Sepersekian detik sebelum saya menanyakan perihal buku pesanan saya untuk seorang perempuan yang sedang berulang tahun, kabar duka tiba-tiba datang. Owner toko buku kebanggan saya dan teman-teman di epigram sedang berduka. Ayah tercintanya telah berpulang.

Saya kemudian mengurungkan niat untuk menanyakan apakah paket buku tersebut telah dikirim. Saya membayangkan kedukaannya dan itu tentu sesuatu yang berat. Kehilangan orang tua adalah kehilangan separuh dari harapan yang ada di dalam diri seorang anak. Dan itu tidak pernah mudah untuk dilalui.

Di situasi yang sulit ini, kabar tentang kehilangan adalah kabar yang mengintai siapa pun. Itu tentu sesuatu yang amat meresahkan. Tetapi, kita harus meyakinkan diri, bahwa ada takdir yang digariskan oleh langit dan tak dapat kita ubah sebagai manusia biasa. Meskipun kita harus tetap melakukan yang terbaik untuk bertahan hidup.

Baca Juga: Mengenal Golongan Mahasiswa Benalu

Berbicara kehilangan, membuat ingatan saya jauh ke masa lalu. Tepat pada tahun 2016, sebuah film berjudul Their Finest mengisahkan dengan apik tentang kehilangan. Film tersebut mengambil setting situasi perang di Inggris. Situasi yang sangat mirip dengan keadaan saat ini, meski dengan konteks yang berbeda.

Melalui tokoh Catrin Cole yang diperankan oleh Gemma Arterton, film tersebut mengisahkan tentang kehilangan, bukan hanya satu jenis kehilangan, tetapi bahkan dua jenis kehilangan sekaligus.

Dikisahkan bahwa Catrin memiliki seorang suami bernama Ellis Cole—seorang pelukis yang juga sebagai pemantau serangan udara di Inggris. Karena situasi kehidupan yang semakin sulit, Catrin memutuskan untuk bekerja membantu suami mencari penghidupan.

Awalnya, semua berjalan dengan baik. Catrin mendapatkan pekerjaan sebagai penulis skrip film pada Kementerian Informasi, tepatnya di departemen perfilman. Dia bekerja dengan baik, sebab pekerjaannya adalah keahliannya. Dengan didukung kolega yang baik, ia berhasil menuliskan satu film yang dapat memunculkan rasa optimisme di tengah perang yang berkecamuk.

Baca juga: Sampar dan Solidaritas Melawan Corona

Lantas, kehilangan seperti apa yang terjadi di kisah ini? kehilangan tersebut adalah kehilangan seseorang yang ia kasihi. Sang Suami, suatu hari mendapatkan undangan untuk menghadiri pameran dan ikut memamerkan karya-karyanya. Itu sesuatu yang baik. Tetapi, itu awal mula derita bagi Catrin. Saat ia dengan letih menempuh perjalanan jauh demi bertemu dengan suami yang telah ia janji untuk menghadiri pamerannya. Justru yang ia temukan adalah luka. Sang suami ternyata telah menemukan perempuan lain yang lebih muda dari dirinya.

“Aku ikut senang kamu berhasil,” kata Catrin setelah mendengar sang suami berkata bahwa pamerannya berhasil dan ia akan melanjutkan pameran ke kota Manchester. Kata-kata itu bersayap. Terdengar baik, tetapi sesungguhnya ia berasal dari luka hati yang paling dalam.

Waktu berlalu dan ia mencoba mengubur rasa kehilangan itu. Koleganya yang banyak membantu dalam menulis skrip ternyata menaruh hati padanya. Awalnya Catrin menolak. Bahkan sempat terjadi situasi yang “dingin” di antara mereka berdua. Tetapi bukankah cara terbaik untuk melupakan cinta yang telah pergi adalah dengan menemukan cinta yang baru. Mungkin itulah alasan Catrin mencoba untuk menerima keadaan bahwa koleganya, Tom Bukcley sungguh menyukainya.

Tetapi hidup adalah sesuatu yang tak pernah dapat kita tebak. Di hari yang sama, saat isyarat tubuh mereka telah menyatakan penerimaan satu sama lain, nasib naas menimpah Tom Bukcley. Akibat serangan udara, gedung goyah, kemudian peralatan membuat film menimpah tubuh Tom hingga tewas. Belum kering rasa kehilangan dalam diri Catrin, kini harus dia rasakan kembali. Rasanya seperti luka yang ditaburi garam. Pedih.

Baca juga: Before We Go: Hidup Selalu Persoalan Pilihan

Catrin dengan segala nasib buruk yang menyertainya membuat kita paham akan satu hal bahwa kehilangan, bagaimana pun bentuknya, selalu menyedihkan. “Kehilangan selalu menyedihkan, sebab ia seperti sebuah kematian kecil”, kata Seno Gumira Ajidarma dalam bukunya Trilogi Insiden.

Selain memahamkan kita bahwa kehilangan adalah muara dari kesedihan, film tersebut juga merekonstruksi bahwa di dalam hidup, sesugguhnya ada dua jenis kehilangan. Pertama, kehilangan seseorang yang telah pergi meninggalkanmu karena tidak lagi memiliki ikatan perasaan yang sama. Orang-orang mungkin menyebut itu adalah perpisahan, tetapi sesugguhnya bagi orang yang mencinta, itu adalah kehilangan.

Kedua, kehilangan karena kehendak langit yang tidak dapat kau halangi—kematian. Saking sakitnya, orang-orang yang ditinggalkan adalah orang yang akan merasakan bahwa dunia seperti ini bukanlah dunia yang ingin ia tempati. Tetapi apapun, sekali lagi keduanya tetaplah menyakitkan.

Pernahkah kau melihat sesuatu, dan tahu, kau menginginkannya, mengingkannya lebih dari dari segala yang pernah kau inginkan dalam hidup, dan tahu, itu takkan pernah menjadi milikmu? Aku pernah, dan kukatakan kepadamu ini serasa kau sudah tamat atau ada bara api di dalam perutmu yang terus membakar hingga akhir harimu. Saya mengutip secara penuh apa yang disebutkan di dalam film untuk menggambarkan tentang arti kehilangan.

Tetapi apa sesungguhnya yang ingin disampaikan di dalam film Their Finest? Di akhir cerita, dengan langkah yang pelan, Catrin memasuki sebuah ruangan. Tempat tersebut adalah ruang kerja dirinya dan Tom menulis skrip film. Ia mengelus mesin tik yang ada di meja. Kemudian perlahan duduk di kursi yang dahulu adalah milik Tom. Ia memulai mengetik. Memulai sebuah skrip film yang baru.

Baca juga: Mengapa Kita Mesti Melawan?

Bagi saya apa yang diguratkan dalam film adalah isyarat: sesedih apapun, kehilangan tetaplah kehilangan dan hidup tetaplah hidup. Selepas Catrin kehilangan dua hal di dalammnya hidupnya, ia mencoba untuk tetap melanjutkan hidupnnya. Ia bersedih, ia berkabung, bahkan perasaan sakit yang ia alami tak pernah dapat kita ukur, tetapi hidup tetaplah hidup. Selepas masa duka itu, atau bahkan mungkin duka itu tak pernah hilang dari dirinya, Catrin kembali menulis naskah film. Ia  sepertinya memahami, bahwa kesedihan takkan pernah mengubah takdir. Maka dari itu, sekuat apapun maut melukaimu, tetaplah melanjutkan mimpi.

BACA juga artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles