Dalam dua wawancara baru-baru ini, pakar linguistik dan aktivitis sayap kiri ikonik Noam Chomsky mengatakan krisis terkait Covid-19 menggambarkan kelemahan inheren yang didorong oleh profit untuk menghadapi pandemi global.

Bagi banyak pemikir atau kritikus lawas yang intens membicarakan kapitalisme global, Covid-19 jadi contoh baru yang teramat jelas, tentang bagaimana sistem ekonomi kita yang berlaku saat ini tidak lagi melayani kepentingan menyeluruh. Di antara yang mengatakan demikian, ada seorang intelektual publik yang kini berusia 91 tahun, Noam Chomsky. Kini ia menggambarkan dirinya sebagai anarko-sindikalis, yang belakangan membagikan pemikiran serta gagasannya tentang krisis pandemi global Covid-19, dalam dua wawancara baru-baru ini.

Pekan lalu, ketika ia diwawancarai oleh situs berita Chile, El Mostrador, Chomsky memberikan pencerahan bagaimana krisis menyinari berbagai industri, terkhusus farmasi besar, lebih umum lagi pada sistem neoliberalisme yang berlaku di banyak negara. “Seperti perubahan iklim secara ekstrim, pandemi ini adalah kasus kegagalan pasar secara besar-besaran,” kata Chomsky kepada situs berita berbahasa Spanyol itu. “Untuk perusahaan farmasi swasta, sinyal pasarnya sudah sangat jelas: Jangan buang sumber daya untuk mempersiapkan pandemi sebelumnya.”

Baca juga: Kisah Penderitaan, Teks, dan Kejahatan yang Ditulis

Chomsky, yang kita tahu seorang aktivis sosial selama hidup, sekaligus profesor linguistik di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat, mengatakan secara gamblang bahwa pemerintah Amerika Serikat bisa saja ikut campur tangan membendung krisis ini seperti di Korea Selatan, namun itu akan “bertentangan dengan ideologi neoliberal yang berpusat pada hak-hak suci terkonsentrasi akan kekuatan swasta. Peran pemerintah, hanyalah mensubsidi dan memberikan hak paten terlampau tinggi, memastikan keuntungan besar, namun tidak mengganggu hak istimewa dan kekayaan.”

“Is the species even viable?”

Di hari Sabtu (28/3), Chomsky ngobrol santai bersama pendiri gerakan Democracy in Europe Movement 2025 (DiEM25) kelahiran Kroasia, Srecko Horvat, dan tayang di kanal YouTube DiEM25. Chomsky mengungkapkan pandemi kesehatan saat ini melanda hanyalah satu dari sekian banyak krisis menjulang, yang dihadapi umat manusia seperti halnya perubahan iklim, ancaman perang nuklir, dan migrasi besar-besaran.

“Covid-19 punya konsekuensi yang menakutkan, tetapi tetap akan ada pemulihan,” kata Chomsky dalam video berdurasi 30 menit lebih itu. “Yang lain tidak akan ada: sudah selesai. Jika kita tidak berurusan dengan mereka, kita sudah berakhir.”

Baca juga: Refleksi Orang Tua dan Guru di Tengah Wabah Corona

Aktivis itu kemudian mengungkapkan sebuah “ironi” dari laporan baru-baru ini bahwa Kuba, yang kita tahu telah sangat menderita akibat sanksi Barat (diembargo oleh AS dan Sekutunya) selama puluhan tahun sejak Oktober 1960, justru dengan percaya mengirim dokter dan tenaga medis terbaiknya untuk membantu negara-negara Eropa, seperti Italia dalam membantu memerangi Covid-19. Lalu Amerika? Coba tanya pada Trump?

“Maksud saya, hal itu sangat mengejutkan sehingga Anda tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Kita tahu, Jerman tidak dapat membantu Yunani saat krisis, tetapi Kuba dapat membantu negara-negara Eropa,” katanya. Lebih lanjut, ”ini sama seperti ketika Anda melihat ribuan mayat di Mediterania, mereka melarikan diri dari negara-negara Eropa yang telah hancur, dan mereka justru dikirim ke kematian mereka di Mediterania, Anda tidak tahu kata apa yang cocok menggambarkan itu.”

Baca juga: Sampar dan Solidaritas Melawan Corona

Chomsky, yang lahir pada tahun 1928 mengatakan respons para pemimpin tertentu dapat menyulap “ingatan ke masa kanak-kanak seperti mendengar Hitler mengoceh di radio kepada orang banyak, yang memuja dia dalam demonstrasi di Nuremberg … seseorang mulai bertanya-tanya, apakah manusia jenis itu bisa hidup dengan tenang.”

Satu-satunya harapan kita adalah partisipasi yang lebih demokratis. “Jika kita menyerahkan nasib kita pada badut-badut sosiopat, hidup kita akan berakhir,” katanya.

Diterjemahkan langsung oleh Wahyu Gandi G, dari artikel Chomsky On Coronavirus: Why Neoliberalism And Big Pharma Can’t Respond oleh Carl Karlsson dimuat di worldcrunch.com

Facebook Comments
No more articles