Saya pernah patah hati setelah dikhianati oleh seorang perempuan. Saya terpuruk. Udara yang saya hirup dan hembuskan semuanya serasa seperti kesedihan. Pada saat itulah, buku menyelamatkan hidup saya. Setelah tenggelam dalam kesedihan, saya meraih satu buku di rak kecil di pojok kamar. Laughable Loves, demikian judul buku yang coba untuk saya baca ulang demi meredam kesedihan.

Laughable Loves adalah buku karya penulis Cekoslowakia, Milan Kundera. Buku tersebut terdiri dari beberapa cerita pendek—meski ditulis dengan panjang. Salah satu cerpennya yang berjudul Tak Seorangpun Akan Tertawa adalah cerita yang saya selesaikan saat itu. Ceritanya adalah kisah cinta yang komikal. Seorang lelaki yang telah melakukan banyak hal, bahkan rela kehilangan banyak hal demi seorang perempuan yang ia cintai, tetapi pada akhirnya itu semua justru membuatnya harus berpisah. Selepas membaca kisah itu, saya kemudian berkata pada diri sendiri: aku tidak sendirian.

Saya kembali menatap rak buku, masih ada beberapa buku karya Kundera di sana. Mata saya akhirnya tertuju pada salah satu karya terbaik Kundera, Kita Lupa dan Gelak Tawa. Novel yang ditulis seperti memoar dan catatan kritik tersebut merupakan karya kritis Kundera terhadap situasi politik di negaranya Cekoslowakia—sekarang Republik Ceko. Sebenarnya, suatu waktu saya sudah mennyelesaikan buku itu sekali. Salah satu bagian favorit saya adalah gagasannya tentang ingatan, buku, dan peradaban. Saya bahkan berkali-kali mengutip salah satu nukilan terbaiknya: jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa tersebut akan musnah.

Baca Juga: Itaewon Class: Bagaimana Cinta Mati Mengerikan

Saya kembali meresapi lembar demi lembar buku itu. Saya justru merasa tersentak ketika membaca bagian ketujuh, bagian yang berkisah tentang “Perbatasan”—bukan dalam artian geografis, tetapi dalam artian psikologis. Mudah sekali, teramat sangat mudah, bagi seseorang menyebrangi perbatasan yang di baliknya segala sesuatu kehilangan makna: cinta, keyakinan, kepercayaan, dan sejarah. Demikian potongan kalimat Kundera untuk menggambarkan kisah sepasang kekasih yang tiba-tiba merasakan kehilangan makna akan cinta. Dikisahkan perempuan tersebut melampaui “perbatasan”, sesuatu yang membuatnya pernah begitu mencinta dengan seketika menjadi orang yang begitu membenci.

Selepas menghabiskan bagian itu, saya merenung. Perenungan itu mengantarkan saya pada sebuah kesimpulan: kekasih saya sepertinya telah melampaui perbatasan itu, sehingga dengan mudah cinta itu kemudian berubah menjadi penghianatan.

Tidak hanya sekali, tetapi bagi saya, buku telah berkali-kali menyelamatkan banyak hal di dalam hidupku.  Suatu hari, saya berangkat dari rumah megenakan setelan hitam putih yang saya pasangkan dengan sepatu pantofel yang mengkilap. Pagi itu saya berangkat dengan penuh harapan: lolos seleksi beasiswa LPDP. Tetapi, kenyataan berkata lain, saya pulang tertunduk lesu. Saya memutuskan untuk mengurung diri di kamar. Selain orang tua di rumah, satu-satunya hal yang menemani saya adalah buku. Saat itu, saya menghanyutkan diri dengan membaca kembali beberapa koleksi buku milik Gabriel Garcia Marquez.

Baca Juga: Mengungkap Topeng Pendidikan di Tengah Pandemi

Orang-orang mungkin menganggap bahwa saya hanya menjadikan buku sebagai pelarian. Tetapi bagi saya buku selalu punya makna yang lebih daripada sekadar pelarian. Buku bagi saya seperti sebuah benda yang hidup, ia selalu mampu menjadi makanan bagi jiwa. Saya selalu merasa lebih baik ketika saya melangkah memasuki tempat di mana saya meletakkan rak buku dan membariskan berbagai macam koleksi bukuku. Saya bahkan selalu merasa lebih hidup, ketika mata saya menatap deretan buku-buku.

Jika dengan kebetulan saya menemukan nama John Steinbeck pada deretan buku itu, saya tiba-tiba tertawa jika mengingat kisah persahabatan Pilon yang ia ceritakan dalam Dataran Tortilla atau pesta yang dilakukan Doc dan tokoh-tokoh lain dalam Cannery Row. Ingatan saya kadang juga tiba-tiba menjurus jauh pada masa kecil saya saat melihat buku Petualangan Tom Sawyer milik Mark Twain. Saya seperti ingin mengulang masa-masa perjalanan ke sekolah yang harus menaklukkan derasnya arus sungai saat musim hujan. Sebuah kebahagiaan yang tiada tara.

Baca Juga: Their Finest: Pelajaran tentang Kehilangan

Meski buku membuat saya bahagia, kadangkala buku  membuat saya dihinggapi perasaan takut. Hal itu terjadi saat saya melihat beberapa buku yang di punggungnya bertuliskan nama filsuf eksentrik, Slavoj Zizek. Saya teringat dengan kata-kata mutiaranya dalam sebuah wawancara: saya sedih ketika melihat orang bodoh bahagia. Saya sering bertanya pada diri sendiri, apakah saya termasuk orang yang bodoh? Tetapi, pada waktu yang sama, saya sedikit merasa lebih baik dibanding orang-orang yang tidak membaca buku.

Saya selalu ingat Eudora Welty yang di masa kecilnya merasa bangga karena memiliki banyak koleksi buku sastra dibandingkan teman-temannya yang lain yang hanya memiliki buku pelajaran: Punyakah kalian Our  Wonder World? Dan saya mesti mengatakan kepada mereka bahwa memiliki The Book of Knowledge masih belum cukup untuk dapat menggenggam sebatang lilin. Demikian ungkapnya dalam salah satu tulisannya, Mendengar . Tulisan itu diterjemahakan dan menjadi bagian dari buku Memikirkan Kata.

Saya hanyalah manusia biasa seperti layaknya orang-orang. Tetapi, sungguh saya tidak bisa membayangkan bagaimana hidup saya tanpa buku. Selain menyelamatkan saya dari kesedihan, buku juga kerap menuntun saya dalam bertindak. Meskipun itu pada tataran yang cukup sederhana, semisal: jatuh cinta.

Baca Juga: Mengenal Golongan Mahasiswa Benalu

Ketika jatuh cinta, saya akan mengingat buku Sepotong Senja untuk Pacarku milik Seno Gumira Ajidarma. Saya suka ceritanya, saya tersihir dengan kalimat-kalimatnya, saya kagum dengan perjuangan Sukab untuk mendapatkan cinta Alina dengan mengiriminya sepotong senja. Bahkan saya berani mengakui bahwa, pertama kali jatuh cinta kepada buku setelah saya membaca buku itu. Dari peristiwa itu saya belajar, ketika saya menyukai seorang perempuan dan ia meminta sebuah hadiah, saya akan mengiriminya buku itu. Saya tidak peduli jika harus bernasib seperti Sukab, saya hanya ingin melakukan yang terbaik. Dan bagi saya, usaha terbaik untuk hadiah bagi seorang perempuan adalah buku, terutama buku Sepotong Senja untuk Pacaraku.

Selain itu, saat melakukan sebuah perjalanan, benda terbaik yang selalu ada di dalam tas saya adalah buku. Pilihan saya hampir selalu sama, sebuah buku dengan judul yang begitu panjang—Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu. Buku itu merupakan kumpulan cerpen seorang pemuda dengan marga Pasaribu—Norman Erikson Pasaribu. Saya tak pernah bosan membaca kisah-kisah di dalam buku itu. Meski sudah saya baca puluhan kali, kata demi kata yang berbaris di dalamnya selalu punya jiwa yang menghibur saya saat berada di sebuah perjalanan. 

Sebenarnya terkadang saya berpikir, bagaimana sebuah cerita yang sama selalu memberikan rasa berbeda saat membacanya. Tetapi, saban hari, Paul Ricoeur menjawab pertanyaan itu dengan sebuah slogan: le symbole donne a penser—simbol memberikan pemikiran. Claudia Arbert kemudian dengan tangkas menyimpulkan gagasan-gagasan Ricoeur bahwa sebuah teks tidak hanya memiliki makna di dalam dirinya; ia juga mengacu kepada makna di luar dirinya, yaitu kehidupan kita, kepada dunia. Bagi Ricoeur, setiap pembacaan adalah refleksi terhadap kehidupan yang penuh misteri.

Baca juga: Sampar dan Solidaritas Melawan Corona

Hal tersebut yang memungkinkan setiap kita membaca ulang sebuah karya sastra, saya selalu merasa menemukan sesuatu yang berbeda. Pada titik ini, Donald Halls sangat tepat ketika mengatakan “kesusatraan selaras dengan realita hidup, selaras dengan betapa rumitnya perasaan manusia”.

BACA juga artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles