“Kabar duka akan datang”, kata Wahyu Santoso sebelum tali tampar berwarna hijau itu ia lilitkan pada lehernya. Hijau tentu bukanlah warna duka, tetapi kalimat berirama dengan selipan kata “duka” di status whatsap-nya, jelas menjadi pertanda duka yang dalam. Ya, Wahyu mengakhiri hidupnya tepat sebelum memasuki bulan valentine setahun yang lalu. Persoalannya rumit, cintanya kepada kekasihnya, tak mendapat berkat dari orang tua mereka.

Santoso hanyalah satu dari sepersekian manusia yang memilih mengakhiri hidup karena cinta. Di belahan bumi yang lain, ada berbagai macam kasus kematian karena cinta. Demikian juga apa yang dengan Pendeta Valentine, karena cintalah ia meregang nyawa. Ia dihukum oleh Claudius II, seorang kaisar Romawi tepat pada 14 Februari 278 Masehi.

Konon, Valentine merupakan orang yang paling getol melawan kebijakan Claudius II untuk melarang bala tentaranya untuk menikah. Menikah – memiliki istri, anak, dan keluarga – menurut Claudius menjadi penyebab bala tentara tersebut enggan turun ke medan perang. Valentine menolak ide untuk melarang bala tentara menikah.

Baca juga: Batas

Claudius pun murka dan menghukum Valentine hingga di titik napas terakhirnya. Sejak saat itu, setiap tanggal 14 Februari, orang-orang merayakan hari itu sebagai hari kasih sayang untuk mengenang Valentine memperjuangkan cinta.

Meski ada banyak versi, tetapi kisah itulah yang menjadi kisah yang dianggap paling relevan dengan apa yang hari ini kita sebut sebagai hari valentine – hari kasih sayang.

Tepat 14 Februari 2020, tepat pada saat jutaan orang yang sedang sibuk berpikir – kado yang tepat untuk orang terkasih mereka. Mereka bertukar kado dengan gambar love bersayap di bawah gulungan pita. Tepat pada saat itu, saya justru sedang merenungi kata-kata Dea Anugrah: hanya orang-orang optimis yang memilih untuk bunuh diri.

Coba bayangkan, seorang anak muda seperti saya, umur 25 tahun—belum menikah, membuka sosial media di hari valentine, hal pertama yang saya temui adalah berita tentang seorang perempuan Bugis asal Soppeng yang viral karena sebuah acara mapettu ada dengan uang panaik 3 miliar—serta tambahan embel-embel mobil, berlian, dan rumah. Sungguhkah sebuah perayaan akan cinta yang kita sebut sebagai pernikahan harus semenyeramkan itu – setidaknya bagi orang-orang blangsat seperti saya.

Baca juga: Kotak Pandora, Purnomo, dan Kegagalan-Kegagalan Manusia

Di sisi lain, saya masih menyimpan kisah lain di dalam benak tentang sebuah pernikahan yang mengundang banyak reaksi. Orang-orang mungkin fokus pada kemacetan yang dihasilkan perayaan pernikahan tersebut, tetapi saya justru melihat sisi lainnya: bahwa di balik pesta itu, ada hati yang sedang tertatih karena ditinggal pergi atas nama cinta yang lain – “cinta” hasil kesepakatan dua keluarga besar.

Cinta memang kadang berakhir dengan klise. Ia terpendam dan tersingkir atas nama cinta yang lain–cinta kepada orang tua dan nama baik keluarga. Sialnya, tidak semua pasangan berani memperjuangkan perasaanya, sebanding dengan tidak semua orang tua mengrhargai perasaan anak-anknya. Bahkan mungkin “apakah kau mencintai anakku?” menjadi pertanyaan yang ditelakkan paling terakhir setelah pertayaan-pertanyaan lain yang dianggap lebih relevan untuk bisa bertahan hidup.

Saya kemudian terngiang dengan apa menjadi salah satu fragmen Ahyar Anwar di dalam novelnya Infinitum bahwa ada banyak pasangan merayakan kebersamaan dengan cara yang kadang tidak sesuai dengan “kebudayaan”, sebab dengan cara itulah mereka bisa menandai suatu kebersamaan mereka. Sebab, di kehidupan nyata, tidak semua orang bisa menghargai cinta–terutama orang tua.

Baca juga: Before We Go: Hidup Selalu Persoalan Pilihan

Terkadang, orang tua menyembunyikan kesalahan mereka di masa lalu dengan cara menjerumuskan anak-anaknya ke lubang yang sama–perjodohan. Alibinya sederhana: kami juga merasa bahagia dengan pasangan dari hasil perjodohan. Mereka meyakini bahwa hal itu bisa berlaku bagi dan untuk anak-anaknya.

Kegetiran dan kegamangan kemudian mengintai pasangan muda mudi. Mereka getir karena takut perasaan mereka terhadap kekasihnya tidak dihargai oleh orang tuanya dan orang tua pasangannya. Mereka kemudian mencari banyak cara untuk bisa mengenang apa yang mereka rasakan, lazim kita sebut cinta. Itu sesuatu yang lumrah, sebab setiap saat kita dipertontonkan tentang sebuah kebersamaan yang kemudian dipisahkan dengan mudah.

Baca juga: Mengapa Kita Mesti Melawan?

Maka, tak mengherankan jika pasangan-pasangan kekasih kemudian turut dan larut untuk merayakan apa yang kita sebut sebagai hari kasih sayang. Mereka ingin memaknai kebersamaan mereka. Mereka ingin punya sesuatu yang bisa dikenang. Mereka ingin memberi arti pada diri sendiri bahwa “kita” pernah berada di dalam “ruang batin” yang sama dan itu mesti kita rayakan sebab perpisahan mengintai kita setiap hari.

Cinta mungkin takkan meninggalkan relung hati mereka, tetapi hidup selalu penuh dengan teka-teki. Mungkin saja, suatu saat seorang kekasih benar-benar pergi hanya karena harus menuruti orang tuanya. Ia kemudian mengucapkan kalimat perpisahan dengan mengutip Milan Kundera “Kamu sebenarnya baik, tetapi aku harus meninggalkanmu”, kemudian memberikanmu sepucuk undangan pernikahanya dengan seseorang yang menjadi pilihan orangtuanya. Maka dari itu, selagi masih bersama, maka rayakanlah kebersamaan itu.

BACA JUGA artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles