Penting untuk menengok kembali filsafat dan filsafat Islam itu sendiri. Agar jauh dari sangkaan orang bahwa filsafat itu menyimpang dari kebenaran Islam. Sesungguhnya filsafat salah satu pendekatan terhadap tradisi Islam agar dapat membantu menafisrkan Islam secara lebih dekat kepada apa yang dimaui oleh yang mewahyukan, terang Haidar Bagir dalam bukunya Islam Tuhan Islam Manusia.

Filsafat Islam menekankan pada independent reasoning (penalaran independen) serta tak lepas dari tafsir dalam mendekati teks agama. Kita harus percaya bahwa akal sebagai wadah penemu kebenaran dalam menafsirkan teks-teks Islam. Bagaimana tidak, pada situasi sekarang kalangan Islam banyak didominasi kecenderungan tekstual. Dengan menengok hal seperti itu, Islam memberikan kontribusi penting dalam keterbukaan sikap. Tidak lagi sebagai agama yang eksklusif.

Haidar Bagir saat diwawancarai Ahmad Sahal pada sesi kajian Islam Utan Kayu mengatakan bahwa rupanya konflik antara kaum filsuf dan kaum ortodoks (kaum tekstual) terasa sampai abad-abad belakangan ini. Tatkala konflik itu pecah, mayoritas kaum Islam cenderung memilih kaum ortodoks, sebab mereka lebih tertarik pada bahasan Islam yang simpel dan lebih tekstual.

Baca Juga:Memang Mematikan, Tapi Juga Menghidupi Kecemasan

Kalau melihat apa yang menimpa kita saat ini, di tengah pandemi Covid-19, kita sedang dirongrong konflik besar. Pernyataan resmi dari MUI, NU, dan Muhammadiyah untuk memutus rantai penularan virus ini ternyata memicu konflik. Pemicu konflik itu tak lain karena berisi imbauan aktivitas pengajian dijeda, salat berjaamaah tidak dilakukan di masjid, tapi di rumah masing-masing, serta salat Jumat yang digantikan dengan salat Dzuhur untuk sementara waktu sampai batas yang telah ditentukan

Banyak yang menilai hal tersebut kali pertama dalam sejarah. Tentu keliru, zaman Nabi pernah terjadi hal serupa. Apa yang diresahkan dalam wawancara itu sangat terlihat. Pernyataan itu tentu direspon dengan dangkal. Antarwarganet saling serang dalil dan dalih, saling tuding kafir dan sesat, tak jarang juga, orang yang belajar agamanya baru kemarin, tampil paling depan berlagak seperti ulama yang lebih daripada ulama dengan mengandalkan teks-teks dari grup whatsapp.

Padahal penafsiran teks agama atas sesuatu, tak bisa selesai hanya dengan teks dalam grup whatsapp. Ia harus selesai dalam diskursus dan menyerahkan pada ahlinya. Kekacauan seperti ini akibat karena Islam tidak lagi berorientasi pada akal dan tafsir secara menyeluruh. Sebagai contoh, kita mau bicara soal ekonomi, apakah kapitalisme atau komunisme yang lebih tepat, tentu kita akan mendiskusikan definisi keadilan terlebih dahulu. Ribet, kan?

Baca juga: Kawan Dekat yang Tinggal di Tempat Jauh

Masalah-masalah seperti ini perlu pendiskusian dan dialog secara mendalam. Tidak sekadar mengambil jalur pintas dengan hanya berbekal makna tekstualitas. Artinya apa, filsafat yang berorientasi pada akal dan tafsir tidak boleh absen. Harus ada dialog lintas budaya dan lintas historis. Tafsir serta nalar atas teks mesti bertolak pada dialog tersebut agar kita bisa melihat sejauh mana akal dan penafsiran bekerja untuk kebenaran dan keselamatan kita.

Dalam wilayah penafsiran, yang menjadi perhatian kita ialah adanya kesadaran kontekstual bahwa kehidupan manusia tidak statis, melainkan dinamis. Kedinamisannya senantiasa mengharapkan proses dialog dan dialektika.

Nah, kalau kita menarik lebih dalam dengan persoalan tersebut, kajian ini bermuara pada hermeneutika yang sama diamini oleh Haidar Bagir, salah satu jenis filsafat yang konsennya ada pada intepretasi teks. Bicara soal hermeneutika bukan lagi hal yang tabu ditelinga kita, terlebih bagi mereka yang belajar di bidang sastra atau tafsir.

Sebut saja Friedrich Schleiermacher, ia tepat dibenturkan dengan keadaan yang menimpa kita. Hermeneutika Friedrich Schleiermacher erat berkaitan dengan teks agama. Selain karena ia telah di angkat sebagai profesor teologi, pendekatan hermeneutika Friedrich Schleiermacher bertolak pada pemahaman tekstual dan penangkapan secara intuitif. Keduanya harus sejalan, katanya.

Baca juga: Mereka yang Mengendap dan Membaca Bertumpuk-tumpuk Buku

Penangkapan secara intuitif diperlukan, sebab seringkali makna tekstual masih membuka peluang bagi kemajuan penafsiran tanpa menyimpang dari makna aslinya. Lebih lanjut, sebuah teks memiliki tujuan dan berpartisipasi dalam sifat teologis dan kenyataan dunia. Kebersamaan dalam partisipasi teologi dunia kiranya dapat membuka keterbukaan informasi.

Jelasnya, penangkapan intuitif yang dimaksudkan Friedrich Schleiermacher ialah, memadankannya dengan perasaan, dugaan, firasat, serta pertanda. Maka eksistensi manusia menjadi being the world, melengkapi eksistensi kita. Dengan menempatkan manusia sebagai bagian dari kesatuan kosmis dan mempercayai kemungkinan adanya komunikasi secara intuitif. Proses mengetahui berarti proses mengada.

Begitulah hermeneutika bekerja. Friedrich Schleiermacher sangat mistikal. Terangnya, bahwa pada dasarnya dunia merupakan manifestasi plural dari ketunggalan Tuhan. Tepat seperti apa yang dikatakan oleh cendekiawan muslim Haidar Bagir, yang namanya masuk dalam daftar 500 tokoh muslim paling berpengaruh di dunia. Haidar Bagir mengatakan, tafsir kebenaran sebanyak buih yang ada di tepi laut.

Kita juga bisa mengambil contoh lain, seperi tradisi yang diresahkan Gus Baha belakangan ini. Katanya, selain pengajian umum, perlu digalakkan kembali pengajian kitab. Tentu dengan seorang pemandu yang mumpuni dalam hal itu. Sebuah kitab yang dibaca secara perlahan-lahan, dari kalimat per kalimat, paragraf ke paragraf, serta halaman ke halaman.

Baca juga: Kami yang Keras Kepala atau Dia yang Tidak Mudah Menyesal

Gus Baha sangat merindukan pengajian kitab ala pesantren. Ia merindukan intensitas, konsentrasi, kelambatan, serta refleksi. Gus Baha memberi jalan keluar bagaimana menghidupkan kembali kitab dan buku, yang sebenarnya ada tapi pada dasarnya ia mati. Apa yang dipusatkan oleh Gus Baha, ialah lagi-lagi terkait nalar dan tafsir terhadap teks-teks agama dan wilayahnya pun kembali bermuara pada hermeneutika.

Saya pikir, keresahan Gus Baha sejalan dengan Haidar Bagir, mereka menganggap hermeneutika tak boleh dipisahkan dengan teks-teks agama. Singkatnya, Friedrich Schleiermacher sejalan juga dengan istilah takwil yang berangsur-angsur berubah dengan istilah ijtihad, pemahaman berdasar pada opini. Penerapan suatu preseden hukum dalam situasi baru yang dianggap sejajar dengan konteks penetapan hukum pada mulanya. Dari sinilah upaya penafsiran melewati batas-batas literal atau tekstualitas telah dirintis.

Era ini telah terjadi pergeseran pola pikir, yang tadinya berpusat pada alam atau apa yang disebut sebagai kosmosentris lalu berpusat pada Tuhan yang kita sebut teosentris. Kemudian bergeserlah pada yang kita namai antroposentris, yang berpusat pada manusia. Karena sejatinya, manusia adalah makhluk penafsir dan penalar.

Sekarang bukan lagi saatnya unjuk-unjuk dalil siapa yang lebih benar. Siasat yang tepat dan jauh lebih efektif saat ini tentu kerjasama. Ini bukan lagi masalah pemerintah, tapi masalah kita bersama. Kalau terus seperti ini, Indonesia jauh lebih mengerikan dari Italia.

BACA JUGA artikel Alamsyah Alimuddin lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles