Sebagai Pelanggan, Mahasiswa Selalu Benar, demikian Tom Nichlos menamakan satu bagian pada bukunya The Death of Expertise–lebih dikenal dengan istilah Matinya Kepakaran. Melalui bab tersebut, Nichlos mengkritik keras tentang sistem pendidikan perguruan tinggi Amerika Serikat di abad 21 yang justru mematikan kepakaran.

Nichlos menjelaskan bahwa di Amerika, saat perguruan tinggi menjamur, institusi pendidikan justru gagal memberikan pengetahuan dasar dan keahlian. Kemampuan yang harusnya didapatkan mahasiswa justru pudar dan memendar. Kemampuan berpikir kritis, menguji informasi, mengadu gagasan secara objektif dan logis alpa di tengah-tengah pembelajaran.

Salah satu permasalahan utama yang mencuat adalah adanya kedangkalan cara berpikir lulusan perguruan tinggi—tentu tidak semua kampus dan lulusan seperti itu—diakibatkan karena persoalan komersialisasi pendidikan tinggi. Kampus tidak lagi fokus pada proses mendidik, membentuk orang-orang yang menjadi pakar di bidangnya, tetapi pendidikan tinggi justru berakhir pada konsep “penjualan ijazah”. Kira-kira seperti itu diagnosa Nichols mengenai fenomena kampus di Amerika hari ini.

Lebih lanjut, Nichlos mengatakan bahwa dalam kasus yang lebih buruk, gelar tidak menandakan pendidikan atau pelatihan, tetapi hanya penanda bahwa ia rutin hadir di dalam kelas, dan yang lebih parah adalah gelar hanya sebagai penanda bahwa mereka telah melunasi uang kuliah. Pada kasus ini, Rocky Gerung sungguh memahami ini ketika ia membuat dalil “Ijazah adalah tanda Anda pernah sekolah, bukan tanda bahwa Anda pernah berpikir”. Kampus dengan metafora lumbung intelektual kemudian serasa kehilangan makna. Sikap kritis dan kreatif kemudian kehilangan arah.

Baca Juga: Memang Mematikan, Tapi Juga Menghidupi Kecemasan

Dalam buku Medan Kreativitas Yasraf Amir Piliang menjelaskan tentang bagaimana sebuah kreativitas dapat tumbuh. Mengutip Mihaly Csikszentmihalyi dari buku Creativity dijabarkan bahwa tiga hal yang utama dalam menghasilkan kreativitas yaitu: domain, ranah, dan individu. Domain adalah sistem atau aturan yang berlaku di masyarakat, ranah adalah orang-orang atau lembaga terkait, dan yang terakhir adalah individu atau orang-orang yang diharapkan menghasilkan kreativitas tersebut.

Ketiga aspek tersebut saling memegaruhi satu sama lain dalam menghasilkan kreativitas. Jika berkaca pada kasus yang dijelaskan Nichlos tentang perguruan tinggi di Amerika, hal ini kurang lebih sama dengan apa yang terjadi Indonesia. Pada umumnya, kampus kemudian menjadi semacam pasar, tempat pemerintah dan birokrat menjual pendidikan. Kampus menjadi tempat “membeli gelar”. Uang menjadi faktor dominan dalam setiap agenda. Sederhananya kita sering menyebutnya, komersialisasi pendidikan. Kampus tidak lagi menjadi “ranah” yang ramah terhadap sikap kritis dan kreativitas, kecuali kreativitas yang bisa menghasilkan uang.

Jika di Amerika Nichlos resah karena kampus kemudian tidak menghasilkan lulusan yang terdidik atau ahli di bidangnya sehingga hanya mematikan kepakaran, di Indonesia kurang lebih seperti itu, bahkan mungkin melampauinya. Banyak dari mereka yang saat ini berada di dalam kampus, tidak hanya tidak ahli, tetapi juga memunculkan sikap dan pikiran dangkal lainnya. Pada akhirnya, setiap tahun kampus hanya menambah pengangguran baru.

Baca juga: Kalau Memang Harus Mati, Mengapa Tidak Dengan Memainkan Gim Online

Seorang kolega yang kini menjadi dosen luarbiasa di salah satu PTN di Makassar pernah bercerita perihal perubahan cara pikir mahasiswa memandang nilai. Dahulu, dengan susah payah seorang mahasiswa untuk menghasilkan nilai A, bahkan kadang mentok pada nilai C yang kemudian dibungkus ke dalam ijazah. Kini, semua telah berubah, mahasiswa uring-uringan dan penuh dengan keluhan jika mendapatkan nilai B atau bahkan –A (baca: A minus). Mereka bahkan tidak malu untuk melakukan protes terhadap dosen mereka dengan dalil bahwa mereka selalu hadir di dalam kelas.

Mahasiswa kini merasa rugi jika IPK mereka tidak cum. Mengapa demikian, sebagaimana kata Nichlos bahwa mereka membayar dengan mahal untuk hal itu sebab perguruan tinggi menjajakkan pendidikan seperti menjual paket liburan. Maka tak heran jika kemudian lulus orang-orang dengan IPK 4.0, tetapi bingung hendak berbuat apa saat berada di tengah-tengah masyarakat. Mereka kehilangan arah, sebab kampus hanya menjadi tempat menunda masa dewasa untuk berhadapan dengan kehidupan yang sesunguhnya.

Di tengah wabah Covid-19 ini, sebenarnya saya masih manaruh harapan kepada mahasiswa. Saya membanyangkan mahasiswa Indonesia muncul di pemberitaan sebagai hero sebagaimana yang dilakukan mahasiswa kedokteran di Kuba. Dalam Catatan facebook Muhidin M Dahlan dan dilansir berbagai media, 28.000 mahasiswa kedokteran di seluruh Kuba mengetuk halus pintu rumah-rumah warga. Dengan Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap, mereka memastikan bahwa setiap warga tidak terdampak Corona. Muhidin menyebutkan bahwa di daerah Vedado, Havana, dokter Liz Cabbalero Gonzales (46) menemani dua mahasiswanya yang mendapat tugas mengetuk 300 rumah.

Baca juga: Alusi Pendidikan dan Bagaimana Kebetulan Bekerja

Kasus di atas mungkin berlaku khusus untuk mahasiswa kedokteran. Tetapi bukan berarti bahwa mahasiswa di bidang lain tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka bisa bergabung dengan pemerintah sebagai relawan penanganan Covid-19. Hal paling sederhana yang dapat mereka lakukan adalah membantu masyarakat yang membutuhkan, menenangkan mereka yang panik, dan mengedukasi mereka yang belum paham tentang cara menghindari penyebaran Covid-19.

Akan tetapi, apa yang saya bayangkan segalanya ambyar. Saya terkejut bahwa justru yang menjadi deadline adalah gerakan mahasiswa untuk penghapusan skripsi sebagai syarat kelulusan di strata satu (S-1). Sebagaimana petisi yang dituliskan oleh Fachrul Adam pada laman change.org dengan judul Kemendikbu_RI: Karna COVID19, Bebaskan Biaya Kuliah dan Tugas Akhir Mahasiswa Semester Akhir. Setidaknya ada tiga tuntutan mereka, (1) pembebasan dari biaya kuliah, (2) permintaan untuk mengganti skripsi sebagai syarat kelulusan, (3) meminta perpanjangan masa studi untuk angkatan 2013.  

Saya tidak keberatan dengan tiga tuntutan tersebut, sebab terlihat bahwa Fachrul Adam menulis petisi tersebut dengan sangat hati-hati dan berusaha tidak meninggalkan celah untuk dikritik. Yang mengejutkan bagi saya bahwa, petisi tersebut (hingga 4 Apri 2020) telah ditandatangani oleh 48.255 orang. Sungguhkah sebanyak itu mahasiswa yang hari ini nasibnya diambang ketidakpastian, atau justru sebagian dari mereka hanya membenalu sembari membayangkan menjadi seorang sarjana tanpa harus berdarah-darah berpikir dan membuat skripsi.

Baca juga: Sampar dan Solidaritas Melawan Corona

Jika benar bahwa di antara 48.255 orang yang bertandatangan, terdapat mahasiswa yang membubuhkan namanya karena berpikir bahwa di situasi yang sulit ini, mereka mendapat kesempatan untuk mendapatkan gelar hanya dengan ongkang-ongkang kaki di rumah tanpa mengerjakan skripsi, maka itu sungguh tidak manusiawi.

Mereka tak lebih dari seorang pencuri di tengah tokoh yang panik karena sedang terjadi perampokan. Alih-alih menolong sang pemilik, mereka justru memanfaatkan kekacauan untuk diri mereka sendiri. Mereka bukan hanya tidak menjadi pakar dan ahli di bidangnya, tetapi juga telah kehilangan hati nurani, kehilangan empati, dan tanggungjawab sosial sebagai bagian dari masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan.

Semoga dugaan saya salah, sebab jika di antara mereka ada yang berpikir demikian, maka mereka sungguh adalah golongan mahasiswa benalu!

BACA juga artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles