Kalian mungkin terlalu sibuk sampai-sampai tidak sadar kalau lagu Keke Bukan Boneka berhasil masuk tranding sepuluh besar (saat ini dengan 30 juta lebih penonton) di YouTube setelah berhasil menahan kolaborasi Sour Candy Blackpink dan Lady Gaga untuk menyalip. Atau kalian juga terlalu tidak peduli sampai-sampai lengah, tidak ngeh, kalau heboh-heboh sinetron produksi ikan terbang yang “bocor” lebih menarik diklik-bagikan ketimbang packing cantik untuk new normal nanti. Ya. Kalian terlalu sibuk!

Nah, dari sibuk-sibuk beberapa perkara di atas kita seharusnya menyadari dua hal. Pertama, kita suka bertindak berlebihan untuk memperlihatkan kebodohan orang lain agar terlihat cerdas. Kedua, kita sebenarnya goblok hanya saja tidak menyadarinya. Pertanyaannya, apa sih yang kita cari dari menyerang secara sembrono?

Begini, kita mulai dari fenomena Kekey. Menurut postingan kawan-kawan usia sekolah saya, Kekey ini selevel korona yang harus dihilangkan. Hampir setiap hari mereka mengata-ngatai dengan dalih menertawai kebodohan—dan dengan begitu diam-diam mereka mempromosikan.— Ini setali tiga uang dengan fenomena sinetron ikan terbang yang tayang empat kali sehari mengalahkan dosis minum obat. Kurang puas apa lagi Anda!

Baca Juga: Kendala Budaya Virtual yang jadi Hal Baru di Tengah Pandemi

“Kumenangis. Membayangkan… ” jika dengan dua potong lirik itu saja kalian membaca sambil menyanyikan, fix kita satu provider. Melalui riset kecil-kecilan yang enggan saya besar-besarkan, hanya 30% halayak yang benar-benar menyukai alur cerita film ini, selebihnya terpaksa karena remot TV hilang ikut terbuang bersama sampah rumah tangga. Adapula yang apes karena TV di rumah buram, hanya ada satu saluran yang memungkinkan, sementara sisanya menyerupai kelanjutan hubungan kita. Nah, yang paling ngenes adalah alasan terakhir, mereka adalah kumpulan orang dewasa rentan umur, ingin atau dipaksa menikah yang mempelajari kehidupan-kehidupan pernikahan lewat FTV. Kalau yang ini teman saya hahaha.

Berdasarkan laporan peringkat channel televisi yang diunggah beberapa akun Instagram rating TV seperti @sobattvind dan @indotvtrends, terungkap bahwa selama Ramadan kemarin Indosiar menempati rating tertinggi dengan tayangan andalan FTV Suara Hati Istri. Menurut kalian kenapa demikian? Yap, alasannya sudah jelas dipaparkan di atas yang jika diseratuspersenkan akan berwujud kata populer.

Adapun karakteristik populer dapat disederhanakan melalui beberapa argumen. Pertama, ia kosong makna dengan mengandalkan bentuk bukan isi. Kedua, alurnya mudah ditebak dengan jalan cerita yang ringan. Ketiga, pasarnya jelas. Jadi berhentilah untuk mengomentari walaupun benar tayangan jenis ini receh, karena mereka hanya mengikuti selera pasar. Selera kita. Eh.

Baca Juga: Mengapa Kita Tak Suka Gen Halilintar?

Satu lagi fenomena aneh yang tak kalah acak. Saya berani bertaruh bahwa masing-masing dari kita punya teman yang gandrung nonton drama korea. Yah sebagian besar teman virtual saya adalah contoh nyata. Mereka ini suka sekali merelakan diri dipermainkan orang lain hingga tetes (episode) terakhir. Teman saya misalnya, yang bahkan merupakan sarjana dari kampus akreditasi A pernah menangis hingga bermalam-malam, tidak mandi, dan tidak selera makan hanya karena salah seorang tokoh dalam drama yang ia tonton mati terbunuh. Situasi makin menjadi-jadi manakala ada efek slowmotion dengan latar musik yang setipe dengan “Kumenangis. Membayangkan… “.

Sebenarnya bukan itu yang menjadi inti, sebab masalah sebenarnya adalah ketika barisan penonton K-Drama ini menganggap tontonan mereka lebih berkelas ketimbang tayangan FTV Suara Hati Istri. Alasannya logis, produknya impor dan penggemarnya banyak. Masih mau berdalih kalau kedua tontonan ini berbeda? Memang ada perbedaan kualitas, namanya juga impor yekan? Tapi camkan ya sist, keduanya masih sama-sama produk budaya populer yang menjual mimpi hihihi.

Lagian mengindikasikan kebodohan tak lantas membuat kalian terlihat sebaliknya. Saya pun yakin kalau orang yang kalian kata-katai itu bisa tidur nyenyak setiap malamnya karena semakin kalian bereaksi makin kaya pulalah Si pemilik modal juga artisnya. Lah kamu dapat apa? Kalau mau pintar tidak perlu susah-susah, minum tolak angin saja sudah cukup.

Baca Juga: Cara Jitu Menumpas Penjahat Korek di Antara Kita

Kalau kamu sekarang sudah merasa bodoh, ketik saja “solusi menghilangkan kebodohan” di mesin pencarian google sebagai langkah paling terselubung. Jika masih susah, berhenti memperlihatkannya mungkin bisa jadi solusi lebih sederhana. Tapi jika kamu tak merasa, berhentilah untuk mengerjakan keduanya. Toh tak ada orang yang sementara tidur mengatakan kalau ia sedang tidur.

Catatan: saya diam-diam mengindikasi diri sendiri! []

Penulis: Kartini Ridwan, alumnus Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar.

BACA JUGA artikel Kontributor lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles