Dua puluh empat jam sebelum ajang Oscar digelar, saya cemas. Kecemasan saya rasanya konstan pada angka 80, namun terus meningkat sampai ajang Oscar mengumumkan bahwa Parasite berhasil memenangkan empat nominasi. Senyum lalu merekah di wajah saya. Setelah berkali-kali menganggap bahwa rasanya ajang Oscar hanya dibuat untuk Hollywood dan orang-orang berkulit putih saja. 

Namun Bong Joon Ho telah membocorkan payung kategori-kategori film-film Asia untuk menjadi yang terbaik di antara yang terbaik tanpa harus melindungi diri di tengah guyuran hujan kapitalisme global. Seperti anggapan sederhana bahwa film disebut go internasional jika dialognya dipenuhi bahasa Inggris atau diperankan oleh orang -orang yang berbahasa Inggris. Ini pelajaran berharga bagi dunia perfilman di luar Hollywood yang masih disisipi mental Inferiority Complex.

Pelajaran yang penting juga bagi Bong Joon Ho untuk tidak memaksakan diri bermain dengan nama-nama besar aktor Holywood. Snowpiercer, The Host dan Okja punya aspek garing ketika pemain berbahasa Korea berbicara dengan pemain yang menggunakan bahasa Inggris.

Adegan-adegan itu sangat menganggu jika di tengah percakapan mereka tiba-tiba bisa nyambung tanpa penerjemah atau alat penerjemahan. Meskipun adegan-adegan percakapan dua bahasa itu bisa menjadi lahan komedi, tapi rasanya tidak cukup lucu ketimbang percakapan para aktor dalam bahasa korea yang memang selalu kuat.

Maaf menyela: Saya salut ketika Bong Joon Ho berpidato menggunakan bahasa Korea sebanyak empat kali kesempatan. Itu waktu-waktu yang singkat tetapi sudah cukup buat menyampaikan “turun berduka cita atas kematian bahasa Inggris.” Saya jadi punya alasan mencaci maki Ujian Nasional untuk mata pelajaran bahasa Inggris, sebagai bahasa yang melanggengkan kolonialisasi barat dengan menciptakan penjajah dari kaum sendiri. Terdengar serius sekali yah.

Di ajang Oscar, Parasite mencatat namanya sebagai film Asia pertama yang memenangkan ajang Oscar. Dan Bong Joon Ho adalah tokoh utama di belakang sejarah itu, sudah seharusnya tahun 2020 menjadi tahun emas dari perjalanan Bong Joon Ho membentuk karir kepenulisannya lewat pahatan-pahatan yang detail, kecerdasan yang tajam, kepribadian yang kreatif, dan kesadaran akan ketimpangan kelas.

Soal keahliannya yang terakhir, rasanya ketimpangan kelas adalah realitas kita semua. Untuk melihatnya sungguh mudah, hanya dengan membuka jendela rumahmu. Dan untuk menyadarinya harus sedikit mengeluarkan tenaga. Naiklah ke gedung tertinggi di kotamu, lalu lihatlah permukaan.

Selain beberapa pujian itu, Bong Joon Ho memiliki keahlian memutar balikkan konvensi genre. Jika kamu menyebut Memories of Murder sebagai film bergenre misteri, maka Bong Joon Ho akan meladeni tebakan-tebakan kamu dengan memunculkan peran detektif untuk menyampaikan bahwa diakhir cerita barangkali kasus akan terungkap.

Tapi justru sebaliknya, logika induktif yang dipakai dalam arus besar film-film genre misteri sama sekali tidak berguna. Sampai Memories of Murder selesai, pelaku kejahatan dalam film itu tidak terjelaskan. 

(Sebelum kamu tahu bahwa Memories of Murder memang diangkat dari kisah nyata tentang pembunuhan berantai dari tahun 1986–1991 di Hwaseong, Korea Selatan yang baru terungkap pada tahun 2019. Tapi pilihan untuk mengangkatnya sebagai film adalah pilihan cerdas. Kasus nyata itu setidaknya telah menyuarakan satu hal, bahwa tidak semua kasus kejahatan yang misterius bisa dipecahkan hanya karena kehadiran satu orang detektif. Oh tidak. Di Indonesia kasus penghilangan aktivis lebih runyam, alih-alih membutuhkan rombongan detektif yang narsistik, seribu Sherlock Holmes saja tidak cukup. Rasanya sementara ini, upaya saling mengingatkanlah yang kita perlukan untuk menghukum pelaku-pelaku penghilangan aktivis itu.)

Atau film The Host kelihatannya masuk dalam genre sci-fi atau fiksi ilmiah dengan munculnya seekor monster dari sungai yang tercemar bahan kimia berbahaya. Sampai film ini tuntas, arus cerita yang mengalir justru soal perjuangan sebuah keluarga kecil dari kelas bawah yang bersatu kembali untuk menyelamatkan satu anggota keluarganya yang terperangkap di sarang monster.

Tidak ada kumpulan hero eksentrik yang muncul untuk menghadapi monster dengan kekuatan aneh atau peralatan-peralatan canggih ala Marvel dan DC. Monster itu mati di tengah solidaritas kelas, demonstrasi massa dan sebuah tiang rambu lalu-lintas.

Sepertinya itulah tujuannya, Bong Joon Ho membuat film bukan untuk genre apapun. Dari perjalanan karirnya dia memang sempat menyatakan bahwa “dia hanya ingin menonton film yang dia buat sendiri”. Tapi kalau memang mau memaksakan kebiasaan “jorok” kita yang senang mengelompokkan segala sesuatu, misalnya untuk membentuk referensi yang membantu kita saat memesan tiket bioskop atau mendownload film dari situs ilegal versi Kementrian Komunikasi dan bla-bla-bla. Rasanya film-film Bong Jon Hoo cukup disebut sebagai genre Bong.

Kalau mau mendefenisikannya, tentu secara harfiah, Genre Bong bisa diartikan sebagai sebuah genre komedi tragis yang tersampaikan lewat kecemasan yang membuncah menjadi unsur yang dapat ditertawai, atau genre Bong adalah genre dengan unsur pemanfaatan sudut gelap dari ketimpangan kelas yang diperjuangkan lewat solidaritas keluarga kelas bawah. Dan kedua defenisi di atas berkombinasi dalam alur cerita yang tidak dapat diprediksi.

Lalu untuk memasukan sebuah film ke dalam genre Bong ada beberapa corak yang harus ditampilkan. Corak-corak ini menurut saya selalu muncul dalam film-film Bong Joon Ho. Berikut daftarnya,

Penggunaan Fogging Nyamuk Atau Visualisasi Pengasapan

Visual asap ini setidaknya muncul dalam tiga film Bong Joon Ho yakni Parasite, Barking Dogs Never Bite dan The Host. Dalam film Parasite, alat fogging nyamuk menyemburkan asap saat keluarga Kim Ki Taek sedang sibuk mengemas bungkusan pizza. Dalam film Barking Dogs Never Bite, visual pengasapan muncul saat Yun Ju berada di taman bermain untuk melancarkan misi pembunuhan seekor anjing imut milik seorang nenek kesepian.

Visual pengasapan juga dimunculkan Bong Joon Ho dalam The Host saat keluarga Park Gang Do berduka di dalam ruang pemakaman atas kematian anak-cucunya setelah merebak berita adanya virus yang menular dari seekor monster yang telah mengamuk di pinggir sungai Han.

Dalam tiga film ini, pengasapan selalu divisualisasikan saat ruang masyarakat kelas bawah tersorot kamera. Sepertinya Bong Joon Ho ingin mengirim pesan bahwa ruang kelas bawah memang selalu dicurigai atau dianggap Lain (Liyan dalam istilahnya Goenawan Mohamad) sebagai sumber penyakit, sumber bau, sumber kejahatan oleh masyarakat kelas atas dan penguasa sebagai pengatur status Subjek.

Maaf menyela lagi: Saya teringat seorang Menteri ketika menulis paragraf di atas. Apa yah kalimatnya. Kalian pasti tahulah. Tidak tahu. cukup ketik “pendapat kontroversial Yasonna Laoly” di laman pencaharian. Internet bisa membantumu memaki. Tapi jangan sampai diucapkan. Cukup dalam hati. Sekarang pemerintah mirip Voldemort. Husssst.

Retardasi Mental Atau Keterbelakangan Mental

Catatan pengantar: Retardasi mental timbul karena beberapa resiko seperti, bawaan genetik, sosioekonomik, pengaruh lingkungan, kelainan metabolik, trauma, idiopatik dan infeksi maternal seperti infeksi rubela. (Dicopot dari wikipedia).

Unsur penokohan ini muncul hampir disemua film garapan sutradara Korea Selatan ini. Mencari tahu soal mengapa Bong Joon Ho selalu memunculkan tokohnya dalam karakter retardasi mental, sungguh menyenangkan. Seperti mencari tahu mengapa rumah sakit jiwa lebih menyeramkan ketimbang rumah sakit umum. 

Karakter retardasi mental menjadi tokoh utama dalam peran Yoon Do Joon dalam film berjudul Mother. Karakter yang justru tak tertebak sebab sanggup melempar kepala seorang siswi SMA menggunakan batu kali hingga tewas berlumuran darah, hanya karena kesal disebut idiot. 

Dalam Barking Dogs Never Bite ada Shadow Man yang diperankan Kim Roi Ha yang juga memiliki keterbelakangan mental namun berusaha memasak seekor anjing menggunakan bumbu pilihan di atap apartemen, hingga terjadi adegan kejar-kejaran antara Hyeon Nam, petugas apartemen yang sudah lama mencari anjing itu.

Dalam Memories of Murder, ada karakter Baek Gwang Ho yang berperan sebagai seorang pemuda yang justru menjadi saksi kunci dari puluhan saksi atas kasus pemerkosaan yang diakhiri dengan pembunuhan berantai, sebelum ia lari ke tengah rel kereta api dan tewas dengan tubuh yang hancur ditabrak kereta, meninggalkan dua pasang sepatu dan kasus pembunuhan serta bukti-bukti yang semakin menguap.

Dalam film The Host, Song Kang Ho yang jadi bapak-bapak berambut pirang juga memiliki ketidaksanggupan intelektual dan keterbelakangan mental juga, tetapi ia sanggup membunuh monster dengan sebuah tiang besi.

Retardasi mental juga menjatuhi pikiran bapak Hoon, seorang pria yang hidup di bawah basemen rumah orang kaya buatan arsitek terkenal selama empat tahun yang jadi puncak adegan ketegangan kelas dalam Parasite.

Dalam Snowpiercer, retardasi mental terlihat jelas dan jauh lebih radikal. Menurut saya semua manusia yang hidup dalam gerbong kereta itu mengalami retardasi mental yang disebabkan oleh aturan disiplin dari gerbong paling depan yang melambangkan diri sebagai pusat relasi kuasa.

Lalu Snowpiercer lah yang saya gunakan untuk menebak “apa yang hendak disampaikan Bong Joon Ho lewat tokoh-tokohnya yang mengalami retardasi mental.” Barangkali pesan utamanya adalah bahwa kecenderungan dari relasi sosial masyarakat yang terdisiplinkan akan melahirkan karakter-karakter manusia yang terpecah.

Manusia yang terpecah tumbuh tanpa pernah mampu menyebut dirinya sebagai “aku”. Sebab totalitas hidupnya akan selalu ditentukan oleh kekuatan besar yang menjelma sebagai aparatus.

Baek Gwang Ho dalam film Memories of Murder menunjukkannya dengan jelas saat ia disiksa, dipaksa untuk mengakui kejahatan yang tidak ia lakukan. Atau Do Joon dalam film Mother yang akan marah jika disebut idiot. Sebutan itu seringkali kita dengar saat seseorang merasa mendominasi lawan bicaranya. Atau ia timbul saat orang dari kelas atas sedang mengobjektivikasikan kelas bawah.

Hujan

Visualisasi “tik tik bunyi hujan di atas genteng/ airnya turun tidak terhingga/ cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun lahan basah korporasi semua.” Ini juga yang menjadi jawaban, mengapa hujan selalu turun dalam beberapa film Bong Joon Ho.

Mari kembali.

Visualisasi hujan selalu ditampilkan sutradara Bong Joon Ho untuk menyampaikan suasana muram dan ketidakjelasan nasib tokoh dalam setiap filmnya.

Hujan turun saat Ibu Doo Joon keluar dari kantor polisi dan berjalan di bawah guyuran hujan tanpa payung setelah hatinya hancur menyaksikan anak satu-satunya dituduh sebagai tersangka pembunuhan dalam film Mother. Hujan ini juga mempertemukan Ibu Doo Joon dengan seorang penjual barang bekas yang ia bunuh karena hendak menjadi saksi kunci yang membenarkan anaknya sebagai tersangka pembunuhan.

Hujan deras juga menjadi salah satu pertanda akan kemunculan tersangka untuk melakukan tindak pembunuhan dalam film Memories of Murder yang justru malah semakin mengaburkan kasus pembunuhan itu.

Dalam The Host, hujan turun pertama kali saat seorang lelaki paruh baya melakukan bunuh diri dengan terjun dari jembatan. Hujan deras lalu muncul lagi untuk menjadi suasana kelam yang mengantar ketegangan cerita saat keluarga Park He Bong dan ketiga anaknya berhasil kabur dari pusat karantina untuk melakukan misi penyelamatan Hyun Seo dari gorong-gorong yang menjadi sarang seekor monster.

Hujan deras juga turun dalam film Parasite saat keluarga Kim Ki Taek sedang minum-minum di ruang tamu, menikmati rumah orang kaya yang juga mengawali ketegangan-ketegangan dari kenyataan tak terduga setelah seorang lelaki yang hidup di bawah basemen dimunculkan lalu kepulangan tiba-tiba keluarga Park, setelah batal kemah.

Hujan ini terus berlangsung dan memuncak saat Kim Ki Taek dan dua anaknya berhasil keluar dari rumah keluarga Park untuk mendapati rumah semi basemennya kebanjiran, untuk mendapati toiletnya muntah-muntah, untuk mendapati kenyataan bahwa mereka harus mengungsi dan tidur desak-desakan di gedung pengungsian.

Ruang-ruang Asing

Ruang-ruang asing ini saya sebut untuk menjelaskan ruang-ruang yang tidak masuk dalam referensi berpikir kelas atas sebagai tempat tinggal.

Seperti penggunaan basemen yang menjadi kejutan dalam film Parasite juga ada dalam film Barking Dogs Never Bite. Penjelasannya juga hampir sama. Kalau dalam Barking Dogs Never Bite, seorang yang tinggal di basemen atau ruang bawah tanah diselimuti cerita horor.

Hingga Yun Ju terperangkap di bawah sana dan menemukan seseorang sedang tidur di bawah selimut, ia kaget lalu pingsan. Dan yah seolah-olah itu sengaja dibuat Bong Joon Ho untuk selalu terlihat mengejutkan, hanya bagi mereka yang tinggal di atas sana atau dengan jelas kusebut saja mereka kelas atas. Tapi itu justru terlihat biasa saja bagi mereka yang tinggal di pinggiran kota.

Meski tafsiran ini akan sedikit liar, saya pikir seekor monster dalam The Host yang membawa mangsanya masuk ke dalam gorong-gorong air di dekat jembatan hendak menyampaikan makna yang sama. Kalau monster itu mewakili negara adidaya, sebut saja Amerika, maka kita adalah Hyun Seo, gadis kecil yang dibawa ke dalam gorong-gorong yang dalam.

Kita yang berada di Dunia Ketiga sepertinya hidup dalam kebebasan ala American Dream, padahal kita semua sedang berada di dalam gorong-gorong, menunggu monster memakan tubuh kita bulat-bulat.

Tapi kalau memang itu terjadi, tolong saat kita dimakan monster, jangan terlalu keras berteriak. Bisa-bisa monsternya tambah semangat. Saat membayangkannya bulu hidungku merinding dan saya lalu bersin. Legah sesaat, tersiksa seterusnya.

“Film-Filmku Dipenuhi Lambang”

Itulah yang disampaikan Bong Joon Hoo dalam Parasite, saat adegan Ki Woo menatap sebongkah batu dengan wajah yang serius sambil berucap “ini sangat metaforis”. Batu yang juga menghantam kepalanya sampai hampir membuatnya mati atau gila. Batu itu oleh salah satu ulasan menarik dari #sumatranbigfoot ditafsirkan sebagai dongeng Bong Joon Ho soal Utang.

Selain utang, apa yang paling menggembirakan diawal namun siksa setelahnya abadi? “Jangan selalu merasa mencocologikan sesuatu kawan, ulasanmu masuk banget.” Belakangan, batu itu juga diakui oleh Bong Joon Ho sebagai pusat cerita dalam Parasite.

(Utang negara kita sudah berapa yah? Jumlah uang yang disimpan orang kaya berjumlah berapa? Orang miskin yang terus berupaya bayar pajak, berapa banyak? Bukan urusan kita. Oh tidak. Itu urusan kita bung.)

Misalnya juga dalam Okja yang mendapat sedikit porsi dalam tulisan ini juga memiliki simbolitas yang hendak menyampaikan keserakahan manusia sebagai konsumen lewat manipulasi genetik spesies babi raksasa.

Jika hendak menjadikannya sebagai ajang menampar itu cukup keras buat menampar sistem neo-Kapitalisme. Atau juga memantik kesadaran kita tentang betapa dibuat rakusnya kita di hadapan hidangan dan rentannya kita dimanipulasi oleh kepentingan korporasi. Menyedihkan.

Snowpiercer misalnya juga hendak menampakkan realitas yang selama ini hendak lari dari penglihatan pemilik kekuasaan, yakni soal politik yang memiliki aspek penting dalam merusak lingkungan. Saya menyadari kenyataan itu saat Curtis berhasil menggapai gerbong paling depan hanya untuk mendapati perjanjian politik antara Wilford yang mewakili pemerintah dan Gilliam yang mewakili rakyat setuju berkompromi untuk memanipulasi kehidupan Curtis agar bisa menjadi penerus sistem perkeretaapian atau KAPITALISME. Kenyataan itu membuatnya linglung setelah bertahun-tahun menyusun rencana perjuangan kelas.

(Saat menyadari itu saya teringat para staf khusus Presiden dan wejangan dari orang tua. Soal “Mumpung masih muda bekerjalah untuk mendapatkan pengalaman mengeksploitasi alam. Gagal tak mengapa. Kapitalisme akan tetap memelukmu.”)

Bong Joon Ho memang mahakarya. Saya salut- dengan tambahan sepuluh buah huruf U pada kata “salut”. Karya-karyanya memang tidak bisa ditafsirkan hanya dengan satu perspektif. Seperti yang saya alami saat menonton film-film Bong Joon Ho, sangat tidak adil jika ditonton hanya sekali. Saya harus menonton setiap film-filmya sekurang-kurangnya dua kali. Satu kali sebagai penonton yang bersih, kedua kalinya sebagai penonton yang berusaha keluar dari ketercelupan makna.

Barangkali lima corak ini sudah bisa menjadi syarat bagi sebuah film untuk bisa disebut sebagai film yang masuk dalam golongan Bong. Tapi semakin saya memikirkannya, rasanya tak ada film yang bisa masuk dalam genre Bong kecuali film-film Bong Joon Ho saja. 

Apakah dengan menulis “Selamat pak Bong Joon Ho” lalu melanjutkannya dengan “Pribadi kreatif meledak dalam Parasite setelah Bong Joon Ho menjaga sumbu panjang konsistensi dan keberpihakannya terhadap kelas tertindas,” sebagai penutup akan menutup dengan baik tulisan ini? Sebelum saya menutupnya dengan kalimat” Baiklah kupikir tulisan ini bacot saja. Take care of you, until then, see you soon.

BACA JUGA artikel Ma’ruf Nurhalis lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles