“Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” merupakan adagium lama yang kembali dipopulerkan melalui sebuah sinetron anak kala itu. Ronaldowati yang tayang setiap hari di layar kaca  menyita jutaan pasang mata anak-anak. Setiap sore, baik di lapangan sepak bola ataupun sepetak sawah kosong di pedesaan yang disulap menjadi lapangan bola, kita akan menyaksikan dan mendengar langsung teriakan anak-anak ketika hendak menendang bola di depan mulut gawang lawannya, “tendangan Ronaldowati!”.

Akan tetapi, tak berselang lama sinetron tersebut sekarang telah berlalu dalam dunia hiburan anak terganti dengan sinetron-sinetron yang lebih merangsang lubuk hati dan pikiran anak-anak, seperti sinetron percintaan remaja di beberapa stasiun TV yang secara simultan dikonsumsi oleh anak-anak. Tak pelak, rangsangan sugesti tersebut membayangi ruang-ruang imajinasi anak sehingga unsur ketertarikan pada lawan jenisnya pun terpantik. Kita dapat menyaksikan di sekeliling, seorang anak yang masih duduk di sekolah dasar telah mengenal dunia percintaan layaknya orang dewasa.

Begitupun dalam kasus lain, seorang anak kehilangan masa keluguannya, masa di mana ia masih harus bermain dan menikmati naik kuda dari pelepah pisang bersama teman sebaya. Namun, hal demikian sangat jarang (bahkan tidak ada lagi) di kehidupan saat ini. Semuanya tergantikan dengan gawai pintar dalam genggaman, berseluncur dengan games bahkan seorang anak yang baru menginjak kelas 5 SD telah memiliki akun media sosial.

Baca Juga: Lagu Hareudang Mewakili Perasaan Mahasiswa PTKIN yang Batal Pengurangan UKT/SPP

Dunia anak beserta fase awal pertumbuhan imajinasi liar yang tentu akan menopang pemikirannya ke depan telah sirna diokupasi dunia modern yang lebih menawarkan sesuatu tanpa proses berpikir secara mendetail. Hal demikian diperparah dengan pola asuh lingkungan yang ketat dan tegas serta mengharuskan mereka untuk tunduk pada sebuah aturan yang dipadati konsekuensi sekaligus mengorbankan masa keluguan seorang anak.

***

Richard Louv dalam bukunya The Last Child in The Woods menceritakan kisah hidup seseorang yang mengalami nature deficit disorder—pada umumnya terjadi pada anak-anak—yakni kelainan psikologi yang muncul akibat jarang berhubungan langsung dengan lingkungan dan alam sekitar sehingga melahirkan sebuah sifat yang cenderung melakukan tindakan perusakan terhadap lingkungan hidup dan acuh terhadap kondisi sekeliling.

Sementara itu, temuan fundamental Freud dalam dunia psikologi yang kemudian dielaborasi dalam teori psikoanalisis sosial ala Karen Horney menyebutkan bahwa semua proses dan event psikis bersifat ditentukan (semua terjadi karena alasan tertentu dan bukan terjadi secara random).

Lebih lanjut, Horney memformulasikan konsep utamanya yakni kecemasan dasar (basic anxiety), sebuah perasaan yang lahir pada diri seseorang atau anak-anak karena terisolasi dan tak berdaya dalam dunia secara potensial bermusuhan sehingga melahirkan sikap masa bodoh, tingkah laku eratik dan kurang menghargai interaksi sosial.

Baca Juga: Cara Jitu Menumpas Penjahat Korek di Antara Kita

Antara Louv dan Horney, keduanya menyoal efek domino dari ruang keterasingan diri. Seperangkat sikap yang lahir dari arena yang terisolasi. Di lain sisi, jika kita menjadikan ihwal tersebut sebagai cerminan atas kondisi yang kita hadapi saat ini maka tak ada jaminan fenomena demikian tidak berlaku dalam kehidupan kita khususnya pada anak-anak.

***

Dinamika kehidupan anak-anak khususnya di perkotaan kian memprihatinkan. Kondisi keterasingan semakin parah saat pandemi Covid-19 menyerang seantero negeri. Anak-anak harus dikurung dalam rumah dengan penjagaan ketat. Dua fenomena, kemajuan teknologi yang secara tidak langsung menjauhkan anak-anak dari lingkungan sekitarnya dan pandemi Covid-19 yang mengharuskan physical distancing, menyerang fase pertumbuhan sekaligus menjadi tameng tumbuh-kembangnya sikap empati pada anak sejak dini.

Sum-sum tulang empati pada diri anak kiranya diperkuat sejak dini melalui pembinaan dan pengenalan akan kondisi sekeliling. Penelitian J. Decety dan P.L. Jackson dalam The Functional Architecture of Human Empathy menjelaskan tiga hal penting tentang empati. Pertama, merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain; Kedua, memahami kondisi orang lain; dan ketiga, memiliki respon perhatian untuk peduli akan masalah yang dihadapi orang lain.

Namun, tiga hal penting tersebut hanya dapat terimplementasikan jika seorang anak mampu memperlakukan dengan baik lingkungan sekitarnya. Hal tersebut harus pula mendapat dukungan dari orang tua. Akan tetapi, di tengah kecanggihan teknologi yang semakin memanjakan diri anak melalui produk-produknya seperti gawai pintar dan terpaan pandemi Covid-19, sikap empati anak lambat laun mengalami proses pengikisan.

Baca Juga: Paseng ri Ade’ dan Unsur Pamali dalam Omnibus Low

Seiring meredupnya tayangan Ronaldowati di stasiun TV, hilangnya daya imajinatif dari pelepah pisang yang dijadikan kuda dan meningkatnya budaya konsumtif serta terdegradasinya permainan tradisional yang digantikan oleh gawai pintar, siklus kehidupan anak-anak semakin membenarkan tesis Louv tentang nature deficit disorder yang memberikan analisa kecenderungan seorang yang tumbuh besar tanpa memberi rasa hormat dan sikap empati pada lingkungan.

Krisis empati telah melanda mayoritas kehidupan di republik ini dan tentunya kita tidak mengharapkan budaya tersebut tumbuh subur dan mengakar.  Maka yang mampu memutus rantai budaya tersebut adalah para generasi muda utamanya anak-anak yang tengah menuju masa pendewasaan dengan lebih membimbing dan memperkenalkan mereka pada alam bebas meskipun situasi saat ini di tengah pandemi Covid-19, pembatasan fisik dan ruang sosial menjadi keharusan.

Baca Juga: Melihat Makassar dari Jarak yang Sangat Dekat

Akan tetapi, adagium “badai pasti berlalu” pun pastinya berlaku pada pandemi Covid-19 yang juga akan berlalu begitupun “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” akan tetap kokoh tanpa “bercerai kita selamat”.

Penulis: Askar Nur, Mahasiswa jurusan Bahasa & Sastra Inggris Fakultas Adab & Humaniora UIN Alauddin Makassar.

BACA JUGA artikel Kontributor lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles