Aku tak percaya lagi dengan apa yang kau beri/ Aku terdampar di sini tersudut menunggu mati/ Aku tak percaya lagi akan guna matahari/ Yang dulu mampu terangi sudut gelap hati ini.

Byurrr….

Kenapa ada derita bila bahagia tercipta/ Kenapa ada sang hitam bila putih menyenangkan.

Plung….

Aku pulang. tanpa dendam/ Kuterima kekalahanku/ Kusalutkan kemenanganmu.

Jeburrr….

Baiklah, itu sudah cukup. Matikan keran air ledingnya, sekarang saatnya kamu berhenti. Bukan, ini bukan soal perasaanmu. Sampai saat ini kamu punya hak untuk menyangkal kenyataan berat yang sedang kamu hadapi. Tapi di luar, ibumu menahan pipis sejak setengah jam yang lalu, dan ia tidak kuat lagi. Ibumu sudah membawa palu besi yang ia dapatkan dari laci pertukangan mendiang bapakmu.

Kakak perempuanmu sudah berteriak kepadamu sebanyak lima kali. Teriakannya yang terakhir sudah berisi kata-kata yang tidak akan masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Segera bersihkan tubuhmu dari sabun. Letakkan timbamu di tempatnya. Dan cobalah membesarkan hatimu untuk berhenti berharap bahwa lagu Berhenti Berharap-nya Sheila on 7 akan memberimu harapan baru.

Baca Juga: Selingkuh Itu Wajar, tapi Jarang Sekali Berakhir Bahagia

Mantan kekasihmu yang baru putus denganmu satu bulan yang lalu, perempuan yang kamu kagumi seperti kekaguman Lenin kepada Karl Marx, akan menikahi laki-laki berponi. Si expert jounin dalam gim Ninja Saga. Sore nanti, akad nikahnya akan digelar dan namamu tertera sebagai undangan, dikirim lewat pesan singkat melalui WhatsApp. Hatimu memang hancur tapi raihlah handukmu dan keluarlah dari kamar mandi sekarang juga. Sebelum ibumu menjelma Jack Torrance dalam film The Shining.

Kau lama sekali, tongolo. Begitu ibumu berkata sebelum membanting pintu kamar mandi. (Kau pikir kamar mandi itu ruang karaoke. Kukasi taukko nah, air keran yang macet saja jauh lebih merdu dari suaramu), dan ini yang dikatakan kakakmu. Kamu sudah berusaha untuk membagikan kepada mereka tentang kesedihan yang kamu alami dan berharap mendapatkan belas kasih juga pelukan. Tapi kamu tahu mereka akan menjawabnya seperti ini: Ibumu akan berkata, sudah kubilang dari dulu kau itu hanya dijadikan tukang ojek gratisan. (Makan itu mantelnya yang kau jahit sampai kau habiskan dua gulungan benang), kakakmu akan mengungkit momen yang sangat tidak laki-laki itu lagi.

Menangis boleh saja, Tapi nikmatilah kesedihanmu seperti bapakmu menikmati lagu-lagu Iwan Tompo setiap pagi. Sura’ Tappu Singainta atau Pamma’risinnu. Biarlah air matamu tersimpan dalam lirik-liriknya yang kuat. Sepeninggal bapakmu, kamu menjadi satu-satunya laki-laki di rumahmu. Almarhum bapakmu pernah bilang, lukamu adalah lukamu bukan luka orang lain, nikmatilah karena itu adalah harga yang bisa kamu bayar untuk menjadi manusia.

Baca Juga: Hari Libur Melimpah, tapi Sanggupkah Kita Berteriak Hore?

Usap rambutmu, keringkan tubuhmu. Berpakaian dan bersisirlah. Jemur handukmu di luar, sinar matahari masih cukup terik. Awan mendung masih cukup jauh di ufuk timur. Prakiraan cuaca pada hari Minggu menduga akan hujan sore nanti dan kamu berharap bencana datang karenanya. Kemungkinan besar pernikahan mantan kekasihmu akan dibatalkan. Begitulah caramu berusaha menghibur dirimu dengan efek-efek Dionysus dalam The Birth of Tragedy-nya Nietzsche. Tapi kamu segera meralat bayanganmu. Perasaanmu masih sangat apollonian. Meski lukamu sangat dalam, kamu masih sangat menyayangi mantan kekasihmu.

Setelah berpakaian, lebih baik sekarang kamu duduk dan menenangkan diri di meja belajarmu. Kamu harus mulai mewajarkan keadaan dan mengganti fase penyangkalanmu ke fase penerimaan diri. Bersyukurlah karena kamu pernah mempelajari buku Elisabeth Kübler-Ross yang berjudul On Death and Dying. Kamu harus melompati tahap kemarahan dan perdebatan. Lalu mulai melapangkan dada dengan berpikir bahwa kamu bukan orang pertama yang gagal dalam percintaan.

Ingatlah sahabatmu,—laki-laki bucin kualitas 24 karat—kamu pernah berkata kepadanya “Cinta akan lebih berani daripada yang lain setelah tergelincir ke dalam kenangan. Seperti perenang amatiran yang pernah tenggelam di mata lautan.” Anjing. Umpatmu. Kamu jijik dan senyum-senyum sendiri mengingat nasihatmu yang kamu lucuti dari puisi Kebangkitan Roberto Bolano, kepada sahabatmu yang juga ditinggal nikah. Kamu jadi tahu, nasihat itu omong kosong.

Baca Juga: Lima Corak yang Harus Dimiliki Sebuah Film agar Dapat Masuk ke dalam Genre Bong

Kamu boleh menyalakan laptopmu, tapi jangan membuka folder 1010 itu lagi. Kamu sudah cukup melihatnya. Folder yang kamu namakan dari tanggal jadianmu itu hanya berisi gambar-gambar kalian berdua, para cules Barcelona, maniak Blaugrana yang menjunjung tinggi mes que un club—bukan hanya sekedar klub. Semakin kamu melihat pose kalian berpelukan, beradegan tik-tok, ber-boomerang, duduk berdampingan, saling menggengam tangan dalam balutan baju yang selalu couple didominasi seragam biru merah tim Barcellona,dari berbagai latar tempat hiburan dan wisata yang menghabiskan seluruh tabunganmu, wajahmu terlihat buruk seperti kekalahan Barcelona dari Liverpool pada pertandingan leg kedua Liga Champions 2019.

Kamu sebaiknya menghapus folder itu. Setidaknya penyimpanan laptopmu bisa bernapas lebih legah 1 GB. Lagi pula kamu sudah pernah membaca kalimat David O Seiznik, sutradara peraih Oscar untuk film Rebecca tahun 1940, tentang fotografi. Jika mengikuti konteksmu kurang lebih kata-katanya akan seperti ini: setelah kehidupan dipotret, kehidupan yang asli telah berakhir.

Kehidupan yang berlangsung setelahnya hanyalah simbol-simbol yang diromantisasi. Folder 1010 itu, tidak lagi memiliki ruang di dalam dirinya. Hal yang tersisa hanyalah eksterior yang dapat dinikmati dari luar. Dengan kata lain, folder itu tak lebih dari sekadar folder sampah yang tidak akan menambah apapun lagi ke dalam hatimu. Menghayati kata-kata David O Seiznik juga akan mendidikmu untuk tidak meluapkan amarahmu seperti para fetis pengecut yang membagikan seluruh aib mantan kekasihnya ke media sosial. Jangan pernah melakukannya, realitas virtual akan menghancurkanmu, lagi pula kamu tidak sebodoh itu.

Di folder itu kamu mengklik kanan dan mengarahkan kursor ke kotak delete. Kamu menyiapkan jari telunjukmu di atas mouse. Jantungmu berdetak kencang seperti piston mobil balap. Dadamu lalu panas. Kenangan-kenangan dari masa lalumu tampil satu persatu, kamu tersenyum tetapi juga marah. Kupikir emas dalam genggamanku, tapi rupanya tembaga ditimbangan. Pikirmu saat memaknai janji kalian berdua, sambil menimpalinya dengan kata umpatan “cilaka”. Kamu menarik jari telunjukmu dari ujung mouse ke dalam kepalan tinju lalu memukul permukaan meja dengan keras yang membuat ibumu kaget dan hampir membuatmu babak belur. Tidak apa-apa. Kamu bisa mencobanya lagi nanti.

Tinggalkan laptopmu di dalam kamar. Bukan ide yang buruk untuk menenangkan diri dengan sekaleng coca-cola dari dalam lemari es. Referensimu soal minuman keras sama sekali tidak ada. Pengetahuanmu soal zat-zat psikotropika, nol besar. Rokok terakhir yang kau hisap hampir membuatmu dihapus dari Kartu Keluarga. Mencobanya sekarang karena alasan patah hati sudah cukup terlambat. Lagi pula coca-cola dingin sudah memberimu glukosa yang lebih dari cukup untuk merusak organ dalam tubuhmu. Nikmatilah produk kapitalisme itu sambil duduk di sofa dan tenangkan dirimu.

Baca Juga: Kalau Memang Harus Mati, Mengapa Tidak dengan Memainkan Gim Online?

Jangan mencoba meraih ponselmu. Karena kabar pernikahan mantan kekasihmu, sejak kemarin pesan-pesanmu di WhatsApp menumpuk. Ditambah lagi teman mantan kekasihmu adalah temanmu juga, ucapan bela sungkawa yang datang menjadi berlipat ganda. Pesan dari teman-teman seangkatanmu di kampus di dalam grup “Filsafat Tikung Kiri Gas Poll” sudah mewakili pesan lainnya.

“Kami turut berduka cita atas nasib motor Honda 125 cc-mu yang telah ditikung Vespa Sprint 150 cc-nya. Jangan terlalu dipikirkan kawan. Masih banyak tikungan lain”; “Kami atas nama pemerintah akan mencabut subsidi BBM premium Anda, setelah Anda membuang-buangnya sepanjang jalan, selama empat tahun lebih. Kami berharap Anda beralih ke bahan bakar non subsidi. Masih banyak jomblo miskin yang butuh makan”; “Kukirimkan lagu Lapang Dada untuk hatimu yang sangat Betapa agar Pasti Kau Bisa Berhenti Berharap menjadi Armada Asal Kau Bahagia atau Benci Untuk Mencinta yang kau nyanyikan secara Naif di story WhatsApp mu. Ingatlah Sheila on 7 selalu lebih easylistening untukmu yang patah hati”; “Kau ingat nasihatmu, cinta lebih berani daripada bla bla bla. Sekarang kau tahu rasanya kan. Sakit coy. Tapi relakan saja, setidaknya ia sudah pernah pap tt. Tapi jika memang tidak pernah, berciuman sudah lebih dari cukup. Berbanggalah.”.

Masih ada, “Patah hati boleh saja. Tapi jangan pernah berteriak Tuhan Telah Mati di tengah-tengah pasar. Ingatlah keluargamu. Lagi pula bulu kumismu tidak cukup Nietzschean untuk menjadi Ubermensch. Singkirkan obsesimu untuk menjadi Zarathustra, kami tidak ingin melihat wajahmu viral di media sosial”; “Meski kau selalu mengataiku sebagai maniak mistisisme tapi sekarang kau tahu dunia bukan hanya soal ukuran positivistik. Sudah kuperingatkan, begitu tabunya mengajak kekasihmu ke Bantimurung sebelum kau menikah. Lihat hasilnya, aku harap dengan cobaan ini kau bisa segera bertobat dari positivisme dan mulai membaca Heidegger”; “Hala Madrid wkwkwkwkwk”.

Biarkanlah WhatsApp munumpuk pesan-pesanmu. Biarkan teman-temanmu mengirimkan bejibun bela sungkawa dengan cara yang brengsek untuk menghiburmu secara jujur. Daripada melihat mereka tampil sebagai elit-elit oligarki yang akan memakanmu bulat-bulat tanpa permisi. Lewat cara mereka menghiburmu kamu bisa merasakan cerita pendek Fernando Sorentino yang berjudul Going Back to Our Roots, bahwa apa yang kamu dengar diawal akan kamu pahami diakhir. Lebih baik kamu merasa dirimu seperti lelaki mabuk dalam cerita pendek You Were Perfectly Fine-nya Dorothy Parker. Untuk sementara biarkanlah orang lain menjelaskan dirimu. Kamu akan baik-baik saja.

Sore telah tiba, akad nikah mantan kekasihmu akan segera dilangsungkan dan sekarang saatnya untuk serius. Kamu menelusuri laman pencarian Google dan mengetik cara menghadiri pernikahan mantan. Salah satu pilihan artikel, dari Hipwee.com akan memberimu Tujuh Tips Elegan Saat Menghadiri Pernikahan Mantan. Untuk menyesuaikan dengan keadaan darurat akibat wabah epidemi, kamu bisa mengikutinya dengan menambah kata “jangan” pada setiap poinnya. Seperti: Jangan mengikuti dresscode yang membuatmu banyak bicara dan banyak tersenyum. Jangan membawa serta ibumu. Jangan datang bersama teman-temanmu. Dan walaupun kamu merasa suaramu mirip suara Andrea Bocelli, jangan menyumbang lagu. Karena tanpa menegasikannya, tips itu hanya akan membahayakan dirimu sendiri dan orang lain.

Namun keadaanmu masih riskan. Perasaanmu belum berhenti bergejolak. Kamu perlu siasat jika kamu memang mau menghadiri pernikahan mantan kekasihmu. Untuk membuktikan bahwa kamu akan baik-baik saja seperti yang telah kamu katakan secara terbata-bata, sedetik setelah hubungan kalian putus.

Baca Juga: Ia Membenci Dangdut tapi Rhoma Irama Abadi

Kamu memang perlu siasat. Akan tidak mudah menghadapi keluarganya. Bapaknya adalah guru SMA mu untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia yang selalu menyapamu dengan kata-kata yang disesuaikan dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Adik laki-lakinya adalah teman mabar mu di gim Mobile Legend. Ibunya seorang melow yang tidak akan berhenti memelukmu begitu tahu kamu datang. Kamu yang masih punya banyak persediaan air mata bisa dibuat menangis. Agar kamu tidak mempermalukan dirimu, keluargamu dan keturunanmu, kamu harus memiliki siasat.

Pertama, Tanyakan Kepada Dirimu Sendiri Apakah Kamu Ingin Hadir?

Jika tidak, maka kamu harus berhenti di sini. Namun jika iya, maka tegarkan hatimu dan biarkan pikiranmu mengambil alih keadaan. Soal persiapan mental, kamu harus ingat kisah dari bapakmu tentang seorang matador yang sudah menyiapkan segalanya untuk masuk ke dalam gelanggang tapi setelah waktunya tiba, tidak ada banteng yang dikeluarkan dan tidak ada penonton yang bersorak. Rupanya sang matador hanya diminta jadi pelatih anak-anak pramuka. Kisah aneh itu akan mengingatkanmu agar selalu mempersiapkan diri apapun resikonya.

Periksa Tubuhmu Baik-baik

Jika kamu merasa tubuhmu lelah seperti sedang masuk angin, demam dan batuk. Sebaiknya kamu membatalkannya dan tinggallah di rumah saja. Tapi jika kamu merasa baik-baik saja, kamu berhak melanjutkannya, tentu saja dengan tetap mengikuti protokol kesehatan versi pemerintah. Gunakan masker bila ke luar rumah dan jangan lupa menjaga jarak aman.

Tanyakan Sekali Lagi Kepada Dirimu Sendiri, Apakah Kamu Benar-Benar Ingin Hadir?

Jika kamu masih merasa risau dan kamu merasa tidak berhak dilukai, turunkan egomu dan ingatlah pendapat Slavoj Zizek. Ego hanyalah ilusi yang melekat pada konsep individu yang tidak pernah ada. Jika kamu memperluas pemahaman tentang “aku”, kamu akan menyadari bahwa “ini aku” hanyalah bentukan “itu aku”. Dengan kata lain, apa yang terjadi pada dirimu sekarang hanyalah hasil kerja lingkungan di luar dirimu yang akan segera berlalu cepat atau lambat. Sulit memang memahami pendapat Slavoj Zizek sesingkat ini, namun setidaknya kamu sudah memiliki alternatif pikiran untuk mengatasi kerisauan hatimu. Jadi apakah kamu memang ingin hadir?

Baiklah jika kamu memang mau, kamu harus melanjutkan siasat selanjutnya.

Jangan Lupa Berdandan

Masuklah kembali ke kamar mandi, gunakan sampo dan sabun wajah. Kali ini jangan membuat ibumu menunggu. Lakukanlah sesegera mungkin sebelum kakak perempuanmu ikut campur. Berdirilah di depan cermin, seka tubuhmu, keringkan rambutmu lalu sisirlah baik-baik. Gunakan waterbased pomade agar rambutmu tidak sekaku bulu kucing yang baru saja tercebur diselokan. Beri wajahmu bedak dan usap secara merata. Gunakan deodoran spray dan sedikit lipstik bila perlu.

Dresscode

Karena pernikahan mantan kekasihmu digelar di masa pandemi, maka tidak akan ada tema pesta yang akan membuatmu berusaha menyesuaikan diri. Tapi kamu memiliki siasat, kamu memiliki pesan yang perlu kamu kirim kepada mantan kekasihmu. Teman-temanmu dijamin akan salut, setelah mengetahui bahwa kamu datang ke acara akad nikah mantan kekasihmu menggunakan kaus Real Madrid original bernomor punggung 10 dengan jogger pants hitam dan sneakers putih. Menambahkan gelang dari bahan stainless steel ke tanganmu bukan ide yang buruk. Di sana kamu akan menjadi pusat perhatian. Bapak dan ibu mantan kekasihmu tidak akan mendekatimu. Kamu jadi tidak perlu repot-repot menjawab sambutan bapaknya dengan bahasa Indonesiamu yang patah-patah. Dan jika ibumu curiga, kamu bisa mengatasinya dengan alasan menonton siaran ulang pertandingan sepak bola di rumah temanmu.

Kendaraan

Kamu tidak punya pilihan. Kamu harus menggunakan sepeda motor Honda 125 cc yang penuh dengan kenangan itu. Jangan lupa untuk mengantongi sebuah sisir kecil, karena helm reyot yang kamu pakai akan merusak tatanan rambutmu. Menggunakan kaca mata bisa menyelamatkanmu dari serangga kecil di jalan yang bisa merusak seluruh siasatmu hanya karena kelilipan. Melajulah di jalan dengan aman dan berpura-puralah memperhatikan rambu-rambu lalu lintas.

***

Rumah mantan kekasihmu adalah jenis rumah panggung yang diberi cat kuning cerah. Di depannya, ada empat buah mobil yang dibiarkan parkir berjauhan. Beberapa motor bersandar di bawah pohon mangga di belakang masjid yang tidak akan terlihat dari jalan raya. Ketika kamu bersiasat. Keluarga mantan kekasihmu juga bersiasat agar acara akad nikahnya tidak dibubarkan polisi. Apakah kamu tidak ingin berdoa, rombongan polisi jujur akan melihat acara ini? Rupanya sekarang kamu sudah cukup kuat untuk menerima kenyataan. Parkir motormu baik-baik. Masuklah ke dalam rumah mantan kekasihmu. Cat hitam di pagar rumahnya belum kering. Bau thinner akan menguap ke hidungmu begitu kamu melewatinya. Jangan terlalu dekat ke pagar, bajumu bisa terkena cat.

Langkah pertama setelah memasuki pintu adalah saat-saat yang sangat menegangkan. Akad nikahnya sudah selesai. Sekarang ia sudah sah menjadi istri orang lain. Tidak apa-apa. Tenangkan dirimu. Jangan tundukkan kepalamu, angkatlah dan tatap setiap orang yang menatapmu. Lagi pula masker kain hitam yang kau gunakan cukup membantumu untuk menyembunyikan senyummu yang palsu. Adik lelaki mantan kekasihmu mendekatimu dan memuji pakaianmu, “Wets Real Madrid jie. Kerenta’ kak,” begitu katanya dan ucapkanlah yoi mamen. Lalu ia akan menuntumu untuk duduk. Beberapa orang yang tidak kamu kenali akan menyuruhmu duduk di sampingnya. Tapi jangan terlalu banyak bicara karena kamu tidak cukup lihai berbasa-basi dengan orang yang tidak kamu akrabi. Seperti dugaanmu bapak dan ibunya hanya menatapmu dari jauh, kamu jadi tidak repot-repot bersandiwara.

Tidak usah berdiri mengambil hidangan di meja prasmanan, atau meraih kue di atas meja atau minum dari segelas air. Kamu hanya boleh berada di sana selama setengah jam. Lebih dari itu, kamu hanya akan merusak siasatmu. Sekarang fokuslah merasakan suasananya. Pasangan pengantin tepat berada di hadapanmu.

Baca Juga: Cara Mengobati Tumit Keseleo Akibat Kebodohanmu Sendiri

Kamu pernah melihat performance art-nya Marina Abramovic dalam tajuk The Artist is Present. Kamu kagum melihat pertunjukkan Marina yang hanya duduk setiap hari dalam rentan waktu tiga bulan di atas sebuah kursi kayu dan membuat siapa saja yang duduk di hadapannya menangis hanya karena tatapan Marina. Kamu berniat menirunya, kamu berpikir bisa mengirim kesenduan yang sama. Kamu sangat percaya, mata adalah jalan keluar bagi rasa sakit yang tidak dapat dikatakan oleh lidah.

Kamu lalu berusaha mencuri perhatian mantan kekasihmu yang sedang sibuk menghindari kehadiranmu. Kamu mengacuhkan suaminya yang sedang sibuk mengipasi dirinya sendiri. Setelah empat kali mencoba menatapnya, ia masih malu-malu. Apabila pada percobaan yang ke tujuh, ia telah menyinggahkan matanya untuk menatapmu, itulah saatnya kamu mengumpulkan semua kenangan dan lukamu ke dalam tatapanmu. Kamu membakar tatapannya dan tidak membiarkannya padam. Ketika matanya mulai berkaca-kaca, kamu lalu menuntaskan tatapanmu dan mengirim pesanmu. “Yang kini tidak berumah, tidak perlu menegak tiang. Untuk yang tak sampai singgah, bukalah jalan, aku pamit pulang.” Dan kamu sangat yakin ia akan menangis dan membuat suaminya kebingungan.

Namun kenyataannya tidak berjalan seperti itu. Untung kalau ia mau menatapmu dalam-dalam. Melambaikan tangan kepadamu saja, tidak. Mantan kekasihmu bertingkah seperti orang yang tidak pernah kamu kenali. Biasanya ia mudah menarik perhatian orang dengan senyumannya yang ajaib. Tapi kali ini, senyumannya justru membuatmu ingin muntah. Kamu tidak tahu lagi apa yang harus kamu lakukan. Setengah jam telah habis. Betismu kesemutan. Lebih baik kamu pulang. Adalah ide yang buruk menghadiri pernikahan mantan.

Baca Juga: Mampukah Agama Membebaskan Kita?

Jadi sebaiknya, sebagai langkah penutup, pamitlah ke bapak dan ibunya. Jika kamu masih sanggup, salim tangan mereka seperti yang selalu kamu lakukan saat menjemput dan mengantarnya pulang dari kampus. Jika tidak, cukup melambai saja dari jauh. Lalu berjalanlah keluar membelakangi mantan kekasihmu. Atau dalam perspektif lain berjalanlah keluar memunggungi masa lalumu.

Seekor monyet tua dalam cerita pendek Confession of A Shinigawa Monkeynya Haruki Murakami akan menenangkan hatimu, resapilah sambil kau berjalan keluar, bahwa “Cinta adalah api. Darinya para manusia berlomba membuatnya bara agar dapat bertahan di tengah dinginnya kehidupan.” Jangan menoleh dan teruskan ayunan langkah kakimu, “Tetapi adakalanya cinta memudar dan padam. Ada yang membekas sebagai makna, ada yang tidak berarti apa-apa. Ketika cintamu tak terbalas. Setidaknya kamu dapat mengingat bahwa seseorang pernah beruntung dicintai olehmu. Ingatan itu akan membuatmu hangat ketika kamu menghadapi malam yang sangat dingin.” []

BACA JUGA artikel Ma’ruf Nurhalis lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles