Jika dapat melakukan sebuah pengakuan dosa atas kenakalan yang pernah kau buat, apakah kau akan melakukannya atau memilih untuk diam sebab kenakalanmu tidak lagi dapat kau lihat sebagai sebuah kenakalan setelah berusia dewasa?

Ciuman yang kau lakukan bersama pasanganmu ketika ruang kelas kosong sebab jam pulang sekolah sudah lama berlalu, izin kerja kelompok namun ternyata berkelana melewati batas kota di hari libur, meminjam buku perpustakaan dan tidak pernah mengembalikannya sekalipun telah lulus sekolah, menjadi agen penyebar kunci jawaban ujian nasional atau kenakalan lain yang membuat jantungmu bisa berdebar hebat saat melakukannya sebab kau takut orang-orang akan tahu perangai burukmu.

Dua paragraf pembuka tadi tidak berniat membuatmu merasa lega atau memberikanmu dukungan atas kenakalan yang pernah atau sedang kau rencanakan di usia remajamu sekarang.

Baca Juga: Lagu Hareudang Mewakili Perasaan PTKIN yang Batal Pengurangan SPP/UKT

Dalam buku Psychology yang disusun bersama oleh Carole Wade, Carol Tavris, dan Maryanne Garry, menulis pendapat Steinberg bahwa perilaku ceroboh, melanggar hukum, dan melakukan tindakan berisiko merupakan beberapa hal yang cenderung untuk dilakukan di masa remaja. Masa transisi dari anak-anak menuju dewasa membuatmu melakukan berbagai macam percobaan untuk dapat memahami dan menentukan siapa dirimu.

Selian itu, Satrock dalam bukunya Life Span Development, memakai pendapatErikson yang menyebut tahapan usia remaja sebagai identity versus role confusion, sebab kau tidak akan bisa memenuhi tugas perkembanganmu sebagai remaja untuk memahami dengan jelas peran-peran orang dewasa tanpa melakukan berbagai percobaan tersebut.

Ketika menuliskan ini, entah mengapa saya kembali mengingat masa SMP saat nyaris semua orang di sekolah saya menyindir orang-orang dengan ungkapan, “Ew, kam-se-u-pay!”, dan adegan-adegan yang sekilas saya lihat di sinetron Putih Abu-Abu (SCTV). Sinetron tersebut memperlihatkan para tokoh yang berada di kelompok jahat dan kelompok baik, tidak pernah berpindah kelompok, atau setidaknya sang tokoh utama akan selalu menjadi baik, sepanjang sinetron itu bisa berjalan.

Saya tidak meminta tokoh utamanya berubah menjadi jahat, tetapi sinetron yang lagu kam-se-u-pay-nya sering kali dinyanyikan oleh orang-orang itu membuat saya bertanya-tanya di kelompok mana saya saat itu? Sebab saya bukan si tokoh utama yang selalu berbuat baik dan bukan pula kelompok si tukang omong kam-se-u-pay yang selalu berbuat jahat.

Saya bukan penggemar sinetron tersebut. Saya berterima kasih kepada stasiun TV yang pernah menayangkan Drama Korea dan menyelamatkan saya untuk tidak larut dalam jenis sinetron tadi. Setiap kali menemukan novel atau drama remaja di masa sekarang. Saya berharap mereka telah ada saat saya berusia remaja, sehingga saya bisa memiliki sesuatu yang sesuai serta menggambarkan kehidupan remaja dan segala perilaku mereka. Termasuk kenakalan serta kelabilan mereka yang tidak selalu berada di sisi baik atau jahat saja.

Baca Juga: Cara Jitu Menumpas Penjahat Korek di Antara Kita

Salah satu drama yang turut membahas soal kehidupan remaja dan perilaku mereka ialah Extracurricular (2020) garapan sutradara Kim Jin-min, Drama Korea yang diproduksi oleh Netflix setelah My Only Love Song (2017); YG Future Strategi office (2018);  Kingdom 1 & 2 (2019); Persona (2019); My First First Love 1 & 2 (2019); Love Alarm (2019); dan My Holo Love (2020).

Drama ini bercerita tentang kehidupan Oh Jisoo (Kim Dong Hee) yang mulanya telah berada di jalur yang sesuai dengan yang ia rencakan, berubah menjadi kacau balau. Kekacauan hidupnya ini melibatkan (atau bermula karena) Bae Gyuri (Park Joo Hyun), siswa cerdas, supel, dan disegani oleh siswa lain serta Seo Minhee (Jung Da Bin), siswa gaul yang selalu berupaya memberikan kasih sayang dengan membiayai pacarnya, Kwak Kitae (Nam Yoon Soo).

Jisoo adalah siswa pendiam dan tidak memiliki teman bergaul, wali kelasnya sampai memintanya membuat kenakalan kecil sebab gemas dengan dirinya yang begitu terlihat sebagai siswa baik-baik, tidak pernah terlambat, tidak pernah melakukan pelanggaran, tidak pernah mendapat nilai buruk.

“Kau harus terus membuat masalah kecil sesekali. Jika tidak, nanti langsung (kau akan membuat) masalah besar,” kata wali kelasnya kepada Jisoo.

Baca Juga: Paseng ri Ade’ dan Unsur Pamali dalam Omnibus Low

Jisoo ditampilkan sebagai karakter siswa yang aneh, rajin, pintar, dan diam-diam ternyata adalah pelaku kejahatan yakni penyedia layanan prostitusi anak di bawah umur. Jika umumnya karakter seperti itu adalah karakter sampingan yang mempengaruhi hidup karakter utama, di Extracurricular malah sebaliknya, Jisoo adalah karakter utama.

Ia dikenal sebagai Paman, sebutan untuk dirinya oleh para mitra dan seorang kaki tangan yang tak pernah bertemu dengannya. Ia menjalankan usaha jasa melalui aplikasi daring. Jasa yang diberikannya ialah penghubung, pengantaran, dan pengamanan bagi para mitranya yang bekerja di bidang prostitusi. Untuk melakukan pekerjaannya itu, Jisoo menggunakan smartphone yang berbeda dengan yang biasanya ia gunakan.

Kekacauan ini bisa saja bermula karena Jisoo teledor dan tidak menjaga smartphone yang digunakannya untuk bekerja dengan baik; Gyuri, salah seorang perempuan yang pertama kali ia ajak berteman penasaran dengan Jisoo yang menggunakan dua smartphone sekaligus. Permasalahan berawal dari peristiwa itu dan terjahit satu demi satu di sepanjang sepuluh episode.

Saya baru menontonnya setelah satu atau dua hari drama itu disiarkan Netflix, dua episode pertama telah membuat saya merasa dijungkir balikkan. Saya bisa memahami pilihan-pilihan yang Minhee lakukan untuk memanjakan pacarnya Kitae, namun tidak dengan Jisoo dan Gyuri. Dua episode awal akan membuatmu merasa kagum dengan kecerdasan dua orang itu dalam menyelesaikan dan membuat masalah. Ia akan membuatmu kesal dan pada akhirnya merasa: oh, seperti ini rasanya benci dan cinta sekaligus.

Saya merasakan itu hingga episode akhir, kini bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan jika seandainya season kedua drama ini benar akan dilanjutkan. Meski belum ada info resmi dari pihak Netflix, saya berharap season dua akan diperadakan. Sekalipun tidak, semoga kedua tokoh utama itu bisa hidup normal seperti yang Jisoo impikan, dengan melakukan cara yang berbeda. Sebab mimpinya untuk bisa hidup normal dengan sekolah, kuliah, dan bekerja begitu mahal.

Baca Juga: Melihat Makassar dari Jarak yang Sangat Dekat

Ia berencana mengumpulkan sembilan puluh juta won dan ditabung di dalam kardus gulungan tisu toilet, kardus-kardus yang berisi uang pecahan sepuluh ribu won itu disimpan dalam kotak bekas di dalam lemari pakaian. Uang tersebut yang akan Jisoo pakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan menyelesaikan rencananya yang telah ia siapkan dengan matang. Hal tersebut adalah alasan utama ia melakukan layanan jasa prostitusi anak di bawah umur.

Saya belum terlalu mendalami dunia belakang layar Drama Korea, namun ada beberapa hal di Extracurricular ini yang membuat saya terkagum-kagum. Script writer drama ini adalah Jin Han Sae, ia belum memiliki laman sendiri di AsianWiki dan artikel-artikel yang saya temukan ketika mencari namanya di Google menuliskan bahwa ini adalah drama pertama yang ia tuliskan.

Kim Dong Hee pemeran Jisoo saya kenali karena perannya di Sky Castle (JTBC, 2018-2019) dan Itaewoon Class (JTBC, 2020), membuat saya kagum dengannya yang dapat dengan baik menjadi pemeran utama di drama ini dan akhirnya menggerakkan saya menonton drama pertamanya, A-Teen (Playlist Global, 2018). Begitu pula dengan Park Joo Hyun yang sangat mencuri perhatian dengan perannya sebagai Gyuri, ini adalah kali keduanya bermain drama setelah A Piece of Your Mind (tvN, 2020) dan pertama kalinya mendapat peran utama. Apalagi Nam Yoon Soo yang baru pertama kali bermain drama, semakin menonton kau akan semakin melihat bagaimana ia sangat menjiwai perannya sebagai Kwak Kitae.

Meskipun belum banyak menonton drama Korea Selatan yang bertemakan kehidupan remaja, Extracurricular adalah drama yang memberikan saya sensasi yang sama seperti ketika saya menonton Hormones (2008). Hormones adalah Drama Thailand sekaligus drama remaja pertama yang memperlihatkan kehidupan tidak hanya hitam dan putih saja bagi saya. Pertama kali menontonnya saat SMA, saya seperti tercerahkan sekaligus jengkel sebab tidak pernah mendapatkan yang seperti ini di sinetron Indonesia.

Baca Juga: Membayangkan Buku Dicintai oleh Semua Kalangan

Kamu bisa menonton Extracurricular di Netflix atau di website lain yang kau tahu seperti drakorasia.net, drama ini hanya memiliki sepuluh episode dengan durasi setiap episode—kecuali eps.2 dan eps.10—kurang dari satu jam. Belum ada kabar apakah drama ini akan memiliki season lanjutan atau tidak. Jika penjelasan pendek di atas membuatmu mulai tertarik untuk menonton Drama Korea, saya rasa kamu sangat layak untuk segera mencoba menyaksikannya. Apakah kita akan sependapat? []

Penulis: Maybellina Dian, pelajar asal Makassar dan penonton Drama Korea. Dapat disurati di hitam.mutiara69@gmail.com

BACA JUGA artikel Kontributor lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles