Bagi sebagian orang, mungkin sebutan karucuk terasa asing terdengar ditelinganya. Tapi tak sedikit juga yang mesra dengan sebutan itu. Terlebih di jagad para mahasiswa Makassar yang didambakan sebagai agen perubahan sosial. Yah, acap membakar ban, lantang teriak keadilan, serta merakyat. Ironisnya, malah sebagian dari mereka berwatak kolonial.

Sewaktu mahasiswa, sebutan itu berseliweran di sudut-sudut kampus. Ramai keluar dari mulut senior tatkala ia sedang berceramah dalam rapat, pengkaderan, ruang diskusi, serta interaksi sehari-hari. Tentunya, kadang dibarengi dengan rasa geram terhadap juniornya. Saya tak tahu dari mana ia memungut sebutan itu. Saya tak menemukannya dalam kamus terminologi. Agar sebutan itu dapat dirumuskan. Kita anggap ia memungutnya dari bahasa daerah.

Secara konsep, makna sebutan itu dapat dipahami. Karena saya lagi demam Ivan Lanin, saya mencoba membuat padanannya dalam bahasa Indonesia. Seperti kita tahu, Ivan Lanin seorang Wikipediawan pecinta bahasa Indonesia. Saat ini Ivan acap kali menulis padanan dalam bahasa Indonesia yang berangkat dari sebutan asing. Tujuannya, agar bahasa itu dapat digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Biar terhindar dari penyakit xenoglosofilia.

Baca juga: Relasi Bahasa dan Identitas

Namun, kali ini esensi saya hanya berangkat dari bahasa daerah dan memadankannya dengan bahasa Indonesia. Sebutan karucuk, jika dipadanankan dengan bahasa Indonesia, berarti, kurang lebih bermakna kacung, anak buah, jongos, budak, hamba, udik, bodoh. Bahkan saya sering mendapati, tak jarang junior dipanggil dengan sebutan seperti itu ketika mereka tengah berkumpul.

Memotret peristiwa itu. Ia (senior) telah menciptakan sebuah struktur kasta dalam praktik kehidupan kampus. Kalau yang terjadi seperti itu, maka pastinya ada raja ada budak, ada orang tua ada anak, ada orang dewasa ada orang ingusan, ada tuan rumah ada pendatang.

Kalau kita meneropong ke masa lalu, ini sama halnya dengan struktur kasta yang diciptakan pemerintah kolonial Belanda di masa penjajahan. Ada totok ada inlander. Belanda totok menganggap rendah penduduk Indonesia. Menyebut mereka dengan sebutan inlander. Sebutan ini sangat kasar nan sarkas yang boleh dipadankan dengan udik, bodoh, dan rendah.

Baca juga: Pribadi Sekeping Koin

Ternyata, praktik ini masih berjalan selama beberapa dekade. Terus mengakar sedalam-dalamnya. Mencabut akarnya pun akan sulit. Tak hanya butuh beribu-ribu tangan untuk mencabutnya. Siapa pun yang hendak mencabut akar itu, tentu akan terus dilawan.

Pertanyaannya ada dua. Pertama, beranikah kita untuk mencabutnya? Tentu tidak. Pilihannya ada dua, ditertibkan atau terisolasi. Kedua, dampak apa yang terjadi kalau akar ini terus menjalar? Mari kita mengulasnya!

Peran junior ternyata belum bisa bergeser. Mereka masih dianggap sebagai karucuk. Wajar saja kalau pendapatnya masih belum didengar oleh seniornya. Hal yang bisa dilakukannya cuma patuh. Junior yang baik menurut sudut pandang senior, ialah mereka yang patuh, tunduk, dan gampang untuk suruh-suruh. Beli rokoklah, beli galonlah dengan cara yang tidak senonoh.

Begitulah senior. Selain itu, mereka gemar sekali meceramahi, menasihati, atau membimbing juniornya. Tak banyak dari mereka yang berbelas kasih hanya untuk mendengar pendapat dan curhatan juniornya.

Baca juga: Belajar Dari Kritik Para Pesohor

Senior masih ramai saja berbicara soal lingkungan kampus yang bobrok. Tentu kesalahan itu dilimpahkan pada junior. Kalau sudah seperti itu, senior mulai berceramah. Mengambil sepotong kisah keberhasilannya pada masa lalu. Mengarahkan kita harus bertindak seperti apa dan bagaimana. Superioritas pun muncul secara bersamaan. Betapa membosankannya.

Kalau dipikir-pikir, banyak di antara mereka yang perkataan dan tindakannya tidak seirama. Mengapa mereka tak bisa percaya dan mengakui bahwa sinergitas senior dan junior harus saling melengkapi. Senior punya kelemahan dan junior punya kelebihan. Begitupun sebaliknya. Tapi kuasa senior harus tetap tegak layaknya tiang bendera yang tiap hari senin mesti dihormati.

Silakan dibayangkan sendiri peristiwa ini. Jika semua senior bernafsu untuk menceramahi, dampak apa yang terjadi terhadap junior? Tentunya babak belur dengan gemblengan petuah yang tak logis. Dipaksa menelan mentah-mentah gagasan yang disampaikan oleh senior. Lama-lama bisa jadi gila dan stroke otaknya.

Baca juga: Empat Buku yang Membaca Masa Lalu atau Mungkin Masa Depan Mahasiswa Seperti Anda

Betapa banyak unek-unek serta gagasan yang tak sempat dirumuskan serta ditimbang sendiri oleh junior untuk bisa dikeluarkan dalam praktik kampus. Semisal dalam merumuskan konsep dan ide kegiatan. Mereka lebih sering dibungkam dan dibisukan. Akhirnya ketika mereka terjun dalam masyarakat. Kultur inilah yang melekat dan segan untuk berbicara di forum-forum desa, misalnya.

Lantas apakah kebobrokan kampus itu tidak diciptakan oleh seniornya juga? Itu mengapa banyak junior memilih untuk meninggalkan kampus. Dengan alasan bosan menjadi orang lain untuk menghamba terhadap senior agar bisa menyenangkan hatinya.

Banyak yang bertanya, apa hasilnya ketika Indonesia tak pernah dijajah? Saya akan menjawab, Indonesia mungkin akan tertinggal dari segi pertanian dan pendidikan. Tapi setidaknya tak mewarisi watak kolonial.

BACA JUGA artikel Alamsyah Alimuddin lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles