Saya seorang Katolik, pacar saya seorang Muslim. Kami tidak saling mencurigai, tidak saling memengaruhi dan tidak saling menguasai. Setidaknya, hanya bila soal iman. Tetapi percayalah, sekalipun kami bedebahisme, kami tetap plularisme, masih Indonesia.

***

Saya dilahirkan dalam keluarga Katolik yang cukup tulen dalam mengamalkan tradisi Romawi. Kami semua sudah memberi diri untuk dibaptis menjadi jemaat gereja. Kendati  kecukupan akan iman Katolik, tidak ada satu pun dari anggota keluarga kami yang mendapat panggilan untuk hidup selibat seperti Pastor atau Suster. Tetapi apabila iman juga diukur dari seberapa jauh kita mempelajarinya dalam pendidikan formal, maka ada dua makhluk di antara kami yang pernah lebih berpengalaman akan iman Katolik.

Baca Juga: Tradisi Mudik Bukan Sekadar Pulang Kampung

Pertama, Ibu saya. Katanya, dulu masih belum menjadi istri pertama Ayah saya, beliau pernah belajar di Biara Susteran di Kota Larantuka. Untungnya hanya bertahan beberapa bulan. Saya bangga atas prestasi masa muda Ibu saya ini. Yah, kegagalan tentunya. Saya membayangkan jika saja ia bersikukuh menjadi biarawati, entah bagaimana nasib saya dan Ayah saya.

Kedua, kakak nomor dua saya yang merupakan rival terberat saya ihwal ketampanan. Beliau pernah menyelesaikan studi kepastoran tingkat menengah atas di Seminari San Dominggo Hokeng. Si bakal calon pastor kemudian melanjutkan perjalanan keimanan ke Seminari Tinggi Pangkalpinang. Tak cukup becus. Kurang dari satu tahun, ia memutuskan untuk berhenti. Akhirnya ia terdampar di Makassar, di sebuah kampus STIE. Ia adalah cikal bakal saya berlayar ke Makassar 2015 yang lalu.

Sosok Ibu dan kakak saya menjadi pelaku sejarah bagaimana sampai sekarang saya masih memegang teguh iman Katolik. Saya ingat ketika masih umur SD, tepatnya pada hari Minggu, ketika dengan sengaja tidak mengunjungi rumah Tuhan, orang-orang rumah sepulang ibadah bergantian melakukan simulasi khotbah. Lebih-lebih kakak kedua saya seperti Santo Paulus yang mengecam orang kafir di Korintus. Belakangan di bangku kuliah, saya baru menyadari bahwa tindakan dari keluarga kecil saya ini adalah bentuk sederhana dari behavioristik.

Baca Juga: Pertemuan Kembali

Berkat stimulus dari keluarga dan respon yang baik dari saya, untuk urusan pelayanan di Gereja, saya cukup berprestasi. Mula-mula menjadi anggota Sekami (Serikat Kepausan Anak Misioner), menjadi misdinar, lektor, anggota koor dan hari-hari saya dipenuhi dengan kegiatan keagamaan. Katakanlah dalam versi Islam, saya mirip Syekh Yusuf cilik. Lol.

***

Sampailah saya pada bangku kuliah, di Makassar. Selama di kota ini, keimanan saya laksana rusa yang mendamba air. Saya menemukan diri saya berhadapan dengan pengalaman keagamaan yang jauh berbeda dengan masa-masa kepolosan saya di kampung. Saya pernah, dan akhirnya berulang kali dihampiri pertanyaan; non muslim ki?”

Dalam hati saya bertanya-tanya; non muslim itu agama, atau apa? adakah agama non muslim?

Tentu kadang saya merasa risih dengan teman-teman saya di kampus. Sebenarnya pertanyaan itu wajar-wajar saja, tetapi biasanya hal-hal tersebut merupakan pertanyaan-pertanyaan retoris beruntun yang rupanya  “sangat menjengkelkan.”

Lagi-lagi dalam hati saya bertanya; tidak pernahkah masa kecil kalian melihat seorang Katolik seperti saya? Tidak tahukah kalian kalau setiap agama mengajarkan kebaikan? Tidak tahukah kalian kalau pertanyaan-pertanyaan itu membikin saya sakit?

Baca Juga: Sebuah Kisah Membaca Fragmen

Kalau mau dikata, terus terang, saya cukup kuat mengenal Islam ketika saya masih di kampung. Toh rumah saya bersebelahan dengan masjid. Malah sampai sekarang saya masih hafal lantunan adzan Almahrum Bapak Saleh setiap memasuki lima waktu salat. Juga Kak Siti, yang suaranya jelas terdengar ketika mengajar pengetahuan-pengetahuan Islam kepada anak-anak seusai salat magrib di mushola.

Teman-teman sekolah saya pun banyak yang Muslim. Apalagi ketika hari raya. Saya berani mengatakan di kampung saya seolah “tidak ada agama” bila rujukan kita tentang agama adalah cara pandang sebagian orang yang dangkal dalam memandang agama sebagai klasifikasi pergaulan.

Kalian pernah mendengar kisah remaja masjid di gereja pada Hari Raya Natal atau Paskah? Atau orang muda Katolik di lapangan bola pada hari raya Idul Fitri atau Idul Adha? Yah, kami melakukannya.

Pada hari raya umat Katolik, teman-teman remaja masjid turut ambil bagian menjadi tim keamanan dan perlengkapan di sekitar gereja. Begitu pun sebaliknya pada hari raya umat Islam. Tidak hanya di tempat ibadah, selanjutnya ketika umat Katolik atau umat Islam usai menunaikan hari raya, salah satu dari kedua kelompok pemuda tersebut telah mempersiapkan aula desa, lengkap dengan kursi, meja, sound system, dan tak lupa pula jamuan.

Bersama masyarakat se kampung, tua dan muda, kami membagi dan menerima suka cita hari raya hingga senja perlahan menunjukkan kecemburuannya. Itu…(mengikut idiolek familiar Mario Teguh).

***

Usai mendengarkan kembali lagu Balada Kerinduan di laptop, saya akhirnya benar-benar merindukan kampung saya. Saya merindu, seperti saat─Idul Fitri, menyiapkan Aula Desa untuk acara kemenangan suci umat se kampung. Tetapi karena pandemi Covid-19, saya tidak pulang kampung, tidak ikut mempersiapkan acara Idul Fitri, dan tentu saja, acara perayaan di Aula Desa tidak mungkin dilaksanakan. Singkatnya, kerinduan ini bekerja keras untuk merindukan dirinya sendiri.

Baca Juga: Penyintas Pelecehan Seksual Tak Boleh Tinggal Bungkam

Kemarin adalah Paskah. Dan saya sudah lima tahun melihat sisi keagamaan makluk Indonesia di kota ini yang jauh berbeda dengan makluk Indonesia di kampung saya. Sebentar lagi Idul Fitri. Demikianlah adanya. Antara saya dan pacar saya pun sebentar lagi akan sama-sama merasakan bagaimana merayakan hari kemenangan umat manusia dalam keadaan terisolasi.

Kami seperti ditakdirkan dalam tahun ini untuk belajar sembahyang, belajar berhenti meneror “sudah sholat belum?” atau “jang ki lupa ke gereja besok pagi!” dan belajar bagaimana berpisah lahir batin di tahun depan.

Kau akan terbang ke Madinah lalu ke kotamu, sedang saya akan berlayar ke kampung lalu memperdengarkanmu untuk pertama dan terakhir kalinya; Lirisme Buah Apel Yang Jatuh ke Bumi*, tepat di Aula Desa pada perayaan Idul Fitri di sebuah tahun. Kelak![]

Penulis: Once Luliboli, imigran Flores, saat ini sedang menempuh studi di Makassar.

*Salah satu judul sajak Aslan Abidin dalam buku kumpulan puisi Orkestra Pemakaman.

BACA JUGA artikel Kontributor lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles