Saya membenci akhir cerita Itaewon Class. Tepat pada episode 15, saya menyaksikan bagaimana Park Saeroyi dengan kejam melukai hati Oh Soo-ah. Saya berhenti di episode itu, menyisakan satu episode lagi untuk saya kubur di dalam laptop.

Itaewon Class merupakan serial drama Korea Selatan yang ditayangkan pada awal tahun 2020. Film ini merupakan adaptasi dari serial webtoon dengan jalan cerita dan nama yang sama. Dengan menampilkan Park Seo-joon untuk memerankan Park Saeroyi, Kim Da-mi sebagai Jo Yi-Seo, dan Kwon Nara sebagai Oh Soo-ah. Film ini cukup menarik perhatian publik dan mampu bersaing dengan Crash Landing on You (2019).

Secara sederhana, kisah di film ini dapat direduksi menjadi dua kisah dalam satu pertarungan. Pertarungan tersebut adalah pertarungan antara sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang makanan bernama Jangga melawan DanBam. Di dalam cerita, DanBam adalah sebuah resto kecil yang sedang berusahan menjadi sebuah perusahan waralaba seperti Jangga. DanBam merupakan resto milik Park Saeroyi, sedangkan Jangga adalah milik Jang Dae-Hee (Yoo Jae-myung).

Baca Juga: Mengungkap Topeng Pendidikan di Tengah Pandemi

Film yang disutradarai oleh Kim Sung-yoon menghadirkan konflik yang berawal dari peristiwa di masa lalu. Ayah dari Park Saeroyi, Park Sung Yeol (Son Hyun-joo) yang saat itu bekerja di Jangga, terbunuh oleh anak pemilik perusahaan Jangga, Jang Geun-won (Ahn Bo-hyun). Tetapi dengan kekuatan modal, pembunuh tersebut dapat meloloskan diri dan bebas dari jeratan hukum.

Konflik itulah yang kemudian dijahit ke dalam berbagai rangkaian cerita yang menghadirkan intrik bisnis, politik, keluarga, serta kisah cinta. Dikisahkan bahwa DanBam, milik Park Saeroyi, sebagai sebuah resto yang tidak begitu cemerlang mencoba bertahan hidup untuk melindungi orang-orang di dalamnya dari gangguan perusahaan besar, Jangga.

Tetapi, keredupan itu berubah menjadi sebuah kecemerlangan, tatkala datang seorang gadis muda bernama Jo Yi-Seo. Dengan popularitas dan jiwa bisnis yang kuat, perempuan inilah yang kemudian menjadi tokoh sentral untuk mengubah DanBam menjadi sebuah perusahaan kelas kakap bernama Itaewon Class (IC). Sebagaimana ambisi pemilik Itaewon Class (perusahaan makanan yang menaungi DanBam), perusahaan ini kemudian mampu menyaingi Jangga.

Baca Juga: Their Finest: Pelajaran tentang Kehilangan

Dalam proses membesarkan resto DanBam menjadi perusahaan besar itulah cinta kemudian mati secara mengerikan. Oh Soo-ah—nama yang saya sebutkan di awal—harus gigit jari untuk tidak mendapatkan seorang lelaki (Park Saeroyi) yang telah ia nanti selama kurang lebih lima belas tahun. Oh Soo-ah dan Park Saeroyi adalah teman masa SMA, mereka sudah mulai saling jatuh cinta saat itu.

Oh Soo-ah kemudian melanjutkan kuliah dan setelah selesai, ia mulai bekerja di Jangga. Meski bekerja di Jangga, Oh Soo-ah tetap saja mencintai Park Saeroyi. Ia bahkan punya impian yang sangat sederhana: keluar dari Jangga kemudian hidup bahagai bersama Park Saeroyi dengan hidup yang sederhana.

Harapan itu sebenarnya sesuatu yang amat realistis. Bagaimana tidak, harapan itu bukan hanya ada pada diri Oh Soo-ah, tetapi juga ada pada Park Saeroyi yang berulang kali mengatakan hal yang sama—mereka saling mencintai—meski mereka belum memutuskan untuk bersama (pacaran). Tetapi harapan itu kemudian diruntuhkan oleh dua hal, seorang perempuan yang naif dan pesona kapital.

Baca Juga: Mengenal Golongan Mahasiswa Benalu

Seperti yang saya katakan sebelumnya, Yo Ji-seo hadir sebagai orang berjasa membesarkan DanBam. Tetapi di balik jasanya, ia sesunguhnya punya motif yang naif dan kekanak-kanakan—merebut Park Saeroyi dari kebersamaan Oh Soo-ah. Karakter Yo Ji-seo yang labil itu kemudian menjebak Park Saeroyi ke dalam sebuah dilematis yang tak berujung. Ia ingin bersama dengan Oh Soo-ah, tetapi di sisi lain ada Yo Ji-seo dengan cukup licik mengancamnya. Kebanyakan orang mungkin tidak sependapat dengan saya persoalan ini, sebab Yo Ji-seo adalah tokoh utama di dalam cerita, tetapi bagi saya ia tidak layak mendapatkan itu semua.

“Jangan pacaran dengan wanita itu!” kata Yo Ji-seo yang cemburu setelah tahu bahwa Park Saeroyi jalan dengan Oh Soo-ah.

“Apa hubungannya denganmu?” tanya Park Saeroyi dengan heran.

“Ada hubungannya” jawabnya dengan memasang muka masam “bila kau pacaran dengannya, aku akan berhenti dari sini (restoran DanBam)”.

Sungguh naif, karena merasa punya pengaruh dalam membesarkan DanBam ia mengatur dan mengancam perasaan cinta yang dimiliki Park Saeroyi untuk Oh Soo-ah. Kenaifan Jo Yi-Seo semakin jelas ketika pegawai DanBam sedang memainkan permainan jujur-berani dengan memutar botol. Saat itu, Jang Geun-soo (diperankan Kim dong Hee) bertanya kepada Park Saeroyi: Apakah kau menyukai  Jo Yi-seo sebagai seorang perempuan? Ketika Park Saeroyi mengatakan “Aku hanya melihatnya sebagai seorang adik atau teman,” Jo Yi-Seo menangis dan pergi. Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa Park Saeroyi tidak menyukainya.

Kenaifan Jo Yi-seo kemudian diuntungkan oleh sifat kapitalisme yang licik. Ia memanfaatkan ambisi Park Saeroyi yang ingin menyaingi Jangga dengan mendirikan Itaewon Class (IC) sebagai perusahan waralaba. Setelah perusahaan itu berdiri, Park Saeroyi merasa memiliki utang budi yang besar kepada Jo Yi-seo yang kemudian  membuatnya tak ingin mengecewakannya jika memilih untuk bersama Oh Soo-ah.

Di titik itulah, kekecewaan saya memuncak pada kisah di dalam Itaewon Class. Park Saeroyi menyia-nyiakan seorang perempuan yang telah puluhan tahun menanti untuk bersamanya. Oh Soo-ah merawat dan mempertahakan perasaan untuknya meski ia harus bekerja untuk Jangga. Oh Soo-ah adalah wujud nyata dari sebuah ketulusan, kesabaran, kedewasaan, dan ketabahan, tetapi kemudian ia luluh lantah oleh kenaifan dan pergulatan kapitalisme yang kejam. Cintanya dikhianati, dibunuh, dan dikubur hanya demi sebuah nilai modal (mendirikan perusahaan dan menjadi perusahaan makanan nomor satu di Korea Selatan),  sebuah ambisi balas dendam yang sungguh naif.

Baca juga: Sampar dan Solidaritas Melawan Corona

Suatu hari Oh Soo-ah meminta Park Saeroyi untuk berhenti menuruti ambisinya dan hidup sederhana bersamanya, tetapi ia menolak. Park Saeroyi meruntuhkan perasaan yang paling tulus dari seorang perempuan hanya demi menuruti ambisi untuk melindungi orang-orang yang berada di DanBam.

Park Saeroyi mengingkari perasaanya kepada Oh Soo-ah hanya karena takut Jo Yi-Seo keluar, dan usahanya membangun perusahaan besar bisa gagal. Ketika usahanya gagal, itu berarti ia tidak berhasil melindungi orang-orang yang berada di dalam lingkarannya, Ma Hyeo-yi (Lee Joo-young), Par Bo-gum,  Kim To-ni (Chris Lyon), dan Lee Ho-jin (Lee Da-wit), semuanya pegawai yang membesarkan DanBam.

Fakta ini sungguh menyedihkan. Bagaimana mungkin seseorang seperti Park Saeroyi dengan karakter yang begitu mengagumkan di awal cerita, rela meninggalkan seseorang yang begitu tulus mencintainya demi seorang perempuan naif, sebuah perusahaan, dan balas dendam. Park Saeroyi mengingatkan saya tentang watak kapitalisme dan oligarki yang menghacurkan banyak hal demi keuntungan diri sendiri dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Baca juga: Mengapa Kita Mesti Melawan?

Hingga kini, saya masih mengingat betapa Oh Soo-ah memendam kesedihan di dalam sebuah adegan yang membuat saya berhenti menyaksikan film ini. Di rumah sakit, Park Saeroyi terbaring tak sadarkan diri ditemani oleh Oh Soo-ah. Ketika sadar dan merasa memiliki kekuatan untuk berjalan, ia berdiri karena ingin pergi mencari Jo Yi-seo. Oh Soo-ah menahannya dengan menggenggam tangannya sembari memohon agar ia tidak pergi sebab kesehatannya masih labil. Tetapi, tanpa rasa bersalah sedikit pun, Park Seoroyi meninggalkannya. Sungguh saya ingin mengutuk adegan itu sebagai kejahatan yang tidak termaafkan.

***

Saya kemudian membayangkan bahwa hari ini kita semua adalah Oh Soo-ah. Seseorang yang penuh ketulusan, kesabaran, dan tentu saja penderitaan di dalam diri. Kita membayar pajak, iuran BPJS, memilih saat pemilu, dan paling penting taat terhadap imbauan pemerintah. Tetapi, pemerintah menjelma sebagai Park Saeroyi dan investor serta elit politik yang berperan sebagai Jo Yi-seo dan pegawai lain di Itewon Class. Sama dengan kebijakan Park Saeroyi, setiap kebijakan pemerintah kemudian hanya untuk kepentingan orang-orang di lingkarannya tanpa peduli dengan rakyat yang begitu mencitainya.

Baca Juga: Alasan untuk Tidak Menjadi Seorang Petani

Kebijakan untuk menyelamatkan ekonomi lebih penting dibanding kesehatan masayarakat. Ekonomi harus tetap dijaga sebab itu akan merugikan investor, sedangkan persoalan kesehatan hanya akan merugikan rakyat. Pemodal lebih diproritaskan, PSBB dilonggarkan, transportasi kembali dibuka, orang-orang yang masih berusia muda dilonggarkan untuk kembali bekerja di berbagai sektor yang  dapat merugikan investor besar jika berhenti beroperasi, bahkan gagasan untuk new normal sudah dicanangkan secara labil.

Jika Showbox bisa memproduksi Itaewon Class, Indonesia merpelihatkan lakon dan peristiwa serupa hari ini. Saya langsung teringat dengan satire Dandy Dwi Laksono dalam akun media sosialnya “lagi susah minta tolong ke rakyat, waktu rakyat susah malah nolong investor”.

Menyedihkan!

BACA juga artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles