Mengapa terjadi petir? Pertanyaan saya di masa kecil ketika dengan seketika suara gemuru mengagetkan langit. Kata nenek saya, “Tuhan sedang menembaki setan di langit”. Jawaban itu tentu adalah jawaban yang bisa saya terima dengan baik, sebab seperti suara pistol atau senapan yang menghasilkan suara dentuman seperti gemuruh. Saya membayangkan bahwa Tuhan adalah maha segalanya, tentu punya senjata yang besar sehingga menghasilkan suara layaknya petir.

Sekolah kemudian mengubah banyak hal. Ketika mamasuki sekolah dasar, dengan buku pelajaran IPA Terpadu yang disusun oleh Yohannes Surya, pengetahuan saya tentang petir berubah. Petir nyatanya adalah sebuah peristiwa bertemunya muatan-muatan awan yang berbeda atau muatan awan negatif yang bertemu dengan muata bumi yang positif sehingga menghasilkan gemuruh. Bagi saya ini adalah peristiwa penting. Pendidikan, melalui apa yang disebutkan sebagai sekolah mengubah kepercayaan saya dari mitos menuju ke ilmu pengetahuan.

Sekolah, sebagai tempat formal untuk menuntut pendidikan, punya peranan penting dalam merekonstruksi pengetahuan kita. Tentu itu adalah hal yang baik, sebab pendidikan sederhananya adalah membuat kita mengetahui apa yang belum kita tahu. Kemudian, lebih jauh lagi pendidikan tentunya harus mampu mengubah sikap, perilaku, dan perspektif seseorang terhadap sesuatu untuk membuatnya menjadi lebih baik, sesuai dengan ilmu pengetahuan, etika, dan kearifan yang dianut oleh suatu bangsa.

Baca Juga: Their Finest: Pelajaran tentang Kehilangan

Dengan demikian, saya berpikir bahwa secara sederhana, mestinya pendidikan mendekatkan orang pada ilmu pengetahuan. Mengajarkan orang-orang yang telah mendapatkan pendidikan untuk mampu berpikir kritis, terstruktur, ilmiah, mendalam, dan yang paling penting adalah rasional dalam pengambilan keputusan. Akan tetapi, sepertinya itu harus dipertanyakan kembali di tengah pandemi.

Mari kita telisik apa yang terjadi di tengah pandemi ini, ilmu pengetahuan, atau sebutlah hasil dari pendidikan kita tidak bekutik. Kalimat di atas bukan mengacu kepada kegagalan ilmuan dan pakar untuk segera menemukan obat bagi Covid-19, tetapi justru sikap masyarakat yang banyak tidak mencerminkan sebagai orang terdidik. Di tengah pandemi mencuat, terjadi apa yang disebutkan oleh Tom Nichols sebagai perlawanan terhadap ilmu pengetahuan yang sudah mapan atau diistilahkan sebagai matinya kepakaran.

WHO sebagai organisasi kesehatan telah mengelurkan berbagai macam imbauan dan prosedur/protokol kesehatan dalam menangani Covid-19 ini. Imbauan tersebut tentu merupakan hasil pemikiran para pakar kesehatan dalam mengamati fenomena pandemi ini. Hal ini kemudian diterjemahkan pemerintah melalui berbagai kebijakan. Mulai dari mencuci tangan, physical distancing/jaga jarak, larangan berkumpul/berkerumun, memakai masker, dan yang paling utama adalah tidak keluar rumah jika tak ada urusan yang mendesak.

Tetapi yang kemudian terjadi, masyarakat di berbagai belahan negeri ini, masih kita temukan ketidakpatuhan pada imbauan tersebut. Mulai dari kegiatan berkumpul di pantai, bersepada bareng, ngabuburit, nongkrong, balap liar, berkumpul di masjid, dan berbagai kegiatan lain yang harusnya dihindari di tengah wabah Covid-19, tetapi justru masih saja dilakukan. Contoh yang paling menggelikan, misalnya terjadi di Parepare, Sulawesi Selatan, sebuah acara berkumpul “makkapurrung” di tengah pandemi telah melahirkan sebuah klaster persebaran Covid-19 yang kemudian diistilahkan pemkot Parepare sebagai “Klaster Kapurrung”.

Baca Juga: Mengenal Golongan Mahasiswa Benalu

Yuval Noah Harari dalam artikelnya menyebutkan bahwa cara terbaik untuk melawan pandemi Covid-19 adalah kerjasama dan kepercayaan kepada pakar dan ilmu pengetahuan (sains). Akan tetapi apa yang dikatakan oleh Harari justru diingkari. Bahkan permasalahan di atas menunjukan adanya dua fenomena: (1) orang tidak percaya pakar dan ilmu pengetahun,  (2) orang yang merasa sama bahkan lebih hebat daripada pakar.

Fenomena pertama, menghasilkan orang-orang yang bergerak sesuai dengan perasaan dan naluri mereka sendiri. Hal yang mereka yakini kebenarannya bukan dari apa yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan, tetapi yang membuat mereka senang.

Karena merasa bosan di rumah, mereka memilih mengatasinya dengan nongkrong, membuat acara, dan kegiatan-kegiatan berkumpul lainnya yang semestinya bisa mereka hindari. Teriakan pemerintah, dokter, dan pakar-pakar kesehatan kemudian menjadi angin lalu. Tidak ada kesadaran yang muncul di dalam diri mereka, tidak ada kepekaan, bahkan mungkin tidak ada lagi rasa kemanusiaan di dalam diri mereka.

Fenomena kedua, mereka yang justru merasa lebih ahli daripada pakar. Hanya bermodalkan Google, YouTube, dan informasi tak berdasar di grup WhatsApp, mereka kini merasa sudah mengetahui segalanya. Pengetahuan tanpa pijakan yang tepat, menjadi kepercayaan mereka. Hal ini seperti tentu juga menjadi hal yang menakutkan.

Baca juga: Sampar dan Solidaritas Melawan Corona

Ketika pemerintah, bahkan ulama-ulama besar sepakat dengan menyerukan untuk tidak berkumpul di masjid dan menggantinya dengan ibadah di rumah, golongan kedua ini kemudian muncul sebagai pakar baru. “Takutlah kepada Allah, bukan kepada Covid-19” atau “Berani ke ATM, berani ke pasar, tetapi tidak berani ke masjid, Anda sehat?”, kemudian dengan modal itu, mereka nekat melaksanakan ibadah berjamaan di masjid.

Apa yang dikatakan oleh ulama yang telah mendalami ilmu agama bertahun-tahun kemudian mentah di hadapan seseorang yang baru sejam lalu menonton di kanal YouTube atau baru beberapa menit yang lalu membaca pesan WhatsApp hasil terusan temannya.

Banyak dari mereka adalah orang-orang yang telah mengenyam pendidikan bahkan hingga perguruan tinggi. Tetapi pendidikan gagal mengubah cara berpikir mereka, cara mereka memandang persoalan, dan cara mereka mengambil suatu keputusan. Bahkan hal yang paling buruk bahwa mereka bahkan tidak percaya pada ahli agama, peneliti, dan  kepada ilmu pengetahuan.

Maka dari itu, di hari pendidikan nasional ini, penting untuk kita semua, orang-orang yang terlibat di dalam ranah pendidikan, memikirkan ulang tentang arah pendidikan kita. Kita terlalu jauh untuk menyebutkan bahwa masalah pendidikan kita adalah ketidakmampuan kita mneghadapi perubahan pendidikan ke arah industri digital. Ada hal yang paling dasar yang harus kita benahi. Bagaimana mengubah cara berpikir, persepsi, tindakan seseorang agar bisa percaya kepada ilmu pengetahuan. Pendidikan harus mampu meletakkan dasar pengetahuan dan sikap kritis agar mayarakat tidak terjerembat dalam informasi palsu dan hoax.

Baca juga: Mengapa Kita Mesti Melawan?

Peradaban kita dibangun dari ilmu pengetahuan, teknologi, etika, moral, serta kearifan budaya suatu bangsa. Kita menaruh banyak harapan dan kepercayaan pada pendidikan. Tetapi nyatanya, kepercayaan itu hanyalah topeng dan topeng kepercayaan itu harus segera dilepas. Pendidikan sebagai kebutuhan dasar setiap manusia harusnya mampu menjadi pelita di dalam kegelapan. Sebab, ketika pendidikan gagal menjadi penerang, maka masyarakat hanya akan menggali kuburannya sendiri.

Selamat hari pendidikan nasional.

BACA juga artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles