sampai pada sebuah titik akhir

mereka tidak lagi sebatas dua tubuh

tapi telah menjadi satu

& karena cintalah mereka bersama.

apa yang telah disatukan tuhan

tidak dapat dipisahkan manusia.

(Penggalan di atas dibuat oleh sahabat saya—yang juga seorang redaktur di Epigram—yang ia peruntukkan untuk pernikahan kami berdua)

***

Banyak orang mencari Tuhan dan membuktikannya, pada sebuah kesempatan saya menghadiri dialog kader muda salah satu organisasi dengan tema “Dialog Kebenaran”, yang salah satu bahasannya mencari keberadaan Tuhan. “Konyol!” Begitulah yang terlintas dipikiran awamku saat itu.

Saat Soekarno ditanya, bagaimana cara membuktikan Tuhan itu ada, Soekarno mengatakan, “Saya tidak bisa, tapi saya bisa membagi pengalaman saya di mana Tuhan hadir di dalamnya dan semua manusia pernah melaluinya. Kemerdakaan Indonesia, bukti Tuhan hadir dalam pengalaman saya.”

Baca Juga: Cara Jitu Menghadiri Pernikahan Mantan Kekasih di Masa Pandemi

Salah satu bukti kehadiran Tuhan adalah dalam pernikahan. Saya merasa Tuhan hadir mempertemukan saya dengannya. Saya akan menikahinya dalam beberapa hari ke depan. Kunamai itu sebagai pernikahan generasi corona. Setidaknya, ada hal yang begitu dramatis yang bisa saya dongengkan kepada anak-anak saya kelak.

***

Pertemuan pertama kami bukan suatu yang kebetulan. Seperti pernyataan saya, Tuhan hadir.  Saya masih ingat setahun lalu. Tempo hari, saya mendapat informasi lowongan guru di sekolah tempat kami sekarang bernaung bersama dan mendidik anak dengan welas asih. Awalnya saya setengah hati melamar di tempat itu karena pelbagai faktor, salah satunya bangun pagi.

Karena tekanan dari orang tua yang prihatin dengan pekerjaan serabutan, akhirnya berkas lamaran kerja, saya bawa juga. Tapi, di tengah jalan saya berubah pikiran. Saya mengurungkan niat dan terpaksa singgah di salah satu warung kopi. Setelah kopi tandas dan rokok habis, saya lekas pulang ke rumah.

Baca Juga: Muslim pun Banyak yang Kafir

Menariknya, sepekan kemudian, saya diberitahu lagi oleh seorang teman bahwa lowongannya masih terbuka dan belum menemukan guru yang mereka cari. Dengan setengah hati lagi saya kembali ke sekolah tersebut—kali ini saya sampai dan membawa berkas lamaran kerja itu dan hari itu juga saya diterima—bertemulah saya dengan seorang perempuan yang kelak ingin berbagi punggung denganku.

Tuhan selalu punya rencana baik untuk hambanya.

***

Barangkali, seluruh semesta harus tahu alasan saya ingin menikah. Tentu ini juga bisa menjawab rasa penasaran orang-orang karena menanggap keputusan saya yang terlalu buru-buru dan serba misteri.

Saya hanya ingin mengatakan, pernikahan bukan hanya menyatukan hati kedua insan yang saling mencintai, tapi juga mengawinkan dua keluarga. Mulai dari silsilah keluarga, latar belakang keluarga, serta pemikiran yang sama antarkeluarga. Kalian pasti lebih paham. Mau mendobrak kultur kolot seperti itu? Sekalipun kalian aktivis pergerakan yang berpikir moderat, macam Wira, tentu tak akan bisa menghalaunya.

Banyak hal yang orang tidak tahu dari kisah saya dan itu bagian dari dinamika percintaan. Semua yang berhati pasti akan melewatinya. Kita tak bisa mendahului Tuhan dan melawannya. Begitulah nasihat kamerad saya, Halis, yang ditinggal menikah kekasihnya karena kebrengsekannya, menurut rumor yang saya dengar.

Kita tak bisa mengulitinya, mengapa hal demikian terjadi pada Halis, sebab kita sama-sama percaya bahwa jalan kita sudah digariskan Tuhan. Percayalah, kata Leon Agusta dalam penggalan sajaknya berjudul Suasana: Semua sudah dimaafkan, sebab kita pernah bahagia.

Baca Juga: Bagaimana Nalar dan Tafsir Bekerja di Tengah Pandemi Covid-19

Saya tak perlu berpikir panjang menjawabnya. Tak perlu juga menyiapkan alasan yang begitu panjang untuk menjelaskan itu semua. Saya tak mau berdalih, membenarkan sesuatu yang tak pantas untuk dibenarkan. Pernikahan ini, bukan pernikahan politisi.

Sebelum saya terlalu jauh bercelutuk, saya ingin memperkenalkan calon istri saya. Namanya Dg. Ti’no. Ia keturunan Bulukumba Kajang dan Herlang. Menjelang pernikahan kami yang tinggal beberapa hari, saya harus membiasakan lidah saya memanggilnya dengan sebutan itu. Gelar kehormatan itu diberikan keluarga saya kepadanya. Sebab, itu salah satu tradisi kami yang diberikan untuk mereka yang sudah dewasa (yang akan menikah).

Kami berkenalan selama berbulan-bulan. Belakang kami mengetahui kalau di antara kami berdua, punya ikatan keluarga. Sebelum kami sepakat untuk menikah dan saling mengungkapkan perasaan,  saya sempat minder.  Strata pendidikan kami berbeda. Ia telah menyelesaikan studi S2 nya dan saya hanya S1. Tapi baginya itu tak jadi persoalan. Namun, tetap tak merubah keminderan saya.

Ia lekas lebih meyakinkan saya lagi, “Tahu apa yang memotivasi saya setiap hari ke sekolah bahkan ketika hari libur? Karena kehadiranmu.” Katanya lagi, “Yang terpenting kita menikah, masalah ke depan kita hadapi bersama-sama, segalanya terasa mudah bila didasari dengan cinta,” pungkasnya.

Ia mengubah perspektif saya tentang pernikahan sebagai suatu ikatan suci yang indah. Tidak melulu sebagai hal yang mengerikan. Seperti yang dikatakan Rocky Gerung, “Pernikahan itu indah sebagai fiksi tapi mengerikan sebagai fakta”. Atau kebanyakan perempuan lainnya yang saya kenal dan sempat dekat, “Menikah itu harus dengan laki-laki yang mapan, belum kebutuhan makan kita sehari-hari, kita mau tinggal di mana, yah tentu harus punya rumah dulu, belum nanti anak lahiran, yah harus punya mobil jika hendak berpergian, kebutuhan anak, kebutuhan sekolahnya, dan masih banyak kebutuhan lainnya. Kalau penghasilan seperti rata-rata sekian (tak usah saya menyebut nominalnya) mana mungkin bisa.”

Baca Juga: Prahara Hotel Mumbai

Saya pernah membahas ini beberapa waktu yang lalu dengan kamerad Epigram di warung kopi langganan kami. Saya katakan kepada mereka agar meniggalkan saja perempuan macam itu yang suka berkata demikian. Bukan menafikkan, tapi tak perlu juga kita ditakut-takuti dengan hal seperti itu sebelum menikah. Pertimbangan yang banyak akan membuat kita takut menjadi orang yang pesimis untuk menikah.

Pesan itu saya peruntukkan juga untuk dua kamerad saya, Arlin dan Halis. Mereka berdua sudah menjadi ASN, apalagi yang mereka pertimbangkan? Yah, tapi tetap saja mereka gamophobia (perasaan takut yang berlebihan akan komitmen atau pernikahan). Mereka berdua menggambarkan ketakutan irasional untuk menikah. Mereka cenderung takut karena pelbagai alasan dari masalah tanggung jawab, keuangan, sampai keterikatan. Takut kemerdekaannya terenggut. Sial bin bangsat. Ternyata bukan cuma itu, mereka berdua belum siap untuk bersetia pada satu perempuan saja.

Baca Juga: Relasi Bahasa dan Identitas

Berbeda dengan kamerad Ipin dan Wira. Ipin sementara waktu tak mau menikah karena alasan yang filosofis, saya tak bisa menjelaskan, namanya juga filosofis. Sedang Wira masih ingin melanjutkan studi S2-nya. Menikah, memang butuh persiapan yang matang , bukan hal yang remeh-temeh. Tapi apakah pernikahan itu sesuatu yang mengerikan? Seperti yang dikatakan orang bahwa menikah itu awal dari masalah. Bagi saya, menikah itu awal untuk saya terus belajar mencintainya.

***

Kegelisahan, rasa takut, sedih, dan cemas tentu ada bagi saya sebagai calon suami dan itu wajar. Dua hal yang paling dekat dengan saya saat ini : teater dan politik. Sejak lama saya ingin menjadi aktor sekaliber Reza Rahardian dan ingin pula terdaftar sebagai kader parpol. Bahkan saya punya rencana, jika anak saya perempuan, kunamai ia Indira Gandhi.

Namun, semua kandas di hadapannya. Saya sempat tak berterima. Lalu saya anggap ini sebagai konsekuensi pernikahan. Menyatukan dua ego yang berbeda. Alasannya pasti, ia tak mau membagi tubuhku dengan orang lain dan tak mau melukai tubuhku dengan air keras. Ia hanya ingin saya menjadi laki-laki yang sederhana, punya banyak waktu dengan keluarga.

Seperti pernikahan lainnya. Saya sedih. Bagaimana tidak, saya harus berjarak dengan kedua orang tua serta adik-adik saya dan saya tak sanggup berjarak dengan mereka. Saya betul-betul menyaksikan bagaimana kerasnya mereka merawat sampai menikahkan saya tanpa pamrih. Meskipun mereka meminta, saya tak bisa membalasnya. Sekalipun dengan menaikkannya haji berkali-kali.

Baca Juga: Di Balik Pernikahan Mantan

Terakhir, perihal hal yang paling saya takuti ialah pengkhianatan, juga tak mau menjadi suami yang jahat. Dari orang tua dan rekan kerja saya belajar, saya cukup mendapat banyak pengetahuan dan cerita. Ia hanya berpesan. Pesannya yang terakhir, jika malam pertama tiba, jangan langsung tancap gas, tapi siapkan papan tulis dan berorganisasilah. Rumuskan visi misi serta tujuan, ke arah mana keluarga kalian hendaki.

Terima kasih Tuhan telah menciptakan Dg. Ti’no untuk saya. Seperti yang dikatakan Suri kepada Taani dalam satu adegan di film India Rab Ne Bana Di Jodi (2008), “Aku mencintaimu, karena melihat Tuhan di dalam dirimu.”

Dari calon suamimu. Saya mencintaimu. Sungguh! []

BACA JUGA artikel Alamsyah Alimuddin lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles