“Segala sesuatu yang berulang akan kehilangan makna”, demikian kata Milan Kundera dalam salah satu novelnya, Kitab Lupa dan Gelak Tawa. Apa yang dititahkan Kundera pada akhirnya menyelimuti kehidupan kita di tengah wabah. Tiba-tiba semua kehilangan makna dan jatuh pada lubang kejenuhan.

Saat pemerintah meminta kita untuk #dirumahsaja, anak-anak yang dulu senang bermain game, tiba-tiba bosan. Semangat untuk mengerjakan tugas dari guru mereka, tiba-tiba hilang karena setiap hari adalah perjuangan melawan tugas. Demikian juga dengan kita para pekerja, yang dulu ingin mengerjakan banyak dari rumah saja, tiba-tiba terasa mejenuhkan. Dan yang paling menyedihkan, bahwa rebahan kini kehilangan makna. Dulu rebahan menjadi sesuatu yang kita impikan saat lelah bekerja, kini kita merasa lelah untuk rebahan.

Kita kemudian seperti kehilangan arah hidup. Dunia virtual lalu menjadi salah satu medium yang paling banyak kita gunakan untuk meraba arah. Layar gawai setiap detik kita usap. Mencari-cari dari notifikasi sosial media, sembari berharap ada yang bermakna. Tetapi pembicaraan dan konten di sosial media kemudian berubah menjadi lumbung ketakutan. Kita seperti sedang terkepung ribuan bala tentara bernama Covid-19. Semua orang membicarakannya, semua orang menyebarkannya.

Baca juga: Mengapa Kita Enggan Membaca?

Sebagai mahluk berpikir, kita tentu selalu mencari hal-hal baru. Setelah lelah dengan pemberitaan tentang Covid-19, saya sendiri mencoba berlangganan dengan Netflix secara ilegal. Meski ilegal, untungya berhasil login beberapa hari. Dari ribuan daftar film dan reality show yang ada, saya memilih untuk menikmati film Marriage Story. Ternyata film pilihan saya tidak seburuk diri saya. Film tersebut ternyata film yang sangat menarik.

Berkisah tentang perceraian sepasang suami istri dengan konflik yang runyam – khas perceraian Amerika Serikat. Ada banyak fragmen yang dapat kita resapi, tetapi saya menemukan dua hal yang paling kuat bahwa (1) Hal terpenting di dalam rumah tangga adalah komunikasi (2) Perceraian, sebaik apapun selalu menjadikan anak sebagai korban.

Baca juga: Mengapa Kita Mesti Melawan?

Saya ingin menuliskan perihal kisah tersebut, tetapi saya selalu kehilangan kata saat memasuki paragraf ke dua. Akhirnya saya memutuskan untuk membaca buku. Setelah mengamati dengan teliti koleksi buku saya di rak buku, saya memutuskan untuk membuka ulang buku Si Janggut Mengencingi Herucraka karya A.S. Laksana. Bukan tanpa alasan, saya tahu A.S. Laksana merupakan salah satu penulis yang sangat peduli terhadap “kata-kata” di dalam karyanya.

Saya menutup buku tersebut saat menyelesaikan cerpen pertama yang berjudul Dijual: Rumah Dua Lantai Beserta Seluruh Kenangan di Dalamnya. Entah mengapa, pikiran saya serasa seperti sedang mengulang kembali film Marriage Story. Cerpen tersebut juga berkisah tentang hancurnya rumah tangga karena kegagalan tokoh-tokohnya dalam mengomunikasikan persoalan dan perasaan. “… kita menikah dan aku tetap merasa sendiri menghadapi masalah-masalahku” demikian salah satu penggalan dialog dalam cerpen tersebut.

Berkaca pada dua kisah di atas, saya pikir penting untuk menemukan ulang makna di balik adanya Covid-19 yang kemudian membuat kita di rumah saja. Dahulu mungkin kita sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sekarang kita tiba-tiba bisa berkumpul dengan keluarga. Setiap orang tua selalu rindu berkumpul dengan anak-anaknya, dan bukankah menyenangkan bahwa faktanya keadaan kemudian memaksa kita untuk tetap berkumpul di rumah.

Baca juga: Mereka yang Mengendap dan Membaca Bertumpuk-tumpuk Buku

Sepertinya menarik untuk mematikan tv dan menonaktifkan gawai sekadar untuk berbicara kepada keluarga kita tentang apa rencana kita. Jika selama ini terlalu banyak kata yang tak sempat tersampaikan kepada orang-orang terdekat, mungkin ini adalah waktu yang tepat. Kita butuh pembicaraan yang hangat dan menyenangkan di tengah situasi sulit seperti ini. Karena melalui perbincangan yang hangat itulah dapat mengalir kebahagiaan yang dapat meredam rasa bosan, panik, dan stres.

Selama ini, karena sibuk bekerja, kita tidak pernah tahu bahwa bapak, ibu, dan atau kakek kita sangat senang jika kakinya dipijit sebelum tidur. Kita mungkin juga tak tahu bahwa betapa menyenangkannya makan di meja makan bersama dengan keluarga. Hal-hal yang selama ini luput kita lakukan karena dengan dunia kerja, mungkin adalah waktu yang tepat untuk kita lakukan. Di setiap kesempatan itu, sungguh tepat untuk membicarakan hal-hal yang menyenangkan.

Baca juga: Belajar Bagai Sufi dari Umpatan dan Transgender Panaikang

Selain itu, di situasi yang sulit ini, berbagai hal yang kita lakukan mulai kehilangan makna, maka penting untuk saling menyemangati. Penting untuk saling memberi rasa optimisme bahwa semua pada akhirnya akan baik-baik saja.

Kita semua terjebak di dalam kesulitan. Tetapi kita harus bersyukur dengan apa yang kita alami hari ini.  Di rumah mungkin kita merasakan kejenuhan, tetapi ada banyak orang yang ingin di rumah tetapi tidak bisa. Lihatlah petugas medis, mereka  harus menambal ketakukan mereka untuk tetap berada di garis depan, dan bahkan untuk sebagian orang, ada yang ingin di rumah tetapi harus tetap bekerja demi sesuap nasi. Maka dari itu, untuk mereka yang #dirumahaja:  jangan lupa bahagia.

BACA juga artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles