Nairobi yang baik, aku bingung, bagaimana sebaiknya aku memulai surat ini. Kau tahu, banyak orang yang memulai tulisannya dengan mengutip banyak pendapat ahli. Kata mereka, itu satu jurus jitu untuk menarik hati pembaca. Aku merasa kau bukan pembaca seperti itu Nairobi, sebaiknya aku tidak melakukan kesalahan kecil seperti itu. Aku lebih suka membuka surat ini dengan memberi sebuah pertanyaan untukmu Nairobi, bagaimana rasanya tertembak dua kali?

Maafkan aku Nairobi, aku harus menanyakan hal seperti itu kepadamu. Di negaraku, kau tahu, aparat kami yang ditugaskan memberi rasa aman kepada masyarakat sangat sering berperilaku yang sebaliknya. Bagian paling Timur di negaraku sudah merasakan berkali-kali rasanya di tembak langsung oleh aparat sendiri.

Baca juga: Sejumlah Buku yang Terpaksa Kubaca Lebih dari Dua Kali

Negaraku Nairobi, memproduksi banyak aparat yang tidak memiliki gendang telinga. Tahun lalu, saat aparat kami menyita beragam buku, masyarakat kami mengecamnya habis-habisan. Kemarin, mereka melakukannya lagi, mereka menuduh masyarakatnya akan menjarah, mereka kemudian mengamankan beberapa buku sebagai barang bukti, masyarakat dibuat tepuk jidat sekaligus bingung antara ingin tertawa atau menangis ketika mengetahui daftar buku yang mereka sita. Mengapa buku cerpen yang hanya bersampul bom molotov musti diangkut juga bapak-bapak aparat yang terhormat itu?

Aku tidak tahu Nairobi, kenapa aparat di negaraku sangat ketakutan dengan orang yang memiliki buku, padahal buku jika digunakan untuk melempar seseorang sangat mustahil bisa membuatnya meninggal. Aku mulai mengkhawatirkan teman-temanku. Aku takut Nairobi, temanku yang hanya kebetulan memakai kaos bergambar molotov suatu saat juga akan ditangkap meski mereka salat lima waktu dan hapal pancasila. Ini membuatku repot, aku harus memastikan temanku Wahyu Gandi tidak memiliki baju seperti itu.

Baca juga: Mengapa Kita Enggan Membaca?

Oh iya, Orang yang ditembak oleh aparat kami selalu dianggap sebagai pericuh, apakah kau juga dituduh seperti itu Nairobi?

Jawablah jika kau sempat. Untuk hal seperti itu, aku sanggup menunggu jawabanmu sampai kapan pun. Saat aku menulis surat ini untukmu, usiaku akan genap 25 tahun, bulan depan. Andai usiaku hanya sampai 35 tahun, setidaknya aku masih punya waktu 10 tahun untuk menunggu balasan suratmu Nairobi.

Nairobi yang baik, aku bertemu kau pertama kali berkat usulan temanku melihat aksimu membobol bank dan mencetak uang sendiri di serial film Money Heist (La Casa de Papel) garapan sutradara Spanyol, Alex Pina, sutradamu itu mengarahkan seorang bernama Professor yang diperankan Alfaro Morte untuk merekrutmu. Sementara kau Nairobi, diperankan oleh Alba Flores, perempuan kelahiran  Madrid yang saat ini telah berusia 33 tahun. Dia terbilang sangat berhasil memerankan peranmu di film itu Nairobi.

Aku bahkan harus menepuk jidatku sendiri saat kau mengutarakan perlawananmu atas budaya patriarki, “Let the matriarcy begin—biarkan matriarki dimulai.” Kamu memang gila Nairobi, kamu memimpikan dominasi kepemimpinan perempuan (matriarki) di tengah belantara dominasi maskulin sekarang.

Baca juga: Mereka yang Mengendap dan Membaca Bertumpuk-tumpuk Buku

Aku sangat hormat dengan berbagai keputusanmu di film itu Nairobi. Kau bahkan mampu menenangkan perempuan sebebal Tokyo; berhasil meyakinkan Professor untuk memberikan donor spermanya kepadamu terhadap rencanamu untuk menjalankan bayi tabung selepas perampokan emas, semata-mata karena kamu sangat peduli untuk melahirkan anak yang akan memiliki kecerdasan seperti Professor. Selain itu, kau mampu memahami kelembutan hati Helsinki, kau tahu Nairobi, di negaraku, orang sangat tidak ramah terhadap laki-laki seperti Helsinki, kemarin beberapa orang di negaraku membakar hidup-hidup seorang transpuan karena dituduh mencuri, kami hanya mampu menyalakan seribu lilin untuk mendukung kasusnya dituntaskan dan berharap pelaku dihukum setimpal.

Aku juga ingat Nairobi, kau memperingatkan Palermo untuk tidak menyakiti tawanan saat dia memukul tanpa ampun si botak Foucault bernama Almukarram Gandia, orang yang pada akhirnya akan membunuhmu juga. Kau memang spesies paling vokal membela hak tawanan untuk diperlakukan secara manusiawi.

Tak ada yang boleh menyalahkanmu Nairobi atas keputusanmu untuk ikut di rencana besar Professor, aku merasa kau sedang ingin menyuarakan nasib perempuan-perempuan yang sangat rentan dan kesusahan menafkahi anaknya yang tidak lagi memiliki ayah. Di negaraku juga banyak yang bernasib sama denganmu Nairobi, perempuan di negaraku dididik untuk patuh terhadap suami dan tak bisa bercita-cita untuk memiliki pekerjaan setara dengan laki-laki. Saat suami mereka meninggal atau saat mereka digugat cerai, mereka harus membanting tulang bekerja untuk menafkahi anak mereka sendiri. Kau tahu Nairobi, tempatku tumbuh memiliki aturan dari negara dan ayat-ayat dari kitab suci yang sangat gemar mendiskriminasi gender.

Baca juga: Ingatan Cuaron Tentang Meksiko, Dua Wanita Tabah yang Beda Kelas

Nairobi yang baik, bahkan ketika perempuan di negaraku mendapat pekerjaan, mereka seringkali masih di hantui dengan perlakuan kekerasan seksual di tempat kerja, BPS membuka data, satu dari tiga perempuan di negaraku pernah mengalami kekerasan seksual. BBC Indonesia pernah menerbitkan artikel yang menunjukkan hasil penelitian bahwa di seluruh Asia: Jepang, Malaysia, Filipina, dan Korea Selatan menunjukkan 30%-40% perempuan mengaku pernah mengalami kekerasan seksual di tempat kerja.

Anne M O’Leary-Kelly, Ramona L. Paetzold dan Ricky W. Griffin pada tahun 2000 dalam tulisannya yang berjudul “Sexual Harassement as Aggressive Behavior: An actor-Based Perspective” pernah menyampaikan bahwa pelaku pelecehan akan mengulangi perbuatannya terus menerus selama ia menginginkannya. Itu kabar buruk yang akan terus berulang terjadi. Aku harap anakmu Axel kecil tidak tumbuh di lingkungan seburuk itu Nairobi.

Nairobi yang baik, banyak penonton yang menggemari kau merasa kehilanganmu, aku juga termasuk di antara mereka. Aku melihat tangisanmu di dokumenter Money Heist: The Phenomenon (2020), Alba Flores yang memerankanmu tak kuasa membendung tangisannya setelah menyelesaikan scene terakhirmu saat Almukarram Gandia menembak mati kau tepat di kepala.

Padahal Nairobi, banyak pengemarmu yang sejak kau tertembak kali pertama, dibuat cemas menunggu season empat Money heist rilis di bulan April 2020.

Aku masih ingat adegan penembakan pertama itu Nairobi, Mak Lampir Sierra menipumu, ia menjadikan anakmu sebagai mata pancingan, kau terjerat Nairobi, kau memeluk sebuah boneka yang pernah kau hadiahkan untuk anakmu, Axel kecil. Kelopak matamu tiba-tiba panas dan air turun perlahan menyentuh pipimu. Kau menangis Nairobi, itu bukan tanpa sebab, waktu itu untuk pertamakali kau bisa melihat anakmu setelah sekian lama tak bertemu. Sayang sekali, peluru tajam dari penembak jitu suruhan Mak Lampir Sierra tepat mengenai dada sebelah kirimu.

Baca juga: Humor sebagai Hiburan untuk Menertawai sekaligus Menghinakan Orang Lain

Kau ingat Nairobi, Almukarram Gandia sudah memperingatkanmu di season tiga, ia memanggilmu dengan sebutan binatang dan berjanji akan membunuhmu. Ia benar-benar melakukan itu di season empat, awalnya ia menangkapmu saat di kursi roda, kemudian menyeretmu dan kepalamu ia benturkan berkali-kali di pintu tanpa ampun. Saat ia menyerahkanmu ke Palermo dkk kau benar-benar jatuh tersungkur saat timah panas Almukarram Gandia menebus kepala tengkorakmu. Selamat jalan Nairobi, entah akan seperti apa Money Heist selanjutnya tanpa kehadiran kau. Aku merasa ingin mengutuk Almukarram Gandia menjadi batu tawas saja seandainya bisa.

Nairobi yang baik, kau memang hanya karakter tokoh di film, tapi aku dan banyak penggemarmu menyimpanmu sebagai tokoh terbaik di dalam hati. Andai masih ada seorang perempuan sebaik kau di dunia yang fana dan rumit ini, bisakah aku mengharapkan perempuan itu, tentu sambil terus bernyanyi salah satu tembang lagu Mansyur S:

Walaupun kau janda, tetap kucinta.

BACA JUGA artikel Muhammad Arifin lainnya di sini

Facebook Comments
No more articles