Jo Yi-seo yang baik.

Aku memberanikan diri menuliskanmu surat, maaf jika aku menggangu waktu sibukmu. Aku tahu kau harus mengurus banyak hal. Kamu kini tengah mengelola perusahaan besarmu Itaewon Class (IC) dengan kekasihmu Park Saeroyi, lelaki dengan rambut kastanye—rambut dengan model seperti itu di negaraku, sepertinya masih jarang ditemui.

Surat yang tak punya tangan untuk mengetuk pintu rumahmu ini, memang mustahil untuk kaubaca, tetapi surat ini masih punya satu pegangan: harapan kecil. Kata orang, harapan kecillah yang kadang lebih mudah terwujud. Aku tidak tahu apakah itu benar, tapi tak ada salahnya mempercayai pernyataan-pernyataan seperti itu. Setidaknya, itu lebih baik ketimbang mempercayai pemerintah dalam segala hal.

Yi-seo, maaf, aku tiba-tiba mengungkit kondisi pemerintahan di negaraku di surat ini. Kau tahu, meski jumlah manusia di negaraku, lima kali lipat lebih banyak dari jumlah manusia di negaramu, pemerintah kami jauh lebih buruk menghadapi beragam hal jika yang ia hadapi adalah masyarakatnya sendiri. Setiap hari, seluruh media sosial di negaraku dibanjiri dengan kritik terhadap kinerja pemerintah yang buruk, ia seperti banjir bah yang tidak ditahu kapan akan surut.

Baca Juga: Surat untuk Kepergian Nairobi

Meski negara kita berdua Yi-seo merdeka pada tahun dan bulan yang sama, nasib negaraku jauh tertinggal dari negaramu. Negaraku terlalu sering kalah dari negara lain dari beragam hal, terutama dari negaramu. Ada kepercayaan baru bahkan yang muncul di tengah masyarakat kami, bahwa negara kami hanya bisa menang, jika melawan rakyat sendiri.

Yi-seo yang baik.

Aku bahagia. Aku bahagia sekali mendengar pemeranmu, Kim Da-mi, pada penyelenggaraan Baeksang Arts Award 2020 bulan ini, ia menang pada nominasi Best New Actress. Ia layak mendapatkan itu Yi-seo. Kim Da-mi, aktris yang memerankan kau menampilkan banyak tindakan-tindakan tak terduga yang membuat penontonmu terus mengingatnya. Itu kunci utama dalam memerankan karakter tokoh yang kuat. Apakah kau sadar dengan itu Yi-seo? Sutradaramu Kim Sung-yoon, memberimu karakter sosiopat yang minim rasa penyesalan dan kerap terlihat mengabaikan hukum dan norma sosial.

Aku sebenarnya menuliskanmu surat ini, setelah membaca sebuah artikel yang ditulis oleh teman baikku dan terbit di epigram.—sebuah situs kecil yang kami kelola secara kolektif dan telah menerbitkan beragam tulisan dari berbagai sudut pandang, selama delapan belas bulan belakangan ini—Teman baikku, Arlin, orang yang selalu kutunggu tulisan-tulisan terbarunya, baru-baru ini menulis tentang kau. Ya tentang kau Yi-seo. Kami mendapat rekomendasi filmmu setelah menonton ulasan dari sebuah channel YouTube pers mahasiswa bernama LPM Estetika, itu tempat awalku belajar menulis, aku berterima kasih sebab mereka telah bersusah payah membuat konten yang bagus untuk banyak orang.

Kau tahu Yi-seo, Arlin dalam tulisannya mengatakanmu sebagai orang yang naif, kekanak-kanakan, dan licik. Itu tak lain, karena kau dalam film itu menurut Arlin, terkesan labil dan menjebak Saeroyi dalam sebuah situasi yang membuatnya dilematis. Kau masih ingat, sebuah momen saat kau cemburu setelah tahu Saeroyi dan Oh Soo-ah (perempuan yang disukai Saeroyi selama lima belas tahun) baru saja jalan berdua. Kau mengancam Saeroyi, bahwa jika dia pacaran dengan Oh Soo-ah kau akan meninggalkan jabatanmu di DanBam sebagai menejer. Momen itu menurut Arlin, menunjukkan bahwa kau naif sekali sebagai orang memanfaatkan jabatanmu untuk menekan orang lain.

Baca juga: Sejumlah Buku yang Terpaksa Kubaca Lebih dari Dua Kali

Aku sepakat beberapa hal dengan pendapat Arlin di ulasannya, terutama soal episode-episode akhir yang tiba-tiba melempem dan tidak perlu ditonton, sebab beberapa episode akhir terkesan hanya diperadakan untuk melengkapinya menjadi genap enam belas episode. Soal yang satu itu aku sepakat dengan pernyataan Arlin, tetapi dengan menuduhmu telah membuat Saeroyi dilematis, aku rasa pernyataan itu agak keliru.

Jika mau memperhatikan sedikit saja, momen ketika kamu ngotot untuk memecat Ma Hyeon-yi—transgender dan satu-satunya koki di DanBam—karena kekeliruannya dalam banyak hal, terutama saat ia tak sengaja menjatuhkan seutas rambut di makanan yang disajikan untuk pelanggan. Saeroyi malah menanggalkan kartu identitas menejermu dan memecat kau malam itu. Ia lebih memilih mempertahankan Ma Hyeon-yi, sebab ia merasa, seseorang harus memiliki kesempatan untuk belajar.

Jadi, jika Arlin tetap menganggap kau telah membuat Saeroyi berada pada fase dilematis, itu bisa benar, sebab mungkin Saeroyi mulai menganggap bahwa kau benar-benar lebih tulus mencintai dia ketimbang Oh Soo-ah. Bukan karena persolan jabatanmu. Kau ingat Yi-seo, apa yang kau katakan kepada Jang Geun-soo—lelaki yang mencintaimu setengah mati, tapi tak pernah bisa mengatakannya—saat kau berada di pinggir laut, “Perasaan setiap orang pada dasarnya dangkal. Perasaan mereka dapat berubah seiring situasi.” Kau mempercayai pernyataan itu dan benar-benar membuktikannya dengan bekerja secara tekun, dan membalikkan perlahan perasaan abu-abu Saeroyi kepada Oh Soo-ah menjadi perasaan yang matang kepada kau.

Yi-seo yang baik.

Arlin dalam artikel itu, menbingkai tokoh Oh Soo-ah sebagai karakter yang paling dirugikan oleh banyak hal. Tetapi menurutku malah terbalik, Oh Soo-ah yang sejak awal tahu cerita bagaimana anak pemilik perusahaan Jangga yang menabrak mati Ayah Saeroyi, malah memilih bergabung dengan perusahaan Jangga untuk sebuah beasiswa. Oh Soo-ah seperti mudah sekali mengubur perlakuan baik hati Ayah Saeroyi, Park Sung-yeol, satu-satunya lelaki yang mendukung Oh Soo-ah untuk melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya. Jika kita mundur di episode awal, Ayah Saeroyi bahkan ingin menjamin seluruh biaya pendidikan Oh Soo-ah. Oh Soo-ah memilih mengambil beasiswa kepada anak pemilik perusahaan yang telah menghilangkan nyawa seseorang yang seumur hidupnya membanjiri kebaikan kepada Oh Soo-ah.

Baca juga: Mereka yang Mengendap dan Membaca Bertumpuk-tumpuk Buku

Apa yang bisa dipelajari oleh karakter Oh Soo-ah, kita bisa mengingat petuah lama Euripides dalam The Bacchea, di kisah itu ada sebuah penggalan yang menyebut, “Cleverness is not wisdom—Kepintaran bukanlah kebijaksanaan.” Oh Soo-ah pintar, itu tidak bisa ditampik, tapi pengambilan keputusannya untuk mengejar karir sama sekali tidak bijaksana.

Ini bukan karena aku sepenuhnya tidak menyukai Oh Soo-ah, aku melihat perpindahan adegan itu Yi-seo, berganti satu demi satu. Aku melihat Oh Soo-ah dengan keputusannya mengambil beasiswa dari pihak Jangga, ia mendapatkan apa yang ia ingin capai: karir, pundi-pundi pendapatan, dan jabatan penting. Ia mendapatkan semuannya dari Jangga. Kecuali satu hal: kebahagiaan, ia rasanya hampir mirip dengan penulis kelahiran Indianapolis, Amerika, Kurt Vonnegut. Dulu, Pak Tua itu menulis buku Breakfast of Champion sebagai kado ulang tahun pada umur lima puluh untuk dirinya sendiri, ketika dia telah sukses dan mengerti bahwa, kesuksesan sama sekali tidak membuatnya lebih bahagia. Ya, kesusksesan tidak membuatnya lebih bahagia. Begitu pun dengan Oh Soo-ah.

Aku merasa pilihan Park Saeroyi untuk menempatkan hati kepadamu Yi-seo adalah sebenar-benarnya tindakan. Aku tahu, Park Saeroyi telah mencintai Oh Soo-ah selama lima belas tahun, tetapi persoalan cinta tidaklah selamanya harus dilihat dari persoalan waktu dan angka. Ia kadang harus dipandang dengan pandangan yang lebih lain, misalnya, siapa yang lebih siap menemanimu berdampingan menghadapi baik dan buruknya dunia yang fana ini. Jika Saeroyi adalah pertanyaan, aku yakin, kau adalah jawabannya Yi-seo.

Baca juga: Mengapa Kita Enggan Membaca?

Dalam sebuah surat yang ditulis Dea Anugrah di News letter 5.45 Asumsi, suatu pagi ia membalas surat seseorang dengan penggalan puisi Umbu Landu Paranggi berjudul Melodia. Dalam sajak itu, tertulis: cintalah yang membuat diri betah/ untuk sesekali bertahan. Kata Dea, pembuka sajak itu, menggambarkan secara tepat kesanggupan kita, manusia: untuk bertahan hanya “sesekali”, bukan “selamanya”. Jadi jika Saeroyi memilih untuk tidak bertahan selamanya terhadap perasaannya kepada Oh Soo-ah dan memilih berpindah padamu Yi-seo, itu adalah hal yang menusiawi. Ingat-ingatlah apa kata Aslan Abidin dalam penggalan sajaknya Selamat Tinggal: Sudah demikian kerja cinta/ Membuat pertemuan dari perpisahan demi perpisahan.

Yi-seo yang baik, dari sebuah keterpurukan, yang dapat Oh Soo-ah ingat tentang Saeroyi dalam perpisahan mereka, juga masih ada dalam sajak Aslan dengan judul yang sama di bagian akhir penggalan sajak itu, Oh Soo-ah dapat mengulang-ulang penggalan ini saat Saeroyi muncul lagi dalam ingatannya: Mungkin aku akan terkenang, satu jenjang pendek antara jenjang leher dan rambutmu/ sebuah ruang kecil teduh/ tempat aku dulu teramat berharap/ dapat susupkan wajah lunglai saat-saat malang/ dan terhadang nasib sulit. Sebab dalam beragam peristiwa di film itu, Oh Soo-ah hanya selalu datang menemui Saeroyi ketika ia dalam keadaan yang malang dan tentu, orang yang dalam keadaan malang sudah pasti terhadang dengan nasib sulit.

Yi-seo yang baik.

Suratku sudah sangat panjang dan aku telah menyampaikan pandanganku atas tulisan Arlin tentang dirimu. Kamu jangan mengkhawatirkan kami, aku dan Arlin tidak akan bertengkar hanya karena berbeda cara pandang dalam menilai filmmu. Kau tahu, di group WhatsApp epigram ada delapan orang yang semuannya hampir memiliki cara pandang yang berbeda dalam melihat sebuah permasalahan.

Baca Juga: Surat Terbuka untuk Rektor yang Tertutup

Kami merasa, perbedaanlah yang membuat kami bisa lebih terbuka terhadap beragam pandangan lain. Itu adalah modal berhargaku dengan sahabat-sahabatku di epigram Yi-seo, hingga bisa bertahan mengelolanya secara kolektif hingga delapan belas bulan ini.

Aku rasa DanBam pun bisa kuat bertahan karena juga terbuka dengan beragam perbedaan, ia mempekerjakan sosiopat seperti kau, ia mempekerjakan Toni yang kulit hitam, ia mempekerjakan Ma Hyeon-yi yang transgender, ia mempekerjakan Choi Sheung-kwon yang seorang mantan narapidana. Filmmu Itaewon Class Yi-seo, meramu perbedaan sebagai sebuah kekuatan. Sedang di banyak negara lain, mulai dari pemerintah, hukum, dan agama menganggap perbedaan sebagai kelemahan. Dari persoalan itulah mereka sejak awal gagal memahami manusia. []

BACA JUGA artikel Muhammad Arifin lainnya di sini

Facebook Comments
No more articles