Saya dan mungkin juga kau barangkali sadar bahwa hukum di negeri ini teramat klise, pincang dan penuh humor. Tapi lucunya, kita tidak tertawa.

Sekarang ini, hidup seperti membeli tiket mahal untuk sejumlah pertunjukan yang tidak ingin kita tonton. Agar berjalan, aturan diteken dengan ketentuan yang berlaku. Salah satunya waktu tayang. Di tengah tayangan yang berlangsung tengah malam, suhu pendingin menyentuh angka di atas rata-rata suhu normal negara tropis. Semua kedinginan, beberapa di antaranya merasa lapar. Saya bahkan merasakan hal yang lebih tidak masuk akal. Teh dan coklat panas serta nasi kuning hangat datang menghampiri. “Silakan dibeli, harganya murah hanya lima puluh ribu”. Begitu kata laki-laki bertopi merah itu.

Karena tidak punya lima puluh ribuan, saya hanya diam. Diam-diam mata saya memperhatikan orang-orang di sekitar, ada yang makan, minum, dan tertidur. Di sinilah ia terjadi, sebelum pertunjukan usai, beberapa dari kami telah membayangkan akhir dari tayangan itu. Mereka yang fasih, memilih angkat kaki dan menuruni tangga. Berduyun-duyun mereka masuk ke sebuah pintu bercahaya gelap bertuliskan “Exit” berwarna merah. Ketika tiba giliran, saya melihat mereka menghilang.

Baca juga: Their Finest: Pelajaran Tentang Kehilangan

Kehilangan bisa menghilangkan siapa saja, tapi tidak semua orang dapat merasakannya. Pada 7 September 2004, salah satu aktivis HAM Indonesia, Munir Said Thalib dibunuh dalam pesawat yang sedang membawanya menuju Amsterdam, Belanda. Sebuah universitas di Belanda memberinya beasiswa studi S-2 satu tahun untuk bidang International Protection on Human Rights. Dengan semangat besar, sehari berselang pada 6 September 2004, Munir menaiki pesawat Garuda bernomor 974. Awal yang indah itu kemudian menjadi petaka sekaligus memperpanjang deretan kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Munir diracun di udara. Grup musik indie asal Jakarta, Efek Rumah Kaca, meminjam peristiwa itu menjadi salah satu lirik lagunya Di Udara pada stanza kedua baris keenam.

Kebetulan dan secara bertautan, dua topik di atas dihadirkan Wawan Kurniawan, salah satu penulis dan penerjemah yang menetap di Makassar Sulawesi Selatan dalam buku puisi terbarunya yang terbit dan akan dicetak tahun ini, Museum Kehilangan (Gramedia, 2020). Saya pun berinisiatif mengajukan sejumlah pertanyaan kepada alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) itu. Bagi yang belum mengenalnya, dipersilakan untuk segera menyapanya via instagram @wawankurn. Dan inilah obrolan kami.

Selamat siang Wan, kami turut senang dan menyambut baik atas terbitnya buku terbarumu Museum Kehilangan. Meski di antara kami belum ada yang membacanya, kami ingin memastikan bagaimana kabarmu?

Sebenarnya saya berniat mendiskusikan naskah ini secara langsung dengan beberapa kawan epigram, tapi pandemi sepertinya membuat saya cukup kesulitan mewujudkan niat itu. Mau via daring juga rasanya kurang nyaman.

Terharu kumendengarnya hihi. Oh ya kalau perasaanmu? Ya tentu terkait terbitnya buku barumu.

Kemarin saya sempat bimbang, menerbitkan buku di masa pandemi ini cukup sulit. Beberapa buku, termasuk buku saya harus diterbitkan via digital dulu sebelum cetak. Kepastian cetak pun mengikut ke pandemi yang sulit ditebak kapan selesainya.

Baca juga: Alfian Dippahatang: Merokok dapat Menyebabkan Kantong Kering

Saya juga sempat berpikir untuk menunda dulu, tapi saya rasa menerbitkan via digital juga patut dicoba. Akhirnya, bulan Mei kemarin, naskah itu bisa diakses via aplikasi Gramedia digital.

Tapi kabar terakhir dari editor, buku ini akan segera cetak tanggal 13 Juli mendatang.

Syukurlah. Masih tentang buku barumu, kami sempat mengikuti sebuah obrolan daring via Instagram beberapa waktu lalu. Di situ kalau tidak salah ingat, buku Museum Kehilangan adalah kumpulan puisi yang secara umum membicarakan soal Munir, soal kehilangan, atau kondisi psikologis bagaimana seseorang merasakan hal semacam itu. Apa benar? Atau apa yang sebenarnya ingin engkau tafsir/respon?

Wah, terima kasih sudah mengikuti obrolannya. Dan terima kasih pula karena mewawancarai saya, ini mungkin bisa jadi kesempatan saya untuk melengkapi apa yang tak sempat saya sampaikan di obrolan daring kemarin.

Jadi memang benar itu tentang Munir. Hal yang saya respon utamanya tentang kehilangan. Belakangan saya banyak membayangkan berbagai bentuk kehilangan. Saya berusaha menafsir bahwa berbagai bentuk kehilangan itu memiliki beberapa efek yang sama tapi juga banyak perbedaan. Misalnya kehilangan kunci rumah atau motor, kehilangan kucing, kehilangan nyawa, atau ingatan. Hal yang membuat kita kita sangat tertekan secara kompleks.

Menarik sekali, tapi kenapa mesti Munir?

Ada beberapa kebetulan-kebetulan yang membuat saya bisa merampungkan naskah ini. Selain pikiran-pikiran saya yang terus bertanya tentang kehilangan, saya selama tiga tahun terakhir ini punya waktu lebih lama dengan ayah dan beberapa kawannya yang mengurusi masalah perampasan lahan. Setiap hari saya nyaris mendengar percakapan tentang masalah itu. Secara langsung maupun tidak langsung.

Dan jauh sebelum semua itu, saya seperti terikat pada peristiwa ketika saya menjadi relawan MIWF (Makassar International Writers Festival) di tahun 2015. Saya bertemu dan mendengar beberapa percakapan dengan Mba Suci (Istri Munir), saya pun dibuat bertanya-tanya dengan apa yang dia perjuangkan. Saya sempat menulis puisi yang tak tuntas waktu itu.

Baca juga: Arif Hukmi: Di Media Sosial Semua Orang menjadi Pintar

Setahun yang lalu, di Dialektika Bookshop sempat ada rencana perayaan untuk mengenang Munir tapi batal. Sebelum perayaan itu juga, saya membuat puisi-puisi tentang Munir. Puisi-puisi itu kemudian saya kirimkan di media cetak dan daring. Beberapa dimuat dan beberapa lagi ditolak.

Sampai pada akhirnya beberapa puisi terkumpul dan cukup untuk dibuat naskah. Kadang saya juga harus bertanya pada diri saya sendiri, kenapa mesti Munir? Mungkin karena dia bisa mewakili kehilangan dalam berbagai perspektif yang beragam. Ia adalah seorang suami, seorang ayah, seorang anak, seorang pejuang HAM, seorang pahlawan, seorang musuh atau seorang yang biasa saja di mata beberapa orang.

Secara pribadi, bagaimana kau mengartikan dan mengartikulasikan kehilangan itu? Sekuat apa ia berdiri sebagai figuratif language atau sederhanya, metafora?

Saya melihat kehilangan sebagai pintu dan punya banyak kemungkinan yang bisa dikembangkan untuk menerangkan berbagai sisi lain dari manusia. Tentu saja bisa sangat kuat, tapi lebih sering menyulitkan. Artikulasi rasa atau emosi kehilangan sulit tertuang dalam teks. 

Hal terberat dalam kehilangan adalah ketidaktahuan, dan ruang itu yang bisa membuka banyak kemungkinan untuk dikembangkan dalam bentuk tulisan maupun emosi.

Oh ya, ada tidak kendala yang kau temukan saat menyusun manuskrip ini?

Ya itu tadi, menuangkan emosi kehilangan sekaligus merasakannya kadang membuat saya kesulitan. Dan karena ini tentang Munir, saya sempat terkendala di beberapa fakta atau bukti yang saya butuhkan untuk keperluan riset. Tapi karena kecanggihan teknologi, saya banyak terbantu.

Baca juga: Kisah Penderitaan, Teks, dan Kejahatan yang Ditulis

Saya juga sempat berkunjung ke Kios Ojo Keos, sebenarnya agenda utama membawa buku-buku Akasia tapi diam-diam saya ingin berbincang dengan Mas Cholil. Terlebih beberapa waktu sebelumnya ada agenda pembacaan dokumen hasil penyelidikan TPF (Tim Pencari Fakta) Munir di Kios Ojo Keos. Sayangnya beliau keluar waktu itu.    

Bisa diceritakan secara gamblang pertemuan manuskripmu dengan Gramedia yang pada akhirnya menerbitkannya?

Sebenarnya tidak bisa, tapi karena ini epigram rasanya saya sulit menolak.

Awalnya saya kenal Mbak Siska (Editor Gramedia) di MIWF. Saya sempat bilang mau kirim naskah ke beliau, ini saya lupa kapan tepatnya, saya curiga itu pun bilangnya dalam hati.

Baru di MIWF tahun 2019 kemarin, waktu saya menemani istri di sebuah sesi, saya punya keberanian untuk menyapa. Tiga bulan selepas MIWF 2019, tepatnya 20 September 2019, saya pun mengirim naskah, setelah dapat alamat email Mbak Siska dari Ibe S. Palogai.

Baca juga: Persepsi Intertekstual dalam Kumpulan Puisi Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi

Setelah menunggu selama hampir tiga bulan, saya kirim DM lagi ke Mbak Siska via twitter. Tepatnya 11 Desember 2019. Ini juga berdasarkan saran teman-teman, konon email naskah kita kadang terlupa atau kemungkinan terburuk ditolak. Tidak ada salahnya untuk bertanya, apalagi sudah jelang tiga bulan. Beruntungnya Mba Siska langsung jawab via DM, katanya nanti dia balas sepulang kegiatan di Guadalajara.

Tepat 30 Januari 2020, email resminya dikirim dan mulailah kami merampungkan naskah ini bersama-sama. Kira-kira begitu, semoga cukup ya.

Cukup sekali. Nah setelah terbit dan dibaca oleh banyak orang, sebagai penulis apa sebenarnya yang engkau harapkan dari Museum Kehilangan?

Apa ya? Sebagai penulis, saya selalu berharap bisa menulis lebih baik. Itu saja.

Singkat dan padat. Lepas dari itu Wan, sebagai pribadi yang dibentuk oleh sejarah membaca yang panjang, tanpa mengkerdilkan disiplin Ilmu Psikologi yang kau geluti, bisa dibagi ke pembaca sejumlah buku-buku yang turut mempengaruhi bentuk, pola pikir, hingga isi setiap tulisanmu.

Buku-buku Borges. Saya merasa tertolong bertemu dengan teks-teks Jorge Luis Borges. Lebih dari tulisan-tulisannya, saya juga belajar dari sikap Borges terhadap bacaan. Semangatnya sebagai pembaca sungguh luar biasa.

Dari Borges pula, saya mulai menjelajah ke filsafat. Sesuatu yang semestinya saya pelajari secara mendalam ketika belajar psikologi, sayangnya tidak demikian. Saya keliru karena sempat berharap bila ruang perkuliahan akan membantu untuk menjembatani itu, ternyata tidak sama sekali. Beberapa buku rekomendasi dari Borges, saya terjemahkan dan belum rampung, mungkin itu juga yang membantu membentuk tulisan-tulisan saya.

Sebagai sarjana psikologi yang bergelut dengan teks-teks sastra, Freud, Lacan, atau Jung? Alasannya?

Saya lebih ke Jung. Alasannya, mungkin akan tergambar di naskah saya selanjutnya.

Selain menulis puisi dan esai, dirimu juga dikenal sebagai penerjemah. Sejumlah esai dan prosa terjemahanmu sudah pernah kami baca. Berkaitan dengan itu, ini sebenarnya pertanyaan titipan, tapi jawabanmu kami harap bukan lewat jendela. Bagaimana awal mula pertemuanmu dengan teks-teks asing (secara konteks bahasa) dan mengapa sampai berkeinginan untuk menerjemahkan?

Di tahun 2010, dosen-dosen psikologi UNM cukup ketat untuk mengajak mahasiswanya membaca teks asing. Katanya, “buku psikologi di Indonesia masih terbatas, kadang juga terjemahannya kurang baik”, berangkat dari situ saya pun mulai membiasakan diri untuk membaca teks asing. Lalu dari buku teks psikologi, bergeser sedikit ke sastra.

Baca juga: Kedung Darma Romansha: Jangan Hanya Bergaul di Lingkaran Sastra Aja!

Saya punya keinginan untuk menerjemahkan di tahun 2017, setelah saya menerbitkan buku puisi. Saya merasa tidak ingin membaca tulisan saya, tapi saya ingin tetap menulis. Jadinya, saya pun mulai menerjemahkan. Ini bisa jadi terapi psikologis saat kau merasa mulai membenci diri dan tulisanmu sendiri.

Apa dengan menerjemahkan memberimu semacam kesegaran?

Kesegaran? Mungkin lebih dari itu dan saya tidak tahu kata yang tepat.

Ini pengalaman, dalam menerjemahkan, selain mengubah teks seorang penerjemah diharuskan pula menerjemahkan konteks dan ini biasa yang membuatnya kian rumit namun menyenangkan. Menurutmu, kendala paling sulit yang engkau temukan saat menerjemahkan seperti apa?

Menerjemahkan konteks jadi bagian yang sulit memang. Penting untuk melakukan riset mengenai latar penulis, untuk mencoba mengetahui apa yang sedang berusaha disampaikan dalam karyanya. Menemukan beberapa padanan kata atau istilah yang tepat dan dapat mewakili makna juga terkadang cukup menantang. Tapi hal yang tak kalah rumitnya adalah kemampuan bersabar dan bertahan untuk menyelesaikan satu terjemahan. Saya kerap mulai dan tak menyelesaikan terjemahan.

Membayangkan Makassar, apa di kepalamu?

Seorang pengidap skizofrenia paranoid.

Sebagai salah satu penulis yang lahir dari festival (meski itu tidak mutlak), menurutmu, sekuat dan sedalam apa sebuah festival (Sastra) dalam membangun ekosistem kesusastraan di sebuah kota seperti Makassar?

Jika saya membayangkan Makassar sebagai pengidap skizofrenia paranoid, maka festival sastra atau kegiatan-kegiatan sastra lainnya bisa jadi terapi sekaligus penyembuh. Tidak menjadi pil penenang semata atau obat tidur, tapi bisa membantu pengidap ini mulai melihat kesadaran lebih utuh. Tidak terbawa dalam halusinasi ingin menjadi ini dan itu tanpa upaya yang selaras.

Baca juga: Pertanyaan Untuk Kisah-kisah, Festival, Sastra, dan Orang-orang

Dan proses ini bukanlah sesuatu yang dapat kita lihat efeknya dalam waktu singkat, butuh waktu dan proses yang cukup lama.

Wan, kami sebenarnya ingin membendung pertanyaan ini tapi ternyata sulit. Dan ya, ini penting tidak penting terlepas ini juga pertanyaan titipan yang dilayangkan salah satu dari kami yang kau kenal baik. Apa dengan ‘menikah’ mengubah sesuatu pada dirimu dalam proses kreatif?

Saya membaca wawancara epigram sebelumnya, dan saya memang curiga pertanyaan ini akan muncul lagi. Kalau saya meminjam kepala Freud, saya pasti membatin “perilaku ini bisa jadi upaya dia untuk membendung hasratnya yang ingin segera menikah”.

Setelah menikah proses kreatif jadi lebih kreatif. hahaha

Ada tidak project ke depan? Baik individu, berdua dengan istri, atau kolaborasi lebih dari dua orang? Dibagi dong.

Ada sih. Sebenarnya sebelum menyelesaikan manuskrip puisi ini, saya punya naskah novel dan kumpulan cerpen, tapi ternyata puisi yang duluan. Saya juga punya rencana kolaborasi lebih dari dua orang, tapi masih saya matangkan dulu. Kapan-kapan saya bagi lagi.

Kalau sang istri?

Istri saya lebih senang bermain sims, ia banyak menulis di sana. Katanya di sana dia bisa menjadi penulis naskah, komposer musik, botanis, penjelajah, vampir, aktivis lingkungan, sekaligus istri yang baik. Tapi sekarang dia juga sedang menerjemahkan sebuah karya mengenai feminisme. Dan semoga dia juga segera merampungkan naskah kumpulan cerpennya.

Baca juga: Kado Pernikahan untuk Calon Istriku

Terakhir sebagai penutup, ibarat ini Facebook atau Twitter, apa yang ingin kau katakan?

Panjang umur, epigram![]

BACA JUGA artikel dan wawancara Wahyu Gandi G lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles