Sebagian orang bisa saja menganggap buku adalah barang yang bisa dipamerkan di ruang tamu untuk menambah atau mempertegas diri sebagai orang-orang yang merasa intelek. Bisa juga, buku hanya dianggap sebagai bahan sosial media bagi para mahasiswa yang ingin dianggap rebel, sehabis memotret buku, kemudian menguploadnya disertai tempelan quote. Buku selepas itu bisa beralih fungsi menjadi bantal di kamar kontrakan. Sedangkan buku bagi saya hanya setumpukan kertas yang berisikan tulisan atau gambar, setidaknya seperti itulah yang saya tahu.

Namun, saat membaca buku, saya merasa menemukan salah satu fungsi dari sebuah buku, yaitu buku dapat menjadi obat. Saya merasakan itu selepas membaca The Little Paris Bookshop karangan Nina George, penulis asal Jerman yang saat ini berusia 46 tahun. Diterjemahkan ke lebih dari 37 bahasa sejak pertama kali terbit pada tahun 2013. Buku ini tidak mengajari cara mengobati penyakit ginjal, kanker atau pun gatal-gatal.

Tokoh utama bernama Jean Perdu, ia pemilik toko buku yang terapung di atas sungai Kota Paris. Toko buku diberi nama Literary Apothecary. Meski tidak dijelaskan mengapa diberi nama seperti itu, kurasa karena setiap pelanggan selalu diberikan buku berdasarkan kebutuhan seseorang layaknya apotek obat di rumah sakit, Perdu lah dokter yang akan menganalisa para pelanggan dan akan memberi resep yang diperlukan. Literary Apothecary memberi obat berdasarkan resep, buku apa yang sesuai dengan pelanggannya.

Baca Juga: Mengapa Kita Enggan Membaca?

Ada satu hal yang membuat alur cerita di buku ini menjadi serupa petualangan dan tidak sekadar bercerita tentang toko buku. Momen itu nampak ketika suatu hari, Perdu membaca surat dua puluh tahun silam dari seorang kekasihnya bernama Manon.

Ia baru membaca surat itu setelah dua puluh tahun berlalu sebab Perdu menduga surat itu hanya permintaan maaf atau kalimat-kalimat klise, sebagaimana perempuan-perempuan yang ingin membuang kekasihnya. Ternyata surat itu menyampaikan kerinduan Manon yang menyuruh Perdu untuk datang ke kampung halamannya untuk menjenguknya karena Manon saat itu sedang sekarat. Setelah Perdu membaca surat, ia hanya bisa menyesal sebab Manon tidak akan mungkin mampu bertahan dari kanker selama dua puluh tahun.

Setelah membaca surat dari Manon, Perdu memutuskan mengarungi sungai menuju kampung halaman Manon. Cerita petualangan kapal yang sekaligus berfungsi sebagai toko buku pun dimulai. Perdu yang awalnya hanya bersama Max Jordan, dan kedua kucing bernama Kafka dan Lindgren, kemudian bertemu orang baru yang ikut mengarungi sungai bersama. Dalam perjalanan inilah nantinya Perdu menemukan obat untuk mengobati hatinya akibat penyesalannya selama dua puluh tahun silam.

Perdu memulai perjalanan dengan hanya bermodalkan buku-buku yang ada di kapal dan makanan kucing yang ada di kulkas. Satu-satunya cara bertahan hidup adalah dengan membarter buku dengan makanan dan bahan bakar.

Baca Juga: Extracurricular: Kisah Konflik Remaja di Balik Kasus Prostitusi Anak

Samy, seseorang yang ditemui Perdu dalam perjalanannya, mengatakan kepada Perdu, “Aku perlu menulis buku waktu itu. Kau perlu membacanya. Kau perlu memikul beban dan menderita agar kemudian naik ke kapal dan akhirnya berangkat”. Bukan hanya pembaca buku saja yang dapat terobati. Banyak diluar sana yang mencurahkan hatinya dengan menulis meski tidak semua menjadi buku. Entah apakah kamu harus membaca atau hanya perlu menulis buku untuk mengobati dirimu sendiri.

Ketika sesuatu hal terjadi diluar kendali dan harapan, banyak yang merasa ingin mati. Hal ini sering terjadi. Namun, banyak pula orang yang telah menemukan kembali semangat hidupnya dengan membaca sebuah buku, seperti misalnya Sang Alkemis karangan Paulo Coelho yang dapat menuntunmu saat kau merasa kehilangan arah. Saat kau butuh sedikit bahan untuk tertawa, saya sarankan kalian membaca bukunya Puthut EA Para Bajingan yang Menyenangkan.

Baca Juga: Cara Jitu Menumpas Penjahat Korek di Antara Kita

Pada dasarnya nutrisi yang paling baik untuk jiwa yang sakit adalah buku. Hanya saja kita perlu memilih obat dan dosis yang tepat. Saya ingin berbagi, ini salah satu resep yang ada pada akhir halaman buku The Little Paris Bookshop. Wahai para pesakitan, semoga kalian menemukan obat yang tepat:

Musil, Robert. The Man Without Qualities,  diterjemahkan oleh Sophie Wlikins dan Burton Pike.

Sebuah buku untuk pria yang lupa akan keinginan mereka dalam hidup. Obat untuk ketiadaan tujuan.

Efek samping: Efeknya berangsur-angsur: setelah dua tahun hidup kita akan berubah selamanya. Resiko utamanya kita akan menjaga jarak dengan teman, membangun kecenderungan sarkasme sosial, dan mengalami penderitaan akibat mimpi yang terus berulang. []

Penulis : Anca, dapat disurati di anca.rakyat@gmail.com.

BACA JUGA artikel Kontributor lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles