Di sebuah ruang tertutup, seorang lelaki parubaya bangkit dari bangsal. Sarung ber cap gajah yang tadi ia kenakan salat masih menutupi bagian bawah tubuhnya, songkok terpasang miring, kaos berwarna gelap dan merah pada matanya seperti menunjukan apa yang sedang ia pikirkan. Daeng Gassing (Samaran), diketahui pekan lalu ia dengan sang istri baru saja kembali dari umroh. Bersama puluhan jamaah lain dari kabupaten S, terhitung sejak 22 Maret—mereka harus menjalani isolasi selama 14 hari berstatus sebagai orang dalam pemantauan (ODP). Tanpa betul-betul paham apa itu ODP, Daeng Gassing sama sekali tak mengetahui dua di antara mereka dinyatakan positif tertular.

Suara samar-samar terdengar di ujung koridor tak jauh dari IGD, beberapa petugas berpakaian lengkap berlari dari satu ruangan menuju suara itu. Sedang di bagian lain, terlihat dua orang memanggil seperti meminta tolong namun terdengar kurang jelas. Dan tak lama itu semakin jelas. Boom! Sebuah tong sampah bercat kuning terpental, Orang-orang seketika terkaget.

“Assumanengko bali. De’ tomalasa, de’ tomalasa. (Keluar semua, keluar semua. Kami tidak sakit!)” Seorang pria berteriak sambil membanting tong sampah. Meski sarung yang ia kenakan tampak melorot tiap sekali amukan, ia tak tertahan. Sebagian orang dengan masker berusaha menenangkan dari jarak tak lebih dari satu meter, namun gagal. Pria itu menerobos pintu sembari memohon untuk dipulangkan. Tangisan bercampur emosi kian meledak-ledak.

“Tidak ada orang yang sakit di sini pak” ujar salah seorang yang diduga perawat

Baca juga: Kami yang Keras Kepala atau Dia yang Tidak Mudah Menyesal

Sebuah video viral di media sosial facebook. Dalam rekaman amatir tersebut menujukkan sejumlah ODP Covid-19 mengamuk ke petugas. Mereka disebutkan protes lantaran harus dikarantina setelah pulang dari ibadah umroh. Beberapa saat kemudian seorang pria berkemeja putih masuk dan mencoba menenangkan amukan itu.

“Toko tertutup, lumpuh perekonomian, anak-anak di rumah tidak makan sementara kami harus empat belas hari di sini, kemarin dijanji tiga hari. Nanti bukan corona yang bunuh kami pak, tapi stres.” Ujar seorang perempuan kira-kira berusia 60-an tahun.

Pria berkemeja putih tersebut belakangan diketahui adalah bupati Sidrap, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Baru saja ia mendengar curahan hati salah seorang warganya yang ingin segera meninggalkan rumah sakit. Sudah hampir sepuluh hari, mereka harus menjalani proses isolasi tanpa mengerti secara pasti apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan sebelumnya mereka diberitahu hanya akan diisolasi selama tiga hari.

Peristiwa semacam itu bukanlah satu-satunya, di luar sana ada begitu banyak hal serupa. Kau tahu, selain kabar kematian—apa lagi yang bisa membuat orang-orang tak kuasa menahan diri saat berada di rumah sakit, selain merasakan kebohongan dan kecemasan alih-alih memikirkan orang-orang yang bernasib sama.

Baca juga: Untuk yang #dirumahaja, Jangan Lupa Bahagia

Memang sukar membayangkan keadaan yang lebih buruk bagi para ODP, PDP, dan terlebih mereka yang positif ketimbang harus berhadapan dengan rasa takut dan kecemasan berlebih. Situasi itu seolah merampas segala yang mereka miliki dan harapkan. Bagaimana tidak, mereka mesti menanggung identitas baru yang cukup mematikan bahkan sebelum mereka benar-benar dinyatakan tak bernyawa.

Belum lagi stigma sosiologis yang bisa dipastikan terlibat pada kondisi subjek dengan bayang-bayang traumatis. Dan kau takkan paham jika menganggapnya nyata atau ada.

Selain melekatkan peristiwa traumatis pada subjek, ia juga secara nyata menghidupi kecemasan yang berbeda-beda dan sialnya menjadi satu kecemasan kolektif. Dengan kata lain, tanpa harus diberi status ODP, PDP, atau positif kita semua sudah menjadi kata ganti yang tepat dari bayang-bayang traumatis mereka. Caranya? Seperti kentut pejabat, semua orang mencium baunya tapi pura-pura tidak tahu.

Jauh di negeri pizza sana, tepatnya di Lombardy bagian selatan Italia, terdapat satu keluarga ‘habis’ dan berakhir di antara puluhan ribu kematian. Keluarga itu terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak. Menurut laporan The Sun, keempat anggota keluarga itu dikenal tak memiliki riwayat penyakit serius. Virus tersebut pertama kali merenggut nyawa sang kepala keluarga, Alfredo Bertucci (86) pada 27 Maret lalu. Ia adalah seorang pandai besi, yang kebetulan telah menyerahkan usahanya kepada kedua putranya, Daniele (54) dan Claudio (46).

Keduanya pun menyusul sang ayah. Tak lama, pada 1 April kemarin, Angela Albergati (77) istri Afredo juga meninggal. Seluruh anggota keluarga tersebut dilaporkan telah mengalami gejala terkait Covid-19 termasuk demam, batuk, dan kesulitan bernapas. Sebelum meninggal, keempatnya dirawat di rumah sakit yang sama.

Baca juga: Kawan Dekat yang Tinggal di Tempat Jauh

Massimo Giovanni Fasano, sahabat Alfredo memberi kesaksian kalau keluarga tersebut dikenal sehat dan kuat. “Kami semua sangat sedih karena kesal, ini adalah tragedi nyata” ujar Fasano. Dan Lombardy, kota di mana Alfredo beserta keluarga bermukim jadi wilayah yang paling terdampak oleh krisis pandemik ini. Sejauh ini dari data John Hopkins CSSE per Sabtu (4/4) pagi menyebut, jumlah terbanyak warga meninggal dunia ada di Italia, yaitu 14.681 kematian dari total 119.827 kasus yang terkonfirmasi. Dengan kata lain, negara dengan sistem kesehatan terbaik nomor dua itu menjadi yang paling terpukul disusul Spanyol di benua biru.

Covid-19 Itu Tidak Nyata, Bro!

Di tengah situasi seperti ini masih saja ada orang yang berpikir melampaui kenyataan. Atau lebih tepatnya bereaksi terhadap suatu abstraksi bahwa di luar sana barangkali–ada lebih banyak ketakutan disertai kecemasan berlebih, ketimbang jumlah kasus yang benar-benar dilaporkan terkonfirmasi. Sejenak saya terdiam dan mencerna kata-kata teman bgsd saya itu.

“Corona itu tidak nyata!”

Teman saya itu bukan siapa-siapa, ia bukan pembaca Hannah Arendt atau Martin Heidegger. Dia hanyalah bekas HRD, yang mesti sok tahu teori-teori psikologi praktis saat menghadapi pelamar. Buktinya akhir tahun lalu ia keluar lantaran tidak puas dengan manajemen kantornya itu.

Sengaja ataupun kebetulan, pemberitaan media massa yang menyakitkan ini sebenarnya juga dipengaruhi oleh fakta bahwa para pemilik media juga merupakan tokoh-tokoh terkemuka dalam pemerintahan Indonesia. Dalam sebuah wawancara di channel YouTube Deddy Corbuzier, juru bicara pemerintah terkait penanganan Covid-19, dr. Achmad Yurianto secara eksklusif mengaku bahwa ia mengontrol hampir seluruh pemberitaan yang berhubungan dengan pandemik ini. Salah satu alasan hal itu dilakukan menurutnya agar tidak menimbulkan kepanikan berlebihan di masyarakat.

Baca juga: Mereka yang Mengendap dan Membaca Bertumpuk-tumpuk Buku

Sebagaimana dikutip dalam video berdurasi 35 menit lebih itu, ia justru tidak mengatakannya sebagai kebohongan, melainkan mengatur kebenaran. “Paling tidak secara moril, saya tidak mengatakan saya berbohong. Cuman saya harus atur informasi karena masalah kita belum siap. Tidak semua berita baik membawa dampak baik, meskipun pada suatu saat tidak semua berita jelek juga membawa dampak jelek. Artinya bagaimana caranya memanejemen berita”. Ujar mantan dokter militer itu.

Jika kembali ke kasus Daeng Gassing beserta rombongan umroh di Sidrap, yang awalnya diberitahu hanya akan diisolasi selama tiga hari saja, tentu mengatur kebenaran alih-alih membohongi orang-orang (ODP dan PDP) sangat berpengaruh terhadap cara masyarakat kita bereaksi sekaligus menerima kenyataan, yang barangkali jika disampaikan secara jujur—seperti yang dilakukan pemerintah Korea Selatan, akan berakibat setidaknya tidak lebih mencemaskan ketimbang saat ini.

Baca juga: Memahami Sebuah Kekalahan

Karena kecemasan, menurut Heidegger berkaitan dengan ketiadaan. Kecemasan adalah keadaan mencekam yang disebabkan oleh ancaman dari ketiadaan. Namun Sartre mengartikulasikannya dalam wujud yang terbatas dan praktis. Menurutnya kecemasan dikaitkan dengan kebebasan dan tanggung jawab.

Kita bisa dengan mudah menebak betapa beratnya tanggung jawab yang dipikul tenaga medis yang berada di garda terdepan melawan virus ini. Kau bisa melihat dari berbagai hastag atau penggalang ekspresi di sosial media, “I stay at work for you, you stay at home for us”. Tapi, meski dengan kalimat itu, kita tidak bisa menebak—pun merasakan, sejauh mana kecemasan yang harus mereka hadapi saat menghadapi para pasien, yang tidak sedikit tak menerima kenyataan bahwa mereka adalah bagian dari sejarah pandemik ini.

Kita atau saya sendiri, atau dan mungkin teman saya itu bisa saja membayangkan Covid-19 yang saat ini mengintai, hanyalah bagian dari ketiadaan yang mengancam—setidaknya yang dijadikan batasan adalah diri sendiri. Terlepas dari mempreteli realitas atau terkesan meremehkan, saya merasa cukup optimistis untuk bisa ‘terhindar’ dari wabah ini: membiasakan diri untuk tidak terus menerus tertindas oleh kabar dan fakta, bahwa setiap hari ada puluhan bahkan ratusan orang yang dilaporkan positif terjangkit.

“Sulit?”

“Berdoalah ke Luhut!”

BACA JUGA artikel Wahyu Gandi G lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles