Seumur hidup kita, dunia hanya punya satu pekerjaan: berubah.

Setiap waktu adalah sebuah perubahan, kata teman perempuan saya tak lama sebelum kami saling menjadi orang asing. Bahkan sebelum kalimat itu bekerja, saya tidak percaya mata dan isi hatinya mufakat mengenai satu hal yang cukup menegangkan—kamu akan menghilangkan kabarnya di masa depan.

Dalam hubungan semacam itu, kabar tidaklah terasa seperti kau menjawab pertanyaan “Lama tidak jumpa, bagaimana kabarmu?” Melainkan serupa paket bantuan sembako yang telah lama dinanti di tengah pandemi meski sempat tersendat hanya karena menunggu tas bertuliskan ‘bantuan Presiden’.

Saban waktu jelang kami resmi berstatus mahasiswa, hubungan itu terasa tumbuh seperti kenyataan kupu-kupu-kupu yang ulat dan kepompong menjadi indah dan bebas. Pertemanan saya dengannya berawal di twitter, delapan tahun lalu. Tak ada yang istimewa dengannya, tidak berstatus siswa berprestasi, peringkatnya di kelas tidak bagus-bagus amat, dan bahasa Inggrisnya pun tidak lebih baik dari saya. Entahlah, tapi dia manusia yang cukup optimis.

Baca Juga: Memang Mematikan, tapi Juga Menghidupi Kecemasan

“Sebagai mahasiswa teknik, kamu mau jadi apa?”

“Rektor” Jawabnya. Saya terdiam mendengar optimismenya, sebaliknya dengan pesimisme yang barangkali tampak jelas kepadanya, kepalanya menengadah ke wajah saya seolah ada hal lain yang terlihat setelah ia bertanya dengan maksud yang sama. “Kalau kamu mau jadi apa dengan bahasa Inggris dan Sastra?”

“Membantu orang-orang menjalani hidup mereka” dengan cara salah satunya, “memberi hidup segala rasa yang mungkin dikandungnya.” Setelah mengatakannya, jawaban itu terlihat lemah di matanya. Padahal saat itu dia tidak tahu saya mengutip Wallace Stevens dalam kumpulan esainya The Necessary Angel Essays on Reality and The Imagination.

Di waktu bersamaan dia tetap menaruh pesimisme, samar dan berbicara banyak hal seolah dunia dengan semua pernak-perniknya, manusia, alam, semesta, dan jagat raya baik-baik saja. Perang yang selama ini merundung manusia hanya jalan memutar untuk sampai pada tujuan dunia yang sebenarnya meski seringkali tidak begitu dimengerti. Optimisme itu mengingatkan saya kepada William James, dan kau tahu dalam dirinya, tidak ada sosok filsuf dan psikoanalis Amerika itu yang sangat terpengaruh gagasan meliorisme.

Meliorisme menjadi fondasi dari demokrasi liberal kontemporer dan hak asasi manusia serta merupakan komponen dasar dari liberalisme. Arthur Caplan, Profesor Bioetika di Pusat Medis Langone Universitas New York bahkan menggunakan meliorisme untuk menggambarkan posisi filsafat dan linguistik dalam bioetika yang mendukung perubahan, perbaikan penyebab penderitaan.

Alih-alih membuktikan, pemikiran tersebut meyakini hal yang tak terlihat dan berpendapat bahwa kemajuan adalah konsep nyata dan mengarah pada peningkatan dunia. Tak apa jika ‘peningkatan’ yang kau baca adalah bergerak dari bawah ke atas atau, dari merangkak ke berjalan, atau berjalan ke berlari. Tradisi orang-orang melioris tidak berkembang di masjid ataupun gereja manapun di dunia, namun ia tetap ada. Asalnya dari tradisi Pragmatis Amerika, kita dapat membaca itu dalam karya-karya Lester Ward, William James, dan John Devey. Nama terakhir, dalam karya-karyanya mengandung pemikiran meliorisme paling berbeda.

Perbedaannya meski sama-sama bergerak maju, berubah, apa yang diyakini tak menunjukkan progresifitas dan atau optimisme. Bagi James, meliorisme berdiri di tengah-tengah antara optimisme dan pesimisme. Memperlakukan dunia sebagai suatu probabilitas bukan kepastian atau ketidakmungkinan. Ya, teman saya barangkali benar, dunia tidak meneken kepastian kepada saya, begitupun ketidakmungkinan.

Baca juga: Kami yang Keras Kepala atau Dia yang Tidak Mudah Menyesal

Setelah kami sampai pada waktu yang pernah ia terjemahkan sebagai perubahan, nyatanya yang tiba adalah keterasingan. Kabar yang dulunya penuh debar kini samar dan tak lagi punya warna, memudar. Seperti individu yang terpisah dari kelompoknya, tumbuh semacam tekanan dari dalam untuk perubahan dan tak lupa, menghantam dada.

Apa yang dipandang kaum pragmatis Amerika sejalan dengan filsafat Heraclitus, cukup umum dan sering dislogankan di zaman modern ini sebagai perubahan. Ia percaya bahwa alam semesta tidak tetap melainkan berpartisipasi dalam perubahan terus menerus. Setiap tetes air sungai mengalir ke laut; benda panas menjadi dingin; demikian pula empat musim silih berganti. Tidak satupun bagian dari semesta luput dari perubahan.

Dunia atau bahkan alam semesta berubah dan bekerja tanpa mengikuti himbauan atau perintah apapun. Dalam rentang 13,5 sampai 3,8 miliar tahun, seperti Bill Gates ataupun Rockefeller ia semau-maunya menciptakan waktu dan ruang, energi, serta materi dengan Ledakan Besar: menggabungkan materi dan energi jadi atom-atom dan menggabungkan atom-atom jadi molekul, kemudian molekul tertentu merakit entitas rumit bernama organisme alias makhluk hidup.

Tanpa perubahan, manusia sekuat Mike Tyson dan Vladimir Putin pun bisa punah. Bahwa kita, Homo sapiens kini berkuasa atas planet bumi dengan keserakahan ala kaum antroposentris tentu merasa benderang. Jelas bukan, kita berbeda dengan makhluk hidup lain di sini. Namun percayalah kita tidak meraih kedudukan itu secara instan, melainkan cukup pelan sangat sesekali, sedikit demi sedikit, dan boom! kita berubah bersama dunia, alam raya, beserta seluruh isinya.

Perubahan yang menghabiskan waktu ribuan tahun kali lipat usia satu manusia, atau sepasang kekasih itu seringkali membuat kita melupakan satu hal mengancam; krisis personal.

Baca juga: Kawan Dekat yang Tinggal di Tempat Jauh

Bagaimana kita mendefinisikan ‘krisis’? Titik awal yang mudah adalah asal-usul kata Inggris crisis yang diturunkan dari kata benda Yunani krisis dan kata kerja krino, yang punya banyak arti terkait: pemisahan “to separate”, penentuan “to decide”, pembedaan “to draw a distinction”, dan titik balik “turning point”. Karenanya Jarod Diamond dalam bukunya Upheaval: Pergolakan Bagaimana Negara Mengatasi Krisis dan Perubahan menganggap krisis sebagai sebuah momen kebenaran, sebuah titik balik yakni bilamana kondisi sebelum dan sesudah “momen” tersebut memiliki “lebih banyak” perbedaan satu sama lain dibandingkan dengan kondisi sebelum dan sesudah “kebanyakan” momen lainnya.

Pada tanggal 28 November 1942, kebakaran terjadi dan menyebar dengan cepat melewati sebuah klub malam di Boston yang penuh sesak bernama Cocoanut Grove, di mana jalan keluar satu-satunya sudah terblokir. Sebanyak 429 orang meninggal dan ratusan lainnya terluka, karena sulit bernapas, keracunan asap, terinjak-injak, atau terbakar. Para dokter dan rumah sakit di Boston kewalahan—tidak hanya oleh korban tewas dan terluka, melainkan oleh korban psikologis dari kebakaran: para kerabat, histeris bahwa suami atau istri mereka atau anak-anak atau saudara kandung mereka telah meninggal dengan cara yang mengerikan.

Dan para penyintas, mengalami trauma oleh rasa bersalah karena mereka selamat sementara ratusan pengunjung lainnya tewas. Hingga pukul 10:15 malam, kehidupan mereka tampak normal dan segera fokus untuk merayakan liburan akhir pekan Thanksgiving, pertandingan sepak bola, dan masa perang yang berakhir bagi para tentara.

Tetapi pada pukul 11.00 malam, sebagian besar korban telah tewas, dan kehidupan kerabat mereka dan para penyintas jatuh ke dalam krisis. Lintasan kehidupan yang mereka harapkan telah tergelincir. Mereka merasa hina bahwa mereka masih hidup sementara orang-orang terkasih telah pergi. Para kerabat telah kehilangan seseorang yang jadi pusat identitas mereka.

Dan kebakaran itu, telah mengguncang keyakinan orang-orang pada sebuah dunia yang adil, tidak hanya bagi para penyintas kebakaran tetapi juga bagi orang Boston yang jauh dari kebakaran, termasuk Diamond yang kala itu berusia 5 tahun.

Baca Juga: Kisah Penderitaan, Teks, dan Kejahatan yang Ditulis

Mereka yang terhukum bukanlah remaja nakal, orang jahat, atau koruptor, mereka adalah orang biasa, terbunuh bukan karena kesalahan mereka sendiri.

Beberapa korban tetap trauma selama hidup mereka, beberapa bunuh diri. Tetapi kebanyakan dari mereka, setelah beberapa minggu yang sangat menyakitkan di mana mereka tidak dapat menerima kehilangan, perlahan mulai mengurangi kesedihan, meraih kembali nilai-nilai yang mereka yakini, membangun kembali kehidupan mereka, dan menemukan tidak semua hal yang ada di dunia mereka telah hancur.

Banyak yang kehilangan pasangan kemudian pergi untuk menikah lagi. Bahkan dalam kasus-kasus terbaik, bagaimanapun juga, berpuluh-puluh tahun kemudian mereka mempertahankan mosaik identitas yang terdiri dari identitas baru yang terbentuk setelah kebakaran Cocoanut Grove dan identitas lama mereka yang terbentuk sebelum kebakaran.

Belakangan ini kita seolah takut dan tertawa sekaligus marah lantaran dihadirkannya ancaman-ancaman serupa namun tak sama. “Sudah krisis, saatnya membakar/sudah krisis, saatnya menjarah”. Bedanya, ‘api’ itu jauh dari panggang dan bersumber dari objek yang tak kasat mata tetapi diperjelas oleh penangkapan ketua Anarko Sindikalis Indonesia, disertai video pengakuan sang ketua beredar luas di jagat maya seusai diperiksa aparat.

Baca Juga: Kamu Ditipu, Radikal hanya Korban, Terus Siapa Pelakunya?

Apakah kita takut? Tentu tidak. Terus, akankah kita berubah agar bisa bertahan hidup dan biar whatsapp tidak diretas untuk dijadikan kambing hitam? Atau jangan-jangan kita menunggu krisis untuk berubah: jadi warga negara yang tertib, patuh, dan tak banyak mau. []

BACA JUGA artikel Wahyu Gandi G lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles