Saat Anda terlelap, lelah selepas mengajar selama delapan jam di sekolah, tiba-tiba gawai Anda berdering. Sebuah panggilan dengan nomor tanpa nama – asing dan tidak diketahui. Dengan sigap anda mengusap layar gawai: halo, assalamu alaikum.

Seseorang di balik telepon, dengan suara yang terdengar seperti umur parubaya menjawab salam dengan singkat. Setelahnya:  sebuah pernyataan keberatan dengan nada yang sedikit emosi.

Ya, seorang orang tua/wali murid menelpon. Ia keberatan terhadap hukuman yang didapatkan anaknya di sekolah. Murid tersebut merupakan anak wali saya, yang pagi hari tadi mendapat pendisiplinan dari guru lain karena membolos sekolah. Saya harus menyelesaikan persoalan itu, sebab itu adalah bagian dari tugas saya sebagai guru dan wali kelas.

Saya tak perlu menjelaskan lebih lanjut apa yang terjadi kemudian, tetapi pada akhirnya saya memahami bagaimana keterbelahan pandangan antara orangtua/wali murid dengan guru yang mengajar anak-anak mereka di sekolah. Meski tidak berlaku secara menyeluruh, tetapi acap kali di lingkungan saya, bahkan teman-teman pengajar yang lain, mengeluhkan tentang bagaimana sikap dan perilaku (attitude dan tatakrama) siswa di sekolah dan sulitnya membangun kerjasama dengan orang tua untuk mendidik siswa.

Baca juga: Sampar dan Solidaritas Melawan Corona

Benar bahwa tidak ada siswa yang bermasalah, yang ada adalah seorang guru yang belum mampu menemukan formulasi yang tepat untuk mendidik seorang siswa. Akan tetapi, dengan berbagai karakter dan persoalan yang ada, menjadikan guru sebagai satu-satunya kambing hitam dari segenap persoalan yang muncul di kalangan pelajar, tentu bukanlah hal yang tepat.

Guru juga merasa semakin tertekan karena Komisi Pelindungan Anak Indonesia (KPAI) kerap kali “terlalu dalam” mengurusi persoalan anak saat ada proses pendisiplinan yang kemudian berakhir pada kesalahpahaman dengan orangtua/wali siswa. Guru akhirnya semakin berada di dalam situasi yang dilematis. Di satu sisi mereka harus mendidik seorang anak untuk berpengetahuan dan memiliki etika, di sisi yang lain, kerap kali tindakan pendisiplinan terhadap anak berakhir pidana guru.

Keputusan hampir seluruh pemerintah daerah meliburkan atau membelajarrumahkan anak dari berbagai jenjang pendidikan kemudian menjadi hal menarik. Selain hal itu menjadi upaya untuk mencegah penyebaran virus corona, sekaligus menjadi masa yang tepat untuk mengevaluasi proses pendidikan kita.

Baca juga: Alusi Pendidikan dan Bagaimana Kebetulan Bekerja

Orang tua kemudian mendapatkan tanggungjawab untuk memastikan bahwa anak-anak mereka belajar di rumah sebagaiamana layaknya belajar di sekolah. Guru memang tetap menjadi guru bagi siswa melalui pembelajaran daring, akan tetapi tanpa peran orang tua yang signifikan, niscaya proses membelajarurmahkan siswa tidak akan menghasilkan apa-apa.

Orang tua dituntut untuk menjaga ritme belajar siswa sebagaimana layaknya belajar di sekolah. Ada jadwal dan rentetan pelajaran yang terus dipantau guru melalui media daring, sedangkan orang harus memastikan bahwa semua itu harus berjalan dengan baik. Peran orang tua yang merangkap sekaligus sebagai guru (secara pragmatis) tentu akan menjadi bahan yang menarik untuk dievaluasi.

Melalui kebijakan membelajarrumahkan anak selama dua pekan, tentu akan menampilkan berbagai macam karakter anak saat belajar. Malas, ogah-ogahan, tidak mendengar, tidak bekerja tuntas, dan hasrat untuk bermain yang lebih tinggi dibanding belajar. Karakter-karakter tersebut mungkin saja tidak pernah diketahui oleh orang tua dan hanya ada saat di sekolah. Maka tak mengherankan jika tiba-tiba di status WhatsApp muncul berbagai macam keluhan orang tua dalam mengontrol anak-anak mereka dalam belajar.

Baca juga: Kalau Memang Harus Mati, Mengapa Tidak Dengan Memainkan Gim Online

Setelah dua pekan tersebut (apabila situasi membaik), tentu dapat dijadikan oleh orang tua untuk melihat diri lebih dalam tentang proses mendidik anak. Dengan membayangkan bahwa guru tidak hanya mendidik seorang anak, tetapi ada puluhan anak dengan berbagai macam karakter tentu menjadi sebuah tugas berat. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyadari bahwa guru tidak dapat menanggung sepenuhnya tugas dan beban moral pendidikan seorang anak. Harus ada bantuan orang tua untuk membentuk perilaku dan pengetahuan anak.

Pada skala waktu 24 jam, waktu anak di sekolah hanya kurang lebih 6-8 jam saja, selebihnya ada pada lingkungan keluarga di rumah. Melimpahkan segala “persoalan anak” sebagai ketidakbecusan guru bukanlah tindakan yang tepat. Orang tua harus memiliki dan merasa punya tanggungjawab yang sama dalam proses pendidikan anak, dan setiap masalah yang ada harus diselesaikan bersama, bukan justru menyalahkan guru mereka.

Sisi lain yang harus kita lihat pada kebijakan membelajarrumahkan siswa adalah kelemahan sistem dan kegagapan guru – meski tidak semua — menghadapi proses pembelajaran jarak jauh. Dengan peralihan sistem pembelajaran berbasis daring, terlihat bagaimana sistem pendidikan kita masih memiliki banyak celah yang mesti dibenahi.

Baca juga: Melihat Makassar dari Jarak yang sangat Dekat

Pertama, tidak adanya dukungan yang mamadai untuk menjadikan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien. Forum-forum daring yang digunakan belajar seperti zoom, google clasroom dan berbagai macam platform lainnya banyak dikeluhkan siswa dan guru. Selain jaringan yang belum seluruh Indonesia mamadai, juga biaya akses yang mahal. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak sepenuhnya siap menghadapi apa yang kita sebut sebagai revolusi industri 4.0 di bidang pendidikan. Pemerintah tidak menyediakan platform yang mamadai dan standar sehingga bisa digunakan secara bersama dan stabil.

Selain itu, kegagapan juga dialami oleh guru. Jika selama ini sistem pembelajaran dilakukan dengan interaksi secara langsung dengan siswa, tiba-tiba harus menghadapi situasi pembelajaran berbasis daring. Guru akhirnya kebingungan akan melakukan apa. Hal ini kemudian diperparah oleh situasi dan perekonomian orang tua siswa yang tidak sepenuhnya baik sehingga tidak mampu menyediakan fasilitas (teknologi) pembelajaran yang memadai.

Akhirnya, guru terjebak pada “sistem tugas” yang harus saya akui bahwa itu merupakan satu dari beberapa yang paling mudah untuk dilakukan. Tugas siswa akhirnya menumpuk yang justru menjadikan siswa menjadi stres. Beban mereka seolah tiba-tiba menggunung dan harus segera diurai satupersatu. Padahal guru seharusnya menjadi mitra dalam belajar dua arah, sebab tidak semua hal dapat diselesaikan dengan penugasan.

Baca juga: Sulli, Sudahkah Kita Bahagia?

Dengan demikian, selepas wabah corona berlalu, pemerintah, guru, orang tua dan seluruh stekholder memiliki banyak catatan penting yang mesti kita benahi bersama. Sebagai penutup dalam tulisan ini, saya hanya ingin menuliskan kembali sebuah tulisan di dinding sekolah yang saya temui sebelum libur:

Guru bukanlah dewa yang selalu benar, dan siswa bukanlah kerbau yang selalu salah. Demikian seorang siswa menulis dengan spidol hitam di tembok dan saya tahu bahwa itu adalah kutipan dari penulis buku Catatan Seorang Demonstran, Soe Hoek gie.  

BACA juga artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles