Saya seorang laki-laki dan muslim. Tetapi kehidupan, cara berpikir, dan tingkah laku, serta lingkungan membuatku masuk dijajaran orang-orang yang dicap tidak beriman. Saya bisa terus menerus meninggalkan salat lima waktu meski tidak sekalipun terkena haid, alpa di setiap salat Jumat, membaca kitab suci agama-agama lain, dan KTP saya tetap tertulis Islam di kolom agama. Apakah persis orang seperti ini yang dianggap oleh orang-orang sekelilingku sebagai kafir?

I

Saya bisa meninggalkan salat wajib tanpa merasa bersalah, itu telah kupelajari dan kukerjakan sebaik mungkin sejak lama. Tetapi tidak dengan salat sunnah Idul Fitri dan Idul Adha. Kedua salat itu memang hanya tergolong salat sunnah muakkad,—bukan wajib—jenis salat yang dianjurkan untuk dilaksanakan dengan anjuran yang sangat kuat. Di kedua salat itu, selalu ada momen-momen mengharukan yang terus saya saksikan, membekas di ingatan saya dan membuatnya terasa sangat berbeda dibandingkan dengan pelaksanaan salat-salat wajib.

Ketika salat Idul Fitri dua rakaat selesai dijalankan, khutbah akan mulai dibacakan, saya suka mengambil posisi duduk di tengah-tengah masjid. Di momen itulah saya melihat hal yang tidak biasa. Khatib menaiki mimbar, dua anak pembawa sajadah berjalan mengumpulkan sumbangan, dari beberapa lembaran kertas pengkhutbah yang melankoli membacanya halaman demi halaman. Terdengar banyak pepatah Bugis lama yang diucapkan si penyampai khutbah dan orang-orang mulai tertunduk, satu per satu isakan tangis di sekeliling saya tertahan, tapi cukup terdengar. Orang-orang yang biasanya terlihat kuat di kehidupan sehari-harinya, nampak sangat rapuh di hari itu. Tidak berhenti mereka menyebut nama tuhannya.

Baca Juga: Media Harus Tahu Disiplin Verifikasi, Narasumber Musti Paham Kegunaan Hak Jawab

Selepas khutbah dibacakan, satu per satu orang bertukar jabat tangan. Di momen inilah, saya suka berlama-lama untuk pulang ke rumah. Sebab ada banyak momen keharuan di masjid di saat-saat seperti itu. Saya sering melihat beberapa orang yang baru ditinggal mati keluarganya sebelum atau saat bulan puasa akan menumpahkan tangisannya di momen itu. Tak jarang orang-orang yang menangis itu terlihat jatuh pingsan sebab tak mampu lagi membendung kesedihannya. Orang-orang terdekatnya saling menguatkan dan berbagi pelukan. Hangat sampai ke bola matanya.

Saya suka menyaksikan kerapuhan-kerapuhan manusia di momen seperti itu. Saya suka bertanya ke diri saya sendiri, apakah saya juga akan seperti itu jika mengalami hal yang sama? Sebab saya selalu merasa akan kuat jika suatu hari seseorang dari keluarga kecil saya juga meninggalkan saya untuk selama-lamanya di dunia ini.

Saya senang mendengar kisah teman-teman saya yang ditinggal mati oleh orang tua mereka sejak usianya belum dewasa, mereka mampu bertahan di dunia yang getir ini dengan membawa label yatim atau piatu atau kedua-duanya. Setiap keberhasilan anak-anak yatim atau piatu, terkadang selalu dijadikan konten oleh banyak orang tua lengkap, “Lihat. Damay bisa lulus kuliah padahal Ayahnya sudah tidak ada”. Seolah-olah orang yang tidak memiliki orang tua lengkap adalah orang yang mustahil bisa meraih kesuksesan.

Siapa yang akan membantu mereka menghapuskan air matanya, andai di setiap momen lebaran mereka selalu teringat dengan orang tua mereka yang telah tiada?

Baca Juga: Surat untuk Kepergian Nairobi

Selain itu, momen lain yang sering terlihat, beberapa orang yang pernah bermusuhan dalam waktu yang lama, memilih berdamai di hari itu. Voltaire, Filsuf asal Prancis pernah menulis “every man is guilty of all the god he did not do—setiap orang, bersalah atas semua kebaikan yang tidak dia lakukan”. Apakah setiap manusia membutuhkan dendam yang singkat untuk membuatnya tidak merasa gila? Hidup di dunia yang tidak selamanya berpihak kepada pilihan hidup mereka.

II

Situasi yang rumit seperti sekarang ini, kemungkinan akan menghilangkan momen itu. Sebab pemerintah dan lembaga Islam akan menyarankan kita untuk melaksanakan ibadah di rumah, termasuk saat momen Idul Fitri. Saya berpikir itu pilihan yang bijak untuk situasi seperti sekarang ini.

Tetapi dengan situasi seperti sekarang, sudah siapkan kita dengan keluarga kecil kita menjalankan salat Idul Fitri berjamaah di rumah, andai pemerintah benar-benar menetapkan salat Idul Fitri tahun ini dilaksanakan di rumah masing-masing untuk semua wilayah?

Itu pertanyaan kecil yang mengganjal di kepala saya. Kemarin saat saya bertemu teman-teman sekampung saya di pos ronda, sambil menunggu jadwal bedug sahur, pertanyaan itu saya coba sodorkan ke mereka. Teman-teman di pos ronda juga ikut bingung, sebab andai benar harus salat berjamaah di rumah, tidak menutup kemungkinan beberapa dari mereka harus terpaksa menjadi imam salat di rumahnya sendiri, itu membuat mereka tiba-tiba was-was.

Baca juga: Sejumlah Buku yang Terpaksa Kubaca Lebih dari Dua Kali

Saat menulis artikel ini, saya teringat sahabat saya yang jauh di Sudiang, Baso bin Fulan, laki-laki yang saat ini menetap berdua dengan Ibunya. Apakah mungkin Baso, teman karib saya itu yang selalu sering saya temani bolos salat Jumatan, mampu jadi imam salat Idul Fitri di rumahnya? Saya dan Baso yang selalu dicurigai tidak beriman memang hanya menghapal dua surah pendek dalam kitab suci kami selain al fatihah, yakni kulfuwallah dan innaattayna. Apakah Baso akan siap membaca dua surah pendek itu saat pertama kali menjadi imam salat Idul Firti di rumahnya?

Apakah Baso, punya ketakutan yang sama dengan dua karib saya yang perjaka dan guru teladan: Arlin & Halis. Dua karib saya itu, kini bisa mengadaikan SK PNSnya andai mereka kebelet untuk mencari pendamping hidup. Namun kedua laki-laki itu selalu meragukan dirinya sendiri, sebab mereka merasa, hal tersulit ketika telah menikah adalah menjadi imam salat untuk seorang perempuan. Padahal saya sudah memberi mereka nasihat terbaik, “jika kamu tidak menikah, selamanya kamu tidak bisa merasakan rasanya bercerai”.

Tidak semua laki-laki siap jadi imam salat. Saya, Baso, Arlin, Halis, dan Wira barangkali masuk di jajaran itu—di Epigram, hanya Alamsyah yang mulai menunjukkan antitesis, undangan pernikahannya sisa dicetak dan itu membuat isapan rokoknya lebih Sampoerna daripada Halis ataupun Baso—Begitu pun satu keluarga tetangga saya di kampung. Mereka enam orang, dua laki laki dan empat perempuan. Laki-laki tetangga saya kedua-duanya tidak tamat mengaji dan hanya melaksanakan salat saat Jumat dan Idul Fitri/Adha. Pencapaian terbaik mereka saat salat berada di jajaran makmum atau tidak pernah sekali pun menjadi imam—persis seperti saya. Apakah mungkin mereka berani menjadi imam saat salat Idul Fitri di rumahnya?

Termasuk juga satu keluarga tetangga depan rumah saya yang berjumlah tujuh orang dan semua anggota keluarganya perempuan. Ke mana laki-lakinya? Mereka merantau ke Kalimantan dan hanya pulang sekali setahun. Mereka harus melakukan itu sebab kampung halamanku tak memberi banyak lapangan pekerjaan. Tahun ini keluarga laki-laki mereka tidak mudik, sebab situasi yang rumit sekarang dan pekerjaan di sana memaksa keluarga mereka untuk tidak pulang tahun ini. Bagaimana ke tujuh perempuan ini akan menjalankan salat berjamaah Idul Fitri tanpa seorang pun imam laki-laki? Saya takut jika Ibuku tiba-tiba memberi tawaran ke tetanggaku dengan mengusulkan namaku untuk menjadi imam salat mereka saat Idul Fitri. Saya bukan Imam Mahdi.

Baca juga: Mengapa Kita Enggan Membaca?

Tata cara salat Idul Fitri sangat berbeda dengan salat wajib pada umumnya. Seorang imam harus mengingat takbir tujuh kali di rakaat pertama dan lima kali di rakaat kedua. Bisakah seseorang yang tidak pernah sekalipun dalam hidupnya menjadi imam salat, tiba-tiba akan siap jadi imam saat menjalankan salat Idul Fitri di rumah? Bagi mereka yang terbiasa menjadi imam salat, itu adalah hal yang mudah, tetapi bagi mereka yang tidak pernah menjadi imam salat satu kali pun, keputusan kecil itu bisa jadi sangat memusingkan.

Apakah pahala mereka akan berkurang andai mereka cukup melaksanakan salat Idul Fitri sendiri-sendiri saja dengan tanpa bersuara sama sekali, bukankah tidak akan menimbulkan kelucuan besar tahun ini jika seorang imam salat Idul Fitri mendengungkan keras-keras membaca surah kulfuwallah dan innaattayna selepas mereka menuntaskan bacaan al fatihah. Bisakah keluarga kita menerima anak laki-laki yang memimpin keluarga kecilnya salat dengan bermodal bacaan surah-surah paling pendek yang jarang dibaca oleh kebanyakan imam-imam besar di masjid-masjid. Tanpa menertawakan gerakan mereka yang mungkin akan sangat kaku dan terbata-bata.

Kata  Milan Kundera dalam bukunya Kitab Lupa dan Gelak Tawa “segala sesuatu yang berulang akan kehilangan makna.” Sebab ini peristiwa baru, ia kemungkinan akan jadi momen berkesan bagi banyak keluarga. Ingatan yang akan terus kembali menjumpai di momen lebaran berikutnya. Beberapa akan menganggapnya sebagai aib dan yang lain menganggapnya sebagai sebuah percapaian terbesar selama ia hidup. Peribahasa baru akan turut muncul, “bagi laki-laki muslim, semua akan jadi imam salat pada waktunya”.

III

Buras selesai diikat, kue-kue bimoli telah mengisi toples bersanding dengan kaleng-kaleng Khong Guan, ayam-ayam jantan disembelih satu per satu, tapai ketan yang beberapa malam telah diberi ragi pun sudah masak, siap disantap dengan tumbu atau leppe-leppe—paganan beras ketan yang dibungkus daun. Pecahan-pecahan uang kertas dari pendapatan yang tak seberapa mengisi amplop-amplop putih bertuliskan “THR untuk keluarga” & “Zakat untuk negara”. Orang-orang yang melek dengan gawai pintar, mencari kata-kata “maaf” terbaik untuk disebar ke sanak keluarga dan teman dekat, beberapa sibuk melayout pamflet ucapan selamat berlebaran untuk instansi/komunitas/lembaganya. Persiapan-persiapan kecil itu dalam menyambut lebaran telah dikerjakan.

Lebaran disambut sebagai perayaan. Tetapi, apakah kita yang telah menahan dahaga dan lapar sebulan penuh dengan berpuasa, benar-benar akan memahami arti menahan yang sesungguhnya di hari-hari berikutnya: menahan amarah kita yang naik turun, menahan keinginan-keinginan besar kita akan kepemilikikan benda-benda mati, menahan kebencian kita yang sering larut terhadap orang-orang yang berbeda, menahan diri kita untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak memberi daripada memiliki.

Baca juga: Mereka yang Mengendap dan Membaca Bertumpuk-tumpuk Buku

Apakah kita mampu memaafkan diri kita sendiri sebelum memaafkan orang lain? Tidakkah hal-hal yang pernah membahagiakan kita dulu telah menerima kata “maaf” sebelum kebahagiaan itu menghampiri? Seperti kata Leon Agusta di salah satu penggalan sajak pendeknya berjudul Suasana:

Semua sudah dimaafkan, sebab kita pernah bahagia.[]

BACA JUGA artikel Muhammad Arifin lainnya di sini

Facebook Comments
No more articles