Orang-orang bergiat, bergairah dan bercinta agar terlihat cukup manusiawi. Selama jutaan tahun, manusia menyusun satu persatu pecahan gairahnya dengan bekerja. Namun saat semuanya masih segalanya. Sewaktu kehidupan yang jauh di belakang masih belum dipenuhi awal dan akhir, manusia pertama, membutuhkan sedikit saja hadiah dari alam untuk merasakan kebahagiaan. Meski mereka lalu terbenam ke wajah bumi, dan menjalani hidup sebagai dunia. Sebab mereka memilih untuk merasakan lebih banyak kebahagiaan. Beberapa orang bijak menyebut bahwa dari sanalah kutukan manusia berawal.

Manusia membesarkan dirinya dengan memperhatikan kerja alam. Pengalaman berguna untuk pertama kalinya saat manusia menyadari bahwa dengan bekerja, mereka bisa mengikuti episode kebahagiaan yang diputar oleh alam. Mereka dikutuk buat memilih alur cerita yang berulang dengan klimaks dan ending yang sama. Dan mengejarnya tiap hari.

Pada awalnya, manusia berkerja dengan menyusun budaya. Sebab asal muasal alam semesta mulai terdeteksi. Ide tentang “sesuatu yang jauh lebih besar” diperoleh dan hidup di tengah-tengah manusia dalam bentuk perintah, larangan absolut dan nasihat-nasihat dalam bentuk perumpamaan yang menciptakan tingkat yang berbeda, antara orang yang sedikit mampu dan tidak mampu menerjemahkannya. Orang suci dan orang awam lahir dari sana.

Manusia membuatkan altar dan menyebut kurbannya sebagai Agama. Keyakinan dan kutukan menguat. Beberapa orang tidak bisa bekerja sambil beribadah. Beberapa orang hanya ingin beribadah tanpa bekerja. Namun semua orang hanya ingin bahagia, dalam jumlah pengulangan yang sedikit atau merebut jatah yang banyak. Dan kesenangan yang tiada dapat memuaskan selalu menjadi prioritas utama.

Baca Juga: Lima Corak yang Harus Dimiliki Sebuah Film agar Dapat Masuk ke Dalam Genre Bong

Pola hidup manusia berkembang dengan berbagai coretan agenda setiap tahunnya. Hasrat untuk merasakan kebahagiaan semakin mengalir deras. Setiap orang merasakan dahaga yang tak dapat terpuaskan. Lebih sering dalam proses pencariaan kebahagiaan, orang-orang menggunakan perang tidak dalam bentuk metafora, benar-benar secara harfiah, bahkan ketika tidak ada alasan apapun buat berperang, beberapa orang yang dikuatkan sistem lebih suka menyebut perang dengan berterus terang.  Penjajahan dilanggengkan, kelaparan jadi alasan utama kematian. Perdamaian diterima sebagai jeda, perang bisa dimulai lagi kapan saja.

Dalam masa tenang, kesenangan bisa sangat mudah diperoleh tapi kebosanan bisa melimpah dan orang-orang bisa bunuh diri. Maka, agar tidak membosankan, diciptakanlah satu hari sebagai hari libur buat mengalirkan hiburan yang berisi kesenangan yang terbatas. Negara mengharuskannya, beberapa korporasi memberi para pekerja bonus cuti. Didukung juga oleh nasihat keagamaan, negara diharuskan mendukung hasrat manusia merasakan hiburan agar manusia bisa kembali bergairah ikut bertaruh.

Di dalam negara pasar, orang-orang disusun untuk saling menguasai, beberapa naik ke gelanggang dan turun sebagai seorang penindas. Agar terus mapan, mereka menciptakan polisi dari pabrik- pabrik dan mengangkat politikus dari selokan-selokan pampat yang bau, buat menertibkan orang-orang yang terperangkap candu hari libur yang akan mengancam beberapa orang yang candu bekerja. Dengan cara ini akses kesenangan bisa dikuasai oleh segelintir orang saja. Kebanyakan orang harus menyerahkan diri, agar tetap bisa mendapatkan akses memperoleh kesenangan. Walau telah dilahap habis-habisan.

Negara, didukung oleh kampanye buruh melukis satu hari dalam sepekan menggunakan warna merah. Hari itu beberapa mesin produksi akan berhenti, manusia digiring mengosongkan diri di pasar, tempat wisata, warung kopi, stadion sepak bola, taman-taman kota, rumah ibadah dan singgah di kampung halaman untuk merayakan hari libur dengan menjadi bagian dari perlombaan maraton mengumpulkan cuplikan-cuplikan singkat dari satu episode panjang kesenangan.

Ada yang berhasil bercinta dan merasakan orgasme yang indah. Dan berharap bisa terus-menerus mengulanginya. Di sini kita bisa merasakan, bahkan orgasme yang paling indah sekalipun tidak akan bisa membujuk kebahagiaan agar tinggal menetap. Ia harus disusun dan diulang lagi.

Manusia percaya liburan akan mendatangkan hiburan dan satu-satunya cara mendatangkan hiburan adalah dengan menjemputnya menggunakan mesin konsumsi, satu-satunya mesin yang tidak akan dibiarkan mati. Dari mesin ini beberapa orang menutup luka di hatinya. Hati yang patah dan yang tumbuh tidak akan jauh dari pasar. Dengan kata lain, sekarang, kebahagiaan tidak dapat diperoleh tanpa pengaruh pasar.

Baca Juga: Ia Membenci Dangdut, tapi Rhoma Irama Abadi

Beberapa orang menjadi “orang suci hari Senin,” mereka adalah kelompok pekerja yang membiarkan hari merahnya ditumpahkan warna hijau. Mereka mengambil lembur untuk diri sendiri namun beberapa orang yang memuncak di malam minggu akan sangat berterima kasih. Namun mereka juga bagian dari para pekerja yang sudah bekerja selama enam hari dalam sepekan mereka juga berharap waktu kerja mereka yang berlebih dan pendapatan mereka yang tidak bertambah bisa membuat mereka merasakan sedikit sensasi kebahagiaan meski sementara.

Namun dengan secuil virus, epidemi terjadi lagi. Kepanikan membanjiri jalan-jalan. Ketakutan tak berdasar itu bergetar jauh ke dalam relung paling dangkal manusia bernama kecemasan. Cemas bila pengulangan kebahagiaan berakhir, dengan kata lain kecemasan terhadap kematian.

Hari-hari yang wajar mulai runtuh berkeping-keping. Kewajaran yang tersisa adalah memenuhi hari-hari dengan mengisi kesenangan diri di dalam rumah. Sementara itu, negara terus bekerja mencari cara agar hari libur tetap terbatas bagi semua orang. Namun secara perlahan-lahan negara berbisik karena sudah kehabisan alasan, hari libur akhirnya melimpah yang membuat hari-hari bekerja mengalami kelangkaan. Beberapa pekerja harus berhenti.

Sebuah kesempatan memperoleh kebahagiaan dengan sedikit usaha muncul. Orang-orang yang masih memiliki simpanan di bank, bisa menjalani hari liburnya secara bersahaja di dalam rumah. Kesenangan bisa dirasakan dengan hal-hal kecil seperti mengajarkan anak-anak mengenai nilai-nilai kemanusiaan. Suatu hal yang tidak dapat dilakukan tiap hari. Menjemur dan melipat pakaian, memuji masakan istri dan memberinya kecupan hangat dikening jika benar-benar mencintainya. Menonton drama yang berbeda tiap jamnya. Membaca sastra fiksi dari penulis-penulis hebat, atau sekedar terharu membaca kisah cinta picisan, atau menikmati pendapat-pendapat rendahan yang beredar di media sosial, atau ikut mengupayakan bantuan bagi mereka yang berjuang mengatasi epidemi.

Namun sejauh mana manusia bisa bertahan duduk di kursi yang sama setiap hari. Sampai kapan manusia bisa bertahan pada pengulangan kesenangan yang sama dalam waktu yang berlarut-larut. Ketika hari libur telah melimpah, kata “hore” hanya bisa diserukan pada hari pertama, hari-hari selanjutnya semua akan segera mengalami kejenuhan, dan pertanyaan “hendak melakukan apa di hari libur” akan menciptakan kebingungan yang rasanya seperti mencari apa yang lebih dulu tercipta di antara ayam dan telur. Getaran dari tempat yang dangkal di dalam diri manusia akan mencuat lagi.

Baca Juga: Kalau Memang Harus Mati, Mengapa Tidak dengan Memainkan Gim Online

Di kota-kota, banjir kepanikan masih terus menimpa pikiran banyak orang. Beberapa orang yang tak terhitung memilih mengungsi dari kota mencari penghiburan tanpa hari libur di tempat asal. Sebagian orang masih berteriak menggunakan jempol tangannya, membela hak berlibur bagi seluruh rakyat. Dengan kata lain, negara dituntut harus terus-menerus menyiapkan hiburan saat hari libur melimpah.

Sementara imbauan di rumah saja, melukai banyak orang yang tidak memiliki rumah. Mereka terpaksa masih beredar di jalan-jalan kota dengan cemas. Ketakutan tidak akan dapat makan, jauh lebih menyeramkan daripada virus pembunuh sekecil 100 nanometer. Ditimpali juga dengan kesialan kerena mereka bisa setiap saat disemprot aparat pemerintahan sebagai penular penyakit. Dalam masa yang sulit, kesenangan menjadi berkurang namun hasrat kebahagiaan sedikit orang akan membunuh banyak orang.

Beberapa orang yang memiliki kuasa dan simpanan kekayaan tujuh turunan di bank, pada masa yang sulit ini, memilih tetap berdiri di tempat yang terang dan saling mengintip satu sama lain. Sedangkan mereka yang berada di tempat gelap akan selalu berkata. “Barangkali ketika pemerintah menetapkan aturan dan kebijakan, tidak ada seorangpun yang memberi tahu mereka tentang kami. Mungkin mereka memang tidak pernah melihat kami. Tapi kami melihat mereka dengan jelas.”

Sejarah selalu memberi manusia pelajaran meski satu-satunya pelajaran yang berhasil dipahami manusia hanya satu hal, bahwa manusia tidak pernah belajar. Namun di masa pandemi ini, manusia dipaksa untuk bercermin dan menoleh ke diri sendiri. Lalu mempertanyakan apakah kita masih harus bekerja dengan cara yang sama, Dilahap habis-habisan, setelah jadi ampas kemudian dibuang. Apakah kita masih perlu liburan yang membuat kita berteriak “hore!” Apakah kita masih berhasrat kembali kepada pola hiburan yang sama.

Untungnya masa depan adalah jalan terbuka bagi semua orang. Kita masih bisa memilih mempertahankan pola hidup di ujung tanduk atau kita bisa memilih berjalan dengan sedikit bekal kesenangan dan membuang prasangka di masa lalu. Menatap masa depan sebagai kehidupan yang baru. Namun kita harus segera berterima, bahwa lebih sedikit hiburan dan lebih banyak bencana alam menunggu kita di masa depan. Kita harus bersiap menghadapinya. Kita harus mulai belajar merukunkan penderitaan ini dan mengambil apa yang perlu.

Baca Juga: Cara Mengobati Tumit Keseleo Akibat Kebodohanmu Sendiri

Berharap boleh saja. Namun untuk membicarakan harapan, kita diumpamakan seperti seorang nakhoda kapal yang hanya paham mengendarai tanpa pernah tahu cara menyandarkannya. Sialnya sampai hari ini, bahkan untuk memberi harapan saja, negara tidak pernah becus. Untungnya bagi kita, hidup tanpa harapan adalah optimisme yang sesungguhnya.

BACA JUGA artikel Ma’ruf Nurhalis lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles