Musik berdendan di tengah ingatan yang rentan. Sebuah janji pertemuan malam itu dengan kolega. Dari jauh ia terlihat dengan samar. Tetapi itu sungguh dia, seorang kolega yang telah lama tak ia jumpai.

Temu malam itu diawali sebuah perbicangan. Gelak tawa berdendang di antara meja-meja yang bejejer rapi. Musik, tawa, dan perbicangan berbaur menjadi sebuah alunan suara yang merekah.

Malam terus berlalu dengan perbicangan yang masih hangat. Saya membayangkan, bahwa perempuan yang berprofesi sebagai guru dansa tersebut bercerita tentang banyak hal perihal murid-muridnya. Sementara si kolega yang juga seorang perempuan—yang merupakan warga negara asing tetapi tak asing baginya berbicara tentang bisnis serta kisah lawatannya ke Indonesia beberapa hari ini.

“Apakah kau masih mahir berdansa?” kira-kira, seperti itulah pertanyaan perempuan yang berusia 31 tahun tersebut menantang koleganya berdansa. Pertanyaan itu menghantarkan mereka ke lantai dansa. Perempuan tersebut kemudian menggenggam tangan kiri sang kolega, sedangkan tangan kanannya itu tepat di pundak sang kolega.

Baca juga: Before We Go: Hidup Selalu Persoalan Pilihan

Satu, dua, tiga gerakan pun berlalu dengan mengikuti alunan musik.

Hidup selalu punya misteri. Tak ada yang benar-benar tahu, pertemuan di lantai dansa malam itu berakhir dengan luka dan duka baginya. Perempuan asing tersebut divonis positif virus corona a.k.a covid-19. Sementara itu, beberapa hari setelahnya dipastikan bahwa perempuan 31 tahun tersebut juga dipastikan positif corona bersama dengan ibunya, perempuan yang sudah berumur 63 tahun.

Berawal dari lantai dansa, corona dengan segala kengerian yang tersiar dengan penuh duka. Tak ada yang harus disalahkan, sebab kehidupan global memang membuat manusia mudah untuk saling mengunjungi satu sama lain.

Hari demi hari orang-orang yang dinyatakan positif terjangkit virus corona semakin bertambah. Kebijakan demi kebijakan diambil pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Organisasi kesehatan dunia, WHO, telah menyatakan bahwa Covid-19 merupakan sebuah pandemik. Bahkan dengan khusus, WHO menyurati presiden untuk segera mungkin menyatakan darurat nasional virus covid-19.

Lantas apa yang harus kita lakukan?

Albert Camus, seorang filsuf asal Perancis menulis sebuah kisah menarik terkait sebuah wabah. Ia tuliskan dalam satu novel berjudul La Peste yang kemudian di Indonesiakan menjadi Sampar.

Baca juga: Mengapa Kita Mesti Melawan?

Dikisahkan bahwa, sebuah kota bernama Oran, tiba-tiba terjangkit suatu virus yang mematikan. Korban berjatuhan dan masyarakat dilanda kepanikan, kecemasan, dan tentu saja ketakutan yang mendalam. Kota tersebut kemudian diisolasi dan orang-orang harus saling menolong untuk bisa bertahan hidup.

Camus memunculkan berbagai macam perangai melalui tokoh-tokoh di dalam cerita. Mulai dari mereka yang egois, memikirkan diri sendiri, hingga mereka yang mencari keuntungan di tengah wabah. Dikisahkan di awal kisah, Garcia, Gonzales, dan Cottard, hingga tokoh-tokoh dengan karakter seperti Raymond Rambert hadir dengan segala macam ketidakpeduliannya kepada mereka yang menderita.

Tetapi di manakah seorang Camus di dalam kisah yang mengerikan itu, ia adalah seorang tokoh bernama Dokter Rieux. Orang “asing” yang berada di kota Oran tetapi menjadi penggerak dalam membantu mengatasi wabah. Ia digerakkan oleh kemanusiaan untuk membantu sesama manuasia. Orang-orang pada akhirnya ikut tergerak dan membangun solidaritas untuk melawan wabah menyedihkan itu.

Baca juga: Kisah Penderitaan, Teks, dan Kejahatan yang Ditulis

Dalam sebuah esai yang berjudul Terlibat di Sisi Korban Menghadapi Kebathilan Absurd. A. Setyo Wibowo merangkum satu gagasan besar Camus melalui novel sampar tersebut sebagaia berikut “Camus melakukan pembelaan korban karena menurutnya, manusia memiliki nilai dalam dirinya sendiri”. Camus percaya bahwa manusia punya nilai dan kita harus menjadikannya sesuatu yang berharga. Sejatinya manusia adalah mahkluk yang menderita, maka harus ada solidaritas bersama untuk melawan penderitaan tersebut.

Berkaca pada novel Sampar dan bagaimana Covid-19 menyerang berbagai manusia di belahan dunia, maka salah satu jalan terbaik adalah menumbuhkan rasa solidaritas untuk bergerak bersama melawan pandemik tersebut. Yuval Noah Harari dalam artikelnya di Time  yang berjudul In the Battle Against Coronavirus, Humanity Lacks Leadership mengatakan bahwa yang harus dilakukan adalah, bahwa negara harus bekerjsama, orang-orang perlu mempercayai pakar, warga negara penting untuk mempercayai otoritas publik (pemerintah) dan negara-negara harus saling percaya.

Baca juga: Ketika Tuhan Membela Pengkhianat

 Hal ini dapat kita mulai dengan hal-hal yang paling mendasar seperti #socialdistance dan #lockdownindividu. Saat aktivitas atau pekerjaan dapat dilakukan di rumah, sebaiknya tetap di rumah saja. Hal ini dapat mengurangi risiko penyebaran virus corona secara meluas. Akan tetapi, jika kehidupan memaksa kita untuk tetap bergerak, beraktivitas dan bepergian, maka perlu adanya socialdistance. Jaga jarak, tidak bersentuhan, menghidari kerumunan massa, dan yang paling utama adalah tetap menjaga kebersihan dan kesehatan.

Dimohon untuk tidak menjadi manusia bebal. Menjadi manusia yang berpikir bahwa dirinya kuat dan tidak akan terbunuh oleh virus semacam corona karena melihat angka kematian yang berada di kisaran 2%. Hal lain yang mesti dpikirkan bahwa corona menyebar dengan sangat cepat. Corona adalah virus yang berbahaya, terutama bagi mereka yang rentan, seperti orang tua, dan orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu.

Corona mungkin tidak membunuhmu, tetapi seseorang bisa melahirkan korban yang lain: saudara, anak, terutama orang tua yang ada di rumah. Yang harus dipikirkan bahwa ada begitu banyak orang tua yang di Indonesia, dan sebagaimana postingan asumsi.co, ibu saya bukan hanya sekadar angka, selain jumlahnya yang jutaan, setiap orang tua pasti punya orang-orang yang menyayanginya.

BACA juga artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles