Felix Nesi, penulis novel Orang-Orang Oetimu (Marjin Kiri, 2019) dalam catatannya mengaku harus bermalam di Kantor Polisi Sektor (Polsek) Kecamatan Insana. Felix Nesi dilaporkan oleh Komunitas Pastoran SMK Bitauni setelah memecahkan kaca jendela dengan menggunakan helm. Pemenang Sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2018 tersebut mengaku menghantam kaca-kaca jendela pastoran dengan helm INK setelah tidak mampu menahan amarahnya.

Masalah bermula saat Felix meminta pihak sekolah memindahkan seorang Romo dari SMK Bitauni. Ia menyebut bahwa Romo berinisial A itu pernah “bermasalah” dengan seorang perempuan di sebuah Paroki sehingga dipindahkan ke SMK Bitauni awal tahun ini. Felix takut jika Romo itu kembali berulah di sekolah yang jaraknya hanya sekitar 700 meter dari rumahnya—sangat dekat dari rumah Felix.

Permintaan untuk memindahkan Romo tersebut awalnya direspon baik oleh kepala sekolah dengan menyebutkan bahwa “SK Romo A. memang hanya sementara”. Hanya saja, janji itu hingga kini tidak terpenuhi. Felix kemudian kembali mendatangi sekolah tersebut tepat pada tanggal 3 Juli 2020. Saat itulah, Felix tidak mampu memendam amarah dan memecahkan kaca-kaca yang berujung pada pelaporan dirinya kepada pihak kepolisian.

Baca Juga: Catatan tentang Buku

Membaca catatan Felix membuat saya teringat dengan film Spotlight. Film yang diadaptasi dari kisah nyata dan dirilis pada tahun 2015 tersebut mengisahkan tentang usaha tim jurnalis media asal The Boston Globe bernama Spotlight. Tim Spotlight berisi empat orang, Walter “Robby” Robinson (Michael Keaton), Michael Rezendes (Mark Rufallo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), dan Mitchell Garabedian (Stanley Tucci). Mereka bertugas menginvestigasi hal yang bersifat rahasia, tertutup, ataupun kasus-kasus yang tidak muncul di permukaan.

Marty Baron (Liev Schreiber), editor baru di The Boston Globe meminta kepada tim Spotlight agar meliput tentang kekerasan seksual yang dilakukan oleh pastor-pastor di Boston, Amerika Serikat. Hasil investigasi tersebut mencengankan. Khusus untuk di Boston, enam persen dari seluruh pastor yang ada, pernah melakukan kekerasan seksual terhadap anak-anak.

Hal yang paling menyedihkan, bahwa sebelum kasus tersebut diungkap oleh Spotlight, pastor-pastor yang bermasalah jarang sekali mendapatkan sanksi hukum. Sanksi yang mereka dapatkan hanyalah pemindahan ataupun pemberian cuti sakit sebagai bentuk upaya menjaga nama baik gereja.

Baca Juga: Itaewon Class: Bagaimana Cinta Mati Mengerikan

Dalam film, sangat terang dijelaskan bahwa ada upaya gereja untuk merahasiakan dan menutupi kasus-kasus kekerasan seksual tersebut. Bahkan di awal-awal film, kita disajikan bagaimana pihak gereja memediasi antara pelaku dengan korban dengan menggunakan nama besar gereja.

“Sheila, kau pasti tahu sumbangan gereja buat masyarakat” demikian potongan kalimat mediasi mereka. Hal ini yang kemudian membuat kasus demi kasus terus didiamkan demi menjaga nama baik gereja.

Sebuah kesaksian tentang bagaimana seseorang lelaki dicabuli saat masih berumur 12 tahun membuat saya merinding. Lelaki yang bernama Patrick, usia sekitar 40 tahun, mengaku bahwa ia dicabuli oleh pastor bernama Geoghan saat masih berumur 12 tahun.

“Geoghan datang, dan ibuku begitu senang. Seperti Tuhan menamppakkan diri. Dia mengajakku membeli es krim. Dia pastor dan aku anak kecil. Jadi aku ikut. Kami kemudian pulang ke rumah. Lalu dia mulai mengelus kakiku. Tangannya bergerak dan menggenggam penisku. Aku terkejut dan aku terdiam. Aku tidak bisa bergerak. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku masih anak-anak. Aku bahkan belum menyentuh eskrimku. Es krimnya meleleh begitu saja”.

Saya terhenyak tepat pada kalimat: aku bahkan belum menyentuh es krimku. Bagaimana sebuah monster melakukan kejahatan kepada anak-anak tanpa keraguan. Geoghan adalah pelayan Tuhan dan bekhotbah tentang hal-hal baik yang diperintahkan Tuhan. Tetapi Geoghan jusru menggunakan hal itu untuk memperdaya anak-anak.

Baca Juga: Mengungkap Topeng Pendidikan di Tengah Pandemi

Melihat The Boston Globe sebagai sebuah media, mungkin kita hanya melihatnya sebagai media kecil. Tetapi, apa yang membuat tim Spotlight milik The Boston Globe itu mampu mengungkap kasus yang telah tertutupi berpuluh-puluh tahun tersebut? Jawabnnya adalah mereka mampu mambuat korban berani untuk berbicara. Setelah penulisan artikel pertama tentang pengungkapan kasus tersebut, setidaknya ratusan orang menelpon untuk melaporkan diri sebagai korban.

Di kisah nyata, selama tahun 2002, Spotlight menulis sekitar 600 artikel untuk mengungkap kasus kekerasan seksual tersebut. Setidaknya, terdapat 249 Pastor dan Biarawati yang diadili atas kasus tersebut. Hasil investigasi Spotlight juga mengungkapkan bahwa, setidaknya, khusus untuk di Boston, terdapat sekitar 1.000 anak yang telah mengalami kasus kekerasan seksual. Pengungkapan kasus-kasus tersebut kemudian berlanjut ke kota-kota lain di Amerika Serikat. Bahkan, kasus-kasus dari berbagai negara juga ikut terungkap.

Usaha yang dilakukan oleh Spotlight saya rasa mirip dengan apa yang dilakukan oleh Felix: tidak mendiamkan sebuah masalah. Dalam catatannya, Felix menuliskan bahwa di dalam novelnya, Orang-Orang Oetimu, ia memasukkan sebuah penggalan kisah tentang bagaimana sebuah kejahatan didiamkan dan menjadikan masyarakat kecil sebagai korban.

“Saat menggarap novel, saya pernah mewawancarai seorang bapak yang mengasingkan anak perempuannya ke kampung sesudah anak tunggalnya itu dihamili pastor—pastor itu tetap di kota, anaknya yang “disembunyikan”. Bapak itu menangis sambil bercerita. Antara putus asa dan terluka, tetapi tetap mengasihi anak perempuan (dan cucu)-nya.  Hanya ia yang menangis, tetapi kami sama-sama terluka”.

Ada luka yang dirasakan oleh Felix mendegar pengakuan bapak itu. Felix tidak ingin apa yang terjadi pada bapak itu terulang kembali. Saya pikir demikian alasan utama mengapa Felix meminta Romo A untuk sebaiknya keluar dari sekolah untuk menyendiri, merefleksi diri, dan memikirkan ulang apa yang telah ia lakukan dan apa sebenarnya yang dia inginkan.

Baca Juga: Their Finest: Pelajaran tentang Kehilangan

Selain itu, pelaporan Felix Nesi terhadap tindakannya memecahkan kaca-kaca jendela merupakan bagian dari “standar ganda” sebuah institusi. Mereka cepat melaporkan atau memproses orang-orang dari luar kelompok mereka dan cenderung menimbun masalah di internal mereka.

Seharusnya, ketika Felix meminta agar Romo A dipidahkan dari sekolah, ada upaya yang jelas untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Akan tetapi, sekarang sudah memasuki bulan Juli, artinya ada sekitar kurang lebih enam bulan waktu berlalu dan tidak ada penyelesaian yang jelas pada permasalahan tesebut. Hal inilah yang kemudian membuat Felix melakukan upaya untuk mendorong penyelesaian masalah tersebut, meskipun pada akhirnya harus bermalam di kantor polisi karena tindakan memecah kaca jendela dan merusak kursi plastik.

Saya tidak sedang berusaha untuk mengatakan bahwa sudah pasti ada kejahatan dilakukan oleh pastor seperti yang diungkapkan oleh Felix hingga kasus ini benar-benar terungkap secara hukum. Tetapi, hal penting yang harus kita pegang teguh bersama bahwa jika benar ada kejahatan demikian, maka kita semua harus bersuara dan mendorong orang-orang yang telah menjadi korban untuk ikut bersuara.

Apa yang dilakukan oleh Felix penting menjadi catatan bagi kita, bahwa sebuah kesalahan yang didiamkan sangat mungkin tidak akan terselesaikan dan akan terulang kembali. Kita semua layak untuk mendukung dan mendorong usaha Felix mengungkap “pastor bermasalah” yang ada di lingkungannya.

Baca Juga: Penyintas Pelecehan Seksual tak Boleh Tinggal Bungkam

Saya ingat kembali apa yang diresahkan oleh Robby sebagai editor dan ketua di tim Spotlight. Setelah sibuk mengutuk orang-orang yang mendiamkan pastor-pastor yang bermasalah, ia mencoba merefleksi diri. Dengan suara bergetar ia mengatakan,“Bagaiamana dengan kita?” Ternyata, sejak beberapa tahun yang lalu, orang-orang telah mengirimi mereka daftar pastor-pastor yang bermasalah, tetapi tidak pernah diliput dengan serius. Hal itu menyisahkan penyesalan yang mendalam ke dalam diri Robby. Ia merasa bersalah bahwa telah membiarkan kasus-kasus itu, sehingga menimbulkan banyak korban.

Saya pikir kita semua perlu mendorong dan medukung Felix untuk tetap menyuarakan keresahannya terhadap “pelayan Tuhan” tersebut. Marty Baron mengingatkan kita semua dengan mengatakan ini “Terkadang kita mudah lupa saat berada di dalam kegelapan. Ketika tiba-tiba muncul cahaya, kita jadi merasa bersalah”.

Sepertinya Felix tidak ingin menunggu hadirnya penyesalan untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Kita musti mendukung Felix Nesi dan orang-orang yang menjadi korban untuk tetap menyuarakan permasalahan itu hingga tuntas. []

BACA juga artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles