Jujur, saya bingung, entah harus memulai dari mana untuk mengawali tulisan ini. Sebab, permasalahan agama kita yang begitu kompleks untuk dibahas dan dicerna. Yah, mau tak mau, suka atau tidak suka, saya memulai saja dengan sebuah pertanyaan sederhana: Sebenarnya, apa esensi kita beragama?

Beberapa hari yang lalu, saya dikejutkan dengan video kontroversi dari seorang artis tanah air yang belakangan ini wajahnya jarang muncul di layar kaca. Bahkan untuk generasi kaum alay mungkin sudah tidak ada lagi yang mengenalnya. Maklum, taktik lawas untuk para jajaran artis tatkala namanya sudah tidak pernah disebut-sebut dalam Silet atau Infotaiment, selalu saja memunculkan kontroversi.

Baca Juga: Bagaimana Nalar dan Tafsir Bekerja di Tengah Pandemi Covid-19

Video berdurasi pendek itu tersebar begitu cepat. Tentu mendapat respon yang cepat juga. Sebagian besar, direspon dengan umpatan, tolol!, goblok!, dan masih banyak umpatan lainnya.

Namun, di sisi lain, saya sependapat dengan Ariel Heryanto dalam salah satu artikelnya. Orang-orang seperti itu tidak bodoh atau goblok, malah orang-orang seperti itu cerdas, gerakannya terstruktur dan masif. Mereka tahu cara mematikan dan mengampanyekan sesuatu. Sama halnya dengan pemberangusan buku-buku kiri, tujuannya, tentu ingin menghapus memori jutaan umat manusia.

Di dalam konten videonya, ia sedang dalam perjalanan mencari masjid yang masih melaksanakan ibadah salat Jumat. Katanya, di tengah pandemi Covid-19 kebanyakan masjid terkunci, ditambah pula ia tinggal di daerah zona merah. Tak pelak, di tengah perjalanan, ia juga melontarkan cacian, tuturnya, tiga kali berturut-turut tidak melaksanakan salat Jumat akan dinyatakan kafir dan tidak boleh menikahi anak perempuannya.

Sekalipun ia sudah meminta maaf dan sudah menghapus konten videonya. Namun, bukan soal maaf memaafkan, kata yang telanjur keluar tetap akan menimbulkan bekas di hati jutaan umat muslim yang sudah melihat dan mendengarnya.

Kafir dalam Perspektif Antropologi Linguistik

Bicara soal kafir, topik ini bukan hal yang baru, sudah banyak yang membahasnya dalam artikel-artikel dan perbincangan pemuka agama di kanal YouTube. Saya hanya menghimpun dan memfokuskan topik ini dalam perspektif antropologi linguistik.

Layaknya bahasa pada umumnya, atau dalam bidang semantik, sebagian besar leksem telah mengalami perluasan, pergeseran bahkan penyempitan makna. Misalnya, leksem “ustad”, sudah mengalami perluasan makna, bisa dinisbahkan kepada “guru agama”, “guru yang mengajar di sekolah Islam”, dan “pemuka agama”. Jangan naif, bisa-bisa leksem “ustad” juga akan dinisbahkan kepada politikus yang bersembunyi di bayang-bayang bendera tauhid.

Begitu pelik membahas bahasa, karena bahasa melaju sangat cepat layaknya virus yang menulari inang satu ke inang yang lain. Maka perlu segera mengambil tindakan cepat.

Baca Juga: Prahara Hotel Mumbai

Makna kafir begitu beragam seiring perkembangan perjalanannya. Dalam kitab, kafir berarti “menutupi”. Al-Qur’an menyebutkan petani itu kafir karena mereka menggali tanah, menanam bebijian, lalu menutupnya kembali dengan tanah. Pantas saja, D.N. Aidit pernah dituding kafir, dikejar-kejar, sampai ditembak mati oleh suruhan orde baru karena hidupnya sibuk mengurusi para petani miskin yang tertindas digilas roda oligarki.

Sementara, kafir juga dinisbahkan kepada kesombongan iblis. Ketika iblis diperintahkan untuk sujud di hadapan Nabi Adam, iblis menolak. Katanya, Ia tercipta dari api sedang Adam dari tanah. Maka, sah menyebut kafir kepada orang yang tidak mengakui kelebihan orang lain.

Saya paham kok, maksud dan tujuan si artis putih yang tampan nan saleh itu. Belakangan ini, kafir yang mendapat perhatian banyak dinisbahkan kepada orang-orang yang tertutup atau dengan kata lain pengingkaran dan penolakan atas kebenaran yang telah dipahami dan diterima karena vested interest atau kepentingan diri. Artinya, mereka itu sadar atas kebenaran yang diyakininya tapi seolah menutupi karena berbagai kepentingan.

Ada sebuah riwayat yang dilaporkan Ibn Hisyam dalam sirahnya, dalam riwayat itu, disebutkan bahwa Abu Sufyan, Abu Jahal, Akhnaf ibn Syuraiq, berjalan hendak pulang dan melewati rumah Rasulullah. Ketiga-tiganya secara bersamaan tanpa sepengetahuan satu sama lain tersentak dan tiba-tiba berhenti.

Mereka bertiga mendengar Rasulullah sedang melantunkan ayat-ayat suci Allah. Lalu, mereka terkesima, mengendap-endap dan menyelinap di sekitar rumah Rasulullah. Dalam lubuk yang paling dalam mereka tak dapat menyangkal kebenaran firman Allah yang dilantunkan oleh Rasulullah. Alhasil, kejadian itu berulang sampai tiga kali beturut-turut. Tentu bukan suatu kekhilafan, melainkan kesengajaan.

Baca Juga: Surat Terbuka untuk Rektor yang Tertutup

Mereka bertiga akhirnya sampai pada suatu kesepakatan untuk tidak mengulangi perbuatan itu karena akan mengganggu kepentingan pribadi yang telah mereka jalankan. Sebab, mereka mempertahankan posisi ekonomi, sosial, dan politiknya.

Saat itu juga, masa di mana Arab masih menyandang gelar jahiliah. Kota Makkah saat itu menjadi pusat bisnis yang menghasilkan uang. Banyak kafilah dagang yang singgah di Makkah untuk menyembah berhala di Ka’bah dan sekitarnya. Tentu saja pengakuan atas ajaran yang dibawa oleh Rasulullah sangat merugikan mereka karena berujung akan hilangnya Kota Makkah sebagai tempat persinggahan para kafilah dagang. Matinya ekonomi dan hilangnya sumber-sumber kekayaan para pembesar Arab itu.

Selain berlaku bagi mereka yang tertutup dan menyangkal kebenaran yang diyakininya akibat kepentingan diri, ke”kafir”an juga muncul pada akhlak buruk serta absennya rasa kemanusiaan terhadap fakir miskin. Tentu pernyataan ini bukannya tak berdasar, pernyataan ini bertolak pada sabda-sabda Rasulullah dan firman-Nya.

Kafir sebagai Kategori Moral

Kafir yang dimaksdukan di sini tidak bersifat teologis, melainkan bersifat moralis. Agama bukan soal kompetisi memperbanyak amal, tapi moral dan rasa cinta jauh lebih penting. Kita berhaji berkali-kali tapi tetangga kita masih kelaparan.

Maka, sekali lagi akan ditegaskan, kalau orang-orang kafir itu, mereka yang menyangkal secara sadar. Jika kaum Quraisy ditanya, siapakah pencipta semesta, maka mereka akan menjawab Allah. Kaum Quraisy pada awalnya tidak kafir, bahkan mengharap kedatangan Nabi. Mereka justru kafir setelah kedatangan Nabi.

Imam Ghazali mengutarakan pendapat yang sama, orang-orang tak bisa dikatakan kafir kalau dakwah ajaran Nabi yang meyakinkan belum sampai kepadanya. Kalau pun sampai dan diterima sebagai kebenaran lantas tak melawan dan mengganggu, masih belum bisa dikatakan sebagai kafir.

Baca Juga: Relasi Bahasa dan Identitas

Jadi, muslim juga bisa saja kafir. Semoga saja, kasus ketiga pembesar Arab itu bisa kita jadikan sebagai simplifikasi sederhana dalam memahami kekafiran. Mereka menerima kebenaran yang dibawa Rasulullah tapi menolaknya dan juga mengganggu tatanan kehidupan. Penolakan mereka didorong semata-mata untuk mempertahankan kekayaan dan kelas sosial.

Betapa tidak, ajaran yang dibawa Rasulullah seketika akan meruntuhkan kelas sosial dan kekayaannya. Ajaran itu datang dengan mendeklarasikan kesetaraan, tak ada budak atau majikan, kaya dan miskin, melainkan ketakwaan yang membedakan mereka di mata Tuhan. Tak berlebihan juga Haji Misbach mengatakan Islam itu sangat sosialis dan komunis. Orang-orang yang menolak sosialis dan komunis juga bisa saja digolongkan kafir. Jangan-jangan, Felix K. Nesi Siauw?

BACA JUGA artikel Alamsyah Alimuddin lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles