Makassar bukan tentang kota, tapi tentang manusia.

Makassar bukan lagi sekadar gerbang Indonesia ke wilayah timur atau tempat singgah atau bahkan rumah bagi kekerasan bermukim. Kini, ia menjadi salah satu pusat manusia. Tempat bagi beragam aktivitas bernegara, rumah bagi banyak perbedaan, palu bagi keputusan yang penting, semuanya dapat dibingkai sebagai suara dari timur. Entahlah, tapi bagaimana cara kau memahaminya, merasakannya, gedung-gedung akan terus tumbuh bersama manusia atau tidak sama sekali.

Menilik aktivitas kebudayaannya, atau secara spesifik menyinggung seputar akvitas kesusastraan di sana, kau mungkin telah mengenal baik beberapa karya juga nama (hingga generasi sekarang) seperti yang pernah kau temui dan baca di berbagai kesempatan. Nama itu tentu bisa kau dapati di sampul buku, di media sosial dan massa, atau di platform manapun atas apa dan bagaimana mereka menafsir atau bereaksi terhadap berbagai entitas jauh maupun yang dekat. Baik, kita sebut saja mereka penulis sastra.

Baca Juga: Jangan-jangan Kita Menunggu Krisis untuk Berubah

Tahun ini kita berhak bersedih atas sejumlah peristiwa, tapi ingat tak perlu lama dan berlarut-larut, cukup hingga tengah malam ini saja. Sudah? Jika iya, kita bisa beralih ke sisi yang lain. Bagian itu memperingatkan bahwa kita juga patut berbahagia namun dengan beberapa alasan. Salah satunya, di Makassar, sampai dengan Juni 2020 ini telah dan akan ada sekitar lima sampai tujuh buku yang terbit. “Apakah kau bahagia?”

“Ya, dan kebanyakan bentuknya kumpulan puisi”. Kataku

Saya akhirnya berkesempatan mewawancarai satu di antaranya, namanya Arif Hukmi. Ia lahir di Bombana, Sulawesi Tenggara 10 Desember 1994 dari darah Bone dan Bantaeng. Arif ini merupakan alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Makassar (UIM). Menulis puisi di beberapa antologi dan dimuat beberapa media cetak dan daring. Salah satu peraih nominasi naskah terbaik Lampung Krakatau Award 2017. Arif pernah diundang dan menghadiri Festival sastra seperti: Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2018 dan Temu Penyair Asia Tenggara 2018.

Selamat malam Arif, sebelumnya selamat atas terbitnya buku pertamamu. Setelah sekian lama terluntah-luntah hahaha, oh ya bagaimana perasaanmu, cukup memuaskan ji

Tentu memuaskan setelah terbitnya Suhu Udara ini, saya telah kehilangan satu beban dalam hidup atas pertanyaan-pertanyaan yang selalu datang, hahaha. Tentunya yang berkaitan dengan kumpulan puisi perdana ini, yang begitu lama tertunda untuk diterbitkan.

Kalau tanggapan pembaca, jauh maupun dekat, sudah ada mi?  

Yang paling dekat adalah tanggapan dari Prof. Nurhayati Rahman di beranda Facebook, kebetulan beliau membeli dan tentu saja membacanya. Beliau mengomentari beberapa typo di dalamnya, seperti kata “pohon” menjadi “pohong”, mungkin karena saya tumbuh dan belajar di Makassar, yang seringkali kelebihan G hahaha, dan celakanya adalah editornya juga luput akan hal itu.

Kau tahukan beberapa anana’ di epigram juga bergelut di dunia sastra, juga puisi, dan mereka-mereka itu diam-diam mengikuti perkembanganmu. Karenanya ini pertanyaan titipan, bukumu kan judulnya Suhu Udara, terdengar cukup naturalis, apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan dalam kumpulan puisimu itu? 

Andaikan judulnya Suhu Tubuh dih, sepertinya sangat relevan dengan kondisi pandemi seperti saat ini. Yah, Suhu Udara adalah salah satu puisi yang ada di dalam kumpulan ini, itu saya tulis 2 tahun yang lalu, lalu saya kirim untuk sebuah sayembara dan lolos.

Baca Juga: Alfian Dipahatang: Merokok dapat Menyebabkan Kantong Kering

Sebenernya kumpulan puisi saya ingin bicara bagaimana kaum urban di kota-kota metropolitan dapat hidup, objek-objek yang saya angkat adalah anak-anak peminta-minta di lampu merah, bagaimana kita mengumpat di jalan raya ketika sedang kemacetan, umpatan itu tidak merubah apa-apa bro, maka saya olah hal itu menjadi sebuah puisi, saya seperti penceramah lagi, bahkan trototar dan jembatan saya jadikan sebuah puisi, yah mungkin karena memori saya selalu melihat hal itu, saya selalu melaluinya. Hal-hal itulah yang mau saya sampaikan, meski mungkin hanya menjadi angin lalu begitu saja, tetapi paling tidak saya dapat lega karena menyuarakan hal itu.

Tapi kenapa puisi?

Awal-awal saya menulis, pertama kali saya menulis cerpen. Saya ikut lomba menulis cerpen, waktu itu sedang ada seleksi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) tingkat provinsi di UIN Alauddin, mungkin karena keberuntungan, cerpen perdana saya juara 1 dan ikut lagi di Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) di Universita Halu Oleo, Kendari dan di situ saya kalah, saya putus asa dan kembali belajar dan membaca. Setelah periode itu saya menulis puisi hingga sekarang dan tidak pernah lagi menulis cerpen.

Kita sedikit keluar pembahasan, mendengar Makassar sebagai kota atau kota yang bernama Makassar, bagaimana menurutmu? 

Makassar adalah kota yang mengajari saya merokok surya dan perbatang, hahahaha. Makassar adalah tempat saya belajar banyak hal dan menemukan banyak hal, saya terpisah oleh Teluk Bone dengan orangtua saya, tentu setelah saya berada di sini, saya mesti belajar dengan giat, dan bergaul dengan kawan-kawan seiman dalam sastra, berkomunitas dan yang paling sensitif dan berkesan saya mesti wisuda di sana, bukan di kota lain. Begitu banyak ingatan tentang Makassar dari Antang hingga Tamalanrea.
 
Ini sedikit lebih serius dan cukup mainstream sih ditanyakan, tapi karena kayaknya belum ada yang sempat tanyakan (saya sudah share di google dan tidak dapat) kita bertanya. Sejak kapan Arif mulai menulis dan apa yang kau tulis? 

Tahun 2015 saya mulai menulis puisi, tetapi yah puisi-puisi untuk konsumsi pribadi, kepada orang-orang tertentu saja, tetapi pada tulisan serius saya pertama kali adalah cerpen yang berlatar Pulau Samalona di tahun 2016, setelah itu saya menulis puisi dengan lebih serius kemudian kukirimkan ke media dan beberapa sayembara.
 
Seserius apa kau menanggapi pekerjaan sebagai penulis? Ya, penulis sastra tentu saja.

Kalau serius yang dimaksud adalah hanya bekerja sebagai penulis, kalau saat ini ya, karena saya baru saja lulus kuliah dan saat ini hanya menulis saja, tidak menutup kemungkinan saya bekerja di bidang lain, saat ini menulis karya sastra atau esai-esai ringan di blog saya saja, karena cita-cita saya adalah menjadi ASN, bro, seperti Pak Guru Arlin.

Kalau benar dirimu serius, lalu apa yang mendorong Arif untuk mulai memikirkan menjadi penulis?  

Yang mendorong saya tentu saja agar suara-suara yang ingin saya sampaikan ingin didengar oleh banyak orang—di kampung saya, orang-orang muda masih saja dianggap sebelah mata, meski yang di sampaikan itu benar, orang-orang muda masih saja kurang didengar, saya mau didengar.

Bagaimana lingkungan menjadi salah satu faktor yang membentuk dirimu sebagai penulis? Bisa diceritakan. 

Awal-awal kuliah di kampus saya, di UIM saya selalu mencari teman diskusi entah itu mahasiswa atau dosen, untuk bertukar pikiran, gagasan tentang hal-hal tentang sastra, saya juga mulai menelusuri perkembangan di luar kampus, hingga saya menemukan Malam Sureq (Malam Puisi Makassar) yang dulu selalu mengadakan diskusi atau pembacaan-pembacaan puisi. Saya belajar banyak di luar dan di dalam kampus.
 
Dulu ji sekarang tidak pernahmi bikin acara anana’ di Malam Sureq hihihi. Oke kembali ke Suhu Udara, secara teknis adakah kesulitan-kesulitan tertentu yang kau dapat selama menyusun dan akhirnya terbit menjadi buku? Misalnya kesulitan dapat penerbit, diganggu pacar padahal rencana deadline, susah dapat teman diskusi, atau hal-hal lain, cerita bede eh

Satu hal yang paling menganggu adalah skripsi, inilah yang sakral bro. Kalau tidak selesai, saya diselesaikan sama orangtua dan pihak kampus. Jadi, setelah skripsi saya selesai, saya kembali mengerjakan hingga sampai terbit. Ya, sebelum saya menerbitkan, saya tentu berdiskusi dengan teman saya, tentang penerbit yang menurutku cocok.

Kalau boleh tahu, ini diterbitkan penerbit apa? Dan apa cukup sesuai dengan yang kau harap? 

Suhu Udara diterbitkan Guepedia, terlepas dari editornya yang luput atas beberapa typo di dalamnya, selebihnya saya merasa cukup memuaskan jika dibandingkan dengan sesama penerbit indie yang lainya.
 
Oh ya ini hampir kelupaan, apakah dalam buku puisimu itu ada beberapa puisi yang diperuntukkan ke seseorang, teman misalnya. Kalau ada, kenapa musti menulis puisi itu? 

Ada, untuk Ibu saya. Ya, ini manusia mungkin dan semua mengalaminya, saya menulis itu karena rindu sekali dengan Ibu saya, tengah malam di kosan saya menulis itu. Karena terlalu rindu barangkali, karena terpisah begitu lama dan begitu jauh.

Saya langsung ingat Ipin, beliau juga pernah menulis puisi karena rindu sama mama’ nya. Oh ya saya baca beberapa wawancara di buku Memikirkan Kata dan mendengar siniar (a.k.a podcast) yang dibawakan mba Leila S. Chudori, dia selalu menanyakan hal ini dibagian terakhir: sebutkan tiga penulis atau buku yang mempengaruhi hidupmu sehingga kau memutuskan untuk menulis. 

Saya baca Aku Ini Binatang Jalang Chairil, Hujan Bulan Juni Sapardi Djoko Damono, Karena Cinta Kuat Seperti Maut Adimmas Immanuel, Saya baca puisi-puisi Faisal Oddang dan Ibe. S Palogai.
 
Kalau terlalu serius kau rasa, yang ringan-ringan mo pale, Agi (penyair Alghifahri Jasin, mahasiswa Unhas) tawwa sudah mi menikah dengan mahar buku lagi, kau iya kapan rencana menikah? 

Setelah Wahyu Gandi G menikahi kekasihnya, saya juga tentu akan menikahi kekasihku.

Kalau kau tidak sadar, ini baru pertanyaan keempat belas tapi bisa mi diakhiri bincang- bincang ta kalau dirasa cukup, oke, sebagai penutup adakah pesan-pesan ala-ala yang ingin kau sampaikan setidaknya kepada diri sendiri. 

Di media sosial semua orang menjadi pintar dan ingin mengurusi semuanya, jika kau bukan pakar di bidang yang jadi persoalan, tenanglah, cukup diam dan membacanya. []

BACA JUGA artikel Wahyu Gandi G lainnya di sini.



Facebook Comments
No more articles