Sebagai penikmat YouTube karbitan, saya cukup telaten memperhatikan, setidaknya selama dua tahun terakhir. Bayangkan, platform media sosial ini dikembangkan pada tahun 2005 di Amerika Serikat sana dan hamba baru meliriknya di tahun-tahun Gen Halilintar naik daun. Seolah kebetulan atau memang sudah jodohnya, saya dibuat penasaran mengapa banyak orang yang tak suka Gen Halilintar.

Awalnya pertanyaan ini kubiarkan mengendap ditimbun kenangan mantan sampai pada akhirnya saya benar-benar penasaran. Logikanya mereka kaya dan uangnya halal. Bukankah ini yang dinamakan sukses? Nah, biar objektif, tulisan ini saya buat dengan riset yang panjang, setidaknya saya membutuhkan waktu dari rentan akhir Desember 2019 sampai hari ini Mei 2020. Karena itu mohon riset saya disimak sampai habis!

Sejauh pengamatan, video unggahan Gen Halilintar terbagi ke dalam beberapa konten yakni Tipe-Tipe, Aktivitas Keseharian termasuk prank dan games, serta konten Musik original dan cover. Dari konten-konten inilah lahir sebuah asumsi yang menyebut bahwa konten Gen Halilintar adalah sampah, tidak mendidik, dan tidak ada nilai edukasinya. Benarkah demikian? Meminjam analisis Tirto.id yang mengandalkan Social Blade, faktanya sebanyak 7 dari 10 YouTubers yang populer di Indonesia muncul dengan konten bergenre vlog dan Gen Halilintar adalah satu di antaranya.

Baca Juga: Extracurricular: Kisah Konflik Remaja di Balik Kasus Prostitusi Anak

Saya simpulkan pada bagian inilah konten didefinisikan sampah oleh waganet, menghibur sekaligus penuh drama. Tapi apa itu sampah?

Sampah diasosiasikan sebagai sesuatu yang sudah tidak punya nilai guna. Jika dikontekskan dengan Gen Halilintar, itu berarti tidak ada hikmah yang bisa diambil dari menonton mereka. FYI, Gen Halilintar terdiri dari 11 orang anak dan tentu saja dua orang tua, kesebelas anak masing-masing punya channel YouTube dengan rata-rata 1 hingga 10 jutaan subscriber, terkhusus Atta ia sudah mengantongi 20 jutaan, yang membuatnya didapuk sebagai YouTuber dengan subscriber terbanyak di Asia Tenggara. Tentu saja ini belum termasuk channel keluarga dan channel Sang ibu—entah kenapa bapaknya tidak tertarik membuat channel.

Bayangkan jika benar semua konten mereka isinya sampah. Betapa kotornya mata puluhan juta orang Indonesia juga dunia. Mengapa saya bilang dunia? Karena begini, sekali waktu saya mendapati cover Mic Dropnya BTS oleh Gen Halilintar. Biar total, saya nonton sekali lalu dilanjutkan dengan menonton video reaction. Saya tidak hanya menonton satu reaction, akibatnya saya keterusan dan akhirnya keracunan. Apalagi yang meriview datang dari banyak orang di berbagai negara.

Menurut kalian apakah saya akan menonton semuanya? Btw, jawabannya iya. Kesimpulan pertama, dunia perlu diselamatkan atau kita akan disesaki sampah sampai ke otak kecil. Kedua, mungkin kita, sudah sejak lama, menyukai tontonan sampah.

Baca Juga: Cara Jitu Menumpas Penjahat Korek di Antara Kita

Selanjutnya, menghimpun komentar terpedas netizen, “tidak Indonesia” adalah bukti lain bahwa banyak celah untuk tidak menyukai Gen Halilintar. Jika diperhatikan (kalau kalian tidak sudi biar ini jadi tugas saya), jajaran anak Gen Halilintar makin ke bawah makin fasih saja berbahasa Inggris. Mereka bahkan tidak punya logat alias terdengar seperti native speaker.

Belakangan baru saya tahu kalau mereka diajarkan berbahasa Inggris sejak dalam kandungan. Yang artinya Bahasa Inggris adalah bahasa Ibu dan barulah di usia kesekian mereka belajar berbahasa Indonesia meski terdengar patah-patah. Apakah ini hebat? Bagi saya yang sekolah dua belas tahun tapi bilang i miss you saja masih susah tentu saja saya iri. Tapi mereka menyadarkan kita bahwa mereka tidak Indonesia, tidak proklamasiais. Awas saja kalau sekalian tidak pancasilais, bisa-bisa dibubarkan kau, Nak.

Nah, itu baru contoh sederhananya. Untuk kalian ketahui rata-rata anak Gen Halilintar tidak pernah menempuh pendidikan formal alias sekolah dua belas tahun ditambah kuliah tujuh tahun jika kalian kuliah ditambah ngeaktivis. Makanya kelakuan mereka tidak konvensional, taruhlah rambut mereka diwarnai dan dibiarkan tidak 5 cm (kecuali Saaih yang konsisten). Ini jelas tidak ikut aturan pendidikan negeri kita tercinta yang suka menyeragamkan. Fatal!

Baca Juga: Paseng ri Ade’ dan Unsur Pamali dalam Omnibus Low

Tapi yang tak kalah fatal adalah mereka ini kaya-kaya. Melalui Social Blade, sebuah situs analisa yang cukup popular, kita bisa mengintip estimasi penghasilan Atta Halilintar tiap bulannya. Fantastis, dengan raihan Diamond Play Button ia bisa mengantongi 26.500 dolar AS atau setara Rp 418,7 juta. Bagaimana dengan setahun, lalu jika subscriber naik, uploadan bertambah, waktu penayangan meningkat.

Berdasarkan hitungan kasar jumlahnya kira-kira banyak. Untuk sementara saya ambil sampel anak pertama saja dulu, karena kalau dilanjutkan takutnya saya iri lagi. Lalu apa yang salah dengan kaya? Kenyataannya, menjadi kaya adalah bukti dari sukses dan menjadi sukses rentan untuk tidak disukai. Lihat saja bagaimana Kemenkumham sukses membebaskan tahanan dengan dalih Covid-19. Banyak yang tidak suka, bukan?

Baca Juga: Membayangkan Buku Dicintai oleh Semua Kalangan

Sebenarnya ada banyak poin yang bisa saya tuliskan, namun demi kemuliaan saya cukupkan di tiga poin besar itu saja: tontonan sampah, tidak Indonesia, dan kaya. Adapun poin-poin yang terlewatkan sepertinya bisa disisip-sisip, cocok-cocok, dan pasang-pasangkan sebab demikianlah ketidaksukaan bekerja. Terakhir, generalisasi berbahaya karena ia berkedok subjektivitas. Baik-buruk, benar-salah, dan boleh-tidak boleh biarlah hanya sebatas oposisi biner di mulut masing-masing.

Sebagai penutup saya ingin bertanya kepada diri sendiri: apakah saya tidak menyukai Gen Halilintar? Salam manis untuk para Stars di manapun kalian berada. []

Penulis: Kartini Ridwan, alumnus Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar.

BACA JUGA artikel Kontributor lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles