“Oh, tunggu saja.”

Itu jawaban Mariati Atkah kepada saya, saat pertamakali kami bertemu dan bertegur sapa di Makassar International Writers Festival (MIWF). Ia menjawab itu, saat saya bertanya soal “Kapan Mariati akan membukukan puisi-puisinya?”

Kami bertemu waktu itu, sore sebelum acara A Cup of Poetry, di peluncuran buku puisi Firman dan Sebiji Apel (Basabasi, 2019) karya Dalasari Pera, Sabtu (29/6/2019). Saat acara peluncuran kelar dan sesi foto selesai, Mariati Atkah, Dalasari Pera, dan Darmawati Majid masih duduk berbincang beberapa hal, saya bergabung dengan ketiga perempuan penulis itu dan di tengah perbincangan, saya menanyakan hal yang sudah lama ingin saya tanyakan ke Mariati.

Saya mendengar namanya dari Aslan Abidin, saat saya bertanya siapa perempuan penulis di Sulawesi Selatan yang puisi-puisinya sebaiknya dibaca. Selain Dalasari Pera, ia menyebut juga nama Mariati Atkah, sambil membacakan sajak Mariati yang paling ia sukai tentang seorang perempuan yang pergi ke salon mamangkas rambut.

Baca Juga: Wawan Kurniawan: Munir, Bisa Mewakili Kehilangan dengan Berbagai Perspektif

Hampir setahun sejak Mariati Atkah mengatakan “Oh, tunggu saja”, buku puisinya Selama Laut Masih Bergelombang yang berisi 50 buah puisi, kini terbit di Gramedia secara digital (22/5) dan rencananya akan dicetak pada 13 Juli 2020 mendatang berbarengan dengan buku puisi Wawan Kurniawan.

Tahun ini, Sulawesi Selatan memang bakal kebanjiran terbitan buku puisi. Beberapa yang telah terbit di antaranya: Suhu Udara (Guepedia) karya Arif Hukmi; Kursus Singkat Membakar Rumah (Instagram) karya Ibe S Palogai; Aku dan Kau Melawan Negara (via Google Drive) karya Andi Fikar Amin; Museum Kehilangan (Gramedia) karya Wawan Kurniawan; Selama Laut Masih Bergelombang (Gramedia) karya Mariati Atkah; Tragedi Antara (JBS) karya Dwi Rezky Hardianto. Sementara Jari Tengah (Basabasi) karya Alfian Dippahatang dan Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau (Gramedia) karya M Aan Mansyur kabarnya juga akan terbit tahun ini. Delapan buku puisi dari penulis Sulawesi Selatan itu didominasi oleh kaum laki-laki. Hanya Mariati Atkah, satu-satunya perempuan penulis di jarajan penulis tersebut.

Baca Juga: Arif Hukmi: Di Media Sosial Semua Orang Menjadi Pintar

Wawancara saya dengan Mariati Atkah berlangsung melalui pesan pribadi via WhatsApp. Berikut hasil wawancaranya:

Sebelumnya, selamat Mariati Atkah. Buku puisi tunggal pertamamu Selama Laut Masih Bergelombang—yang saya tanyakan di MIWF tahun lalu perihal kapan terbitnya, di sebuah diskusi buku—ternyata terbit tahun ini. Dulu pernah saya bertanya di Aslan Abidin, siapa perempuan penulis di Sulawesi Selatan yang puisi-puisinya musti dibaca? Ia menyebut namamu dan mengatakan paling suka dengan sajakmu tentang seorang perempuan yang memangkas rambutnya di sebuah salon.

Di pertemuanku dengan Aslan Abidin waktu itu, ia juga membacakan sajak itu, sayang saya lupa judulnya Mariati, apakah sajak itu masuk juga di kumpulan puisimu Selama Laut Masih Bergelombang?

Terima kasih atas kesempatan untuk berbagi di Epigram. Ah, ya. Saya ingat bertemu Ipin saat MIWF tahun lalu di sesi peluncuran buku puisi Dalasari Pera. Selain Ipin, beberapa orang yang saya kenal pernah juga menanyakan pertanyaan yang sama di kesempatan lain. Saya menganggap setiap pertanyaan tentang kapan buku saya sendiri terbit adalah sebuah doa. Sepertinya Tuhan berbaik hati mengabulkan karena tidak tega saya harus terus mencari jawabannya. Haha. Puisi yang dimaksud Aslan itu berjudul Di Salon Ungu Pada Hari Minggu dan masuk dalam buku Selama Laut Masih Bergelombang.

Saat membaca beberapa sajakmu di Google Books, saya melihat ada sajak yang kamu tulis pada tahun 2011. Sajak-sajakmu di Selama Laut Masih Bergelombang adalah kumpulan sajakmu sejak tahun kapan? Mengapa butuh waktu yang lama untuk bisa menerbitkan satu buku tunggal, apakah menemukan penerbit juga merupakan kendalamu atau ada kendala lain?

Benar. Buku itu memuat puisi-puisi yang saya tulis sebagai cara untuk mengartikulasikan emosi maupun merekam peristiwa-perjalanan yang saya temui dalam rentang 2011-2018. Tapi ada juga yang bersumber dari tafsir ulang atas mitos atau kultur masyarakat.

Sebenarnya saya tidak begitu berhasrat memiliki buku sendiri karena tanpa itupun saya masih bisa terus menulis dan mempublikasikannya di koran maupun buku antologi. Bagi saya, kepemilikan buku tunggal bukanlah syarat mutlak agar seseorang dapat disebut penulis. Terminologi ‘penulis’ juga hanya label yang dilekatkan dan digunakan pada waktu-waktu tertentu, selebihnya ia sama dengan orang-orang lain.

Namun semakin ke sini, saya sadar bahwa kemampuan menulis saya butuh untuk terus-menerus ditinjau dan diasah. Saya perlu belajar lebih banyak, berjejaring, dan mengeksplorasi hal-hal baru. Saya melihat hal semacam itu salah satunya ditawarkan dalam program-program residensi seperti yang pernah diadakan Komite Buku Nasional (KBN) sebelum ia berstatus almarhum. Selain KBN ada beberapa program lain, dan kepemilikan buku tunggal adalah kriteria wajib untuk bisa mengajukan diri.

Baca Juga: Alfian Dippahatang: Merokok dapat Menyebabkan Kantong Kering

Saya mengirim naskah ini ke editor Gramedia, Siska Yuanita, pada Agustus 2019. Selama masa menunggu, saya sudah kepikiran mau menarik naskah dan mencetaknya secara indie demi mengikuti salah satu program residensi di akhir tahun 2019. Tapi saya menahan diri. Juga karena kesibukan bekerja, akhirnya terabaikan. Balasan dari Mbak Siska tiba di surel saya pada akhir Januari 2020 dan sejak itu kami berproses mengerjakan buku ini hingga muncul dalam bentuk digital dan siap dicetak bulan depan. Kayaknya jodohnya memang dengan Gramedia.

Saya penasaran, siapa orang pertama yang membaca draft buku puisimu? Sejauh mana ia berperan dalam penulisan puisimu?

Aan Mansyur. Puisi-puisinya menemani saya menghabiskan tahun-tahun pertama sebagai mahasiswa baru. Kebetulan Aan adalah senior saya di Sastra Inggris FIB Unhas. Saya juga sering menemuinya sewaktu mengikuti kegiatan-kegiatan di Komunitas Ininnawa. Sebagai pembelajar, awalnya saya menggunakan tulisan Aan sebagai acuan sebelum menemukan cara saya sendiri.

Selain kepada Aan, naskah itu juga mampir ke tangan Faisal Oddang, Aslan Abidin, dan Darmawati Majid yang membantu menyeleksi puisi untuk dimasukkan ke dalam buku, meskipun nantinya ada beberapa yang diganti dan dikeluarkan sesuai diskusi dengan Siska Yuanita. Kepada nama-nama itulah saya berutang banyak terima kasih.

Apa tema besar dalam buku sajakmu Selama Laut Masih Bergelombang?

Ada dua bagian dalam buku ini. Gelombang Pertama mengungkap tema sosial kultural masyarakat khususnya tentang tradisi, sedangkan Gelombang Kedua lebih banyak ke emosi personal tapi sesungguhnya bisa dirasakan oleh siapa saja.

Saya kemarin membaca puisi-puisi Rachmat Hidayat Mustamin di Baca Petra dan menemukan ada kecenderungan beberapa penyair di Sulawesi Selatan menulis seluruh isi puisinya menggunakan “huruf kecil”—termasuk juga Aslan Abidin dan M Aan Mansyur. Saat membaca beberapa puisimu seperti Balagana; Rotteiros; dan Guraka—barangkali juga beberapa puisi lain, kamu juga menulis isi puisimu menggunakan “huruf kecil”. Ada yang ingin kamu sampaikan soal itu?

Saya menggunakan model copy the master yang istilahnya baru saya tahu belakangan ini walaupun sudah lama menggunakannya. Di dalam genre cerpen, ini berarti membuat imitasi dari karya penulis terkenal dengan membuat modifikasi seperlunya sebagai latihan. Tapi di puisi, yang saya terapkan hanya teknik dan bentuknya saja. Setelah saya membacanya berkali-kali, dari segi rasa dan makna, tidak ada perbedaan emosional signifikan yang saya alami ketika suatu puisi ditulis dengan seluruhnya huruf kecil atau ditulis sebagaimana biasa.

Secara pribadi, saya tidak punya dendam dengan huruf kapital. Jadi saya membebaskan diri secara manasuka untuk beralih dari satu bentuk ke bentuk lain.

Apa buku pertama yang kamu baca dan membuatmu jatuh cinta? Apakah buku itu juga yang menuntunmu masuk ke dunia penulisan?

Saya punya daya ingat yang buruk. Saya lupa apa judulnya, tapi itu terjadi ketika saya masih SD. Saat mengikuti lomba cerdas cermat di kabupaten, saya masuk ke perpustakaan sekolah penyelenggara untuk beristirahat dan menemukan sebuah buku yang membuat saya tak beranjak hingga guru saya mengajak pulang. Selepas itu, saya mulai suka menulis pengalaman harian saya di belakang buku tugas. Namun menulis puisi untuk pertama kali justru terjadi saat saya berseragam putih-biru. Guru Bahasa Indonesia meminta setiap siswa membuat puisi dari namanya dan itu terasa seperti bermain-main.

Saya sungguh senang ketika menemukan baris-baris puisi yang disusun dari setiap abjad nama saya.

Kalau tidak salah, Mariati termasuk salah satu pendiri Komunitas Lego-lego (KLL) ya? Boleh bernostalgia sedikit soal KLL, seberapa berperan KLL dalam perjalanan kepenulisanmu?

Yap. Betul. Komunitas Lego-lego (KLL) itu awalnya dibentuk di Facebook pada 2011 bersama sebelas perempuan lain sebagai ruang belajar menulis. Satu-satunya antologi bersama yang dihasilkan berjudul Kaki Waktu yang diterbitkan oleh Kendi Aksara di Jogja.

Kami saling mengisi dan melakukan kerja bersama untuk pengembangan literasi. Meskipun hampir semuanya penulis pemula, tapi kami sudah berani keliling ke sekolah-sekolah di Makassar, Maros, hingga Barru untuk mengadakan pelatihan menulis bagi siswa, membagi sedikit pengetahuan yang kami punya.

Baca Juga: Aslan Abidin: Belum Ada Perguruan Tinggi untuk Penulisan di Indonesia

Pada perkembangannya, KLL mulai menerima anggota laki-laki. Namun sayang, kerja bersama itu tidak berumur panjang. Setiap orang pada akhirnya berjalan sendiri-sendiri karena kami sudah terpencar-pencar.

Bulan Maret lalu pada peringatan Hari Perempuan Sedunia, Makassar international Writers Festival (MIWF)—Festival kepenulisan yang juga turut mengundangmu sebagai emerging writers pada 2013menggalakkan gerakan No All Male Panels. Di banyak sesi diskusi yang terlihat seringkali memang pembicara—bahkan moderator—diisi sepenuhnya oleh laki-laki. Di dunia kepenulisan pun seperti itu. Bagaimana kamu menanggapi hal seperti ini?

Tujuan utama panel kan untuk menunjukkan wawasan melalui diskusi. Menghadirkan perempuan akan mendorong diskusi menjadi lebih bermakna, memberi suara yang beragam dari pandangan dan pengalaman yang mereka bawa. Suara perempuan tidak akan didengar jika mereka hanya berbisik. Mereka perlu diberi ruang dan kesempatan untuk berbicara dengan lantang menyatakan pemikiran. Saya pikir MIWF sudah mengambil langkah yang dibutuhkan untuk memastikan hal itu terjadi.

Menurutmu, apa kesulitan terbesar ketika memilih menjadi seorang perempuan penulis di Indonesia, terutama di Sulawesi Selatan?

Ketika seorang perempuan penulis berumah tangga, ia akan diperhadapkan pada banyak hal yang menuntut kompromi. Prioritas dan tanggung jawab pasti berubah. Pengaruhnya jelas kepada proses kreatif. Tidak banyak yang selamat dari itu dan bagian terburuknya adalah berhenti sama sekali. Kecuali punya sistem pendukung yang baik dari keluarga maupun lingkungan terdekat sehingga jalan menulis tetap dapat ditempuh. Saya beruntung menjadi salah seorang di antaranya.

Ada satu pertanyaan titipan dari seorang redaktur di Epigram, saya tidak mengubah sedikit pun redaksi katanya: “Seringkali atau terkadang, kita menemukan “suara” laki-laki di tubuh perempuan dalam hal ini penyair perempuan. Apakah Anda pernah memutuskan untuk menggunakan suara laki-laki ke dalam puisi?”

Sejauh ini secara sadar, belum. Moga-moga tidak perlu saya lakukan. Soal penggunaan istilah ‘penyair perempuan’ dan bukannya ‘perempuan penyair’ dalam pertanyaan di atas mungkin bisa dibincangkan di kesempatan lain. Saya pikir semangat untuk mengapresiasi penyair tanpa melihat jenis kelaminnya perlu disebarluaskan.

Di biografi penulis dalam bukumu, selain menulis puisi, kamu juga menulis cerpen, esai, dan cerita anak. Dalam proses menulismu, apakah kamu punya waktu khusus untuk menulis? Atau mungkin tempat yang umumnya kamu suka baru bisa menulis karya-karyamu?

Tidak ada waktu dan tempat khusus untuk menulis hingga baru-baru ini. Selama pandemi, saya nyaris tidak pernah meninggalkan rumah kecuali demi keperluan mendesak atau ketika saya merasa hampir mati bosan.

Saya tidak begitu menyukai perabot sehingga saya memanfaatkan meja dapur untuk menulis. Kamu akrab dengan bagian ini? Seperti Murakami, ya? Tapi ini sungguhan, meski saya kadang merasa konyol berharap ada ide cemerlang yang akan lahir dari rimpang jahe, kunyit, dan bawang merah di depan mata.

Siapa buku puisi terakhir yang kamu baca? Apakah isi dalam buku itu mengembirakan atau malah sebaliknya?

Bulan ini saya membeli buku Perginya Seekor Burung karya Lailatul Kiptiyah yang bermukim di Mataram. Buku ini mengangkat tema sederhana sekitar anak-anak, keluarga, dan rumah. Saya menikmati cara pengungkapannya yang sangat baik dan dituliskan dengan indah.

Saya beberapa kali menemukan puisimu diterbitkan di koran. Banyak teman-teman penulis di Sulawesi Selatan yang mengeluhkan soal buruknya pencairan honorarium dari pihak koran yang menerbikan tulisan mereka. Meski telah mencantumkan nomor rekening saat mengirim naskah—sesuai anjuran pihak koran, saat naskah tulisan mereka terbit di koran, kadang penulis sendiri yang musti harus susah payah ke kantor redaksi koran tersebut untuk meminta honor naskahnya, itu pun masih kadang diperumit. Gara-gara itu, banyak teman-teman penulis yang memilih untuk tidak mengambil honornya, meski itu adalah hak mereka. Apakah Mariati juga mengalami situasi seperti itu saat menerbitkan tulisan di koran?

Peristiwa mengenaskan macam inipun pernah saya alami. Beberapa puisi, cerpen dan esai yang pernah terbit di koran baik dalam maupun luar provinsi honornya tidak ditransfer hingga sekarang. Kalau kantor redaksi dapat dijangkau, penulis masih bisa berusaha mengambil honor sendiri meski dengan susah payah. Itu juga dikumpulkan selama setahun agar nilainya cukup untuk membeli buku setelah dipotong traktiran teman.

Saya sudah lama tidak mengirim ke koran karena alasan di atas. Syukur-syukur kalau penulis punya sumber penghasilan lain sehingga menulis di koran semata-mata hanya untuk kepentingan publikasi karya. Honor memang hak penulis, tapi tidak semua koran menganut prinsip “memenuhi hak orang lain sebelum kering keringatnya.”

Jika kami meminta, tiga nama penyair perempuan di Sulawesi Selatan dan tiga nama perempuan penulis di dunia yang buku-buku atau tulisan-tulisannya harus orang-orang baca, Mariati akan merekomendasikan siapa saja?

Untuk di Sulawesi Selatan saya memfavoritkan Shinta Febriany, Luna Vidya, dan Dalasari Pera. Sedangkan untuk penyair dunia, hmmm… Saya membaca puisi-puisi berbahasa asing tapi belum bisa menikmati. Mungkin karena kemampuan berbahasa Inggris saya kurang baik sehingga jangankan meraba maksud di balik teks, mengerti secara literal pun saya masih patah-patah.

Ada karya yang disebut ‘memukau’ tapi bagi saya ‘kurang terjiwai’ dalam bahasa yang saya pahami. Jika sekedar menyebut nama, katakanlah Emily Dickinson, Elizabeth Barrett Browning, dan Sylvia Plath. Karya-karya mereka tersimpan begitu saja dalam folder e-book sebab belum mampu saya tuntaskan.

Setelah menerbitkan Selama Laut Masih Bergelombang, rutinitas menulis Mariati sekarang apa saja? Barangkali dalam beberapa waktu ke depan punya rencana membukukan tulisan lain seperti cerpen atau cerita anak?

Sekarang sedang menyelesaikan bab akhir untuk buku Gerakan Literasi Nasional yang diadakan Kemdikbud sambil merevisi bab-bab sebelumnya. Semua jenis tulisan punya tantangannya sendiri, namun buku anak usia peralihan ke remaja merupakan yang terberat buat saya sejauh ini karena tak banyak referensi. Saya fokus menyelesaikannya dulu. Lain-lain belum terpikirkan.

Kalau soal rutinitas, beberapa minggu lalu saya bersama tiga orang teman mengadakan tantangan menulis setidaknya 15 menit sehari tentang apa saja. Kami belum tahu kelak akan menjadi apa. Ini baru sekedar latihan konsistensi.

Ini pertanyaan terakhir, siapa penulis muda di Sulawesi Selatan saat ini yang namanya tidak cukup familiar terdengar, tapi menurutmu gagasan dalam tulisan-tulisannya bagus? Mungkin kamu menemukannya di koran atau media sosial, mohon dibagi. Boleh hingga beberapa nama.

Setahu saya Alghifahri Jassin dan Andi Fikar Amin. Agi sudah cukup lama saya kenal dan ia mengijinkan saya mengintip rancangan buku puisinya. Sedangkan Fikar, saya sudah selesai membaca bukunya yang berjudul Aku dan Kau Melawan Negara. Mereka muda, beda, dan berbahaya. Haha. []

BACA JUGA artikel Muhammad Arifin lainnya di sini

Facebook Comments
No more articles