidang industri, dan di bidang ilmu pengetahuan!

Atau kegilaan ini tentang kecepatan. Apa gunanya membangun jalan-jalan baru di mana-mana, juga jembatan-jembatan baru? Apa tujuannya? Apa manfaatnya tiba di Lyon dalam waktu seminggu?

Siapa yang menetapkan standar itu? siapa yang diuntungkan? Atau menyeberangi Samudra Atlantik, terburu-buru ke Amerika dalam waktu sebulan—padahal orang-orang sudah hidup tanpa mengetahui keberadaan benua itu selama ribuan tahun. Apa yang dicari manusia beradab sehingga mau menjelajahi hutan-hutan yang ditinggali orang-orang Indian atau Negro? Orang-orang bahkan pergi ke Lapland, di dekat Kutub Utara, dengan es abadi dan penduduk asli yang buas yang menyantap ikan mentah itu. Dan sekarang mereka berharap akan menemukan benua lain yang konon terletak di Pasifik Selatan, di mana pun itu.

Ada apa sebenarnya dengan semua kegilaan ini? karena semua bangsa melakukan hal yang sama, bangsa Spanyol, bangsa Inggris yang menjengkelkan, bangsa Belanda yang kurang ajar, yang kemudian harus kau datangi dan kau perangi, padahal kau tak sanggup membiayainya sama sekali. Satu kapal perang harganya 300.000 livre, dan satu tembakan tunggal meriam akan menenggelamkannya dalam lima menit, untuk selamanya, padahal setiap jengkal kapal itu dibayar dengan uang pajak kita. Baru-baru ini menteri keuangan mengumumkan negara akan menarik sepersepuluh dari semua penghasilan, benar-benar mencekik leher, bahkan apabila kau menyetor perpuluhanmu ke gereja. Ini benar-benar perilaku menyimpang.

Kemalangan manusia bersumber pada kenyataan bahwa dia tak ingin tingal diam di tempatnya sendiri. Pascal yang mengatakan itu. Dan Pascal pria hebat, Frangipani di bidang pemikiran, ilmuwan sejati, boleh dibilang, dan tak seorang pun menginginkan orang-orang seperti itu sekarang. Orang-orang membaca buku-buku yang menghasut sekarang ini, karangan Huguenots atau pengarang-pengarang Inggris. Atau mereka menulis artikel atau makalah ilmiah yang meragukan apa pun dan segalanya. Tidak ada yang seharusnya benar lagi, mendadak segalanya harus berbeda. Yang paling gres adalah tentang binatang-binatang kecil yang tak pernah terlihat sebelumnya, yang berenang di dalam segelas air; mereka berkata sifilis penyakit yang benar-benar normal dan bukan hukuman dari Tuhan lagi. Tuhan tidak menciptakan dunia dalam tujuh hari, begitulah katanya, melainkan dalam jutaan tahun, itu pun apabila benar Dia yang membuatnya.

Orang-orang liar adalah manusia-manusia seperti kita; kita membesarkan anak-anak kita dengan cara yang salah; dan bumi tidak lagi bulat seperti dulu, melainkan rata pada bagian puncak dan bagian bawahnya seperti melon—seolah ini ada pengaruhnya sedikit pun!

Baca Juga: Selingkuh Itu Wajar, tapi Jarang Sekali Berakhir Bahagia

Di setiap bidang, orang-orang mempertanyakan, menyelidiki, meneliti, mengorek, dan mencoba-coba bereksperimen. Tak cukup lagi bagi seorang untuk berkata bahwa sesuatu adalah begini atau memang sudah begini—segalanya harus dibuktikan sekarang, lebih baik dengan sejumlah saksi mata dan angka-angka dan satu atau lebih eksperimen-eksperimen konyol ini. Diderot, d’Alambert, Voltaire, Rousseau, atau siapa pun nama para penulis artikel itu—di antara mereka bahkan ada yang rohaniawan dan berdarah bangsawan!—Mereka akhirnya berhasil memengaruhi seluruh masyarakat dengan kegelisahan mereka yang laknat, dengan kehausan mereka tentang segalanya, dengan ketakbersediaan mereka untuk merasa puas dengan apa pun di dunia ini, pendek kata, dengan kekacauan tak ada habisnya yang mendominasi isi kepala mereka sendiri.

Kemana pun kau memandang, ada semangat menggebu-gebu. Orang-orang membaca buku, bahkan wanita. Pastor-pastor menghabiskan waktu berlama-lama di kedai kopi. Dan apabila polisi menyela dan menjebloskan salah satu bajingan terkenal itu di penjara, para penerbit akan berteriak- teriak dan mengeluarkan petisi, wanita dan pria dari kalangan atas menggunakan pengaruh mereka, dan dalam dua minggu, orang itu akan dibebaskan atau diizinkan keluar negeri, dan dari situ dia langsung melanjutkan menulis pamflet-pamflet tak bermoral itu. Di salon, orang-orang tidak membicarakan apa-apa selain orbit komet dan ekspedisi, tentang leverage dan Newton, tentang membangun kanal, sirkulasi darah, dan diameter bumi.

Bahkan Raja sendiri sudah meminta mereka mendemonstrasikan salah satu penemuan baru yang mereka sebut listrik. Sementara seluruh balairung memperhatikan, seorang pria menggosok-gosok botol, dan botol itu memercikkan bunga api, dan Raja, konon dilaporkan, terlihat sangat terkesan. Sungguh tak masuk akal! Pada zaman kakeknya dulu, Louis yang agung—Baldini merasa beruntung bisa hidup di bawah kekuasaannya yang dermawan selama bertahun-tahun—demonstrasi konyol seperti itu takkan pernah diizinkan untuk dilakukan di hadapannya. Tapi beginilah kondisinya di zaman sekarang, dan itu semua akan berujung pada kehancuran.

—-

Dikutip dari hasil terjemahan Julanda Tantani terhadap Das Parfume: Die Geschichte Eines Morders, terbitan Diogenes Verlag AG Zurich. 1985. Dialih bahasakan oleh PT Gramedia Pustaka Utama sebagai Perfume: Cerita Tentang Seorang Pembunuh. Diterbitkan pada 2019.

—-

Anda bisa menemukan kutipan ini pada halaman 79-84. Pada bagian ini, hidup Baldini dinarasikan. Seorang ahli parfum yang sudah uzur dan tidak laku lagi. Jean Baptiste Grenouille, si tokoh utama, bertemu dengan Baldini saat Jean membawakan hasil penyamakan kulit kambing untuk diparfumi. Kelak Baldini dibuat kagum oleh keluarbiasaan hidung milik Jean yang menghidu dengan mudah bahan-bahan penyusun Amor and Pshyce, parfume temuan Pelessier yang populer. Sebuah parfum yang semakin menghimpit pendapatan Baldini.

Baldini lalu mempekerjakan dan mengajarkan Jean cara menyuling kandungan minyak bunga-bunga. Darinya Jean menghasilkan banyak sekali ramuan parfum yang disukai para bangsawan. Yang kemudian membangkitkan kembali pemasukan toko parfume Baldini. Sosok Jean bagi Baldini adalah berkah. Tapi bagi Jean, Baldini hanyalah salah satu anak tangga untuk mendaki dan menjadi bagian kelas menengah masyarakat Paris. Atau pendek kata, kelas sosial dimana Anda baru dianggap layak disebut hidup ketika berhasil memasukinya.

Baca Juga: Hari Libur Melimpah, tapi Sanggupkah Kita Berteriak Hore?

Saya suka sekali dengan bagian ini, karena membuat saya berpikir tentang konsep kemajuan yang tidak membawa manusia kemanapun. Wacana populer yang sangat bermasalah. Selain itu pada bagian ini, Patrick Suskind menggambarkan suasana gairah hidup abad ke-18 di Paris, Prancis begitu rinci dan mengalir, membantu para pembaca untuk mengikuti bagian-bagian cerita. Detail-detail sejarah yang bertanggung jawab dan apa adanya dijelaskan secara segar dengan selipan-selipan humor gelap soal ketimpangan sosial dan orang-orang yang berada di balik wewangian kelas atas. Juga gambaran gairah sosial radikal yang sedang diambang ledakan besar yang akan menghiasi wajah dunia ke dalam sistem sosial politik yang epik, Revolusi Prancis 1789-1799.

Lebih daripada itu, Anda bisa melacak asal muasal semua kegilaan Jean Baptiste Grenouille. Anda tahu, ada 25 perempuan cantik, muda dan beraroma harum yang dibunuh Jean untuk menciptakan ramuan parfum ke dalam botol kecil untuk memuaskan hasrat wewangiannya terhadap wangi tubuh yang tidak ia miliki. Saat pertama kali menyadari bahwa tidak ada sama sekali bau badan dari sudut-sudut lipatan di tubuhnya, ia membangkitkan ketakutan purba dari sisi terdalam dirinya terhadap hidup. Jean merasakan kecemasan, dengan tidak berbau ia tidak menganggap dirinya hidup atau tidak pernah benar-benar dianggap hidup oleh orang lain. Jean lalu menyusun kepingan-kepingan hasratnya, mengumpulkan wewangian dari material hidup sekaligus menangkap selamanya, momen eurekanya terhadap wewangian yang penuh. Menenggelamkan dirinya ke dalam ilusi pencapaian.

Baca Juga: Lima Corak yang Harus Dimiliki Sebuah Film agar Dapat Masuk ke dalam Genre Bong

Jean tentu saja bejat dan zalim. Suskind sangat kelihatan bersusah payah menyusun latar belakang karakter tokohnya secara harfiah. Pada bagian-bagian tertentu, Suskind berusaha mempertahankan penyetujuan pembaca terhadap kebejatan Jean setelah membukanya sejak paragraf pertama, dan secara bersamaan, berusaha membangkitkan simpati pembaca terhadap jalan hidup Jean. Suskind berhasil menjaga temponya, sejak halaman pertama hingga terakhir, Anda dibuat setuju dengan perbuatan Jean yang bajingan dan nihil hati nurani tetapi dibuat peduli dengannya yang tumbuh di antara tangan-tangan kotor dan manusia-manusia yang perilaku bejatnya sungguh berbau busuk.

Dari sini Anda bisa sadar bahwa Jean tidak gila sendirian dan tidak bejat begitu saja. Novel ini mengajari kita untuk memperluas sudut pandang kegilaan dan kebejatan. Jean ibarat wewangian dari hasil penyulingan bau busuk manusia. Hasrat olfaktori Jean yang berasal dari ketakutan purbanya terhadap tubuhnya sendiri adalah perlambangan dari struktur sosial masyarakat yang menyekam hasrat terdalam manusia yang serakah bahkan dengan ledakan yang tak terbatas.

Suskind menjelaskannya dari perspektif hidung. Alat indra paling purba yang menyadarkan manusia akan kehadiran bau. Tetapi struktur bau adalah materi yang tak dapat terkatakan atau tidak dapat ditampung oleh bahasa. Struktur kehadiran bau lalu menjadi perlambangan materi tanpa batas tetapi tak dapat memuaskan hasrat manusia yang selalu lack danparadoksal.

Fakta paradoksal itu seperti ini: Hasrat manusia terhadap sesuatu di luar dirinya yang tak terbatas selalu berasal dari kekosongan hakiki di dalam dirinya.

Baca Juga: Kalau Memang Harus Mati, Mengapa Tidak dengan Memainkan Gim Online

Ada dua kesempatan untuk melihat momen paradoksal  itu di dalam novel ini. Pertama, Saat Jean berdiri di tiang pancung setelah menjadi terdakwa pembunuhan dengan hukuman mati. Jean meneteskan parfum hasil karyanya dari 25 bau tubuh perempuan cantik. Sesaat kemudian, ribuan hadirin yang mengelilingi lapangan pemancungan berada dalam ketakjuban yang cepat sekali berubah menjadi kejadian surealis, pesta seks paling tidak bermoral. Kedua, saat Jean meninggalkan para hadirin yang sedang telanjang bulat di Gresse. Jean lalu menuju Paris dengan kekecewaan terhadap tubuhnya, bahwa setelah ia berhasil mendapatkan perhatian banyak orang, ia tidak juga dapat mengisi kekosongannya terhadap dirinya sendiri. Singkatnya, Jean kecewa berat setelah terbangun dari ilusinya terhadap sebuah pencapaian.

Di Paris, ia ingin mati. Ia mendatangi perbatasan rue aus Fers dan duduk di sebuah pemakaman. Jean lalu memerciki sekujur tubuhnya dengan seluruh isi botol parfumnya yang tragis itu, mendadak dirinya bersimbah keindahan. Kerumuman orang yang terpinggirkan melihatnya sebagai malaikat, mereka kagum dan terpukau.

Namun Suskind menulis, “Tapi pada saat yang sama mereka merasa keterpakuan mereka seperti bersiap lomba lari, kekaguman mereka berubah menjadi hasrat, keterpakuan mereka menjadi gairah. Mereka merasa diri mereka terpikat kepada pria yang laksana malaikat ini, daya tarik yang sangat besar memancar dari dirinya, gelombang yang tak sanggup ditolak manusia mana pun, terlebih karena tak ada seorang manusia pun yang bakal menolaknya, karena apa yang ditarik ke bawah dan diseret gelombang tersebut adalah keinginan manusia itu sendiri: langsung menuju dirinya.”

Baca Juga: Cara Mengobati Tumit Keseleo Akibat Kebodohanmu Sendiri

Peristiwa kolosal Jean, bagi saya, adalah tahi yang dilemparkan ke wajah konsep kemajuan yang memakukan kaki manusia modern ke permukaan paradigma sains pasca pencerahan. Setelah membaca novel ini Anda bisa mencium, meski dengan hidung tersumbat, bau busuk kemajuan. Apakah Anda tahu sudah sejauh manakah kemajuan melangkahkan manusia? Tidak kemana-mana. Tetapi konsep kemajuan merupakan daya tarik yang sangat besar dan selalu menjadi gelombang yang tak sanggup ditolak manusia mana pun. []

BACA JUGA artikel Ma’ruf Nurhalis lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles