Kementerian Perhubungan memperkirakan penduduk yang melakukan ritual mudik Lebaran pada tahun 2013 berjumlah sekitar 30 juta orang. Jumlah tersebut meningkat 6,7 persen dibanding jumlah pemudik pada tahun lalu. Adapun Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan melansir bahwa data kecelakaan yang terjadi hingga H-1 telah mencapai jumlah 1.414 kasus, dengan lebih 300 korban jiwa.

Ada sesuatu yang menjadi kekuatan spiritual, sehingga puluhan juta orang setiap tahun merasa sangat penting untuk berlebaran di kampung halaman. Eksistensi kampung halaman sendiri “memiliki makna” yang sangat sesuatu. Arti sesuatu itu menunjukkan bahwa ada yang melekat pada kampung halaman, yang selalu hidup dan berbicara bagi orang-orang yang meninggalkannya.

Kampung bukanlah sebuah tempat yang tidak berdaya di hadapan kota yang megah dan mewah. Kampung seperti punya suara yang terus memanggil-manggil orang yang tumbuh besar di rahimnya untuk kembali pulang. Buktinya, bukan saja orang-orang ingin memperataruhkan nyawa untuk pulang kampung merayakan lebaran, tetapi konon uang yang tersedot ke kampung-kampung halaman dalam ritual mudik 2013 mencapai Rp 90 triliun.

Baca Juga: Wabah Flu dalam Kenangan Tana Toraja

Setidaknya ada tiga aspek yang membuat “sakramen” mudik Lebaran menjadi penting. Pertama, soal tubuh atau cara kita menghargai diri. Meski era teknologi digital telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat global, tapi tubuh kita, tubuh orang tua kita, dan tubuh handai tolan kita tidak bisa tergantikan begitu saja oleh hal-hal visual atau kata-kata. Sangat berbeda mengucapkan “maaf lahir dan batin” melalui telepon atau pesan pendek dengan mengucapkan langsung sambil menyentuh tangan orang tua serta mengalirkan ketulusan dan keikhlasan.

Aspek kedua adalah soal rumah. Sebuah kampung adalah sebuah rumah besar yang di dalamnya terdapat ikatan-ikatan hehidupan yang salah satunya adalah rumah keluarga. Rumah keluarga merupakan metafora dari sebuah akar kehidupan. Di rumah itulah orang-orang tumbuh dan menghirup napas keluarga dalam kebersamaan yang tidak bisa tergantikan. Kehidupan dan rumah yang baru di kota tidak akan serta-merta menggantikan akar kehidupan yang ada pada rumah di kampung.

Aspek yang ketiga tentu saja adalah kenangan. Sebuah kenangan akan menciptakan sebuah sistem ritmis yang menjadi seperti nyanyian yang dapat mengajak waktu berputar kembali. Kenangan nyaris menjadi semacam konspirasi karena di sanalah, dalam kenangan semasa di kampung halaman, seseorang memperoleh pengalaman hidup paling berharga dan indah. Kenangan menjadi semacam selimut yang menghangatkan dalam kekosongan-kekosongan atau kejenuhan-kejenuhan rutinitas. Kehilangan kenangan adalah sebuah kehilangan yang mengerikan. Sebab, kita bukanlah apa-apa tanpa kenangan.

Baca Juga: Seekor Lalat dan Sang Raja

Soal tubuh, rumah, dan kenangan di kampung halaman itulah yang membuat manusia sesungguhnya melakukan sesuatu yang lebih tinggi daripada sekadar mudik, yaitu menkosmikkan diri. Sebuah kampung halaman yang di dalamnya ada rumah keluarga yang tidak didatangi lagi menunjukkan sebuha dunia (kosmik) yang diam, beku, buram, dan mati. Rumah itu tidak lagi menyimpan sandi-sandi rahasia yang hanya bisa dipecahkan melalui sebuah kadatangan diri.

Kadatangan adalah sebuah model simboliasasi dan perjalanan. Hanya dengan ritus perjalanan itulah manusia merasa sempurna. Itulah sebabnya, berbagai catatan tentang ritus perjalanan terdeskripsikan dengan istilah “sakit dan penderitaan”. Selalu ada sisi pengorbanan dalam sebuah ritus perjalanan yang bertendensi spiritual, seperti mudik.

Mudik juga persoalan ontologis (ada) atau terkait langsung dengan status ontologis seseorang secara sosiologis maupun psikologis. Seseorang yang tidak mudik dianggap tidak berhasil dalam perantauan atau tidak lagi ada (eksis). Pada sisi lain, ia akan merasa ada yang janggal atau hilang. Simbolisasi mudik bukan sekadar silaturahmi Lebaran bersama keluarga, tapi juga mencakup ekspresi ontologis dan ritus eksistensial.

Baca Juga: Penulis punya Tanggung Jawab

Bagaimanapun, persoalan yang paling mendasar bagi orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka adalah masalah ontologis dan eksistensial. Untuk meneguhkan bahwa ia ada dan keberadaanya diakui, seseorang harus mudik pada struktur kenangan ontologisnya. Jika mudik tidak dilakukan, akan timbul bayangan sosial di kampung halaman bahwa orang tersebut “tidak ada” atau tidak eksis, yang lebih mengarah pada makna “tidak berhasil”.

Seseorang yang bukan berasal dari suatu kota tertentu dan tidak mudik akan dianggap tidak memiliki kampung halaman dan keluarga. Ia tentu akan dicurigai sebagai orang yang tidak memiliki titik kenangan ontologis di kampung halamannya atau tidak eksis dalam keluarganya. Tentu kecurigaan seperti itu sangat menyakitkan. Karena itu, 30 juta orang lebih Indonesia melakukan ritual ontologis mudik dengan melalui berbagai rintangan dan secara eksistensial membawa uang lebih Rp 90 triliun ke kampung halaman. []

Ditulis Alm. Ahyar Anwar, dosen Fakultas Bahasa dan Sastra UNM. Tulisan ini dicopypaste dari buku Esai Tanpa Pagar: 100 Pilihan Literasi Koran Tempo Makassar 2013, disunting oleh Irmawati Puan Mawar, diterbitkan oleh Nala Cipta Lentera pada tahun 2013. Tulisan ini pertama kali terbit di Koran Tempo Makassar pada 12 Agustus 2013.

BACA JUGA artikel Copas lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles